Cerpen Berlatar Turki Pertamaku : Şanslı Kız

Lamunan Marwa terhenti ketika ia menyadari bahwa air laut mulai masuk ke perahu karet kecil mereka. Seluruh penumpang perahu yang mulai panik menepikan tas mereka supaya tidak basah ataupun melindungi dirinya dari air. Angin yang bertiup membuat gerakan pada perahu kecil itu tidak beraturan. Penumpang semakin panik. Anak kecil menjerit-jerit ketakutan akan semakin banyaknya air yang masuk ke perahu karet. Perahu kecil itu pun tidak bergerak di tengah lautan. Hanya terapung sebelum kemudian tenggelam perlahan.

Seharusnya ini mudah. Namun entah mengapa, saya pun masih bertarung untuk memasukkan latar tempat dan suasana Turki ke dalam sebuah cerita. Padahal ini kesempatan segar selagi saya tinggal di Turki dan lagi booming-nya sinetron Turki.

Doain yah… siapa tahu summer tahun ini bisa nulis dan MENYELESAIKAN novel remaja berlatar Turki diambil dari kisah pribadi dan lingkungan. Haha. Pengin banget bisa bikin semacam STPC nya GagasMedia *ngayal :mrgreen: Soalnya suka banget sama STPC sejak kemunculannya beberapa tahun lalu. Apalagi yang London 😀 Yang penting nulis dulu.

Oke langsung aja yuk tengok cerpen sederhana yang dimuat di web Turkish Spirits ini. Buat yang mau tahu tentang Turki, boleh banget kunjungi situs tersebut.

Oh ya cerpen ini bercerita mengenai kenangan masa lalu gadis Suriah yang kehilangan keluarganya. Saya ada 4 teman asal Suriah di kampus. Dua dari mereka adalah teman dekat saya. Dan ya… meski mereka selalu ceria, saya tahu mereka menyimpan duka tiap kali bahasan kami mengalir tentang Suriah. Dari salah satu dari merekalah saya terinspirasi untuk membuat cerpen ini.

Terima kasih untuk teman baikku Bana, yang sudah membantu menerjemahkan beberapa kalimat ke bahasa Arab Suriah. ❤

Şanslı Kız

Oleh : Naelil M.

Aku mengikat tali sepatuku cepat-cepat sebelum kemudian menyambar tas samping yang tergeletak di lantai. “Aku pergi, Anne[1]!” teriakku tanpa menunggu jawaban. Kususuri tangga demi tangga dari lantai tiga menunju lantai dasar. Huff. Melelahkan. Inilah yang kulakukan tiap kali pergi ke luar. Apartemen kami tidak memiliki lift. Sesuatu yang membuatku mengeluh sepanjang waktu walaupun Anne selalu mengatakan bahwa ini baik untuk kesehatanku.

Kutepuk bahu kiri gadis berambut hitam lebat yang berdiri di samping pintu. “Hadi gidelim, kanka[2]!”

Ia membalasku dengan senyuman yang membuat sepasang lesung pipitnya terlihat. Itulah Marwa. Tak pernah mengeluh walaupun aku seringkali membuatnya terlambat datang ke kelas. Padahal, yang seharusnya terlambat itu Marwa, bukan aku. Aku selalu pulang ke rumah setelah kelas. Namun Marwa harus pergi bekerja di rumah makan kebab dari jam empat sampai sepuluh malam tiap haftaiçi[3] setelah kelas. Itulah sebabnya ia baru akan sampai di rumahnya pada pukul 23.00 atau 23.30 waktu Turki. Meski demikian, ia selalu mengatakan bahwa ia sungguh beruntung lantaran tidurnya selalu pulas karena kelelahan.

Setelah saling mengecup pipi sebanyak tiga kali, aku dan Marwa pun segera berlari beriringan menuju stasiun kereta Izban yang terletak di antara hiruk pikuk Karşıyaka[4]. Karena jam kelas kami bersinggungan dengan jam para pekerja, mau tidak mau kami harus menyusup di antara kerumunan yang membuat waktu kami lebih terulur lagi. Aku dan Marwa berlarian menyusuri tangga panjang menuju ke terowongan tempat kami menunggu kereta Izban dan menabrak beberapa orang tua yang menyisakan gerutu panjang. Tepat ketika kaki kami berhasil menginjak baris terakhir tangga, kereta Izban yang hendak kami tumpangi tampak melaju pergi.

Off! Salak ya![5]” kupukul jidadku sebanyak tiga kali. Semua ini dimulai karena aku tidur terlambat kemarin malam lantaran sibuk menyusun rencana liburan ke kota Bodrum. Akibatnya, aku bangun kesiangan. Keterburu-buruanku menyebabkan sarapan yang sudah disiapkan Anne tidak tersentuh. Gara-gara itu, bukan hanya soal perut, kami juga ketinggalan kereta Izban. Tentu saja masih ada kereta berikutnya. Namun, siapa yang mau menunggu?

Kutemukan Marwa terkekeh-kekeh melihat perilakuku. “Sakin ol, kız![6] Baksana kanka! Kereta Izban tadi sangat sesak. Bisa jadi Izban berikutnya akan lebih sepi. Şanslıyız yani.[7]

Aku hanya mengernyitkan sebelah alis. Gadis aneh, gumamku. Ia selalu menganggap semua hal sebagai keberuntungan. Termasuk yang menurutku masuk dalam hitungan kesialan. Transportasi publik dari kawasan ramai seperti Karşıyaka tak pernah sepi, asal tahu saja.

Kami berdiri lumayan lama demi menunggu kereta Izban yang datang berikutnya. Huff! Perjalanan yang sangat panjang. Bayangkan! Dari Karşıyaka, kami harus melalui beberapa stasiun hingga sampai ke Halkapınar yang menghabiskan waktu sekitar 11 menit. Dari stasiun Halkapınar, kami harus ke luar dari kereta Izban dan berpindah ke kereta Metro arah Evka 3 untuk menuju stasiun Ege Üniversitesi. Itu belum termasuk waktu yang kami gunakan untuk berlarian berpindah tempat. Belum lagi, setelah sampai di stasiun Ege Üniversitesi, kami harus menyusun beberapa langkah cepat untuk sampai ke Fakultas Ilmu Komunikasi.

Benar saja, aku dan Marwa terlambat. Kami tidak diperbolehkan masuk. Kuatur nafasku dengan bersandar di dinding dekat pintu kelas. “Devamsızlıktan kalcaz, kız[8],” kataku seraya menatapnya nanar. Sekarang apalagi yang akan dikatakannya, he?

Marwa tersenyum, lagi. Ditepuknya bahuku beberapa kali. “Inshaa Allah enggak. Kita masih punya…,” tangannya tampak sibuk menghitung, “kita bisa bolos kelas maksimal dua kali lagi.”

Alis mata kananku semakin naik. Ia melanjutkan, “Yine şanslıyız biz. Kita bisa pergi sarapan sekarang. Kamu belum sarapan kan?”

Dasar aneh, gerutuku dalam diam.

Aku tak pernah bisa memahami bagaimana Marwa mampu mengambil sisi emas dari kesialan. Hatiku jadi bertanya-tanya, apakah ia tidak pernah bersedih, marah atau pun kecewa?

Setelah menyadari bahwa rupanya kami sudah terlalu lama berdiam diri di ambang pintu tanpa melakukan apa-apa, aku dan Marwa pun pergi ke Ziraat Cafe yang tidak jauh dari fakultas kami untuk sarapan.

Aku dan Marwa duduk di pojok cafe. Sibuk menikmati açma[9] dan çay[10] yang kami beli sambil mendengarkan alunan lagu-lagu Turki yang diputar dan berisiknya mahasiswa/i yang saling berseda gurau atau bermain tavla di sekeliling kami. Mataku berkeliling menatap satu per satu mahasiswa yang mulai ramai berdatangan layaknya kawanan semut dari arah pintu. Tiba-tiba aku teringat sesuatu yang sudah kurencanakan sejak kemarin malam.

Setelah menelan gigitan açma isi keju terakhirku, dengan senyum selebar daun kelor, kuungkapkan niatanku pada Marwa untuk mengajaknya jalan-jalan sebelum vize[11] tiba. “Ke Bodrum yuk!”

“Bodrum?”

Aku mengangguk cepat dan menimpali, “Sebelum vize dimulai, sayang. Lihat deh!” Kubuka ponselku demi menunjukkan padanya beberapa foto kota Bodrum yang sudah kutelusuri semalam suntuk. Aku terus mengoceh tanpa menyadari bahwa Marwa mulai terisak. Mata dan hidungnya sangat merah. Tangannya yang gemetar hebat membuat çay yang sama sekali belum diteguknya tumpah mengenai meja. Kontan aku tercekat. Kupegang jemarinya yang mendingin, erat-erat. “Ne oldu?[12] Aku salah ngomong ya?”

Marwa berusaha menahan tangisnya. Namun gagal. Beberapa bulir air matanya berderai hebat. Kupegang bahunya erat-erat dalam kebingungan. Kami hening beberapa saat lamanya. Hanya isakan Marwa yang terdengar, di samping lagu-lagu Turki yang larut dalam keramaian kafe. Kuletakkan kepala Marwa ke bahuku dalam pelukan lantaran aku merasa keberadaan kami telah menarik perhatian beberapa pengunjung kafe.

Dentum detik bergerak sangat lambat rasanya. Marwa menarik kepalanya dan mulai bercerita. Menceritakan luka lama yang belum begitu kering dalam memori.

[1] Ibu

[2] Ayo berangkat, Sob!

[3] Hari Senin-Jumat

[4] Salah satu nama setaraf kecamatan di kota Izmir, Turki

[5] Dasar bodoh!

[6] Tenang, girl!

[7] Kita beruntung.

[8] Kita akan tinggal kelas karena absensi.

[9] Sejenıs roti

[10] Teh

[11] Ujian Tengah Semester

[12] Kenapa?

 

Baca lanjutannya di sini yaaaa. Hehehe

Iklan

5 thoughts on “Cerpen Berlatar Turki Pertamaku : Şanslı Kız

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s