Cerpen Komedi Gagal : Bulat Onde-Onde

Sebenarnya… sebenarnya… cerpen ini bukan saya banget! Mungkin cerpen komedi pertama dan terakhir saya :mrgreen: Makanya itu saya sebut sebagai cerpen komedi gagal. Cerpen ini saya ikutkan ke proyek KIR di SMA. Tapi ya gitu… ya sudahlah. Entah gimana saya bisa bikin cerpen beginian.

Nah, terus cerpen yang kamu banget tuh gimana, Nae?

Ini nih cerpen yang saya banget – yang ada di blog ini : Nyai Renjana, Tenggelam di Laut Kidul, Panggil Aku Bung Tomo, Mbah Selo, Jeritan Sungai Cupit Urang, dan Gugus Khayal Laksita.

Saya pernah beberapa kali berniat untuk menciptakan cerpen yang rada remaja atau nggak jauh-jauh sama isu percintaan eh larinya jadi cerpen/prosa ini : Kesurupan, Mawar Hitam, Hati Ibu, Febrian, dan Cinta dalam Diam. Cerpen Cinta dalam Diam ini sebenarnya sempat saya posting di blog – sebagian. Namun saya justru jadi malu sendiri ketika membacanya ulang :mrgreen: Makanya itu… meskipun sebenarnya saya ada niatan buat nulis cerpen remaja dengan tokoh orang Turki selagi saya masih dikelilingi mereka, takutnya ntar cerpennya lari kemana-mana 😀

Yudah ih malah jadi curhat. Langsung aja ya baca cerpen Bulan Onde-Onde ini. Meskipun bikin alis berkerut, semoga pesannya sampai.

Bulat Onde-Onde

 Oleh : Naelil M.

Kupandangi siluet diriku dalam cermin. Berbagai pose kulakukan demi mendapatkan angle yang indah. Kuharap cermin berkata bohong. Namun kenyataannya tidak. Cermin dengan sangat jujur mengatakan bahwa tubuhku bulat, sebulat onde-onde.

Mataku beralih memandang sebuah majalah dengan cover seorang artis Korea. Seohyun namanya. Dia adalah salah satu personil girlband Girls Generation. Wajahnya cantik. Apalagi tubuhnya, gitar Spanyol saja kalah.

“Tenang, Mir. Kelak kamu bakalan punya tubuh seindah Seohyun kok,” ujar Boim. Aku menatap wajahnya penuh harap.

“Nanti, kalau matahari udah terbit dari selatan,” lanjutnya yang mendadak membuat gigiku ngilu.

Just Kidding, Mir. Sorry! Hehee.”

Jujur sejujurnya, aku sakit ketika diejek seperti itu seolah aku ini benar-benar kelebihan daging dan paling pas jadi santapan musim kurban. Aku tahu semua teman-temanku hanya bercanda. Namun bagiku itu menyakitkan.

Aku makin meratapi nasib. Sialnya, alam tampak ingin membuat background dramatis. Reruntuhan air hujan mulai terdengar mengucur deras di pelataran sekolah. Aku makin nelangsa.

Sebetulnya, sudah banyak yang kulakukan agar tubuhku langsing seperti misalnya berolah raga satu bulan sekali, porsi makan pokok dikurangi, minum susu dan teh pelangsing. Namun hasilnya?

Aku curiga jangan-jangan aku memang sudah ditakdirkan untuk bertubuh bulat agar semua orang dapat menjulukiku bola menggelinding setiap kali aku berjalan sendiri dan angka 10 ketika aku berjalan berdua dengan sahabatku, Karin. Sudah dapat ditebak ‘kan aku yang angka berapa? Nol? Benar banget.

“Woey, ngelamun aja!”

Karin mengagetkanku dari belakang. Aku menantapnya nanar.

“Kamu itu main kagetin aja. Kalau jantungku menggelinding ke luar ruangan gimana?”

“Emang jantung itu bulat?”

“Enggak pada umumnya. Tapi spesial untuk diriku yang serba bulat, jantungku juga bulat.”

Karin cekakakan mendengar pernyataanku yang sebenarnya bukan lelucon, namun lebih menuju ke keluhan pasrah atas diri sendiri. Melihat rautku yang berubah kelabu layaknya mendung di sore hari, Karin memeluk leherku seraya tersenyum.

“Jangan gitu dong, Mir. Bersyukur!”

“Coba kalau kamu di posisiku, Rin, emang kamu mau? Setiap kemana-mana selalu diejak. Aku sadar sih kalau yang menghiburku memang banyak seperti kamu, One Direction dengan lagunya Little Things ataupun Cherrybelle dengan lagunya Beautiful. Tapi bagiku, Rin, nggak ada hal yang lebin indah selain punya tubuh langsing. Kamu kan tahu kalau aku ingin jadi peragawati.”

Seperti sebelumnya, Karin selalu tertawa usai mendengar ucapanku. Dikiranya aku badut belang apa? Seserius apapun tampang yang kupasang, seolah tak mampu menyembunyikan bentukku yang mungkin, bulat-bulat imut menggemaskan alias lucu tak terkira baginya? Untung saja aku sudah kebal dengan ini. Jika tidak, kan kuubah diriku menjadi roda truk besar agar bisa melindas cekikikan Karin.

“Aduh, udah deh, Mir. Ini aku tanya serius ya. Kamu benaran pengin punya tubuh langsing?”

“Iyalah, Rin. Serius. Bukan hanya tubuh langsing, tapi wajah yang nggak bulat bola begini. Aku capek diejek terus. Lagian, aku ngeri juga nanti kalau ketemu idolaku Ronaldo. Aku nggak mau ditendang masukin ke gawang gara-gara dikiranya aku bola sepak.”

Kali ini Karin tersenyum. Baguslah itu jauh lebih menenangkan daripada tertawa meskipun sama-sama tampak mengejek bagiku.

“Gimana kalau kamu sedot lemak? Tapi itu mahal.”

“Sedot lemak?” aku mulai berpikir. Daripada capek diejek habis-habisan sampai tubuhku langsing dengan ajaib dan parahnya itu bakalan terjadi nanti kalau matahari terbit dari selatan, mendingan aku coba usul Karin.

Menanggapi usul Karin, aku mencoba untuk berbicara kepada bunda. “Bun, Miranda minta uang satu juta, boleh nggak?”

Bunda melototiku dalam-dalam.

“Buat apa, Mir?”

“Sedot lemak.”

“Apa?”

“Miranda pengin langsing, Bun, biar bisa jadi peragawati. Bunda senang kan punya anak cantik yang terkenal seantero belahan bahkan hingga ke ujung horison permadani dunia?”

“Mir, jadi peragawati tuh nggak harus langsing,” celetuk kakak lelakiku dari ruang tengah. Wuih, pasti dia mau ucapin kata mutiara super mujarab yang bijaksana menenangkan nih. Kutatap kakakku penuh tikungan tanya.

“Serius, Kak?”

“Iya, tuh jadi model busana ibu hamil.”

Kakakku heboh cekakakan. Kurang ajar! Beruntung bunda segera memarahinya.

“Mir, bukannya Bunda nggak mau bantu kamu. Tapi, bunda belum punya uang sebanyak itu,” bunda mengelus punggungku. Aku memutar otak. Akhirnya kutemukan secercah oase, sedikit penerangan. Aku tahu, aku harus berusaha mencari uang sendiri untuk biaya sedot lemak.

Mengatasi masalah bagaimana caranya, aku berkeliling ke sekitar daerah untuk mencari pekerjaan. Awalnya aku tak yakin, tapi semua berawal dari mimpi bukan? Kutuju pertokoan yang tidak menjual makanan manusia karena aku tahu mereka pasti akan menolakku karena takut seluruh dagangannya kuhabiskan.

Sebagai pembukaan, aku mencoba melamar ke toko makanan hewan. Ternyata hasilnya adalah sebuah penolakan. Tega sekali. Separah itukah aku sehingga mereka berpikir jika makanan hewan pun akan aku lahap?

Aku tak putus asa, kucari tempat lain hingga akhirnya sudah pulahan tempat kujajaki. Sayang, dari sekian banyak tempat, semuanya menolakku. Ah, kerasnya kehidupan di luar sekolah. Tak mengherankan jika banyak pengangguran.

Lelah sekali rasanya memapah tubuh besar ke sana-ke mari. Aku memutuskan untuk duduk di warung pinggir jalan.

“Mau pesan apa, Dek?”

Aku kaget karena seorang karyawati warung menawariku. Mengingat tubuhku yang sudah ekstra dan kantongku yang mulai menipis, aku jawab saja,

“Air putih berapaan, Mbak?”

“Emm, gratis, Dek. Sebentar, saya ambilkan.”

Lamunanku melayang kembali. Sosok Seohyun berpijar gelap terang bergantian bagai komidi putar di otakku. Menyengat menyesakkan dada bak halilintar.

“Permisi, Dek!”

“Iya taruh aja air putihnya.”

“Maaf?”

Aku menengok. Astaga, kupikir yang datang Mbak pelayan tadi, ternyata bukan. Kutatap pemuda yang ada di hadapanku dari mulai kepala sampai ke kaki. Rambut berjambul khatulistiwa khas Zayn Malik 1D, hem kota-kotak rapi khas Gubernur Jokowi[1], celana rapi dan sepatu mengkilat khas guru Oemar Bakrie, serta tas hitam khas salesman.

“Kenalkan, Dek, saya Aryo Pangabean dari CM entertainment. Saya ingin menawari adek untuk bermain sinetron stripping sebagai pemeran utama.”

“Wah, mas bercanda ya? Kalau ngejek jangan berlebihan dong, Mas. Saya tahu saya nggak pantas jadi artis.”

“Pantas kok, Dek. Kalau Adek mau, silahkan besok ikutan casting di alamat ini,” jelasnya seraya memberiku selembar kertas buram.

“Emang judul filmnya apa, Mas?”

“Bulat Onde-Onde.”

“Hah?”

Mau keliling manapun, pasti ujung-ujungnya ketemu sama yang bulat. Dasar! Tapi kalau dipikir-pikir. Rugi banget kalau aku nggak coba. Jadi aktris pasti bayarannya mahal. Nanti aku bisa cepat-cepat melakukan sedot lemak. Oh, sama sekalian operasi plastik benarin wajahku agar nggak bulat-bulat amat.

Esok harinya, aku berangkat casting. Beberapa hari setelahnya, aku dinyatakan diterima. Wuih, senangnya hati melayang-layang di atas awan.

Menjadi aktris membawa banyak perubahan bagiku. Teman-teman kini menjulukiku, Miranda Bulat Onde-Onde. Dari penghasilan yang berhasil kukantongi, aku dapat membantu bunda dan ayah dalam membangun perekonomian keluarga termasuk menambah biaya sekolah kedua adikku.

Kini saatnya aku berubah. Aku akan pergi mencari dokter bedah plastik. Oops, handphone-ku berdering syahdu seiring lamunan indahku yang slow motion.

“Mir, saya dengar kamu mau operasi plastik sama sedot lemak. Gimana sih kamu ini? Kalau kamu mau langsingin badan, kami akan cari pengganti peranmu.”

Aku terlempar atas pemberitahuan sutradara sinetronku. Aku jadi bingung. Peran atau langsing?

Setelah kupikir-pikir, aku memilih untuk mempertahankan peranku saja. Dengan ini, hidupku dan keluarga semakin baik. Berbakti pada kedua orang tua adalah utama, bukan? Apalagi dengan menjadi aktris, aku dapat menghibur banyak orang. Akhirat tuh. Belum lagi bonusnya seperti memiliki fans club, bertambahnya followes twitter, dan dapat bertemu dengan artis idolaku yang sudah senior.

[1] Saat itu Pak Jokowi belum jadi Presiden RI

Iklan

5 thoughts on “Cerpen Komedi Gagal : Bulat Onde-Onde

  1. Hahahahaha anjays 😂 im die mbayangin sinetron Bulat Onde Onde. Ceritanya Miranda yang gemash gendut gulana tengah galau jatuh cinta 😂😂😂😂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s