Pelipur Lara Menjelang UAS

Hawa Izmir lagi panas-panasnya nih, gaes. Biarpun belum dijadwalkan memasuki musim panas alias masih musim semi, badan tuh rasanya kayak kebakar tiap hari. Apalagi kini waktu Magrib adalah sekitar jam setengah sembilan malam. Udah jam siangnya makin panjang, panas matahari pun makin menggila. Ini menimbulkan dampak menyebalkan bagi kita yang hendak ujian. Mau mulai belajar tuh berat banget. Hawa panas kan bawaannya kalau nggak bikin pengin tidur ya baper. Apalagi teman sekamar lagi heboh-hebohnya ngomongin soal “nyari bahu” dalam tiap kesempatan. Ya, kalau kamu ngerti maksud hayati. Maklum, di facebook lagi hits foto wisuda bergandeng-gandengan.

Akibatnya, saya yang biasanya nggak peka pun jadi mudah baper. Lihat kucing duduk anteng aja, dikira digodain. Apalagi si teman Turki suka kedip-kedipin sebelah matanya…. *tidur ajalah* :mrgreen:

Setelah mendapat rehabilitasi dari segi agama, alhamdulillah saya mendapat pencerahan. *walah* Setidaknya, jadi nggak baper-baper amat. Namun tetap saja rasanya masih sedikit susah untuk mulai buka catatan. Here we go! Akhirnya saya memutuskan untuk memposting tulisan terakhir sebelum UAS yang akan berlangsung selama dua minggu besok. Doain hayati ya, gaes :’)

Kali ini saya mau membahas kegiatan di hari Sabtu (28/05) kemarin. Jumat malam (27/05), saya dan beberapa teman PPI Izmir pergi menghadiri wisuda salah satu mahasiswa Indonesia di daerah yang bernama Buca. Dari tempat saya menuju Buca, dibutuhkan perjalanan dengan  bus yang tidak sebentar. Selain lamanya waktu, yang membuat saya makin lelah adalah karena jalannya yang berkelok-kelok satu purnama. Kayak kisah Cinta dan Rangga aja. *Jangan baper, Nae!*

13327456_1208726962473663_3514417772801803704_n

selamat atas kelulusannya, Andi Abi 🙂

Yoi! Dikarenakan perjalanan yang melelahkan, saya langsung tepar setibanya di asrama. Apalagi itu sudah lebih dari jam 12 malam. Mana saya harus bangun pagi dikeesokan harinya alias nggak aja waktu bobok selepas subuh, lagi.

Sekitar jam setengah delapan pagi, saya, Teh Erna dan beberapa teman asing seasrama berjalan ke depan gerbang kampus Ege untuk menunggu bus yang akan mengantarkan kami bersama rombongan mahasiswa/i asing lainnya ke kawasan Torbali dalam acara International Students Gathering.

Ketika bus datang, mata kita pun jatuh ke tanah. Busnya lumayan unik sih… kayak bus tua gitu. Akibatnya, kita kepanasan di dalamnya. Duh! Pas nyampe di Torbali rasanya tepar dan sedih. Meski ada senengnya juga sih lantaran berada di kerumunan mahasiswa asing. Kadang tuh kalau lagi lelah berada di kerumunan orang Turki, happy banget berada di antara mahasiswa/i Indonesia ataupun mahasiswa/i asing. Seperjuangan gitu rasanya; sama-sama tinggal di negeri orang. Hew…

Setelah sampai dan menghirup udara segar Torbali, kami diajak untuk pergi sarapan yang terdiri dari ekmek (roti Turki), selai stroberi, selai kacang, zaitun hijau dan hitam, telur rebus, irisan timun dan tomat, izgara apa ya pokoknya keju yang dibungkus pangsit kering, salam, madu, keju, dan teh  hangat. Kita di situ lumayan lega lantaran emang udah nahan lapar sejak pagi. Udah nggak uring-uringan dan sedih lagi, deh :mrgreen: Apalagi salah satu teman Indonesia kita, Mas Nur, datang membawa cahaya *eh*

Jadi kan habis sarapan tuh kita harus buru-buru bangun stand yang digunakan untuk mengenalkan budaya-budaya dari berbagai negara ke masyarakat Turki. Mas Nur, agen dari Indonesia ini bawa perlengkapan sekoper yang berisi paket angklung dan baju tari Saman. Terus Mas Iqbal bawa wayang-wayangan gitu buat dipajang. Hurrah! Dan dimulailah acara hari itu.

13321954_10209619750994591_8590027762246132733_n

credit to Mas Nur

Sekitar pukul 16.00 waktu Turki, kami mengakhiri acara dengan makan siang bermenu menu pembuka cacik (sup timun dengan yogurt), menu utama nasi dengan kentang dan kofte (daging giling mirip bakso) dan menu penutup berupa entah apa tapi manis banget. Orang Turki emang gemar banget bikin makanan pencuci mulut yang super duper manis. Tapi pasti ada teh pahit sebagai pendampingnya. Sayang, kemarin nggak ada teh.

Setelah kenyang, ada doorprize berupa sunglasses. Tentu saja saya nggak dapat. Ya udah, terus rombongan pun lanjut jalan-jalan ke Metropolis; reruntuhan bangunan tua mirip Ephesus versi mini. Di sana, panitia acara membagikan sertifikat terima kasih karena udah berpartisipasi, serta foto bersama.

13342891_1726203530925425_1384544678538464866_n

sumber : Yeni Dunya Vakfi Izmir

Acara hari itu pun ditutup dengan kebahagiaan meski cukup melelahkan. Yah, lumayan untuk pelipur lara sebelum UAS hhe.

 

 

Iklan

2 thoughts on “Pelipur Lara Menjelang UAS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s