Review Buku Hagiografi Margaret Thatcher, The Iron Lady

Judul Buku : Margaret Thatcher

Penulis : Patricia Murray

Penerbit : W. H. Allen. A Howard & Wyndham Company

Kota : London

Tahun Terbit : 1980

Jumlah Halaman : 238 hlm.

But be not afraid of greatness;

Some men are born great;

Some achieve greatness,

And others have greatness thrust upon them.’

Twelfth Night, Act III, Scene IV Malvolio

Konten dalam buku ini dibagi menjadi beberapa bab seperti :

  1. The Early Years

… children don’t really appreciate how how hard their mums work until they get older and some of them become mum themself. P.23

“You do not follow the crowd because you’re afraid of being different- you decide what to do yourself and if necessary you lead the crowd, but you never just follow.” P.24

  1. The Old Girls’ Reunion
  2. Oxford
  3. Always Dartford

“If you’re not an optimist when you’re young then you’ll never be one!” P.43

  1. At Home

A happy family life makes the world of difference to a person and blood is thicker than water. P.52

  1. Life at The Bar
  2. My Mother
  3. Views

… people are always frightened to change for what they have. P.85

  1. The Citadel
  2. Face to Face

Afterword

Karena bab Views berisi pandangan rekan ataupun rival politik Mrs. Thatcher yang isinya kurang lebih sama, saya pun memutuskan untuk tidak membaca buku ini sampai tuntas walau sebetulnya setelah bab Views, masih ada The Citadel dan Face to Face. Sedih sih karena gagal menyelesaikan buku ini. Tapi ya gimana udah terlanjur malas :/ Efek homesick nih kayaknya. Atau efek #Brexit? 😦 Apadeh.

Margaret Thatcher terlahir sebagai Baca lebih lanjut

Iklan

Tahun Pertama Kuliah di Turki

177232985

sumber : college.usatoday.com

Ramadan udah jalan setengah bulan. Alhamdulillah. Gimana rasanya, gaes? Nano-nano pastinya ya 😀

Saya juga nano-nano nih. Ramadan hari pertama tahun ini jatuh di hari pertama saya UAS tanggal 6 Juni lalu. Sebelum jatuh tempo, rasanya tuh was-was nan khawatir apakah nanti saya dapat membagi waktu antara belajar dan tarawih dengan baik? Sok banget yak :mrgreen: Ternyata, biasa aja sih. Berhubung puasa di Turki itu dimulai sejak jam empat pagi kurang sampai sekitar  jam sembilan malam kurang, kami cuma punya jam malam yang sangat singkat. Apalagi Isya’ itu dimulai pukul 22.30an. Walhasil, saya nggak tidur sampai Subuh. Kalau setelah tarawih tidur, bisa-bisa nggak bangun sahur. Kalau habis sahur tidur, takutnya justru Subuh-nya yang kelewat. Jadi ya udah, tidur setelah Subuh aja.

Ada kejadian lucu nih pas saya UAS kemarin. Hari Jumat (10/06) pukul 09.00 pagi waktu Turki, saya ada UAS matkul Basic Concepts of Law di kampus. Karena rentan waktu antara Subuh dan jam UAS hari itu tidak begitu jauh, saya nyaris saja melewatkan ujian! Naas, saya baru bangun tidur itu sekitar pukul 08.23 pagi waktu Turki. Untung saja fakultas saya dekat dari asrama. Jadilah saya lari-lari dari pintu gedung asrama ke gerbang utama asrama sampai masuk ke ruang ujian di gedung fakultas. Sungguh sesuatu sekali karena saya biasanya jalan kaki sekitar 25 menit dari asrama ke kampus. Namun hari itu cuma 10 menit. Gila! Tapi ya gitu, nafas saya ngos-ngosan ketika sampai di kelas.

Jadi pas hari Selasa di minggu berikutnya dimana saya ada jadwal UAS juga pukul 09.00 pagi waktu Turki, saya pun memutuskan untuk tidak tidur meski akhirnya molor juga. Untungnya teman sekamar saya baik-baik mau ngebangunin daku yang kebo banget kalau udah tidur. :mrgreen:

Kemarin tanggal 17 Juni 2016 adalah hari terakhir saya UAS yang artinya sejak hari itu sampai sekarang, saya udah nggak ke kampus lagi hingga September mendatang. Karena jadwal saya mudik ke Indonesia itu masih beberapa hari lagi, saya pun hanya bertopang dagu di asrama. Dan itu… sungguh membosankan! Bukannya lebih melegakan karena nggak perlu lelah belajar buat ujian di tengah puasa sepanjang 17 jam, saya justru merasa lelah karena nggak ngapa-ngapain. Baca lebih lanjut

Cerpen Berlatar Turki Pertamaku : Şanslı Kız

Lamunan Marwa terhenti ketika ia menyadari bahwa air laut mulai masuk ke perahu karet kecil mereka. Seluruh penumpang perahu yang mulai panik menepikan tas mereka supaya tidak basah ataupun melindungi dirinya dari air. Angin yang bertiup membuat gerakan pada perahu kecil itu tidak beraturan. Penumpang semakin panik. Anak kecil menjerit-jerit ketakutan akan semakin banyaknya air yang masuk ke perahu karet. Perahu kecil itu pun tidak bergerak di tengah lautan. Hanya terapung sebelum kemudian tenggelam perlahan.

Seharusnya ini mudah. Namun entah mengapa, saya pun masih bertarung untuk memasukkan latar tempat dan suasana Turki ke dalam sebuah cerita. Padahal ini kesempatan segar selagi saya tinggal di Turki dan lagi booming-nya sinetron Turki.

Doain yah… siapa tahu summer tahun ini bisa nulis dan MENYELESAIKAN novel remaja berlatar Turki diambil dari kisah pribadi dan lingkungan. Haha. Pengin banget bisa bikin semacam STPC nya GagasMedia *ngayal :mrgreen: Soalnya suka banget sama STPC sejak kemunculannya beberapa tahun lalu. Apalagi yang London 😀 Yang penting nulis dulu.

Oke langsung aja yuk tengok cerpen sederhana yang dimuat di web Turkish Spirits ini. Buat yang mau tahu tentang Turki, boleh banget kunjungi situs tersebut.

Oh ya cerpen ini bercerita mengenai kenangan masa lalu gadis Suriah yang kehilangan keluarganya. Saya ada 4 teman asal Suriah di kampus. Dua dari mereka adalah teman dekat saya. Dan ya… meski mereka selalu ceria, saya tahu mereka menyimpan duka tiap kali bahasan kami mengalir tentang Suriah. Dari salah satu dari merekalah saya terinspirasi untuk membuat cerpen ini.

Terima kasih untuk teman baikku Bana, yang sudah membantu menerjemahkan beberapa kalimat ke bahasa Arab Suriah. ❤

Şanslı Kız

Oleh : Naelil M.

Aku mengikat tali sepatuku cepat-cepat sebelum kemudian menyambar tas samping yang tergeletak di lantai. “Aku pergi, Anne[1]!” teriakku tanpa menunggu jawaban. Kususuri tangga demi tangga dari lantai tiga menunju lantai dasar. Huff. Melelahkan. Inilah yang kulakukan tiap kali pergi ke luar. Apartemen kami tidak memiliki lift. Sesuatu yang membuatku mengeluh sepanjang waktu walaupun Anne selalu mengatakan bahwa ini baik untuk kesehatanku.

Kutepuk bahu kiri gadis berambut hitam lebat yang berdiri di samping pintu. “Hadi gidelim, kanka[2]!”

Ia membalasku dengan senyuman yang membuat sepasang lesung pipitnya terlihat. Itulah Marwa. Tak pernah mengeluh walaupun aku seringkali membuatnya terlambat datang ke kelas. Padahal, yang seharusnya terlambat itu Marwa, bukan aku. Aku selalu pulang ke rumah setelah kelas. Namun Marwa harus pergi bekerja di rumah makan kebab dari jam empat sampai sepuluh malam tiap haftaiçi[3] setelah kelas. Itulah sebabnya ia baru akan sampai di rumahnya pada pukul 23.00 atau 23.30 waktu Turki. Meski demikian, ia selalu mengatakan bahwa ia sungguh beruntung lantaran tidurnya selalu pulas karena kelelahan.

Setelah saling mengecup pipi sebanyak tiga kali, aku dan Marwa pun segera berlari beriringan menuju stasiun kereta Izban yang terletak di antara hiruk pikuk Karşıyaka[4]. Karena jam kelas kami bersinggungan dengan jam para pekerja, mau tidak mau kami harus menyusup di antara kerumunan yang membuat waktu kami lebih terulur lagi. Aku dan Marwa berlarian menyusuri tangga panjang menuju ke terowongan tempat kami menunggu kereta Izban dan menabrak beberapa orang tua yang menyisakan gerutu panjang. Tepat ketika kaki kami berhasil menginjak baris terakhir tangga, Baca lebih lanjut

Book Review : The Catcher in The Rye by J.D. Salinger

Title : The Catcher in The Rye

Author : J.D. Salinger

Publisher : Little, Brown and Company

Place : Massachusetts, USA 

Year : 1981

Page : 214

Catcher-in-the-rye-red-cover

source : wikimedia

Hello!

I’ve read this novel about one or two months ago and now, I’ve forgotten the details and feelings. Exams took my senses. But, since today was the last day of my final exams, I want to celebrate it by reading another interesting book that I just borrowed from library. It means that I have to review this one before I start reading another.

A blogger told me indirectly that the murderer of John Lennon read this novel before killing him. Instantly, this novel is one of the murderer’s motivation. And I was like… what? So I decided to go to our lovely library-I am not exaggerating-and went for it. It’s such a tiny novel; 214 pages.

The most delightful part is that this novel is Baca lebih lanjut

Kisah Ibu Sukaeni dan Satpol PP yang Tiada Habisnya

Warung-Makan-Razia

sumber : Kompas TV

Rupanya kisah Ibu Sukaeni pemilik warung makan dan satpol PP masih juga diperbincangkan meski kejadiannya sudah lewat beberapa waktu yang lalu. Sedikit lah saya yang cuma anak baru kemarin ini mau berkomentar. Saya memang hanya seorang pelajar. Bukan pengamat politik, apalagi. Saya hanyalah kaum awam yang melihat situasi dari sisi mata polos. *apaan

Ya.. mungkin benar seperti kata orang bahwa warga Serang saja tidak protes atas perda tersebut, mengapa yang warga kota lain protes? Toh nggak akan didengar, katanya. Tunggu.

Ibaratnya Baca lebih lanjut

Ramadan di Turki : Puasa Itu Nggak Berarti Pingsan

Naelil omong doang ih! Katanya mau istirahat dari nulis blog selama UAS dua minggu ini? Eh kok baru sehari UAS aja udah nulis lagi? :mrgreen:

Sebelumnya, selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan ya teman-teman semua. Semoga puasanya lancar dan berkah. Mari berlomba-lomba dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah! Ramadan Kareem! Ramadan Mubarek Olsun, canlarim!

Ini merupakan kali kedua saya menjalankan ibadah puasa Ramadan di negeri orang-lebih tepatnya Turki. Yang spesial dari tahun ini adalah bahwa hari pertama Ramadan tepat dengan hari pertama UAS. Bukan hanya itu, masuknya musim panas di Turki pun menjadikan kota Izmir (salah satu kota terpanas di Turki) bagai kejatuhan bola api. Ciyus. Feels like 35° Celcius meskipun sebetulnya cuma 30°.

Alhamdulillahnya, pagi ini (6/6/16) hujan turun rintik-rintik di kawasan Bornova di mana kampus tercinta saya – Ege Universitesi – berada. Setelah lari terbirit-birit dengan payung menuju gedung fakultas, saya pun segera meluncur ke ruang ujian dan mendapati teman-teman saya sedang sibuk duduk atau berdiri bersama berlembar-lembar buku catatan sambil meneguk segelas minuman berwarna. Jeglek! Baca lebih lanjut