[Resensi Buku] Amsterdam, Ik Hou Van Je

“Aku mencintaimu tak peduli musim, Anggi. Aku hanya ingin terus mencintaimu.” Hlm. 286

Amsterdam1AA

sumber : arumi-stories.blogspot.com

Judul Buku : Amsterdam, Ik Hou Van Je

Penulis : Arumi E.

Penerbit : Grasindo

Tahun : 2013

Kota : Jakarta

Jumlah Halaman : 305 hlm.

 

 

“Cinta bersemi di hamparan bunga tulip.”

Daun-daun berubah warna, berjatuhan diterpa angin. Seperti rasa ini yang jatuh ke sudut hatimu.

Hamparan putih membekukan, dan selarik cinta di sudut hati semakin menghangatkanku.

Takdir membawaku kembali padamu. Saat kau tawarkan keceriaan dalam mengayuh sepeda beriringan menyusuri kota Leiden.

Semarak bunga tulip warna-warni di Keukenhof menebarkan aroma cinta. Hanya kau dan aku, jangan perdulikan orang ketiga di antara kita.

Bermula di Jogja, bermuara di Amsterdam. Perjalanan cinta Anggi yang jatuh pada Ryuga. Musim berganti, akankah cinta Ryuga pada Anggi turut berganti? Cinta jua yang membuat Anggi kembali ke Jogja, berharap disambut senyum menawan kekasih hati. Namun, harapan tinggallah harapan. Kembali ia menjalani hari-harinya yang sendiri di Amsterdam. Sampai di suatu hari tak terduga, Ryuga kembali hadir….

“Ik hou van je,” kali ini ucapan itu terdengar meyakinkan.


Semulanya saya berniat untuk berhenti membeli buku, lagi, hingga saya terbang ke Turki. Alasannya, saya perlu menabung untuk sesuatu yang lebih utama dibanding buku. Selain itu, saya ingin menghabiskan waktu dengan bercengkrama bersama keluarga. Bukan sekedar berada di tempat yang sama, namun saling sibuk dengan buku masing-masing. Apalagi, waktu saya di Indonesia tinggal sebulan. Hiks hiks.

Naas, di pagi hari yang terik di Surabaya, ayah tiba-tiba menawari saya untuk diajak jalan ke Gramedia.

Ayah : “Mau ke Gramedia?”

Saya : “Nggak usah deh, Yah.”

Kemudian kami melintasi gedung Gramedia. Melihat gedungnya, saya spontan berteriak, “Eh eh boleh deh ke Gramedia aja.”

Kita pun jadi pengunjung pertama yang datang. Hehe. Karena hari itu memang masih pagi banget. Ya, kapan lagi ke Gramedia? Selagi di Surabaya, pikir saya. Hasilnya, tiga buah buku pun saya tenteng dengan bahagia. Belum puas, saya dan ayah lanjut ke Gunung Agung. Kebetulan kami berdua memang sama-sama suka buku. Walau beda seleranya. Beruntung, saya nemu obral buku di toko buku Gunung Agung. Dapat deh buku ini. Semoga aja bisa beresin keempatnya sebelum berangkat ke Turki ini. Meski artinya, harus curi-curi waktu baca buku di malam hari karena selain itu, maunya pengin dekat keluarga terus.

Udah ah curhatnya.

Sebetulnya, saya nggak sengaja menemukan buku ini di antara buku yang diobral lainnya. Lumayan loh, separuh harga asli. Yang pertama kali bikin saya tertarik terhadap buku ini selain obral adalah karena setting tempatnya di Amsterdam dan Jogja yang merupakan kota-kota favorit saya, sekaligus karena penulisnya adalah Mba Arumi E, penulis novel Eleanor : Do You Want to Know A Secret?

NO SPOILER!

Novel ini menceritakan perjalanan Anggi mengejar mimpi sampai ke Amsterdam. Selain jadi tour guide di Jogja, Anggi juga jadi pelayan di cafe temannya. Ia memang sibuk kerja lantaran hanya hidup bersama ibu dan adik perempuannya yang masih sekolah. Mau tidak mau, ia pun harus membantu perekonomian keluarga sejak kuliah.

Karena sifatnya yang berdedikasi tinggi pada pekerjaan, ia disukai kliennya. Termasuk pasangan paruh baya bernama Tuan Willem dan Nyonya Mirthe de Boer dari Leiden, Belanda. Mereka pertama kali berjumpa di cafe tempat Anggi bekerja yaitu di Monggo Cafe. Pertemuan mereka berlanjut ketika pasangan de Boer meminta Anggi untuk menemani keduanya jalan-jalan. Sampai sukanya, pasangan de Boer bahkan menawari Anggi untuk menetap di Belanda. Impian Anggi ke luar negeri pun menjadi nyata lantaran diangkat anak oleh pasangan Belanda tersebut.

Sesampainya di Belanda, Anggi dijemput oleh Pieter de Boer yang merupakan putra bungsu keluarga de Boer. Lelaki yang berprofesi sebagai dokter gigi itulah yang banyak membantu Anggi selama di Amsterdam. Anggi memang sempat tinggal di Leiden menemani pasangan tua de Boer. Namun keluarga itu menyekolahkan Anggi di Amsterdam. Walau kehidupannya terjamin, Anggi tetap bekerja paruh waktu sebagai pelayan restoran sekaligus babysitter demi bisa mengirim uang untuk keluarganya di Jogja.

Suatu hari ketika Anggi sedang duduk-duduk santai, tanpa diduga, ia didatangi oleh seorang seniman lukis bernama Jayden Merkel yang tertarik dan berniat menjadikannya model lukisan. A Girl from Jogja adalah judul lukisan itu. Tak disangka, kedekatan keduanya yang cukup singkat mampu menumbuhkan benih-benih cinta. Keduanya pun resmi berpacaran walau Jayden sepertinya tidak begitu menyeriusi hubungannya.

Benar saja, beberapa bulan setelah menjalin hubungan, Anggi harus patah hati ketika menjumpai Jayden ada main dengan seorang model kalender asli Belanda. Padahal, keberadaan model tersebut adalah akal-akalan Hesti, temannya bekerja sebagai pelayan di restoran yang sama. Kok bisa gitu? Kenapa emang si Hesti? Baca aja novelnya. Hehe

Sebagai kakak angkat, Pieter de Boer membantunya move on. Namun, kepatah hatian Anggi rupanya justru membawanya berjumpa dengan lelaki Jogja yang sedang menempuh S2 di Universitas Leiden, Ryuga Abimanyu. Cinta di antara Anggi dan Ryuga pun tumbuh bersemi.

Sayang, setelah lulus, Ryuga harus segera kembali ke Indonesia untuk memenuhi kontrak kerjanya yang tersisa setahun. Anggi yang ditinggalkan pun galau bukan main. Di satu sisi, ia ingin pulang ke Indonesia juga dan berdekatan dengan ibu, Sasmita (adik perempuannya), juga Ryuga. Namun di sisi lainnya, ia dapat mengumpulkan uang yang banyak untuk menghidupi ibu dan Sasmita jika ia terus menetap di Belanda.

Untuk mencegah Anggi yang galau hendak pulang ke Indonesia, Pieter tak disangka-sangka menyatakan cintanya kepada Anggi dan berniat mempersunting gadis Jogja itu. Tentu saja Anggi menolak lantaran masih menjalin hubungan dengan Ryuga. Lagipula, sayangnya pada Pieter yang baik hatinya hanyalah sekedar rasa sayang terhadap kakak. Begitulah kisah cinta Anggi. Jauh-jauh ke Belanda ketemunya justru lelaki Jogja juga.

Ketika liburan tiba, Anggi berniat kembali ke Jogja untuk menengok tiga orang kesayangannya itu. Eh ternyata, Pieter menawarkan diri untuk ikut mengunjungi Jogja juga. Ya sudah, keduanya pun terbang bersama.

Kerinduan Anggi akan Ryuga terbalas kecewa ketika ia melihat lelaki itu datang bersama perempuan lain ketika mengundangnya makan siang bersama. Esoknya, ketika Anggi dan Ryuga hendak jalan-jalan, gadis itu pun mengajak Pieter. Walhasil, keduanya tidak memiliki waktu hanya berdua saja.

Karena Ryuga juga masih menggalau antara lanjut kerja di Indonesia atau menjemput Anggi di Belanda, gadis Jogja itu kembali ke Belanda dengan separuh hati yang tertinggal. Hari demi hari pun berlalu hingga tak disangka, setelah sulit sekali dihubungi layaknya menghilang ditelan bumi, Ryuga menemui Anggi di tempat kerjanya di Amsterdam. Mau apa ya si Ryuga setelah menggantungkan hati Anggi sedemikian rupa?


Mulanya, membaca novel ini membuat saya kesal dan seram dengan lelaki Belanda. Mereka terlihat begitu agresif jika ditengok dari kisah Anggi. Tapi setelah tahu bahwa Ryuga lelaki Jogja itu juga agresif, mungkin sebetulnya, semua lelaki itu agresif karena daya pikat Anggi yang begitu tinggi.

Jayden Merkel mengingatkan saya akan Kyle Anderson yang ada di novel Eleanor : Do You Want to Know A Secret? Sama-sama seniman dan menyakiti hati. Eh, itu bukan berarti semua seniman gemar menyakiti hati ya. Tapi jika dilihat dari kedua novel ini, kebetulan memang begitu. Eh, tokoh perempuannya juga sama-sama ditinggal sang ayah. Bedanya, Eleanor lebih beruntung daripada Anggi.

Dengan novel ini, kamu akan diajak penulis menyusuri Jogja, Leiden dan Amsterdam. Fiuh, jadi pengin banget ke Belanda. Pengin lihat kincir angin, kanal-kanal, Museum Hermitage yang memamerkan karya-karya maestro lukis Vincent Van Gogh, Keukenhof, serta yang pasti tulisan I amsterdam yang populer itu.

Ngomongin lukisan Van Gogh, saya jadi inget pas ikut UKM lukis di kampus, kakak angkatan saya berhasil menirukan lukisan Van Gogh “Stary Night” dengan sangat kece. Hihi jadi kangen kampus. Eh, kamu juga bakal diajak belajar bahasa  Belanda dikit-dikit loh 🙂

Yang disayangkan dari novel ini adalah lumayan banyaknya typo atau salah ketik, bahkan termasuk pengetikan nama. Ketika sedang asyik membahas Jayden, tiba-tiba saja nama Jayden berubah jadi Pieter. Dan itu tidak hanya terjadi sekali saja 😦

 

Iklan

4 thoughts on “[Resensi Buku] Amsterdam, Ik Hou Van Je

  1. Assalamualaikum kaak. Hehe kangen blog ka naee. Emang klo baca novel setting liar negeri pennya jadi kesana. apalagi penulis yg pinter banget buat narik hati pembaca untuk ngebayangin tempat tsb wkkw eh ka novel api tauhidnya kang abik bagus yaa kak nae tau? yg sejarah itu?

    Suka

        • Tergantung, Ainun. Beberapa diantaranya yang bisa kuingat ya kalau dari Indo aku suka novelnya Ahmad Fuadi, Andrea Hirata, Windry Ramadhina “London”, Kyria “Wendy’s Wishes”. Kalau karya prnulis asing, aku suka novel-novelnya Agatha Christie, Dostoyevsky “Crime and Punishment”, George Orwell “1984”, Alexandre Dumas “The Count of Monte Cristo”, Paulo Coelho “The Alchemist”, Harper Lee “To Kill A Mockingbird”.

          Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s