Review Buku “Gadis Ketiga” Agatha Christie

“Mungkinkah kita membenci seseorang sedemikian hebatnya sehingga kita benar-benar ingin membunuhnya?”

“Oh, ya,” kata Stillingfleet riang. “Mungkin sekali. Malah, hampir’ lumrah. Tetapi meskipun Anda betul-betul ingin melaksanakannya, Anda tidak bisa mendorong diri sendiri sampai ke titik tersebut, Anda tahu? Manusia sudah dilengkapi dengan alat pengerem yang alamiah, dan tepat pada saatnya, rem ini akan menahan Anda.”

“Anak-anak merasa demikian hampir setiap hari. Kalau marah, mereka berkata kepada ibu atau bapaknya, ‘Ibu jahat, aku benci Ibu. Mudah-mudahan Ibu mati.’ Para ibu, yang terkadang adalah manusia- manusia yang bijaksana, biasanya tidak ambil pusing. Pada waktu orang tumbuh menjadi dewasa, orang masih bisa membenci, tetapi pada saat itu orang sudah tidak begitu mau pusing-pusing lagi membunuh orang yang dibencinya. Atau kalau dia masih terdorong begitu — nah, dia masuk penjara.”

download

sumber : novel-terlaris-iwan.blogspot.com

SPOILER ALERT!

Kisah ini fokus pada sosok gadis ketiga bernama Norma Restarick yang tinggal di rumah bersama pamannya yang sudah sangat tua dan ‘gadis kecil’ yang selalu membantunya, serta ayah dan ibu tirinya. Ketika usia Norma masih 5 tahun, ayahnya pergi meninggalkan ia dan ibundanya bersama wanita lain bernama Louise Birell. Setelah bertahun-tahun berlalu dan ibu kandung Norma meninggal, ayah Norma kembali bersama wanita lain bernama Mary. Ayah Norma yaitu Andrew Restarick itu meninggalkan hobi berpetualangnya dan melanjutkan pekerjaan kakaknya Simon yang telah meninggal, di perusahaan keluarga mereka. Jadi jangan ditanya soal kondisi finansial keluarga Restarick. Kaya banget! Nggak mengherankan kalau uang akan jadi pokok masalah yang diperebutkan dalam novel ini.

Penyelidikian Hercule Poirot, detektif swasta asal Belgia, bermula ketika ia sedang sarapan dan seorang gadis belia memaksakan diri untuk menemuinya dan memberikan pernyataan bahwa ia ‘mungkin’ telah melakukan pembunuhan. Bukannya memberikan penjelasan lebih lanjut, gadis belia itu justru membatalkan niatannya mengadu pada Poirot dengan alasan bahwa lelaki bertubuh kecil itu sudah tua.

Pada suatu kesempatan, Poirot menceritakan hal tersebut kepada penulis cerita detektif, Nyonya Oliver yang merupakan kawannya. Rupanya, dari ciri-ciri yang disebutkan Poirot, Nyonya Oliver teringat akan kunjungannya beberapa waktu yang lalu di kediaman keluarga Restarick dimana sepertinya Nyonya Oliver melihat gadis itu. Dunia ini begitu kecil, ya? Nyonya Oliver yang pandai memberi alasan pun berhasil membuat Poirot memiliki kesempatan untuk mengunjungi keluarga Restarick.

Dengan berbekal pernyataan gadis belia pagi hari itu, Poirot berupaya mencari pembunuhan yang dimaksud. Namun, itu sama sekali tidak mudah. Ia sempat mencurigai bahwa pembunuhan yang gadis belia maksud itu hanya ada di dalam kepalanya sendiri. Hm, seperti Nyonya Oliver, bisa jadi gadis terlalu suka berimajinasi dan bercampuradukkan antara yang nyata dan fiktif. Karena paling pol, Poirot masih hanya menjumpai kasus Mary, ibu tiri Norma, yang keracunan beserta dugaan ditemukannya arsenik di laci kamar Norma. Ayah Norma sendiri percaya bahwa Norma yang telah melakukannya karena sejak awal memang Norma dan ibu tirinya punya perseteruan  sengit.

Setelah Poirot dan Nyonya Oliver bersama-sama melakukan penyelidikan dengan cara yang berbeda, suatu ketika Nyonya Oliver tidak sengaja mendengar percakapan pengantar susu di lift yang ada di Wisma Borodene tempat Norma tinggal (bersama Claudia Reece-Holland yang juga sekretaris ayah Norma, dan Frances Cary, seseorang yang bekerja di bidang kesenian) mengenai seseorang yang jatuh dari lantai tujuh. Selidik punya selidik, wanita yang jatuh dari lantai tujuh itu bernama Louise Charpentier. Seorang wanita berusia 40an akhir yang suka main lelaki, minum-minum, berpesta dan sangat berantakan.

Suatu ketika, terjadi penikaman di tempat tinggal Norma di Wisma Borodene. Nona Jacobs menemukan Frances yang menjerit-jerit ke sana-ke mari karena menemukan mayat David Baker, kekasih Norma, yang penuh darah di tempat tinggalnya. Dijumpai juga Norma yang sedang bersandar di dinding sambil memegang sebilah pisau.

Setelah itu polisi dan semua orang berdatangan, termasuk Poirot, Nyonya Oliver, dokter Stillingfleet (psikiater yang diminta Poirot untuk menganalisis kewarasan jiwa Norma dengan menculik gadis itu tanpa sepengetahuan ayahnya), dan keluarga Restarick.

Ternyata, dokter Stillingfleet mengatakan bahwa Norma itu waras. Hanya saja, ia memang terkena narkotika. David Baker diduga telah memasukkan narkotika ke tubuh Norma tanpa gadis itu menyadarinya. David Baker ternyata bekerja sama dengan ibu tiri Norma, Mary Restarick yang ternyata juga merupakan Frances Cary! Entahlah… saya kurang menyukai kenyataan bahwa Mary Restarick dan Frances Cary adalah orang yang sama. Secara loh ya, Norma tinggal serumah dengan Mary Restarick yang berperan sebagai ibu tirinya, dan serumah dengan Frances Cary di wisma yang berperan sebagai flatmate, kita sebut. Ya emang jarang ketemu tapi kok rasanya aneh kalau dia nggak bisa merasakan kehadiran dua orang yang sama di tempat berbeda. Mungkin Frances Cary memang pandai sekali bermain drama atau Norma yang memang sudah parah akibat narkotikanya.

Sebetulnya, tidak hanya ada satu penyamaran di sini. Ayah Norma ternyata bukan ayah kandungnya lo. Mungkin efek sudah ditinggalkan sekian lama, Norma tidak ingat wajah ayah kandungnya. Sebegitu rapinya sampai komplotan ayah palsu Norma yang bernama Orwell, bekerja sama dengan Frances, sampai-sampai menyewa David Baker yang seorang seniman untuk melukis wajah Orwell dan mengganti lukisan potret ayah kandung  Norma dengan potret wajah Orwell  sehingga Norma juga dibuat bingung atas ingatannya. Cerdik dan teliti sekali sampai Norma tidak sadar sudah tinggal serumah bersama dengan ayah dan ibu tiri palsu.

Pada endingnya, dikatakan bahwa kematian Louise Birell yang juga merupakan Louise Charpentier dan David Baker adalah ulah dari Orwell dan Frances. Hm… sebetulnya kalau Frances eh Mary Restrick memang sudah cukup saya curigai dengan sikapnya yang sangat rapi dan tertata seperti itu. Patut dicurigai lo orang yang efisien, cekatan dan cerdik itu. Tapi Mary tidak begitu dibahas di sini. Itulah sebabnya saya jadi kurang yakin kalau dialah biang keladinya. Kalau ayah Norma memang lumayan menimbulkan tanya meski juga kurang meyakinkan. Saya justru mencurigai Claudia Reece-Holland, teman di wisma Norma sekaligus sekretaris ayah Norma. Ya, jika mengingat adegan dia menenangkan Norma yang memegang pisau otomatis dimana ada darah di halaman tempatnya berdiri, misal… atau hal-hal yang mencurigakan lainnya. Dia juga tampak bertanggungjawab atas perilaku Norma. Belum lagi dikatakan bahwa ayah Claudia yang seorang anggota parlemen sempat ada hubungan dengan Louise Birell/Charpentier. Mungkin Claudia ada dendam kesumat dengan wanita itu. Tapi di sini tidak dijelaskan. Saya kira ada modus Claudia yang cerdas memanfaatkan Norma untuk menjadi kambing hitam atas dasar kebencian Norma pada Louise di masa kecilnya. Meski saya memang tidak mampu menyebutkan motif jikalau Claudia juga yang membunuh David Baker.

Ada lagi soal paman Norma dan ‘gadis kecil’ bernama Sonia yang membantunya mengerjakan segala hal. Saya masih penasaran dengan Sonia. Tindakan Sonia yang bertemu pemuda dimana keduanya tidak saling bicara, namun Sonia hanya terlihat membaca buku->meletakkan bukunya di kursi->pergi dan pemuda itu mengambil bukunya sangat mencurigakan. Well, setiap orang punya rahasia. Mungkin perilaku Sonia yang itu tidak ada kaitannya dengan keluarga Restrick. Hal itu dikisahkan hanya untuk mempericuh pembaca akan biang keladi sesungguhnya.

Ya… begitulah. Lumayan seru menyimak petualangan Poirot dengan Nyonya Oliver. Mereka terkadang membuat saya terkekeh. Meski begitu, saya tidak bisa mengatakan bahwa Third Girl adalah salah satu karya favorit saya dari Agatha Christie.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s