Review Novel Sweet Winter

22853165.jpg
Judul : Sweet Winter

Penulis : Kezia Evi Wiadji

Desainer Cover : SAS Studio

Penata Isi : Phiy

Penerbit : Grasindo

Kota : Jakarta

Tahun : 2014

Matthew

Aku berharap, takdir yang mempertemukan kita di sini dapat memperbaiki kesalahanku

Karin

Oh Tuhan, kenapa kami harus bertemu jika akhirnya harus kembali berpisah?!

Karin dan Matthew, dua sahabat yang saling mencintai.

Tetapi takdir mempermainkan mereka

layaknya dua layang-layang yang meliuk-liuk di langit. 

Akankah mereka bersatu,

jika wedding song telah mengalun lembut

dan

salah satu dari mereka harus  berjalan menuju altar untuk mengucapkan sumpah setianya?


SPOILER ALERT!

Karin kedatangan tetangga baru yang memiliki anak lelaki seusianya bernama Matthew. Mereka pun berkenalan dan menjadi sahabat dekat. Selain dikarenakan rumah mereka yang dekat, mereka pun sama-sama duduk di kelas dan sekolah yang sama. Sebangku, lagi. Akibatnya, mereka pun selalu bersama-sama. Mulai dari berangkat sekolah bareng, ngerjain PR dan belajar bareng hingga main layang-layang dan kelereng bareng. Kebetulan, Karin kecil yang bertubuh gembul itu memang bisa dibilang lebih tertarik dengan kegiatan lelaki.

Namun, semuanya berubah setelah di kelas mereka kedatangan murid baru yang cantik jelita bernama Silvia; nantinya dipanggil Sisil. Siswi cantik itu berhasil menarik perhatian Matthew yang membuat hubungannya dengan Karin menjadi renggang. Matthew menjadi lebih sering bersama Sisil ketimbang Karin. Dalam hal apapun, Matthew seolah lebih mendukung Sisil. Karin yang kesal pun coba-coba berlaku iseng seperti menaruh tikus di laci Sisil. Rupanya, hal itu membawa bencana. Matthew yang tahu hal itu mendiamkan Karin untuk beberapa hari. Karin sedih bukan main lantaran perasaannya kepada Matthew telah berubah bukan sekedar sayang sebagai sahabat.

Matthew dan Sisil pun berpacaran. Suatu hari ketika Matthew dan Sisil belajar bersama di rumah Sisil ketika orang tua Sisil sedang pergi kondangan, Sisil marah besar karena merasa dibandingkan dengan Karin. Untuk membuktikan cintanya, Matthew mencium bibir Sisil; suatu hal yang baru pertama kali dilakukan Matthew kepada Sisil. Rupanya, ciuman itu memperoleh tanggapan baik dari Sisil yang membuat keduanya lupa diri hingga akhirnya Sisil hamil. Walhasil, Matthew menikahi Sisil. Hati Karin hancur berkeping-keping. Sekarang ia tidak ada harapan lagi untuk menjadi pasangan Matthew.

Matthew dan Sisil pindah ke kota lain supaya Matthew bisa melanjutkan sekolah. Meski demikian, Karin dan Matthew masih tetap berhubungan satu sama lain hingga akhirnya Sisil marah kepada Karin yang membuatnya mengganti seluruh kontak supaya tidak bisa dihubungi Matthew yang sudah jadi suami orang lain.

Sejak saat itu, Karin dan Matthew putus kontak.

Tahun demi tahun pun berlalu. Tanpa disengaja, mungkin sudah merupakan takdir Tuhan, Karin bertemu dengan Matthew di bandara Incheon Seoul saat hendak berlibur. Pertemuan keduanya membuat Karin senang sekaligus terluka. Apalagi Matthew mencurahkan perhatian dan menyatakan rasa rindunya kepada Karin.

Beberapa hari di Korea membuat hubungan keduanya yang semula sedikit renggang menjadi kembali dekat. Cinta pun tumbuh bersemi di antara mereka. Matthew bercerita bahwa Sisil dan bayi lelakinya sudah meninggal. Nafas Karin tercekat dikerongkongan mendengar cerita sendu rumah tangga Matthew. Ia lebih tidak bisa nafas lagi ketika Matthew menyatakan cinta dan niatannya untuk menikahi Karin.

Terlambat.

Karin sudah akan menikah dengan teman kuliahnya yang bernama Bram. Undangan telah disebar, katering dan baju pengantin telah siap. Pernikahan tidak bisa dibatalkan. Dari Korea, Karin pulang ke Indonesia dengan sendu.

Detik-detik menjelang pernikahan, Karin dikejutkan dengan kedatangan Matthew ke rumahnya. Lelaki itu serius berniat untuk mempersuntingnya. Hubungan Bram dan Karin menegang setelah tahu siapa itu Matthew dan  posisi Karin yang menginap di apartemen sama dengan Matthew selama di Korea. Meski demikian, Bram tetap mengusahakan hubungan mereka tetap utuh tanpa gangguan.

Karin pun mulai diikuti rasa ragu antara melanjutkan pernikahannya dengan Bram atau bersama dengan Matthew. Karin memang mencintai keduanya. Namun cintanya terhadap Matthew lebih besar dibanding cintanya terhadap Bram. Dilema itu membuat badan Karin makin kurus kerempeng. Lipatan mata panda selalu bersemi di kedua mata Karin. Hal itu memperjelas keyakinan Matthew bahwa Karin tidak bahagia akan pernikahannya dengan Bram meski Karin selalu bilang bahwa ia mencintai Bram. Matthew tahu sekali bagaimana rasanya menikah tanpa kebahagiaan seperti pernikahannya dengan Sisil. Oleh sebab itu, ia tak akan gentar memperjuangankan cintanya dengan Karin.

Di hari pernikahan Karin dan Bram, Matthew datang menyatakan ketidaksetujuaannya akan pernikahan tersebut. Bapak pendeta pun tidak mampu melanjutkan pernikahan dan meminta keluarga mempelai untuk berdiskusi terlebih dahulu supaya semuanya jelas.

Kisah diakhiri dengan epilog yang berisi adegan Matthew melamar Karin menjadi istrinya.

Sumpe, saya ngedumel menyaksikan endingnya. Mulai dari kedatangan Karin di Korea, ia harusnya menghindar dari Matthew dan mengelak untuk tidak tinggal bersama dengan Matthew di apartemennya. Cinta itu bisa dikontrol. Cinta tak akan bersemi lagi jika tidak ditanggapi. Namun Karin menanggapinya meski ia sudah menjadi calon istri lelaki lain. Itu sangat tidak pantas, menurut saya. Perasaan orang memang bisa berubah setiap saat. Tapi adalah tanggungjawab untuk mempertahankan rencana pernikahan ketika kamu telah mengatakan “ya” pada orang yang melamarmu. Apalagi menjelang pernikahan, pasti akan banyak sekali godaan setan.

Gimana ya perasaan Bram yang amat mencintai Karin lalu pernikahannya dibatalkan begitu saja? Gimana ya perasaan keluarganya? Pasti sakit. Ya… di dalam cinta segitiga pasti akan selalu ada yang tersakiti. Namun yang seharusnya tersakiti itu Matthew. Ia tahu bahwa Karin hendak menikah, tapi tetap saja menggodanya. Kalau tidak digoda dan dipancing-pancing begitu, pastilah perasaan Karin tidak akan semekar daun kelor. Karin juga sih nggak cepat ngomong perihal ia yang sudah jadi calon istri orang.

Matthew itu tidak dapat mengontrol perasaannya. Mulai dari ia yang kebablasan bertindak dengan Sisil hingga ia yang setega itu merusak upacara pernikahan orang. Matthew bilang, ia melakukan itu karena tidak tega jika Karin harus menikah dengan orang yang tidak dicintainya. Well, sebelum bertemu Matthew lagi, Karin mengiyakan tanpa paksa pernikahannya dengan Bram. Artinya, Karin mencintai Bram. Cinta Karin dan Bram memang sempat terhalang akan kehadiran Matthew. Namun jika Matthew menjaga jarak, pastilah porsi cinta Karin terhadap Bram tidak akan berubah.

Ya sudahlah. Itu hidup Karin. Suka-suka dia. Etdah… cuma fiksi aja sampe kebawa. Itulah kelebihannya. Novel ini punya jiwa. Salah satu hal yang saya sukai dalam novel ini adalah keahlian penulisnya melakukan “show” dibanding “tell” tanpa membuat pembaca jenuh. Mengalir gitu aja meski alurnya terbilang cepat. Untuk isi cerita, yang suka romance dan Korea bakal doyan deh. Apalagi yang pernah jatuh hati sama sahabat sendiri. Hahaha

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s