Edisi 2 : 7 Keajaiban Teman Bule

Masa-masa yang paling saya tunggu dengan tidak sabar semasa kuliah adalah masanya daftar ulang. Nggak tahu kenapa, menunggu tanggal daftar ulang rasanya seperti menunggu pengumuman beasiswa. Hehe. Dag dig dug, Mang.

Senin pagi kemarin, alhamdulillah saya berhasil daftar ulang. Emang niat daftar ulang pagi sih soalnya kalau nggak gitu bakal susah login karena antri. Nyuri start ceritanya haha. Eh, ternyata saya salah. Pagi hari itu juga, teman sekelas saya asal Afghanistan nelpon untuk bahas daftar ulang. Padahal kan di Afghanistan sana masih Subuh atuh.

Mengenang Afghanistan, saya jadi inget temen-teman asing saya. Yuk, bahas Edisi 2 : 7 Keajaiban Teman Bule! Hurrahhh! 😀

Tengok Edisi 1 : 7 Keajaiban Teman Bule dulu juga bolehhh…

  1. Teman Suriah (Inisial BB)
2000px-flag_of_syria-svg

sumber : wikipedia

She is the most cheerful girl that I have ever known in class! Dia adalah tokoh inspirasi saya untuk cerpen Sansli Kiz. Selalu tersenyum dan ramah adalah sifat mutlak yang melekat di dalam dirinya setiap waktu. Way too sweet. Makanya, saya betah bersamanya.

Saya kira, dia memang seberuntung itu. Tapi tidak!

Dia berasal dari Suriah. Kamu tentu tahu apa yang terjadi di Suriah saat ini. Dia dan keluarganya terpaksa mencari suaka di Turki beberapa tahun lalu dan berhasil menetap.

Menjelang ujian semester 2 lalu, dia seringkali bolos dan tidur di kelas. Saya dan dia pun sharing di cafe depan fakultas karena saya sangat mengkhawatirkannya.

“Aku harus kerja tiap hari sepulang kuliah sampai jam 10 malam. Jika weekend, aku akan kerja dari pagi. Aku sangat lelah sehingga tidak ada waktu untuk belajar. Sepulang kerja, aku pasti akan tidur. Bahkan di kelas pun masih ngantuk, lelah dan ingin tidur,” katanya diiringi tawa.

“Kamu nggak keluar saja cari pekerjaan lain? Bagaimanapun, pendidikanmu itu penting. Apalagi, kita jelang ujian loh.”

“Cari pekerjaan di sini nggak mudah, Lil. Apalagi bahasa Turkiku tidak begitu bagus. Ini sudah baik ada yang berkenan memberiku pekerjaan. Eh, lain waktu kamu boleh banget lho mampir ke cafe tempatku bekerja.” (FYI : Dia bekerja sebagai pelayan cafe.)

Saya tersenyum seraya mengangguk. Matanya pun memandang ke kejauhan, “Aku kangen banget sama rumahku di Suriah. Jika tinggal di sana, aku nggak perlu kerja,” tutupnya diiringi tawa. 😦

Kata-katanya mengingatkan saya pada sosok anak lelaki Suriah yang pernah bilang di media, kurang lebih begini, “Kami nggak akan mengungsi ke negara kalian jika kalian bantu negara kami.”

Pada dasarnya, tidak ada orang yang rela meninggalkan tanah kelahirannya tanpa tahu kapan bisa kembali. Lebih parahnya, meninggalkan tanah kelahiran dalam keadaan tidak utuh secara mental dan materi.

2. Teman Afghanistan (Inisial MMZ)

flag_of_afghanistan-svg

: wikipedia

Teman Afghanistan saya ini baiknya minta ampun. Waktu saya mengeluhkan mata saya yang mulai bermasalah untuk melihat, dia mendorong saya untuk segera periksa. Dia sampai bela-belain browsing sana-sini buat itu. Suatu hari, teman Afghan saya ini rupanya nggak tahan dengan kebebalan saya yang malas periksa mata ke rumah sakit. Dia menawarkan dirinya untuk mengantarkan saya ke rumah sakit usai kelas. Seperti biasa, belum juga saya membalas tawarannya, dia sudah pergi dan menganggapnya “iya”.

Setelah kelas, ketika dia sedang ngobrol dengan temannya yang lain, saya ragu hendak mengingatkannya atau pergi saja. Akhirnya, saya putuskan untuk pergi saja. Lagipula, aneh rasanya jika pergi ke rumah sakit bersamanya.

Keesokannya, saya menganggap semuanya telah berlalu dan dia telah lupa. Ternyata tidak! Sebelum kelas dimulai, dia menatap saya lekat-lekat dan bilang, “Kamu kemana kemarin?”

Saya pun hanya nyengir kuda. Sorry 😦

Selain baik, dia juga jahil. Tapi nggak perlu lah ya saya tulis semua kejahilannya. Salah satunya adalah betapa dia sering banget jadikan saya kambing hitam di kelas. Misal nih ya di kelas yang hening tiba-tiba ada suara tawa. Ketika dosen nanya siapa yang ketawa, eh dia nunjuk saya.

Meski demikian, salah satu hal yang bikin saya terharu adalah ketika setelah hampir setengah tahun kita tidak berjumpa, dia tiba-tiba chat dan memberi kabar kepada saya bahwa dia hendak kembali ke Turki selepas liburan dan menawari saya bingkisan dari Afghanistan. Saya pikir, dia memberikan bingkisan kepada seluruh teman-temannya di kelas. Ternyata, tidak. Saya pun jadi terharu. Apalagi hadiahnya besar. Pasti menuhin kopernya tuh.

3. Teman Rusia (Inisial NA dan ST)

flag-russia-300x200

sumber : itm power

Di postingan sebelumnya, saya udah bilang kalo perempuan Rusia dan Ukraina itu cantiknya bukan main. Betul, si NA dan ST ini juga cantik seperti model dengan gaya berbeda. Jika ST ini posturnya kurus, kecil, namun berbibir penuh seperti Angelina Jolie, si NA berpostur lebih padat. Jika ST suka mengenakan yang mini-mini dengan rambut panjang tergerai, si NA ini suka bergaya tomboy dengan jaket jeans dan rambut super cepak. Seperti fisiknya, karakter mereka pun berbeda. Jika si ST cenderung suka bicara, si NA cenderung cuek bebek. Tiap kemana-mana selalu pakai headset buat dengerin musik supaya nggak diajakin ngobrol orang. Meski demikian, keduanya klop kayak kartu pos dan perangko.

Hubungannya dengan saya? Meskipun beda jurusan dan asrama, kami serung berpapasan di jalan dan makan sore bersama. Dari makan bersama inilah saya menyadari bahwa NA ternyata suka ngomong juga. Jadi, sebetulnya orang diem itu juga bakalan ngomong kok kalo ketemu pawangnya… eh maksudnya kalo udah kenal.

Lalu, apa kenangan spesial bersamanya?

Ya…hm… saya cuma mau membenarkan kalau gadis Rusia itu cantik-cantik dan accent mereka sangat seksi. *digebukin Masha* Oh ya, senangnya berpapasan dengan mereka juga karena saya bisa ngajakin mereka ngobrol bahasa Rusia sedikit  (baca : sedikit banget) sekaligus nanya-nanya grammAr. Betapa membosankannya bagi mereka! HA HA HA

4. Teman Kazakistan (Inisial AZ)

flag_of_kazakhstan-svg

sumber : wikipedia

Saya tahu dia sejak kursus bahasa Turki, namun baru berteman dengannya ketika kita berdua sama-sama tahu bahwa kita sejurusan! Dari penampilannya yang cantik khas gadis Kazakistan, saya kira dia gadis jutek bin judes. Biasanya kan gadis cantik itu judes. Eehhh! Ternyata, dia baiknya minta ampun 🙂

Selain rajin belajar, dia juga nggak pelit ilmu. Saya beberapa kali pinjam catatan kuliahnya. Hahaha. Habis, bahasa Turkinya memang sudah bagus. (baca : bahasa orang Kazakistan mirip banget dengan bahasa orang Turki. Eg : Dilimiz (Turki)=Tilimiz(Kazakistan)=Bahasa kita(Indonesia)).

Selain itu, dia juga sangat terbuka untuk saya yang kepo ini. Hm, di postingan sebelumnya kan saya sudah bilang kalau saya suka jalan bersamanya dan teman Ukraina (FI). Sebetulnya, saya lebih dekat dengan teman Kazakistan ini daripada teman Ukraina karena dia lebih terbuka dan manis. Jika si teman Ukraina dulu diawal kenal hobi banget nyerocos dengan bahasa Rusia ketika kita bertiga jalan, si teman Kazakistan selalu menanggapi dalam bahasa Turki supaya saya mengerti. Padahal mah saya sama sekali nggak keberatan kalau mereka berdua berbicara dengan bahasa Rusia. Habis cute banget sih! :mrgreen:

Dia juga sering nanyain kabar saya walau nggak ada kepentingan berat. Padahal mah kalau saya, hubungi orang ya kalau ada perlu. *diketok palu*

5. Teman Serbia (Inisial DM)

freevector-serbian-flag-vector

sumber : free vector

Dia adalah contoh lain bahwa kita tidak boleh menilai orang dari luarnya saja.

Kita sekelas tapi baru dekat ketika menjelang akhir semester. Well, dia itu pendiam banget di kelas. Super super super super pendiam! Rupanya setelah kenal eh ceriwis juga. Nggak nyangka! :mrgreen:

Kalau bareng dia itu senengnya bakal direkomendasiin semua hal yang murah tapi bernilai hehe. Misal nih pas makan bareng, dia bakal rekomendasikan ke saya makanan yang harganya sesuai kantong namun enak dan ngenyangin versi dia. Saya pun ngikut dong karena bingung mau pesen apa, juga belum pernah ke cafe itu sebelumnya.

Eh, ternyata… rekomendasi dia itu makaroni seember yang rasanya penuh keju. T.T Ketika dia berhasil menghabiskan seporsi penuh, saya pun hanya berhasil melumat setengah porsi dengan keadaan nahan muntah.

Selain karena postur tubuhnya yang dua kali lipat dari saya, rasa keju juga kurang cocok di lidah orang ndeso seperti saya. Ini memang soal selera…

6. Teman Albania (Inisial BB)

images

sumber : balkan forum

“Kakak angkatan terbaik di jurusan!”

Dia udah bantuin saya banyak hal sejak awal kuliah. Setahun lalu, tepatnya September 2015, saya galau bukan main lantaran nggak menemukan pintu masuk ke fakultas. Oke, ini konyol. Soalnya biarpun saya udah nanya satpam, tetep aja nyasar. Mau nanya mahasiswa lain, udah keder duluan hahaha. Akhirnya, saya nelpon BB dipagi buta. Responnya sangat baik walau saya denger suaranya masih serak baru bangun tidur. So sorry, BB, to wake you up earlier that day. 😦

Dia juga sering share soal jurnalistik ke saya termasuk ajakin saya ke acara-acara jurnalistik gitu. Sayang, waktunya selalu nggak tepat sehingga saya nggak pernah pergi bareng dia ke acara jurnalistik.

Karena sama-sama mahasiswa asing di jurusan jurnalistik kali ya, saya ngerasa nyambung tiap kali curhat soal mata kuliah ataupun dosen ke dia. Well, itulah keindahan menemukan saudara di negeri orang hehe. Jadi jangan khawatir buat kamu yang mau kuliah di luar negeri. Pasti ada aja kok yang siap bantu.

7. Teman Honduras (Inisial JB)

honduras_flag

sumber : questconnect

Bukan Justin Bieber atau Justin Timberlake ya! :mrgreen:

Biarpun badannya kekar besar layaknya preman pasar, JB ini hatinya baik lho. Dia sangat baik dan sopan.

Sampai baiknya…

JB ini ceritanya duduk di bangku belakang, sedangkan saya duduk di bangku nomer tiga dari depan. Untuk keluar kelas, dia harus maju ke depan melewati saya karena pintunya ada di samping papan. Nah, si JB ini karena badannya besar kali ya sering banget nabrak meja saya. Karena mejanya nempel di lantai, tabrakannya tidak berdampak apa-apa buat saya. Justru, tulangnya yang pasti sakit tiap hari kena ujung meja. Eh, udah sakit, dia malah minta maaf ke saya. Berkali-kali, lagi. Padahal harusnya saya yang feel sorry for him. Kejedok ujung meja itu nggak pernah nikmat. Serius.

Meski pun  dia peluk sana-sini dan menyumpah serapah (baca : emang gaya bahasa gitu nomal buat budayanya), dia sopan banget ke saya. Bahkan kalau ngajak salaman ya nangkupin tangan dianya. Heheh. Terus meskipun dia hobi teriak ke temen-temen machonya, dia kalem kalau ngomong ke saya. Intinya, JB ini bisa sesuaikan posisi lah ya.

Mungkin… sebabnya adalah karena saya berjilbab. Eits, bukan apa-apa. Tapi di awal kelas dulu ada temen yang bilang ke saya soal si JB yang suka tanya-tanya tentang saya sebagai perempuan muslim ke dia (temen saya). Mulai dari apa perempuan muslim harus pakai baju panjang ketika panas terik hingga apakah perempuan muslim dilarang ngobrol dengan lelaki… ckckck. Padahal saya aja mah yang waktu itu pendiam. Nggak ada kaitannya sama perempuan muslim dilarang ngobrol. Nah kata temen saya ini, dia nggak berani nanya langsung ke saya. Padahal, saya siap jawab loh! Kayaknya…

Well, itulah keajaiban temen bule. Semoga nggak bosen ya!

Iklan

2 thoughts on “Edisi 2 : 7 Keajaiban Teman Bule

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s