[Resensi Buku] Jogja Jelang Senja

“Lalu apa gunanya menikah bila semuanya masih masing-masing?”

hlm. 164

jogja jelang senja

sumber : bukubukularis.com

Judul Buku : Jogja Jelang Senja

Penulis : Desi Puspitasari

Penerbit : Grasindo

Tahun : Cetakan pertama: Mei, 2016

Kota : Jakarta

Jumlah Halaman : 196 hlm.

 

 

Senja di Jogjakarta menawarkan banyak kemungkinan; di antara terang menuju petang; di antara pertemuan dan perpisahan; di antara Aris dan Kinasih.

Aris bertemu Kinasih di pertigaan Pasar Kotagede, saat secara tak sengaja ia menabrak sepeda  gadis itu. Sejak kejadian itu, Aris mengantar jemput Kinasih ke tempat kerja, sebab kaki gadis itu terluka, sementara ia belum mampu membayar biaya ganti kerusakan sepeda.

Kedekatan keduanya menumbuhkan cerita baru. Ketika Aris ingin menggenggam  erat tangan Kinasih, saat itu pula perbedaan keyakinan menjadi tembok bagi keduanya. Bisakah Aris dan Kinasih melewatinya?

NO SPOILER!

“Apa guna punya ilmu tinggi, kalau hanya untuk mengibuli. Apa guna baca banyak buku, kalau mulut bungkam melulu.”

Cuplikan puisi dari Wiji Thukul berjudul “Apa Guna”

hlm. 106

Bulan Agustus akan segera berakhir, namun saya baru menulis untuk blog sekali ini saja di bulan ini. Duh, sedihnya. Selain karena internet tidak mudah, kebersamaan bersama keluarga selama liburan adalah salah satu alasan saya enggan berlama-lama menyelami dunia maya.

Sebetulnya, ada kejadian menarik sekitar dua minggu lalu. Ketika saya dan seluruh anggota keluarga hendak tour ke rumah beberapa saudara, karena terburu-buru menyiapkan berbagai hal, saya sampai meninggalkan ponsel di rumah. Naasnya, saya baru menyadari bahwa ponsel saya ketinggalan di rumah adalah ketika kami sudah mendarat di kediaman saudara di luar kota. Walhasil, saya pun bertahan tanpa ponsel. Sesuatu yang nyaris terdengar mustahil. Hahaha. Jadi, mohon maaf untuk teman-teman yang kesulitan menghubungi saya. Ketiadaan ponsel membuat ketiadaan internet sehingga sayapun full time bareng saudara-saudara aja. Manis banget nggak sih rencana Allah? Hihihi. Ya, walau sesekali numpang buka sosmed melalui ponsel anggota keluarga lainnya sih.

Sepulang saya dari rumah saudara, saya langsung dikejutkan dengan keberadaan dua buah paket yang nangkring di meja depan. Oh, rupanya paket hadiah giveaway dan bingkisan dari Kedubes Irlandia untuk Indonesia. Alhamdulillah yah. Langsung deh saya lembur baca paket hadiah giveaway berupa novel Jogja Jelang Senja ini.

Novel ini mengisahkan perjalanan cinta Kinasih dan Aris yang berbeda agama. Keduanya tidak sengaja berkenalan ketika Aris yang mengayuh sepeda menuju Pasar Ramadan di Kotagede layaknya dikejar gendruwo menabrak sepeda Kinasih di pertigaan pohon beringin Pasar Legi dari belakang. Naasnya, sepeda Kinasih penyok. Padahal, sepeda itulah yang ia gunakan sehari-hari untuk pergi bekerja melinting kawat perak.

Mau tidak mau, Aris yang belum memiliki cukup uang untuk membayar biaya berobat sepeda Kinasih, harus mengantar-jemput gadis itu setiap hari. Lambat tapi pasti, benih cinta tumbuh di antara keduanya.

Seperti halnya kisah cinta lainnya, kisah cinta Kinasih dan Aris juga diterjang banyak ombak seperti perbedaan agama, profesi Aris, hingga gadis kaya raya bernama Jeanette yang mengejar-ngejar lelaki cungkring itu kemana-mana.

Jeanette merupakan teman Kesi, kakak perempuan Aris. Keduanya tidak sengaja berjumpa di Taman Budaya Yogyakarta. Jeanette yang sedang bosan dan kurang kerjaan pun cari hiburan dengan mendekati Aris: mahasiswa sekaligus jurnalis dan aktivis kurus kering berbaju kumal yang pastinya kismin. Peluang memacari Aris cukup besar karena selain Jeanette cantik, pintar dan tajir, gadis tinggi itu juga anak pejabat yang mampu membantu Aris dan kawan-kawan aktivisnya ketika dalam kesulitan memperjuangkan keadilan. Apalagi saat itu adalah masa-masa Orde Baru dimana kita tahu, banyak orang yang tiba-tiba hilang tanpa jejak seperti jurnalis, aktivis dan pejuang keadilan lainnya.

“Keadaanku yang serupa dengannya membuatku bisa merasalah kondisi kekurangan orang-orang di sekitar dan di wilayah lain. Sehingga ketika aku diberikan ruang dan kemampuan sebagai mahasiswa sekaligus jurnalis adalah wajib bagiku memperjuangkan penindasan dan ketidakadilan kepada mereka yang tak berdaya.”

hlm 71

Selain mampu memberikan berbagai informasi kepada Aris, dengan kekuasaannya, Jeanette bahkan mampu juga mengeluarkan Aris dari penjara. Bukankah gadis Jakarta yang ceplas-ceplos dan berani itu sungguh berguna bagi Aris?

Masalah timbul ketika Kinasih yang sudah menjalin hubungan dengan Aris tahu perihal Jeanette. Putri kaum itu cemas dan cemburu bukan main. Apalagi jika dibandingkan dengan Jeanette yang suka pamer kelebihan di tempat kerjanya itu, Kinasih kalah telak.

Selain soal Jeanette, orang tua Kinasih juga tidak merestui hubungannya dengan Aris karena perbedaan keyakinan dan profesi lelaki itu yang membahayakan. Tentu saja orang tua Kinasih tidak mau putrinya berpindah agama, pun sekedar menyimpan salib di rumahnya sendiri kelak bersama Aris. Akibatnya, Kinasih dan Mamak bertengkar hebat. Bapak pun menengahi dengan mengundang Aris berkunjung ke rumah.

Setelah waktu ditetapkan tiba, Kinasih yang sudah menunggu pun antara senang dan terkejut ketika Aris datang ke rumahnya dengan badan yang tidak utuh. Eh, maksudnya, badannya penuh luka-luka. Aris kenapa ya? Dengan kondisi babak belur seperti itu, pupus sudah harapan Kinasih agar orang tuanya merestui hubungannya dengan Aris.

Semuanya menjadi super biru ketika Aris mencoba bertanggungjawab atas hubungan keduanya  yang lontang-lantung tidak jelas dengan memberikan dua pilihan kepada Kinasih. Biarkan Aris berpindah agama atau hubungan keduanya diakhiri saja?

Kinasih pun antara menginginkan hubungan keduanya segera lanjut ke pelaminan-apalagi Mamak yang sudah mendesak hendak menjodohkan- juga ketidakinginannya jika Aris berpindah agama sekadar demi melangsungkan pernikahan. Kata Kinasih kepada lelaki cungkring berambut gondrong itu,

“Beragama itu tidak seperti mengenakan sepatu, Mas. Mas kenakan sepasang untuk sekian waktu. Bila sudah usang atau memiliki sepasang lagi yang baru, Mas tinggalkan yang lama.”

hlm. 1

Jadi, apa ya pilihan Kinasih yang terlanjur cinta banget dengan Aris?

“Hidup akan selalu menawarkan pilihan beserta risiko-risikonya.”

hlm. 7


Novel dengan sudut pandang orang ketiga serba tahu ini mengajak pembaca mengelilingi Jogjakarta di tahun 1990an. Rasanya senang sekali memiliki kesempatan membaca novel ini. Saya jadi tahu betapa beratnya jadi jurnalis dan aktivis di masa itu. Well, bukan berarti mudah juga ya di masa kini. Apalagi di negera yang saya tinggali untuk menuntut ilmu saat ini. Hehe. Membela keadilan ataupun menguak kebenaran memang tidak pernah mudah. Adaaaa saja yang mau menjegal demi kepentingannya.

Menurut saya, salah satu keberhasilan novel adalah ketika cerita dalam novel itu terasa hidup. Saya akan lebih mudah terbawa imajinasi bila penulis melakukan show, bukan tell. Dalam konteks ini, saya rasa penulis berhasil. Apalagi penulis lumayan rumit melakukannya lantaran novel ini beralur maju-mundur-maju alias ibarat sinetron, ada tuh adegan dalam lamunan berisi peristiwa sebelumnya. Tapi tenang saja, mudah kok memahaminya.

Yang spesial adalah karena novel ini berlatar Jogjakarta di masa lampau. Jogjakarta adalah kota favorit saya setelah Banyuwangi. Makanya, saya susah move on banget ketika batal tinggal di Jogjakarta. Selain itu, faktor lampau juga jadi nilai plus. Apalagi pas baca novel ini semalam, orang rumah lagi dengerin lagu-lagunya Didi Kempot. Imajinasi saya pun hidup berasa jadi orang zaman beheulah eh.

“Zaman memang selalu berubah, beranjak ke depan. Bukan anak yang harus melulu memahami orang tua, tapi orang tua juga harus sudi mengejar ketertinggalannya dengan memahami anak.”

hlm 134

“Zaman telah benar-benar berubah. Kami dulu mati-matian berjuang melawan penjajah, taruhannya nyawa, bedil dilawan bambu runcing, dan lain sebagainya. Setelah merdeka, karena kurang kerjaan, akhirnya yang dikerjakan anak mudanya sekarang hanya berjuang demi cinta.”

hlm 160

Mengenai tokoh, saya tidak punya tokoh favorit dalam novel ini. Jarang-jarang lo ya. Namun, justru itu yang membuat novel ini lebih spesial karena karakter-karakter tokohnya sangat dekat dengan kehidupan saya yang tinggal di deso. Pokoknya, ketidaksempurnaan para tokoh membuat saya merasa dekat dengan mereka. Karena sesungguhnya, tidak ada manusia nyata yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah.

Secara keseluruhan, saya cukup menikmati membaca novel ini walau dibuat lumayan jengkel dengan ending-nya. Sangat jengkel. Happy Reading!

 

Iklan

2 thoughts on “[Resensi Buku] Jogja Jelang Senja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s