Review Buku Orhan Pamuk “Wanita Berambut Merah”

 

orhan-pamuk-kirmizi-sacli-kadin

Judul Buku : Kirmizi Sacli Kadin

Penulis : Orhan Pamuk

Penerbit : Yapi Kredi Yayinlari

Tahun Terbit : Cetakan pertama, Februari 2016

Kota Terbit : Istanbul

 

Alhamdulillah, akhirnya berhasil menyelesaikan novel Orhan Pamuk untuk pertama kalinya. Nggak afdol ya rasanya kalau tinggal di Turki tapi belum pernah baca karya Orhan Pamuk mengingat konon karyanya yang sungguh luar biasa. Hehe. Dulu sempet baca karyanya yang berjudul My Name Is Red tapi nggak tuntas karena tuntutan kesibukan harian. Sibuk TOMER maksudnya… atau sibuk main? 😀

Pada mata kuliah Bahasa dan Sastra Turki di semester 2 ini, kami diwajibkan untuk membaca bukunya Orhan Pamuk dalam waktu yang sangat singkat karena akan jadi “salah satu” bahan ujian tengah semester. Kebetulan kali ini adalah bukunya yang berjudul Kirmizi Sacli Kadin atau Wanita Berambut Merah.

Kayaknya buku Orhan Pamuk terbaru sih mengingat cetakan pertamanya yang tertanggal Februari 2016 kemarin. Bagusnya, buku ini dalam bahasa Turki! Bagusnya lagi, saya baru membeli novel ini seminggu sebelum ujian. Mau tidak mau, saya pun memaksa mata dan otak saya untuk bekerja dengan cepat sebelum minggu ujian tiba. Ujian kami kan bukan hanya sekedar pelajaran Bahasa dan Sastra Turki. Masih buanyak matkul lain yang materinya (bahasa Turki semua) melambai-lambai. PR juga. Semester ini lebih banyak tugas buat presentasi dan bikin makalah dibanding semester 1 kemarin… dalam bahasa Turki pula. Pusing awak! Tapi dinikmati aja 😀

Ini memang bukan pertama kalinya saya membaca novel bahasa Turki. Tapi sebelumnya, saya hanya membaca novel anak-anak gitu, jadi lebih simpel ceritanya. Ini buku beneran lo. Bukunya Orhan Pamuk, lagi. Walaupun hanya 200an halaman, tapi saya lumayan dibuat lelah membacanya. Bosen mikir artinya. 😀 Beda ya rasanya baca buku pelajaran menggunakan bahasa Turki sama baca novel.  Ya begitulah. Jika saat ini cuma bisa baca, semoga ntar bisa bantu terjemahin bukunya ya buat kalian… hihihi

Langsung aja yuk tengok isi novelnya!

Kisah ini ibarat bercerita di dalam cerita. Ibaratnya, si tokoh di dalam novel ini sedang menceritakan kisah hidupnya. Nah, sudut pandang di dalam novel ini ada dua. Karena novel ini dibagi mencari tiga bagian, dua bagian ditulis dengan sudut pandang Cem Celik, dan satu bagian terakhir ditulis dengan sudut pandang Wanita Berambut Merah atau Kirmizi Sacli Kadin. Kayaknya Orhan Pamuk memang suka bermain dengan sudut pandang karena pada novelnya yang berjudul My Name Is Red itu juga menggunakan sudut pandang yang tidak hanya satu.

Cerita bermula ketika Cem Celik kehilangan ayahnya yang ditanggap lantaran ideologi politik. Yah, kalian tahulah hal begitu seringkali terjadi dimana-mana. Akibatnya, Cem hanya tinggal bersama ibunya dan mengalami masa-masa sulit. Suatu ketika, datanglah tawaran dari Mahmut Usta untuk bekerja menggali sumur. Karena tidak punya uang yang membuat Cem kesulitan untuk sekolah, ia pun izin untuk bekerja.

Mahmut Usta dan Cem menggali sumur di kawasan Ongoren untuk Hayri Bey atau Tuan Hayri. Karena tidak mungkin untuk bekerja berdua saja, didatangkanlah Ali untuk membantu. Mahmut Usta, Cem dan Ali pun menghabiskan hari-harinya untuk menggali sumur.

Di sinilah Cem bertemu dengan Wanita Berambut Merah secara tidak sengaja. Sejak pandangan pertama, Cem sudah terpikat dengan kecantikan Wanita Berambut Merah yang belakangan diketahui merupakan seorang pemain teater.  Ia juga terpikat dengan Wanita Berambut Merah karena konon memberinya pandangan “mengenali”. Untuk itu, Cem seringkali curi-curi waktu pergi ke stasiun tempat Cem melihat wanita itu untuk pertama kali. Ia bahkan tahu tempat tinggal wanita itu dan sempat juga datang menonton teaternya. Hari demi hari, makin jatuh cintalah si Cem terhadap wanita yang berusia sebaya ibunya. Padahal usia Cem masih 16 tahun lho.

Dasar dimabuk asrama ya… Pada malam setelah teater selesai, wanita itu berbincang-bincang dengan Cem mengenai teaternya. Mereka pun jalan bersama dalam kegelapan.  Wanita itu mengajak Cem untuk main kerumahnya setelah percakapan panjang. Eh waktu mereka mulai masuk ke rumah, si wanita ini bilang bahwa suaminya sedang berada di luar kota. Dari sini, perasaan saya udah nggak enak. Sejak awal, sebenarnya bukan hanya Cem yang menunjukkan ketertarikannya. Namun wanita itu juga menaruh perhatian pada Cem muda. Akhirnya yah…. hal itu terjadi. Cem dan Wanita itu tidur bersama.

Cem pun pulang ke tempat ia tinggal bersama Mahmut Usta tengah malam. Sebenarnya Cem takut sekali jika Mahmut Usta marah. Apalagi dari perbincangannya dengan Wanita Berambut Merah, tampak bahwa Mahmut Usta juga memiliki hubungan baik dengan Wanita Berambut Merah. Cem memang cemburu akan itu. Namun ia juga khawatir jika Mahmut Usta marah karena mencemburuinya.

Ternyata, Mahmut Usta sudah terlelap. Eh ketika Cem datang, Mahmut Usta terbangun dan menanyakan darimana saja si Cem. Setelah berbohong, Mahmut Usta izin keluar sebentar. Cem menebak bahwa Mahmut Usta akan bertemu dengan Wanita Berambut Merah. Ia pun mengikutinya untuk memastikan. Segitunya ya si Cem.

Oh ya, sebenarnya novel ini bukan cuma menceritakan soal cinta-cintaan terlarang loh, tapi juga menceritakan soal kegiatan sehari-hari penggali sumur. Berat guys, beratttt! Setelah berminggu-minggu menggali lubang sumur, Mahmut Usta, Cem dan Ali belum juga menemukan sumber air. Hayri Bey menyuruh mereka berhenti dan menggali di lain tempat. Namun Mahmut Usta menolak dan meminta kelonggaran waktu selama tiga hari. Nampaknya, kelonggaran waktu itu hanyalah sia-sia karena Mahmut Usta dan dua anak buahnya belum juga menemukan sumber air. Hayri Bey sebelumnya sudah bilang bahwa jika Mahmut Usta memaksa untuk tetap terus menggali di tempat yang sama, Hayri Bey tidak akan membayarnya. Hayri Bey adalah businessman, ia tidak bisa terus-terusan menunggu yang tidak pasti. Meski demikian, Hayri Bey menjanjikan hadiah besar untuk Mahmut Usta jika berhasil menemukan sumber air.

Pada suatu siang bolong, Mahmut Usta seperti biasanya masuk ke lubang sumur dan menggali, lalu Cem, kali ini tanpa Ali, menarik timba berisikan bebatuan pada tanah yang digali Mahmut Usta dibawah sana. Ketika matahari hampir tenggelam dan Mahmut Usta belum juga berteriak dari bawah sumur untuk diangkat ke atas, Cem mulai khawatir. Karena lubang sumur yang teramat sangat dalam, Cem tidak bisa melihat Mahmut Usta. Ia beberapa kali berteriak dan menanyakan apakah Mahmut Usta mau naik ke atas atau tidak. Namun, tidak ada jawaban. Cem mulai berpikir yang tidak-tidak. Mungkin saja Mahmut Usta terluka atau telah wafat di bawah sana. Ia pun segera berlari mencari Wanita Berambut Merah dan teman-teman teaternya untuk minta tolong. Tetangga para pemain teater itu mengatakan bahwa para pemain telah pergi. Cem pun sangat terkejut. Diliputi keterkejutan, kecemasan, kebingungan dan ketakutan, bukannya mencari pertolongan dari orang lain, Cem justru memutuskan untuk kembali ke tempat ia dan Mahmut Usta tinggal. Bukannya menolong Mahmut Usta, Cem justru berkemas menuju stasiun untuk pulang ke rumah ibunya. Ia takut jika dituduh tersangka yang telah membunuh Mahmut Usta. Nah dititik inilah saya benar-benar bekeringat dingin. Hehe. Cara Orhan Pamuk menjelaskan tiap peristiwa ini sangat keren.

Tahun demi tahun, Cem diliputi perasaan takut dikejar polisi. Cem memang terus melajutkan hidup bahkan lanjut masuk  universitas, namun ia tetap takut setiap mendengar berita dari kawasan Ongoren tempat ia dan Mahmut Usta menggali lubang sumur. Ia takut menemukan kabar ditemukannya jenazah Mahmut Usta.

Setelah lulus kuliah, Cem menikah dengan Ayse, putri teman orang tuanya. Alasan Cem menikah dengan Ayse karena kemiripannya dengan Wanita Berambut Merah. Ya… setelah tahun demi tahun berlalu, peristiwa Cem tidur dengan wanita itu tidak bisa lepas dari pikirannya. Bahkan detail peristiwanya pun, Cem masih ingat betul.

Setelah bertahun-tahun menikah, Cem dan Ayse tak kunjung dikaruniai anak. Oleh sebab itu, mereka menganggap perusahaan yang diolahnya sebagai anak yang bernama Suhrab. Pernah dengan kisah Suhrab dan Rustam dari Irak? Itu loh kisah ayah yang membunuh anak kandungnya sendiri lantaran sama-sama saling tidak mengenal. Cem mengambil nama itu dari kisah tersebut. Selain kisah Suhrab dan Rustam, novel ini sebenarnya juga sangat menekankan hubungan anak dan ayah pada kisah Raja Oedipus yang membunuh ayahnya dan menikahi ibu kandungnya sendiri lantaran sama-sama tidak saling mengenal. Jadi ingat kisah Sangkuriang yang menikahi ibunya sendiri yak! Pada kisah Raja Oedipus, terdapat amanat yang sangat kental yaitu mengenai takdir Tuhan. Seberapun kamu menghindarinya, jika itu takdir, akan datang juga menghampirimu 🙂 Jadi kan Oedipus dibuang dari kerajaan gara-gara mimpi yang mengisahkan peristiwa pembunuhan Oedipus pada ayahnya. Eh setelah dibuang, tanpa tahu asal usulnya, Oedipus balik lagi ke kerajaan ayahnya dan membunuh beliau tanpa tahu bahwa beliau itu ayahnya. Begitulah. Meski udah dibuang, Oedipus tetap saja berhasil membunuh ayahnya.

Balik lagi ke kisah Cem. Suatu hari ketika perusahaan Cem yang bernama Suhrab itu hendak memperluas jangkauannya ke wilayah Ongoren, perusahaannya mengalami penolakan. Ternyata, skandal bahwa Cem telah mengkhianati Mahmut Usta itu rame banget dibincangkan di sana. Apalagi, rupanya Mahmut Usta tidak meninggal di dalam sumur, teman-teman. Setelah ditinggal kabur Cem, Mahmut Usta berhasil ditolong meski ia terluka menjadi cacat. Mengenai sumur itu, akhirnya sumber air pun berhasil di dapat oleh Mahmut Usta. Karenanya, ia menjadi orang yang dihormati di kawasan Ongoren.

Cem pun sangat terkejut. Lebih terkejut lagi ketika ia mendapati surat dimana didalamnya tertulis bahwa surat itu ditulis oleh anaknya bersama Wanita Berambut Merah yang bernama Enver. What? Cem punya anak dari Wanita Berambut Merah?

Demi perusahaannya, Cem pun datang ke Ongoren untuk mendekati masyarakatnya sekaligus menemui Enver (yang menolak bertemu Cem) dan melihat Wanita Berambut Merah yang konon tetap cantik jelita -_- Ternyata, acara pendekatannya berlangsung lancar. Cem pun berniat untuk melihat sumur yang berhasil digali oleh Mahmut Usta yang baru meninggal lima tahun lalu dengan diantar oleh seorang lelaki muda bernama Tuncay. Kata Wanita Berambut Merah, Tuncay ini kenal dekat dengan Mahmut Usta dan paham wilayah Ongoren.

Malam-malam gulita, Cem dan Tuncay pun berjalan menuju sumur tersebut dengan saling berbagi cerita. Ketika mereka sudah sampai ke tempat Cem dan Mahmut Usta dulu tinggal, Tuncay pamit pergi sebentar dan membiarkan Cem bernostalgia. Eh si Ayse nelpon dan nanyain keberadaan Cem. Setelah cerita begini-begono, Ayse pun marah dan menyuruh Cem segera pergi karena mencurigai bahwa Tuncay itu adalah anak Cem yang bernama Enver.

Cem ingat kisah Oedipus yang membunuh ayahnya. Ia pun jadi parno sendiri. Ketika Cem dan Tuncay kembali bersama, percakapan mereka semakin memanas dari tiap sudut topik sensitif. Haduh, pada moment ini, saya pun ikut kejang-kejang ketakutan dan membayangkan bahwa salah satu di antara mereka akan segera masuk sumur. Ternyata, ketika emosi sudah memuncak, Cem menodongkan pistolnya ke arah Tuncay yang ternyata memang merupakan Enver anaknya. Enver pun berusaha mengambil pistol yang dipegang ayah kandungnya. Eh tahu-tahu langsung lari ke bagian ketiga dengan sudut pandang Wanita Berambut Merah.

Jadi, apakah keduanya saling menikam? Saling masuk sumur? Saling menembakkan pistol? Ayo tebak apakah kisah Cem dan Enver berakhir seperti kisah Suhrap dan Rustam atau seperti kisah Raja Oedipus? 😀

Oh ya, hampir lupa. Wanita Berambut Merah itu ternyata merupakan mantan pacar ayah Cem loh. Jadi dulunya si Wanita Berambut Merah yang bernama Gulcihan itu adalah sepasang kekasih dengan ayah Cem. Terus si Gulcihan dinikahkan dengan kakak laki-laki Tuncay (dimana setelah kakak laki-laki Tuncay meninggal, Gulcihan menikah dengan Tuncay). Nah sebenarnya Gulcihan ini tertarik dengan Cem muda juga karena wajahnya yang mirip mantan kekasihnya a.k.a ayah Cem. Eh kebablasan… ya begitulah. Nggak suka banget sama karakter Gulcihan 😦

Overall, lumayan.

Iklan

10 thoughts on “Review Buku Orhan Pamuk “Wanita Berambut Merah”

  1. Orhan Pamuk konsisten banget dengan tekadnya menjadi post-modernist ya. Aku baru bisa selesai baca yg ‘My Name is Red’ sih. Tapi langsung suka dengan gaya tulisan dia. Yang khas dari Orhan Pamuk ini pengaplikasian intextuality itu lo. Dan kebanyak yg dipakai adalah literatur2 timur tengah. Kayak yang di My Name is Red, ada referenai si Leila ve Mecnun. Ada satu lagi tapi lupa. Dan yang kayak Nae bilang, dibuku ini malah ke Oedipus complex. Sekarang aku lagi ngincar bukunya yg terbaru ‘The Strangeness In My Mind” hehe

    Suka

    • Iya bener. Selain Oedipus, buku ini juga mention kisah Suhrab dan Rustam dari Irak.
      Bisa kita contoh nih untuk nulis cerita dengan ambil referensi dari cerita rakyat nusantara, misal. Selain membantu kita soal ide, juga bisa menaikkan popularitas cerita rakyat nusantaranya sendiri hehe. Tapi aku kok kurang sreg ya sama Orhan Pamuk. Mungkin karena baru baca satu novelnya. Harus coba baca bukunya yang lain nih.

      Suka

      • Kurang sreg gimana? Aku suka dengan keberaniannya bereksperimen dengan narrative techinque sih. Hmmm… tapi aku juga kagum dgn segala hal yang berbau teknik yg ia aplikasikan didalam novelnya seperti Intextuality dan Narrative techinque yang gak berfokus pada orang ketiga serba tahu saja, tapi memberikan hak yg sama untuk karakter lain untuk menjadi narator cerita. Kayak yg di My Name Is Red, hampir setiap chapter naratornya beda. Jadi kesannya kan menghilangkan adanya konotasi judgmental – hal yg di agung2kan para postmodernist. Kesan yang aku dapat ketika baca novelnya itu hampir sama kayak baca puisinya T.S Eliot (mungkin yg ini terlalu berlebihan sih). Tapi serius, pas baca novel Orhan Pamuk kita harus tau literatur masa lalu. Kalau nggak kuta nggak akan mendapatkan vibe nya. Jadi ya kayak baca buku pintar aja gitu hehe… multi layer.

        Suka

        • Nyerah deh kalau soal dunia literasi kelas berat #halah. Kak Adhari mah itu jagonya. :mrgreen:
          Sebenarnya nggak sreg karena selera. Meskipun mungkin perbedaan narator dapat menghilangkan konotasi judmental, tapi aku lebih suka baca yang naratornya sama, baik itu dari sudut pandang pertama, kedua, ketiga atau sekalian serba tahu. Soalnya feel nya beda dan rasanya bisa lebih fokus mendalami tiap peristiwa. Terus kalau narator beda itu kesannya kayak si penulisnya rakus mengambil berbagai sudut pandang. Biarlah pembaca nggak tahu isi hati dan kepala tokoh lainnya. Atau kalau tahu, sekalian aja lewat orang ketiga serba tahu. Haha. Makin ngaco. Begitulah.

          Suka

          • Iya sih, kalau beginian memang masalah selera. Aku pribadi sih lebih terkesima dengan para penulis modernist atau postmodernist, karena lebih inovatif gitu. Pernah baca Virginia Woolf gak? Secara angkatan, beliau modernist sih. Tapi narrative technique nya beliau lebih parah lagi – stream of conscious. Didalam satu paragraf naratornya bisa lari-lari dari kepala karakter A ke karakter B tanpa ada indikasi apapun seperti tanda petik (“…”) atau deskripsi bahwa kata-kata itu berasal dari A. Atau bisa juga karater A yang pikirannya berlari-lari. Jadi seolah-oleh si Woolf ingin menunjukkan jalan fikir manusia yang gak pernah konstan. Terkadang bisa aja kita lagi ngobrol sama seseorang tapi pemikiran kita malah lari ke lokasi lain.

            Intinya kalau kita telaah sejarah story telling yang awalnya cuma bagian dari kegiatan bercerita dari mulut ke mulut, sekarang sudah maju pesat. Para penulis ingin menunjukkan bahwa didalam dunia bercerita pun kita bisa berinovasi bukan hanya di teknologi dll. Dan profesi bercerita itu bukan cuma masalah menyampaikan pesan tapi juga bekreasi dengan gaya penulisan. (Salah satu alasan kenapa cerita2 ku nggak selesai-selesai hiksss. Hanya terkumpul dalam bentuk ide-ide di jurnal. Selalu berdebat dengan diri sendiri ttg sistem narasi. Hehehe… Tapi aku percaya bahwa segala sesuatu itu butuh proses demi sebuah tahapan dimana individu bisa merasa content hehehe… Gak apa2 deh gak pernah publish tulisan tapi pas publis harus yang memang memuaskan bagi diri sendiri)

            Oya, penulis Indonesia ada juga lo yang menerapkan gaya intertextuality. Aku belum baca sih. Tapi menurut review yang ku baca online, bukunya mba Laksmi Pamuntjak “Amba” – beliau tulis menggunakan ‘format’ cerita Mahabrata. Pingin pulang ke Indonesia biar bisa melahap buku2 karya sastrawan Indonesia! hikss….

            Suka

            • Salah satu dosenku ada yang merekomendasikan bukunya Virginia, tapi belum pernah baca. Boleh lah ntar coba baca. Aduh nggak tahu siapa tuh Laksmi Pamuntjak. >.< Kalau penulis Indo, lebih sering ngamati di cerpen koran minggu. Coba deh Kak Adhari buka blog "Lakon Hidup". Di sana banyak cerpen koran minggu. Jadi beraneka ragam. Lumayan memuaskan. Pendek lagi, sekali duduk. Di negeri orang sedihnya gitu ya nggak nemu buku-buku karya sastrawan Indonesia. Kangen juga numpang baca buku gratis di Gramed eh

              Suka

              • Mba Laksmi kemarin lumayan aktif di acara Frankfurt bookfair untuk merepresentasikan Indonesia. Iya bener nih. Aku minggu kemarin diskusi buat graduation paper. Pas aku nanya boleh nggak milih karya sastra asing, pembimbingnya langsung bilang boleh. Malah kalau ada sastrawan Indonesia juga dia bakal sangat senang sekali. Sekarang malah aku yang bingung, karya sastra Indonesia mana yang bagus dijadikan bahan skripsi. Karena aku nggak terlalu well informed sama karya sastra Indonesia. Buku2nya Pramoedya aja belum baca hikss… Oya… Thanks buat info blog cerpennya.. 🙂

                Suka

                • Ooh.. aku cuma tahu Nadia KKPK di Frankfurt bookfair.
                  Wah bagus tuh sekalian ngenalin kesusastraan Indonesia, Kak. Ntar kalau di Indo harus baca tuh bukunya Pram. Aku baru baca satu bukunya sih. Itu pun pas SMP. Nggak begitu inget ceritanya. Tapi tulisannya keren. Mau yang baru atau lama Kak? Itu Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, Layar Terkembang, Belenggu dan Pulang seingetku bagus meski udah nggak begitu inget jalan ceritanya juga. Masa SMP yang lalu… Gini nih yang bikin nyesel kenapa dulu nggak pernah bikin resensi dari buku yang dibaca… jadinya kisah dari beberapa buku campur jadi satu di ingatan >.<

                  Suka

  2. arrrggghhghhg beruntung banget kamu bisa baca buku terbarunya orhan pamuk. aku pinjam dong. 🙂
    kalau baca reviewnya kaka, ini kayaknya gak semembibgungkan my name is red deh. my name is red baca pertama kali membingungkan tapi kalau dibaca berulang kali nanti juga nemu keseruan novel itu,

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s