Kisah Ibu Sukaeni dan Satpol PP yang Tiada Habisnya

Warung-Makan-Razia

sumber : Kompas TV

Rupanya kisah Ibu Sukaeni pemilik warung makan dan satpol PP masih juga diperbincangkan meski kejadiannya sudah lewat beberapa waktu yang lalu. Sedikit lah saya yang cuma anak baru kemarin ini mau berkomentar. Saya memang hanya seorang pelajar. Bukan pengamat politik, apalagi. Saya hanyalah kaum awam yang melihat situasi dari sisi mata polos. *apaan

Ya.. mungkin benar seperti kata orang bahwa warga Serang saja tidak protes atas perda tersebut, mengapa yang warga kota lain protes? Toh nggak akan didengar, katanya. Tunggu.

Ibaratnya ada negara A yang pemerintahannya diktator. Kalau rakyat di negara itu diam dan negara-negara di seluruh dunia juga diam, akankah ada perubahan dalam negara A tersebut? Tentu saja tidak. Karena diam berarti menyetujui. Jika setidaknya ada yang bersuara, meskipun itu warga negara lain, masyarakat internasional akan mampu bergabung bersama memberikan tekanan terhadap negara tersebut sehingga meski toh keputusannya ada di negara A itu sendiri, suara dari masyarakat internasional tersebut bisa dijadikan referensi oleh negara yang mengalami kediktatoran pemimpinnya tersebut, jika memang posisi masyarakat lokalnya nggak sadar. Kalau memang maunya begitu, ya udah. Setidaknya, kita berperilaku sebagaimana manusia yang tidak cuma ber-iya-iya rame-rame. Diktator itu cuma perumpaan lo.

Itu yang pertama.

Yang kedua, beberapa orang mempertanyakan mengapa kasus Ibu Sukaeni ini heboh bukan main? Sedangkan perda yang sama sudah ditetapkan sejak beberapa tahun yang lalu.

Orang tidak akan bisa berkomentar terhadap apa yang tidak ia ketahui.

Benar, tidak? Jadi, kalau kemarin itu orang-orang heboh setelah Kompas TV menjadikannya berita, itu normal. Karena mungkin dulunya emang nggak banyak yang mengenal perda itu. Selain karena Kompas “pintar” mengolah berita sesuai kepentingannya, “kebebasan” adalah topik yang memang selalu menarik perhatian massa.

Lalu, orang-orang pun mulai mengaitkannya dengan kasus lain. Mengapa di kota B yang begini-begitu kalian tidak protes? Sekali lagi, orang tidak akan bisa berkomentar terhadap apa yang tidak ia ketahui. Kalau mau dapat pendapat, ya dimunculkan dulu ke permukaan. Dalam hal ini, bisa pakai media.

Semuanya tahu, media adalah penggiring opini publik yang sangat jitu. Kekuatan sebuah negara, terletak dalam 4 tangan besar. Yaitu badan legislatif, badan eksekutif, badan yudikatif dan media. Jika badan legislatif, badan eksekutif dan badan yudikatif itu ada di pemerintah, media adalah satu-satunya tangan besar yang dalam teorinya, terlepas. Tapi praktiknya? Di Turki ini ada masanya “pengumuman” yang menyumbang besar bagi keuangan media, dipegang oleh pemerintah. Jadi, media yang pro pemerintah pun bakal dapat banyak “pengumuman” yang menyebabkannya banyak uang. Sedangkan yang kontra/oposisi, bakal dapat dikit “pengumuman” yang menyebabkannya krisis keuangan  yang bahkan bisa menyebabkan media tersebut terpaksa ditutup.

Walhasil, munculah pasar monopoli. Media pun ikutan. Kalau di Turki, dulu sejak tahun 1960an itu emang udah muncul hawa-hawa monopoli di dalam media. Yang dulunya pimpinan media itu berasal dari orang yang ngerti ilmu komunikasi, saat itu hingga sekarang pun bos-bos media dimasuki oleh orang-orang bisnis. Singkat kata, mengais omset sebanyak-banyaknya adalah salah satu tujuan. Caranya? Ya dengan naikin rating. Selain omset, mereka juga pasti memiliki tujuan tertentu. Misalnya saja tujuan politik. Saya yakin nggak ada media yang netral. Pasti ada kecenderungan tertentu. Apalagi musim pemilu. Koran lokal adalah salah satu hal yang paling mempengaruhi opini warga terhadap calon walikota/bupati dll loh. *eh ini malah bahas apa

Karena kita udah pada ngerti itu, normal kalau ada yang bilang supaya kita “jangan percaya media”. Pertanyaannya, terus kita percaya siapa? Percaya kamu? *jangan baper

Kalau nggak ada media, kita tahu sesuatu darimana? Media secara luas juga menyangkut citizen journalists. Jadi, semua orang yang share opini di sosmed itu juga termasuk sedang menggiring opini kita atas kepentingannya pribadi atau golongannya.

Terus ada yang bilang supaya kita cerdas dalam menanggapi berita. Betul sekali! Kalau dapat berita A, jangan langsung percaya. Cari tahu dulu sampai akar-akarnya sebelum komentar. Nah terus, cari tahu sampai akar itu kan nggak cuma butuh waktu satu jam dua jam. Ntar jadinya malah nggak ada yang kasih komentar dan bersuara. Semuanya diam saja karena malas menelusuri kebenaran. Mana banyak pekerjaan yang harus dikerjain, lagi. Nah! Itulah fungsi media, para investigative journalists dan reporter yang terjun ke lapangan noh yang cari tahu sampai akar-akar sebuah peristiwa dari berbagai sudut pandang.

Artinya, bukannya kita diam saja, namun usahakan untuk melihat sebuah berita bukan hanya dari satu media. Namun dari beberapa media berbeda yang perusahaan induknya beda. Kalau perusahaan induknya sama, ya sama aja mereka cenderungnya kemana. Itu adalah salah satu cara untuk mencari kebenaran.

Tapi meski begitu, mereka kan pasti punya tujuan tertentu? Darimana kita tahu kalau mereka enggak memodifikasi, mengurangi, mengubah, memutarbalikkan ataupun mendramatisasi fakta?

Gunakan nurani dan kepercayaanmu. Sama seperti media, setiap orang pun pasti memiliki kecenderungannya masing-masing. Otomatis kita akan menilai peristiwa dari nurani dan kepercayaan kita. Saya juga. Makanya, kamu boleh banget tidak setuju terhadap postingan saya ini. :mrgreen:

Mengingat peran, tujuan dan fungsi media di atas, kita taruh tuh topik media di meja sebelah. Maksudnya, iyalah anggap Kompas TV itu tujuannya A, B, dan C.

Sekarang setelah melihat nurani dan kepercayaan kita masing-masing, mari beralih ke kasus Ibu Sukaeni dan satpol PP.

Jika di dalam perda terdapat larangan membuka warung di siang hari, normal rasanya jika satpol PP melayangkan razia. Ya… sesuai dengan aturannya gimana, hukuman terhadap yang melanggar itu gimana. Jika memang razia, ya bagus kalau satpol PP itu melakukannya. Karena kalau enggak dihukum, pelanggar bakal berpikir kalau itu nggak apa-apa dan terus melanjutkannya tanpa jera. Hukum pun jadi diabaikan.

Jadi, saya nggak akan bersuara untuk itu.

Pertanyaan yang melintas di kepala saya adalah, mengapa harus ada larangan tutup warung di siang hari? Kalau mau nanya kenapa saya baru bersuara sekarang dan bukan tahun pertama perda tentang ini keluar, baca lagi tulisan saya di atas please..

Di Indonesia, ada 6 macam agama yang diakui. Hebatnya, meski mayoritas adalah muslim, Indonesia menghormati masyarakat beragama selain Islam untuk melaksanakan ibadahnya. Ini yang membuat teman-teman Turki saya berdecak kagum melihat Indonesia. Ketika mereka tahu bahwa di Indonesia, libur lebaran agama selain Islam itu ada, mereka tercengang. Ketika melihat ada tempat ibadah beda agama yang berdampingan tanpa saling mengusik, mereka lebih tercengang lagi.

Indonesia adalah negara muslim terbesar sekaligus negara yang sangat-sangat menghargai perbedaan. Lagipula selain agama, Indonesia juga memiliki banyak macam ras, suku dan bahasa. Bhinneka Tunggal Ika lah pokoknya.

Kita pakai perbandingan di Turki. Selain ras Turki, ada juga ras Kurdi, Albania, Azerbaijan dll. Tapi mereka ini nggak mau disebut orang Turki. Beberapa teman saya yang berasal dari ras Kurdi misalnya, ketika saya bilang “Turksunuz” (re : kalian orang Turki), mereka jawab “Turk degiliz. (re : kita bukan orang Turki).” Coba lihat di Indonesia… mau orang Jawa, Sunda, Batak dls, kalau ditanya orang, pasti jawabnya kita orang Indonesia.

Bentrok antar suku mungkin memang masih ada dibeberapa wilayah. Tapi nggak sehebring di Turki, misal (CMIIW). Karena itu, banyak yang melihat Indonesia itu sebagai contoh keindahan perbedaan.

Balik lagi ke kasus Ibu Sukaeni dan satpol PP. Kenapa sih harus di tutup?

Pertama, kita nggak tahu jika mungkin ada pedagang yang cuma bisa hidup untuk hari berikutnya ya dari hasil jualan sehari sebelumnya. Kedua, kita nggak tahu jika mungkin ada ibu tua yang sakit-sakitan (kondisi terhimpit banget) yang lagi bingung mau beliin makanan anaknya sedangkan warung-warung tutup semua? Ketiga, ada non-muslim yang lagi perjalanan jauhhhh yang bikin laper eh nggak ada warung yang buka.

Padahal, arti menghormati, bertoleransi dan kebebasan dalam hal beragama itu apa sih? Ya… dengan tidak menghalangi orang lain untuk melaksanakan ibadahnya. Tentu saja maksudnya itu tidak menghalangi orang lain untuk melaksanakan ibadahnya, namun juga tidak merugikan/melukai pihak lain untuk kepentingan ibadah kita.

Semakin tinggi kebebasan yang kita minta, di sisi lain sebenarnya kita sedang melukai kebebasan pihak lain.

Warung yang buka di siang hari itu sebenarnya tidak perlu lah dipaksa tutup. Cukuplah ditutup tirai saja. Kalau memang niatnya mau melatih masyarakat untuk menjadi muslim yang baik-supaya semua muslim puasa, dilihat dulu lah kondisinya.

Apakah semua masyarakatnya muslim?

Terus eh ada yang nyeletuk supaya siapa pun yang masuk warung itu dicek KTP nya dulu. Kalau non-muslim, baru dilayani. Terus kalau yang perempuan bilang lagi haid, mau minta buktinya gimana?

Didikan kepada setiap muslim yang telah akil baligh untuk wajib berpuasa memang perlu. Mungkin bisa dilakukan lewat pengajian…

Kalau emang mau ditutup rapet, ya harus muslim semua. Misal di Madrasah kalau bulan Ramadan itu kantinnya tutup, ya nggak apa-apa. Itu kan di Madrasah dimana semuanya itu muslim.

Jadi minoritas yang harus dipepet terus itu nyesek loh.

Jadi, kalau semua warung ditutup, masa iya non-muslim juga dipaksa puasa?

Bukannya kita mau masuk surga sendirian dengan membiarkan muslim yang sengaja tidak puasa itu berkeliaran. Pengajaran memang perlu. Tapi, ibadah itu urusan Allah SWT dengan hamba-Nya. Allah SWT yang tahu ganjarannya. Itu Allah SWT ntar yang bakal menghisap baik buruknya.

Okelah, anggap aja kicauan saya ini efek mikir Ujian Akhir Semester (UAS). Bye!

NB : Kalau ada yang nanya gimana pendapat saya soal perda di kota lainnya yang pada intinya kebebasan ibadahnya melukai pihak lain, pendapat saya akan tetap sama. Jadi nggak berat sebelah sama kasus Ibu Sukaeni ini. Kalau nanya kenapa saya nggak bahas, mungkin karena saya belum memperoleh informasi. Kasih tau ya?

Iklan

4 thoughts on “Kisah Ibu Sukaeni dan Satpol PP yang Tiada Habisnya

  1. Hehe kaya temen labku Nae, ketika aku liatin candi borobudur dia komen begini “Loh, kenapa patung2 itu masih utuh? kenapa gak dihancurin itukan berhala” -_-

    Tapi yah, kadar toleransi manusia itu beda2. Selalu ada yang merasa kurang. Tidak kaya di dunia teknik, yang toleransinya itu terukur dan ada ukurannya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s