Mudik Panjang dari Turki ke Indonesia

mudik.png

Meski rasa-rasanya sudah sedikit basi, saya kepengin cerita nih soal nano-nanonya mudik setelah satu kali lebaran nggak pulang.

Tahun 2015, saya memang memutuskan untuk tidak mudik lantaran pengin lebih menguasai bahasa Turki. Lagian, baru setahun kurang di sana. Plus, masih baru selesai kursus bahasa Turki; belum mulai kuliah. Nggak lucu kan kalau teman-teman angkatan pada ngomongin kuliah eh saya masih mentok di kursus bahasa Turki. Ternyata … ya, keputusan yang sedikit saya sesali. Kenapa sedikit? Paling enggak, saya jadi ngerti gimana rasanya lebaran di tanah rantau untuk pertama kalinya :’)

Sebelumnya, saya kasih gambaran rute mudik kemarin yak dari kota Izmir sampai menuju rumah tercinta.

Asrama di Izmir -> bandara Izmir (Adnan Menderes airport) -> bandara Istanbul (Sabiha Gokcen airport) -> bandara Doha (Hamad Int. Airport) -> bandara Jakarta (Soekarno-Hatta airport) -> bandara Surabaya (Juanda airport) -> rumah tante di Situbondo -> home sweet home di Banyuwangi

Bahu saya rasanya mau copot menenteng tas ransel seberat 7,5 kg ditambah koper seberat 22 kg. Kopernya mah nggak masalah karena ditarik. Ranselnya ituloh yang bikin bahu saya kayak mau patah. Ini akibat saya memaksakan diri membawa pulang beberapa buah buku tersayang. Nggak tega kalau harus ditinggalkan di Izmir sih. Huhu.

Lega banget rasanya pas udah sampai di Surabaya. Eh tapi saya sebenarnya merasakan sesuatu yang aneh lo dalam perjalanan mudik kemarin. Exited banget emang. Tapi pas sampai di Doha, saya dibuat terkejut karena hampir seluruh penumpang pesawat Qatar dari Doha tujuan Jakarta adalah orang Indonesia. Saya dan teman perjalanan saya dari Izmir cuma saling memandang ketika menyadari bahwa disekeliling kami adalah orang-orang yang berbicara dalam bahasa Indonesia. Bukan orang-orang berbahasa Turki, lagi. Walhasil, kita nggak bisa ngomong macem-macem sebebas pas di Turki. Semua orang tahu bahasa Indonesia, bro!

Nah pas sampai di Surabaya dan ketemu keluarga, saya kok jadi gagap dan  kepeleset terus ngomong bahasa Jawanya. Bukan apa-apa, selama di Turki, saya memang selalu berkomunikasi dengan teman-teman yang lain menggunakan bahasa Indonesia, bukan bahasa daerah Jawa. Untungnya, kegagapan tersebut tidak berlangsung lama. Sesampainya di rumah tante di Situbondo, bahasa Jawa saya langsung lancar. Wehe. Keesokan harinya ketika kami pulang ke Banyuwangi, bahasa Jawa saya sudah 100% normal kembali ke sedia kala. Makasih banget buat keluarga Situbondo yang mau direpotkan ❤

Namanya udah nggak mudik selama hampir dua tahun ya, saya jadi rada lebay dalam kegiatan memamah biak makanan Indonesia. Saya sampai diketawain oleh sahabat-sahabat saya dari SMA ketika mereka melihat saya nikmat sekali melahap makanan Indonesia. Enak banget emang! Nggak bohong!

Hari kedua setelah sampai di Banyuwangi (kalau nggak salah ingat), saya kembali mengendarai sepeda motor untuk pertama kali setelah hampir dua tahun. Eh kok aneh! Pas antarkan nenek ke sawah yang jalanannya menanjak dan licin, saya meminta nenek saya untuk turun sebentar. Bahkan saya yang dulu pas SMA sanggup naik motor hingga 80km/jam (setiap kali hampir telat ke sekolah), saat ini cuma mentok di 50km/jam. Itu pun buru-buru saya turunin ke 20-40km/jam. Duh, berasa udah jadi nini-nini deh. Yang penting selamat :mrgreen: Untung sepeda saya bukan motor matic. Soalnya kalau naik sepeda motor matic, menurut saya godaan untuk ngebut itu lebih besar.

Selain masalah bahasa, makanan dan motor, saya juga dikejutkan dengan perubahan teman-teman saya. Mereka makin cantik dan ganteng lo. Seriusan pada cakep-cakep dan bening!

Sebetulnya, bukan perubahan fisik yang saya khawatirkan. Namun justru perubahan sikap karena kita sudah tidak berjumpa hampir dua tahun. Mungkinkah bakal kaku dan canggung? Ternyata, yang saya khawatirkan tidak terjadi, pemirsa. Benar kata orang bahwa persahabatan zaman SMA itu biasanya awet banget. Saya ngerasa nyaman-nyaman aja bersama sahabat-sahabat saya dari SMA. Kangen banget duh sama mereka.

Si Jumi teman sebangku dari kelas dua SMA tetap jadi tukang curhat/cerita terbaik. Mungkin caranya ia bercerita yang nggak pernah bikin saya bosen. Dia itu seru kalo curhat langsung face to face gitu. Kalau Mba Yuni, tetap manis, romantis dan keibuan. Meski begitu, gaya-gaya manjanya yang selalu  saya rindukan :p Sedangkan Ndull, dia makin cantik dan dewasa. Seriusan dewasa sikapnya loh. Pokoknya mereka bertiga kece badai lah. Sukses untuk jalannya masing-masing 🙂

Selain mereka bertiga, adalagi temanseTK-SMA, Amel dan teman seminat nulis (di eskul KIR), Ana. Mereka berdua juga kurindukan sekali. Inget deh dulu saya suka main badminton (meski nggak jago. CATAT.) bareng Amel di depan rumahnya yang emang deket dari rumah saya. Ada juga Ana dimana kita berdua suka saling membicarakan mimpi bersama. Dia inilah teman saya pas buka laman penerimaan SNMPTN dimana saat itu alhamdulillah kita berdua sama-sama diterima dan langsung menangis bareng di warnet. Hihi konyol.

Dan teman-teman lainnya, I miss all of you ciyus.

Itu kan soal teman. Kalau keluarga… rasanya sedikit sendu pas menyadari kalau ibu, ayah dan uti udah makin tua. Tante-tante dan om-om juga. Apalagi pas ketemu keponakan-keponakan yang dulu masih kecil eh kini udah gede. Saya ada keponakan perempuan yang deket banget sama saya. Pas saya ke Turki, dia itu kelas lima SD eh sekarang udah SMP kelas satu. Rasanya aneh. Udah segede itu kah? Oh Allah… seriusan ini kenapa waktu cepat banget berlalu yak! 😦

Ketika saya mendapati bahwa beberapa teman saya sudah ada yang menikah dan punya anak, merasa semakin tua lah saya. Semoga di sisa usia ini, saya mampu memaksimalkan diri untuk berbakti pada orang tua, keluarga, agama, bangsa dan negara. :mrgreen: Terutama lingkup keluarga sih. Apalagi kan kita jarang ketemu selama saya kuliah. Pulang-pulang eh pada menua. Penginnya sih liburan ini benar-benar ada buat mereka. Kebetulan juga sambungan internet rada susah di kampung saya. Pas deh nggak bakal sering internetan. Lagian rugi kalau mudik cuma buat pegang gadget seharian lagi. Hihi

Happy mudik yo!

Iklan

6 thoughts on “Mudik Panjang dari Turki ke Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s