Review Buku Hagiografi Margaret Thatcher, The Iron Lady

632715001.0.m
sumber : http://www.vialibri.net

Judul Buku : Margaret Thatcher

Penulis : Patricia Murray

Penerbit : W. H. Allen. A Howard & Wyndham Company

Kota : London

Tahun Terbit : 1980

Jumlah Halaman : 238 hlm.

But be not afraid of greatness;

Some men are born great;

Some achieve greatness,

And others have greatness thrust upon them.’

Twelfth Night, Act III, Scene IV Malvolio

Konten dalam buku ini dibagi menjadi beberapa bab seperti :

  1. The Early Years

… children don’t really appreciate how how hard their mums work until they get older and some of them become mum themself. P.23

“You do not follow the crowd because you’re afraid of being different- you decide what to do yourself and if necessary you lead the crowd, but you never just follow.” P.24

  1. The Old Girls’ Reunion
  2. Oxford
  3. Always Dartford

“If you’re not an optimist when you’re young then you’ll never be one!” P.43

  1. At Home

A happy family life makes the world of difference to a person and blood is thicker than water. P.52

  1. Life at The Bar
  2. My Mother
  3. Views

… people are always frightened to change for what they have. P.85

  1. The Citadel
  2. Face to Face

Afterword

Karena bab Views berisi pandangan rekan ataupun rival politik Mrs. Thatcher yang isinya kurang lebih sama, saya pun memutuskan untuk tidak membaca buku ini sampai tuntas walau sebetulnya setelah bab Views, masih ada The Citadel dan Face to Face. Sedih sih karena gagal menyelesaikan buku ini. Tapi ya gimana udah terlanjur malas :/ Efek homesick nih kayaknya. Atau efek #Brexit? 😦 Apadeh.

Margaret Thatcher terlahir sebagai Margaret Hilda Roberts di North Parade, Grantham pada tanggal 13 Oktober 1925 di pagi hari yang cerah sebagai putri kedua dari keluarga Roberts yang merupakan seorang pedagang.

Lalu apa spesialnya?

Hingga saat ini, Margaret Thatcher adalah wanita pertama dan satu-satunya wanita yang pernah menduduki jabatan sebagai Perdana Menteri Inggris terlama (1979-1990). Apalagi zaman segitu kan posisi perempuan tidak seperti saat ini. Mereka harus berjuang lebih keras dari pria untuk memperoleh posisi yang sama. Itulah sebabnya seorang jurnalis Soviet menjulukinya sebagai “Iron Lady”. Apalagi Margaret ‘hanya’ dari keluarga pedagang.

Pencapaian Margaret tentu saja dipengaruhi oleh peran keluarga dalam membesarkannya. Meski ayah Margaret tidak berpendidikan tinggi, beliau aktif di gereja dan politik lokal. Karena ayah Margaret tidak memperoleh pendidikan tinggi, itulah sebabnya beliau sangat menekankan pendidikan kepada kedua putrinya.

Bukan hanya pendidikan formal, Margaret juga aktif di berbagai bidang. Selain sibuk sekolah, Margaret kecil juga sibuk bekerja di toko keluarganya dan ikut ayahnya aktif di Grantham baik gereja maupun politik lokal. Intinya, Margaret seolah tidak memiliki waktu luang untuk menganggur dan bersenang-senang. Meski terkadang ia merasa iri dengan kawan-kawan seusianya yang bisa nonton dan jalan-jalan dengan bebas, toh di kemudian hari pun Margaret menuai hasil indahnya. 🙂

You make up your own mind. You do not do something or want to do something because your friends are doing it. P.13

Inilah yang ditekankan ayah Margaret kepadanya. Bisa kan ngebayangin gimana sedihnya Margaret. Ya… karena namanya anak kecil ya, kalau beda sama temen-temennya pasti ngerasa nggak enak. Bahkan teman-teman sekolah Margaret aja menjulukinya sebagai siswa yang serius karena memang hari-harinya enggak nganggur buat bersenang-senang, namun buat aktif di sekolah dan organisasi atau perkumpulan. Bener-bener nggak buang-buang waktu untuk berkontribusi dalam masyarakat.

Jadi inget pepatah yang bilang kurang lebih gini, “Jika keberadaanmu tidak mempengaruhi apapun, tidak mungkin jika ketidakadaanmu pun mampu mengubah sesuatu.” Kalo kita nggak ngapa-ngapain, ada atau enggaknya kita nggak akan ngaruh. So… buat apa ada?

… it was wrong to spend very much on personal pleasure. P. 21

Ini juga selalu ditekankan ayah Margaret kepadanya. Hm, Margaret cenderung lebih dekat dengan ayahnya ya daripada ibunya…

Ibu Margaret dikatakan merupakan sosok ibu yang tak banyak omong namun sibuknya bukan main mengurus rumah dan tokonya bersama sang suami. Ibu Margaret akan bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan, membersihkan ini-itu dan mengurus toko. Baju Margaret sendiri bahkan dibuat oleh tangan ibunya sendiri loh, enggak beli. Pokoknya, “ibu banget” kalau pakai definisi berdasarkan doktrin dan kepercayaan zaman itu.

Ini mungkin yang juga berpengaruh kepada Margaret. Hebatnya, ia mewarisi keahlian ayah dan ibunya. Dalam keaktifannya di luar rumah, Margaret seperti sang ayah. Dia sangat berani, gigih, kerja keras dan ketika sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu, ia akan mendedikasikan seluruh energinya untuk itu. Nggak ada tuh kerja setengah-setengah. Itulah sebabnya ia pun disukai kebanyakan rekannya. Jujur, saya kagum sekali pada dedikasi tingginya setelah memutuskan masuk partai. Ia benar-benar full kerja maksimal. Nggak cuma omdo apalagi sok-sok an masuk partai biar dianggap keren.
*nyindir diri sendiri*

Meski aktif memimpin partai, Margaret juga tidak kehilangan sentuhan sebagai seorang ibu. Ia masih memasak untuk anak-anaknya. Paling tidak, katanya, harus ada sesuatu yang bisa dimakan langsung di dalam freezer.

Semandiri ibunya, Margaret juga melakukan apapun seorang diri tanpa meminta bantuan kepada orang lain jika ia masih bisa melakukannya sendiri. Semisal, mendekor ruangan termasuk mindahin apa-apanya. Bahkan urusan mengganti warna tembok juga ia lakukan sendiri. Tentu saja sebelum ia menjadi sangat sibuk di pemerintahan.

Pokoknya sepanjang baca buku ini sampai halaman 101 (halaman terakhir yang saya baca), saya makin kagum dengan ketangguhan Margaret Thatcher ini. Ini tuh seolah perpaduan sempurna antara wanita karir dan ibu rumah tangga. Jadi penasaran sama gimana ya perasaan Denis Thatcher yang merupakan suami seorang Perdana Menteri wanita pertama di Inggris. Sama halnya dengan suami Queen Elizabeth II dan semua pasangan pemimpin wanita. Sepemahaman saya, kebanyakan lelaki tuh nggak suka dipimpin perempuan. Tapi kalo dilihat dari filmnya sih, sosok Denis digambarkan sebagai sosok yang sangat supportive, flexibel dan easy going. Keren deh gimana ia mendukung istrinya sampai jadi Perdana Menteri.

Buat yang mau mengenalnya lebih dalam, udah ada beberapa film dokumenter kok yang mengisahkan perjalanan Margaret Thatcher. Saya baru nonton satu sih entah yang judulnya apa. Pokoknya film itu dibuka dengan aktivitas Margaret tua yang berjalan kaki ke market untuk membeli susu.

Meskipun sebagian isi buku ini membosankan karena terus-terusan hanya menjunjung tinggi Margaret Thatcher (namanya juga buku hagiografi), setidaknya buku ini memberikan saya pelajaran berharga bahwasanya jika kita ingin sukses, kita harus memperjuangkannya dengan kedisiplinan, pantang menyerah, optimis,  kerja keras dan menggunakan seluruh energi kita maksimal tanpa terkecuali. Intinya mah usaha nggak akan membohongi hasil. Percayalah bahwa dibalik pedihnya perjuangan, akan ada kesuksesan indah yang dapat kita tuai kelak. Semangat jadi iron lady/man yaa!

 

Iklan

2 thoughts on “Review Buku Hagiografi Margaret Thatcher, The Iron Lady

  1. ternyata nae sering review buku ya. asik nih, aku kepo dulu deh yang lainnya. kalo boleh kasih rekomendasi, coba cari di Izmir buku “Muslim Heritage in Our World” isinya bagus banget banget banget banget. Sayangnya, di Indonesia nggak ada. Cuma ada (dijual) di beberapa negara aja di seluruh dunia. Kecuali kalau mau beli via amazon 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s