Edisi 1 : 7 Keajaiban Teman Bule

Mulanya, saya kepikiran buat nulis cerita tentang semua teman bule saya. Tapi, tentu saja sehalaman ini tidak akan cukup. Maka dari itu, saya mau berbagi aja mengenai cuplikan cerita dari ke-7 teman bule saya ini. Mumpung lagi hangat di kepala saya. Berasa lagi ngomongin mendoan deh hangat-hangat enak dimakan. Jadi, inshaa Allah bakal ada edisi 2, 3, 4 dan seterusnya.

  1. Teman Thailand (Inisial MC)
Flag_of_Thailand.svg

sumber : wikipedia

Saya inget banget gimana mulanya kami berkenalan. Pada saat urus-urus kelengkapan dokumen sebelum TOMER (kursus bahasa Turki), dia tiba-tiba nyamperin saya dan teman Indonesia untuk menanyakan beberapa hal ketika tidak sengaja berjumpa di jalan. Soalnya, teman Thailand saya ini emang belum kenal teman se-warga Thailand yang menetap di Izmir. Jadi, barengannya cuma teman-teman dari Vietnam. Berhubung dia menyelesaikan S1 nya di Malaysia, dia pikir kami orang Malaysia atau Indonesia. Makanya, diajak komunikasi.

Setelah tes singkat sebelum masuk TOMER, saya dan teman Thailand ini ternyata dinyatakan menjadi teman sekelas. YAY! Karena sama-sama bisa berbahasa Indonesia – meski bahasa dia campur Melayu – kami akhirnya memutuskan untuk duduk sebangku 🙂

Kalau dihitung, sudah dua tahun lalu kami berkenalan. Meski saat ini kami tidak tinggal sama-sama di Izmir lagi, kami tetap menjalin komunikasi. Iya dong! Ingat banget ketika dulu saya dan dia gemar ngobrol di kelas. Bahkan saya ingat ketika pelajaran Writing, kami ditegur sama dosen gara-gara keasyikan ngegosip mulai dari persoalan kursus di sekolah bahasa sampai urusan hati. Uhuk!

Yang lagi popped up saat ini dari kepala saya mengenai kenangan bersamanya, adalah ketika kami berdua bersama-sama berburu salju. Maklum yah, kami belum pernah lihat salju. :mrgreen: Dibela-belain loh Baca lebih lanjut

Iklan

Malam Minggu Bersama Najwa Shihab

Najwa_Shihab

sumber : wikipedia

Siapa yang tidak mengenal wanita cantik nan cerdas yang tiap hari Rabu malam nongol di Metro TV ini?

Demi melihatnya langsung, saya bela-belain pergi dari Banyuwangi menuju Jember tanpa persiapan.

Begini ceritanya…

Pada Jumat sore yang cerah, saya dan seorang teman pergi mencuci mata di kawasan pertokoan. Karena kemalaman, saya pun menginap di rumahnya yang kebetulan tidak jauh dari kawasan tersebut. Maklum, saya tinggal di desa yang jauh dari pertokoan. Hiks hiks.

Teman saya ini bercerita bahwa dia akan pergi ke Jember untuk nonton Mata Najwa On Stage. Saya pun spontan terkejut dan memberondongnya dengan berbagai pertanyaan. Baca lebih lanjut

[Resensi Buku] Merry Riana Langkah Sejuta Suluh

Penghargaan yang terbaik dari kesuksesan adalah menghargai manusia lain. Hlm. 395

langkah-sejuta-suluh-195-thumb-1

sumber : sadeyansamukawis.com

 

Judul Buku : Merry Riana Langkah Sejuta Suluh

Penulis : Clara Ng

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun : Cetakan kedua, Juni 2014

Jumlah Halaman : 449 hlm.

 

 

“Arahkanlah pandanganmu kepada Tuhan, dan Dia akan memberimu jalan. Tidak semuanya sekaligus, tetapi selangkah demi selangkah. Dan setiap langkah adalah mukjizat.”

Formula sukses Merry Riana adalah: Vision-Action-Passion. Berbeda dengan buku pertama Mimpi Sejuta Dolar yang mengisahkan tentang Vision (Mimpi), buku sekuel Langkah Sejuta Suluh ini berfokus pada Action (Langkah).

Bertujuan membayar utang-utangnya dan mencapai mimpinya untuk meraih kebebasan finansial, setelah lulus Merry mengambil sebuah keputusan ekstrem untuk menjadi seorang entrepreneur.

Merry memimpin sekelompok pemuda-pemudi yang mulanya bukan siapa-siapa, yang berangkat dari nol, dan mengalami kejatuhan berulang-ulang, sebelum kemudian menjadi tim tangguh yang memecahkan rekor industri.

Buku ini membeberkan kisah yang seru dan mendebarkan; penuh ketegangan dan tikungan-tikungan terjal. Tentang sekelompok anak muda yang mulanya disepelekan, namun selalu bertekad tidak mau kalah, sampai pada akhirnya berhasil membuktikan bahwa mereka layak menjadi juara.

Ikuti perjalanan Merry selangkah demi selangkah, dari sejak lulus kuliah tanpa modal, koneksi, dan keahlian; sampai bagaimana dia menyatukan timnya untuk berjuang bersama demi satu tujuan: mengukir sejarah.


“Sebuah kisah nyata inspiratif tentang bagaimana sekelompok anak muda tak berpengalaman bisa memecahkan rekor industri dalam waktu 1 tahun!”

Kalimat itulah yang membuat saya langsung mencomot buku ini dari rak dan membawanya ke kasir tanpa keraguan sedikitpun.

Sebelumnya, saya sudah sangat sering mendengar nama Merry Riana, namun tidak pernah tahu siapa dia dan memang tidak pernah berniat mencari tahu. Baca lebih lanjut

[Resensi Buku] Amsterdam, Ik Hou Van Je

“Aku mencintaimu tak peduli musim, Anggi. Aku hanya ingin terus mencintaimu.” Hlm. 286

Amsterdam1AA

sumber : arumi-stories.blogspot.com

Judul Buku : Amsterdam, Ik Hou Van Je

Penulis : Arumi E.

Penerbit : Grasindo

Tahun : 2013

Kota : Jakarta

Jumlah Halaman : 305 hlm.

 

 

“Cinta bersemi di hamparan bunga tulip.”

Daun-daun berubah warna, berjatuhan diterpa angin. Seperti rasa ini yang jatuh ke sudut hatimu.

Hamparan putih membekukan, dan selarik cinta di sudut hati semakin menghangatkanku.

Takdir membawaku kembali padamu. Saat kau tawarkan keceriaan dalam mengayuh sepeda beriringan menyusuri kota Leiden.

Semarak bunga tulip warna-warni di Keukenhof menebarkan aroma cinta. Hanya kau dan aku, jangan perdulikan orang ketiga di antara kita.

Bermula di Jogja, bermuara di Amsterdam. Perjalanan cinta Anggi yang jatuh pada Ryuga. Musim berganti, akankah cinta Ryuga pada Anggi turut berganti? Cinta jua yang membuat Anggi kembali ke Jogja, berharap disambut senyum menawan kekasih hati. Namun, harapan tinggallah harapan. Kembali ia menjalani hari-harinya yang sendiri di Amsterdam. Sampai di suatu hari tak terduga, Ryuga kembali hadir….

“Ik hou van je,” kali ini ucapan itu terdengar meyakinkan.


Semulanya saya berniat untuk berhenti membeli buku, lagi, hingga saya terbang ke Turki. Alasannya, saya perlu menabung untuk sesuatu yang lebih utama dibanding buku. Selain itu, saya ingin menghabiskan waktu dengan bercengkrama bersama keluarga. Bukan sekedar berada di tempat yang sama, namun saling sibuk dengan buku masing-masing. Apalagi, waktu saya di Indonesia tinggal sebulan. Hiks hiks.

Naas, di pagi hari yang terik di Surabaya, ayah tiba-tiba menawari saya untuk diajak jalan ke Gramedia.

Ayah : “Mau ke Gramedia?”

Saya : “Nggak usah deh, Yah.”

Kemudian kami melintasi gedung Gramedia. Melihat gedungnya, saya spontan berteriak, “Eh eh boleh deh ke Gramedia aja.”

Kita pun jadi pengunjung pertama yang datang. Hehe. Karena hari itu memang masih pagi banget. Ya, kapan lagi ke Gramedia? Selagi di Surabaya, pikir saya. Hasilnya, tiga buah buku pun saya tenteng dengan bahagia. Belum puas, saya dan ayah lanjut ke Gunung Agung. Kebetulan kami berdua memang sama-sama suka buku. Walau beda seleranya. Beruntung, saya nemu obral buku di toko buku Gunung Agung. Dapat deh buku ini. Semoga aja bisa beresin keempatnya sebelum berangkat ke Turki ini. Meski artinya, harus curi-curi waktu baca buku di malam hari karena selain itu, maunya pengin dekat keluarga terus.

Udah ah curhatnya.

Sebetulnya, saya nggak sengaja menemukan buku ini di antara buku yang diobral lainnya. Lumayan loh, separuh harga asli. Yang pertama kali bikin saya tertarik terhadap buku ini selain obral adalah karena setting tempatnya di Amsterdam dan Jogja yang merupakan kota-kota favorit saya, sekaligus karena penulisnya adalah Mba Arumi E, penulis novel Eleanor : Do You Want to Know A Secret?

NO SPOILER!

Novel ini menceritakan perjalanan Anggi mengejar mimpi sampai ke Amsterdam. Baca lebih lanjut

[Resensi Buku] Jogja Jelang Senja

“Lalu apa gunanya menikah bila semuanya masih masing-masing?”

hlm. 164

jogja jelang senja

sumber : bukubukularis.com

Judul Buku : Jogja Jelang Senja

Penulis : Desi Puspitasari

Penerbit : Grasindo

Tahun : Cetakan pertama: Mei, 2016

Kota : Jakarta

Jumlah Halaman : 196 hlm.

 

 

Senja di Jogjakarta menawarkan banyak kemungkinan; di antara terang menuju petang; di antara pertemuan dan perpisahan; di antara Aris dan Kinasih.

Aris bertemu Kinasih di pertigaan Pasar Kotagede, saat secara tak sengaja ia menabrak sepeda  gadis itu. Sejak kejadian itu, Aris mengantar jemput Kinasih ke tempat kerja, sebab kaki gadis itu terluka, sementara ia belum mampu membayar biaya ganti kerusakan sepeda.

Kedekatan keduanya menumbuhkan cerita baru. Ketika Aris ingin menggenggam  erat tangan Kinasih, saat itu pula perbedaan keyakinan menjadi tembok bagi keduanya. Bisakah Aris dan Kinasih melewatinya?

NO SPOILER!

“Apa guna punya ilmu tinggi, kalau hanya untuk mengibuli. Apa guna baca banyak buku, kalau mulut bungkam melulu.”

Cuplikan puisi dari Wiji Thukul berjudul “Apa Guna”

hlm. 106

Bulan Agustus akan segera berakhir, namun saya baru menulis untuk blog sekali ini saja di bulan ini. Duh, sedihnya. Selain karena internet tidak mudah, kebersamaan bersama keluarga selama liburan adalah salah satu alasan saya enggan berlama-lama menyelami dunia maya.

Sebetulnya, ada kejadian menarik sekitar dua minggu lalu. Ketika saya dan seluruh anggota keluarga hendak tour ke rumah beberapa saudara, karena terburu-buru menyiapkan berbagai hal, saya sampai meninggalkan ponsel di rumah. Naasnya, saya baru menyadari bahwa ponsel saya ketinggalan di rumah adalah ketika kami sudah mendarat di kediaman saudara di luar kota. Walhasil, saya pun bertahan tanpa ponsel. Sesuatu yang nyaris terdengar mustahil. Hahaha. Jadi, mohon maaf untuk teman-teman yang kesulitan menghubungi saya. Ketiadaan ponsel membuat ketiadaan internet sehingga sayapun full time bareng saudara-saudara aja. Manis banget nggak sih rencana Allah? Hihihi. Ya, walau sesekali numpang buka sosmed melalui ponsel anggota keluarga lainnya sih.

Sepulang saya dari rumah saudara, saya langsung dikejutkan dengan keberadaan dua buah paket yang nangkring di meja depan. Oh, rupanya Baca lebih lanjut