Don’t Be Yourself!

Don’t be yourself! Nope, saya nggak salah nulis. Ini mungkin tulisan yang debatable yah.

8966767_orig

sumber : crimeandpunishmentbook.weebly.com

Buat saya, be yourself itu nggak sepenuhnya bener atau dapat berlaku. Kita tuh nggak hidup sendiri di dunia ini. Kita harus peduliin aturan; orang lain. Contoh simpel adalah kalau kamu pengin semir rambut warna merah sedangkan sekolahmu melarang pewarnaan rambut. Kalau nggak ikut aturan, ya kamu bakal dapat hukuman/sanksi. Kalau kamu bilang pengin warna merah dan berani beda asal jadi dirimu sendiri… sesuai dengan hatimu, ya tinggal di hutan sono dimana kamu bisa ngapain aja sebebasnya. Eh, hutan siapa dulu, tapi? Bakal tetep ada aturan dong. Kita hidup kan butuh norma, adab, etika, aturan. Buat apa sih? Ya buat ngatur hidup kita. Norma itu perihal yang udah disetujui atau perjanjian tidak langsung antar masyarakat. Kalau mau hidup di antara masyarakat, ya nurut sama keputusan bersama. Emang nggak adil bagi minoritas.

Hidup sesuai kehendak kita juga ada kerugiannya loh. Misal aja sebel sama orang, kegiatan saling tikam bisa aja terjadi. Makanya kan ada batasan-batasannya. Ada hukum yang mengatur. Kadang tuh bingung juga kalau lihat orang menuntut kebebasan. Pada dasarnya, semakin bebas itu semakin tidak beraturan. Kamu boleh injak ini-itu, gini-gitu. Tapi… bentar-bentar! Ketidakbebasan itu konon adalah kedamaian yang semu, juga. Maksudnya? Ada pendapat yang mengatakan bahwa norma dan adat dibuat oleh kaum kelas atas dimana kebijakannya diterapkan di dalam masyarakat sebagai bentuk ilusi kebebasan kaum menengah bawah. Padahal aslinya tetep, kaum burjuis dari zaman tuan tanah sampai kapitalist itulah yang mengontrol segalanya.

Pendapat saya pribadi, andaikan memang benar demikian, selama tidak ada yang protes, ya udah. Artinya, semua merasa “ok” dengan hidup dan aturan yang berlaku. Well, inilah salah satu arti penting dari kegiatan berdemo. Diam tanda setuju, konon.

Btw, lanjut ke pertanyaan mengapa kita sebaiknya jangan jadi diri sendiri. Untuk beberapa hal, mungkin bisa diterapkan. Namun banyak sekali hal yang membuat kita harus berbaur dalam masyarakat dan tidak bertindak dalam kehendak pribadi. Istilah kerennya adalah alienation.

Langsung ke contoh aja nih ya. Saya termasuk orang yang nggak suka senyum dan nyapa orang. Kenapa? Saya suka sebel kalau misalnya nyapa dan senyum eh yang disapa nggak nanggepin. Entah karena nggak lihat atau sengaja. Oh jadi takut ditolak? Eng… bisa dibilang gitu. Apalagi saya pakai kacamata. Kalau pas nggak pakai, daripada salah nyapa, saya mending diem aja kalau setengah ragu setengah yakin. Soalnya saya udah seringkali salah nyapa orang pas lagi nggak pakai kacamata. Malu!

Kesannya sombong, mungkin. Padahal itu karena saya nggak mau kecele aja. :mrgreen: Walhasil, saya dikenal pendiam di lingkungan tertentu. Nah, saya coba cari “sensasi” nih dengan menjadi orang lain. Pada beberapa kondisi tertentu dimana di dalam situasi tersebut tidak ada orang yang saya kenal sama sekali, saya beberapa kali menjadi orang yang bukan saya. Dasarnya introvert, pelit banget ngomong di keramaian. Nah kalau mau coba jadi orang lain gini, saya bakal jadi anak supel banget nyapa sana-sini. Bahkan ada temen yang nggak percaya kalau saya aslinya pendiam karena dia mengenal saya pertama kali ketika saya memainkan peran sebagai orang lain. Seru juga, kadang. Selama nggak ada orang lama yang dikenal sih.

“Trying too hard to be a person that you’re not. Try that and people will notice your effort.” Vania İvena

Kalau kata pendukung pendapat be yourself sih mungkin ini hypocrisy. Tapi bukannya kita memang hidup di antara situasi yang memang hypocrisy?

Pernah nggak sih kamu mengingkari keinginanmu sendiri supaya dapat diterima di masyarakat? Misal gampangnya aja deh dalam hal kuliah. Saya ada temen yang nggak kepengin jadi dokter. Tapi, karena menurut masyarakat, dokter itu keren, dia pun mengorbankan keinginan aslinya. Itu alienation. Lalu dia ngaku seolah-olah emang pengin jadi dokter kepada orang lain.Hypocrisy, isn’t it? Contoh gampang hypocrisy itu kalau kamu daftar beasiswa Turki buat ketemu Paman Selim tapi pas interview bilangnya pengin berbakti pada negeri *nggak nyindir siapapun*

Ngomongin hypocrisy, saya beberapa waktu yang lalu baca novel kece nih. Judulnya The Catcher in The Rye. Pernah baca? Ini juga nggak jauh-jauh hubungannya sama kisah para hypocrite dari pandangan bocah polos dan jujur, konon. Ntar deh saya bikin resensinya.

Jadi gimana? Be yourself atau don’t be yourself? The choice is in your hands. La la la la *nyanyi* Jangan tegang-tegang bacanya ih :mrgreen:

Iklan

20 thoughts on “Don’t Be Yourself!

  1. saya juga bingung sih kalo ditanya be yourself ata gaknya, karena pada dasarnya saya ambivert, jadi lebih ke menyesuaikan di lingkungan mana saya berada.

    namun pada dasarnya kita ga bisa menyenangkan semua orang atau kita ga bisa membuat orang setuju/senang dengan diri kita. jadi cenderung pengertian “be yourself” saya itu, sejauh mana kali yaaa kita mengexplore diri kita untuk beradaptasi di lingkungan apapun :))

    Suka

  2. Hmm.. Kata2 “be yourself” itu emang rada2 kontroversial. Pernah baca di blog lain itu maksudnya yang benar “be better version of yourself”, tapi “don’t be yourself” itu juga lebih baik daripada kena’ salah tafsir sperti diatas 🙂

    Suka

  3. Kadang-kadang, memang gak baik sih sepenuhnya jadi diri sendiri. Tulisan bagus hehe. Btw, aku juga udah baca The Catcher in the Rye. Si Holden tuh beneran sosok yang Be Yourself gitu ya, semuanya seenak dia.

    Suka

  4. jadi diri sendiri untuk beberapa hal mungkin bisa ditelolir ya, karena untuk jadi seperti orang lain juga hal yang susah, dan untuk beberpa hal juga kita dituntut untuk tak jadi diri sendiri krn ada batasan atau norma

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s