Ketika Aku Memutuskan Berhijab

Kilas balik, sudah sekitar 5 tahun lamanya saya berhijab. Semoga istiqomah. Ya, walaupun belum sempurna berhijabnya hehe. Doain yaa…

f9054318a1463ba0329d052c1e35805f
sumber : pinterest

Hijab, (bahasa Arab: حجاب, ħijāb) adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti “penghalang”. Pada beberapa negara berbahasa Arab serta negara-negara Barat, kata hijab lebih sering merujuk kepada kerudung yang digunakan oleh wanita muslim. (wikipedia)

Dari kecil sampai SMP, saya belum kepikiran untuk berhijab walaupun ibu saya berhijab. Kenyataannya, di daerah saya memang umumnya begitu. Yang pakai hijab itu kaum-kaum yang sudah menikah atau tua. Bahkan banyak ibu-ibu yang menutup rambutnya rapat namun bajunya berlengan pendek dengan celana longgar selutut. Memang ada remaja behijab, terutama yang di madrasah. Namun sayang, mereka cenderung berhijab di madrasah saja. Setelah motor yang mereka kendarai keluar dari halaman madrasah, hijab dilepas begitu saja. Lagipula, keluarga saya tidak memaksa saya sama sekali untuk berhijab. Lebih parah lagi, saya memang selalu bersekolah di sekolah umum. Bukan madrasah yang banyak pelajaran agamanya.

Dulu sekali, setelah saya lulus SD dan naik ke SMP, seorang teman perempuan saya tercengang ketika melihat saya mengenakan seragam putih biru berlengan pendek tanpa hijab.

“Lho kok nggak berhijab, Nae? Kakek kamu kan ngajar di MTs.”

Terus kalau kakek saya ngajar di MTs, saya harus berhijab, gitu? pikir saya masih belum sadar.

Di SMP, digodain itu hal biasa. Namun godainnya ya sederhana-sederhana saja cuma berupa ucapan. Tapi itu semua tidak berdampak buat saya. Padahal setelah dipikir-pikir, mungkin itu karena saya kurang menjaga diri dalam berpakaian. Masa-masa jahiliyah deh. Biarpun saya mematok baju atas minimal selalu berlengan dan celana bawah minimal selutut, nyatanya seragam olah raga di SMP kami sangat mini. Celana olah raga kami di atas lutut lho.

Setelah lulus SMP, kami semua ramai membicarakan SMA mana yang hendak kami tuju. Sebetulnya, saya hendak SMA di luar kota, tapi tidak jadi karena NEM saya yang rendah dan prestasi saya yang biasa-biasa saja. Diterima di SMA terbaik (versi saya) di daerah saya saja sudah sangat bersyukur. Jika tidak, saya mau kemana? Saya tidak mampu memikirkannya. Bukan apa-apa, tapi saya melihat bahwa SMA di daerah saya itu sudah merupakan garis paling bawah yang tidak boleh dilewati jika saya menginginkan PTN favorit. Duh ah!

Menunggu pengumuman, saya masih sering bercengkrama dengan teman-teman di SMP. Beberapa teman saya secara nyata mengatakan hendak berhijab ketika SMA kelak. Beberapa di antaranya justru sudah mulai berhijab ketika wisuda SMP. Di antara celotehan teman-teman, saya hanya diam saja karena memang tidak ada niatan sama sekali untuk berhijab. SAMA SEKALI TIDAK. Saya justru seringkali membayangkan diri saya dalam balutan seragam putih abu-abu dengan rambut tergerai. Lagian ngapain berhijab, ilmu agama saya juga gini-gini aja, pikir saya waktu itu.

Ketika MOS di SMA, godaan semacam itu datang lagi. Tapi kala itu saya tidak merasa tenang ketika digoda oleh kakak kelas walaupun itu berupa ucapan saja. Apalagi mendengar isu bullying pada junior yang dianggap menggoda pacar senior. Hahaha sungguh konyol.

Hari pertama MOS, sepulang dari SMA, ada nomer asing yang menghubungi saya. Saya pikir itu dari teman baru saya yang tadi meminta nomer. Ternyata bukan! Itu adalah nomer kakak kelas 3 di SMA baru saya yang mengajak kenalan. Saya kesal bukan main dong. Baru juga hari pertama masuk SMA.

Hari terakhir MOS, kalau tidak salah, petugas TU mendata nama-nama siswi yang hendak berhijab. Biasa, soal seragam hehe. Entah kenapa waktu itu berjalan begitu cepat. Tanpa memikirkan apapun, tangan kanan saya tiba-tiba terangkat. Saya mengajukan nama saya untuk menjadi salah satu siswi yang berhijab. Nggak nyangka. Saya nggak mikir apakah setelahnya nanti saya akan istiqomah atau tidak. Hanya saja, rasa-rasanya kok ingin angkat tangan. Mungkin itu kali ya yang namanya HIDAYAH.

Karena MOS tidak berhijab, ketika seragam sudah jadi dan saya mengenakan hijab, teman-teman banyak yang terkejut. Terutama teman-teman baru saya sih. Bukan teman se-TK, se-SD atau se-SMP yang notabenenya tahu saya Muslim. Mereka pikir saya non-Muslim hanya gara-gara saya memiliki aura Chinese yang entah mereka lihat darimana.

Setelah itu, semuanya berjalan normal. Saya merasa biasa saja seterusnya. Well, waktu itu saya sama sekali tidak menyadari apapun.

Detik ketika saya mulai kuliah, saya termenung menyadari bahwa banyak sekali barokah yang Allah berikan kepada saya selepas saya berhijab :’)

Saya terserang DBD ketika saya kelas 2 SMP. Sekitar 2 minggu lamanya, saya harus dirawat di rumah sakit. Izin sekolah sebegitu lamanya apalagi menjelang ujian membuat nilai saya jeblok dan saya menjadi malas untuk memperbaikinya :mrgreen: Selain nilai akademik yang asal-asalan, saya juga seperti tidak ada niatan mengembangkan keterampilan. Saya ikut PMR, PRAMUKA, dan Tata Boga dengan durasi yang tidak konsisten. Makanya, saya lulus dengan biasa-biasa aja. Untung tuh saya diterima di SMA yang ada di daerah saya. Coba kalau tidak? Well, waktu itu poin saya ada diurutan ke 64 (masih ingat betul yak) diantara 200an siswa yang diterima. Alhamdulillah masih diterima 😀

Di SMA, hidup saya benar-benar berubah indah. Dari kelas 1 hingga kelas 3, alhamdulillah berkat Allah, saya selalu masuk ke Top Five Students di sekolah dan selalu jadi juara 1 di kelas saya. Dari awal kelas 3 sampai lulus, beberapa kejuaraan menghampiri saya dan tulisan saya mulai dimuat di media cetak setelah sebelumnya cuma lolos seleksi di penulisan antologi. Setelah lulus, saya diterima di jurusan dan PTN yang saya inginkan. Selain itu, saya juga diberikan kesempatan emas oleh Allah untuk memperoleh full scholarship untuk mengenyam pendidikan di Turki. Alhamdulillah lancar jaya. Maha Besar Allah. Oh ya, saja juga memenangkan telkomsel poin berhadiah smartphone BlackBerry lho. Sesuatu yang terdengar jarang bagi saya. Menang undian lho… kok bisa ya. Padahal saya jarang beli pulsa dan poin saya tidak banyak. Bukan hanya itu, saya juga sempat dapat HP Alcatel dan banjir hadiah lainnya. Kalau nggak bersyukur, saya sungguh keterlaluan. Dekat dengan Allah memang membahagiakan sekaligus menenangkan ya 🙂 Coba saja jika saya sadar lebih awal untuk taat…

Nah, saya inget tuh salah satu doa saya sepanjang bulan Ramadhan di tahun 2014. Waktu itu saya udah diterima dan daftar ulang di UGM. Tinggal berangkat buat OSPEK aja tapi hati saya rasanya masih mengganjal. Saya pun berdoa kepada Allah karena rasa-rasanya biarpun UGM adalah PTN yang saya impikan sejak dulu, hati saya masih condong menginginkan beasiswa pemerintah Turki.

Doa saya waktu itu adalah semoga Allah memilihkan sekolah untuk saya dimana saya bisa menjadi lebih dekat dengan-Nya. Singkat kata, saya tuh berharapnya jika dengan kuliah di UGM akan mendekatkan saya kepada Allah, saya nggak keberatan ditolak seleksi beasiswa pemerintah Turki. Namun jika kuliah di Turki justru akan mendekatkan saya kepada Allah, saya memohon sekali agar lolos beasiswa tersebut. Ternyata, jawaban Allah adalah dengan kuliah di Turki :’) Alhamdulillah.

Izmir-Turki memanglah kota yang sekuler. Jarang sekali kita jumpai perempuan berhijab di sana. Kampus saya juga tidak memiliki masjid sehingga kami yang mau beribadah bisa melakukannya di dua tempat saja di kawasan kampus yang luas itu; yaitu di gedung Fakultas Kedokteran dan gedung Fakultas Sastra/Ilmu Budaya. Di lantai bawah, pula. Nggak apa-apa. Daripada harus sholat di rerumputan atau lab komputer. Hehe

Berada di Izmir, membuat saya sedikit-sedikit belajar soal agama mengingat pengetahuan saya soal Islam sangatlah minim. Setelah lulus SD, saya sudah mengaji sendiri di rumah. Tidak ke TPQ lagi. Jadi, ilmu agama saya sangatlah sedikit; tidak sampai seujung kuku deh. Namun justru dengan itu Allah membimbing saya melalui teman-teman yang luar biasa di Izmir :’) Thanks a lot, PPI Izmir! Meskipun saya masih banyak sekali kekurangannya, setidaknya saya masih diberikan kesempatan untuk belajar perlahan-lahan soal agama Islam.

Jujur saja, saya merasa sangat dungu ketika diskusi agama Islam dengan teman-teman di Izmir. Dengan usia yang tidak lagi anak-anak, harusnya ilmu agama saya tuh lebih banyak dari yang saya miliki saat ini. Memikirkannya membuat saya merenung berulang-ulang… Andaikan saya dulu di madrasah? Andaikan saya dulu di pesantren? 😦 Tapi Allah Maha Tahu dan takdirnya pastilah yang terbaik.

Insya Allah tidak ada yang terlambat banget. Adanya terlambat sedikit :mrgreen:

Well, dekat dengan Allah yang Maha Kaya, Pemurah, lagi Penyayang memang sangat menyenangkan. Jika yang kita kejar adalah akhirat, insya Allah kenikmatan duniawi pun akan ikut perlahan. Maka, mendekatlah kepada Allah. Saya sudah membuktikan berkah-berkah-Nya yang luar biasa seiring proses saya berhijrah dan terus memperbaiki diri. Jika saya yang segede ini saja masih diterima, apalagi kamu yang masih muda 😀 *duh berasa tua

Akhir kata, saya mau bilang kalo postingan ini bukan buat pamer atau macam-macam *emang apa yang bisa dipamerin🙈*. Namun semata-mata untuk menjadikan bukti nyata bahwa kenikmatan disayangi Allah itu luar biasa. So, mendekatlah dan cari ridho Allah 😀

latest-jumma-mubarak-quotes-free
sumber : newwallpapershd.com
Iklan

6 thoughts on “Ketika Aku Memutuskan Berhijab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s