Pak Ahok dan Al-Maidah 51

Selamat Malam!

YANG SENSITIF DAN CLOSE-MINDED DILARANG BACA!*

*seriussss

Intro dulu ya…

Semuanya bermula ketika saya sedang asyik melihat timeline facebook, ada seorang teman yang share postingan orang lain mengenai Pak Ahok dan Al-Maidah ayat 51. Mungkin kamu udah pada lihat ya video pidatonya pada acara pertemuan dengan warga Pulau Seribu. Karena saya nggak mau nonton yang setengah-setengah, saya coba tonton full videonya di akun resmi Pak Ahok di facebook. Saya pun menontonnya dengan seksama, dan JLEB!

Beberapa teman mengatai saya liberal gara-gara saya mendukung warung-warung tetap buka (dan hanya ditutup tirai) saat Ramadan. Apalagi ketika tahu bahwa saya yang berjilbab ini punya teman lesbian. Dikiranya saya pendukung LGBT.

Hm.

Saya biasanya suka sebel sama yang memaksakan kehendak. Cukup sedih juga ketika beberapa orang mengancam akan menyembelih Pak Ahok dan sejenisnya gara-gara pidatonya. Gahar banget!

Jujur, hati saya juga terluka ketika melihat video full pidato Pak Ahok. Dari berita-berita yang saya baca, saya lumayan terkesima dengan hasil kerja beliau terhadap DKI Jakarta (terlepas dari bahwa setiap media itu membawa kepentingannya masing-masing). Namun ketika video itu tersebar, pandangan saya berubah. At least, membuka mata saya. Itu Al-qur’an lho. Saya rasa Pak Ahok mengerti bahwa itu adalah kitab suci umat Muslim. Andai Pak Ahok lebih menjaga tuturnya… Tapi andai video itu tidak tersebar, saya mungkin akan tetap berpikir sama; “Tidak apa-apa memilih pemimpin Non-Muslim, selama dia baik dan pandai memimpin. Lagian, rasis amat sih nggak boleh pilih pemimpin Non-Muslim.”

Memilih pemimpin itu sama saja dengan memilih pemimpin rumah tangga a.k.a suami. Tidak bisa yang berbeda keyakinannya, beda agamanya. Karena kelak akan berdampak pada generasi berikutnya a.k.a anak-anak.

Setiap orang membawa kepentingannya sendiri. Termasuk pemimpin non-Muslim maupun Muslim. Meskipun demokrasi itu ada, saya masih merasa bahwa kepentingan pribadi biar secuilpun masih akan masuk ke hati selama masa kepemimpinan. Misal nih saya yang Muslim jadi pemimpin di negara yang tidak memiliki masjid, otomatis saya lebih bisa merasakan kondisi masyarakat Muslim di sana dan mencoba mengusahakan pembangunan masjid. Itu contoh saja. Pada dasarnya, setiap orang punya kecenderungan. Jadi ya… begitu.

Karena tahu bahwa setiap orang/golongan membawa kepentingannya sendiri, jangan sampai kita luput dan lebih memilih main aman. Maksudnya, biarlah orang lain yang memimpin, biarlah orang lain yang mengambil peran, biarlah saya dengan dunia saya sendiri- yang penting saya masuk surga. Jangan sampai ya… Buat apa kita hidup jika eksistensi kita tidak menimbulkan perubahan secuilpun. Jangan sampai ada tidaknya kita di dunia tidak berarti apa-apa. Ambil peranmu! Kalau bukan kita, siapa lagi?

Dari video Pak Ahok mengenai Al-Maidah 51, saya belajar beberapa hal. Pertama, untuk lebih menjaga ucapan. Apalagi kalau posisimu sebagai orang terpandang/public figure.  Kedua, jangan mudah percaya dan terpancing. Meski saya masih berusaha menghilangkan sakit hati atas ucapan Pak Ahok (Pak Ahok sudah minta maaf), saya dibuat kesal melihat beberapa masyarakat menyudutkannya dengan kata-kata tak pantas. Indonesia kan negara hukum. Biarlah kasus Pak Ahok itu diurusin pihak berwajib. Jangan main hakim sendiri. Intinya, ya emang ngeselin sih. Tapi orangnya juga udah minta maaf. Sekarang biar hukum Indonesia yang menjawab. Ketiga, saya jadi sadar bahwa memang benar bahwa seharusnya kita tidak mempertanyakan aturan-aturan Allah SWT!

Hari ini di liqo rutin kami, murobbi menjelaskan mengenai sunnah-sunnah Nabi Muhammad SAW. Saya pribadi, seringkali mempertanyakan aturan Allah SWT dan sunnah rasul. Kalau nggak ada penjelasan ilmiahnya, seolah sulit diterima. Namun setelah saya pikir-pikir, mungkin memang belum ada penelitiannya. Tapi, pasti benar dan mutlak sifatnya! Banyak juga kok buktinya seperti larangan makan babi, alkohol, makan sambil jalan, yang membawa mudharat bagi kita setelah diteliti. Salah satunya adalah mengenai memilih pemimpin Non-Muslim. Saya jadi sadar setelah menonton video Pak Ahok lho.

Nih, postingan dari Teteh Kiki Barkiah yang saya dapatkan dari akun facebook nya tentang perlunya umat Muslim mengambil peran. Awal mulanya sih murobbi  kami yang menunjukkannya. Silahkan disimak.

Suratku Untuk Anak-Anakku Para Penghafal Al-quran
oleh Kiki Barkiah

Wahai anakku….
Ketika ummi membaca berita tetang wajah-wajah anak negeri yang begitu memilukan, hati ummi masih tetap optimis menatap masa depan saat mengingat dan melihat ada segelintir pemuda yang hari ini sedang menyibukkan diri untuk menghafal Al-Quran. Ketika ummi membaca tentang bencana pornografi di negeri ini dimana 92 dari 100 anak kelas 4, 5 dan 6 sd di negeri ini telah terpapar pornografi, bahkan sebagian diantara mereka mengalami kerusakan otak, hati ummi masih tetap optimis menatap masa depan saat mengingat para penghafal Al-quran yang menyibukkan pandangan mereka dengan ayat-ayat Allah dan menjaga mata mereka dari kemaksiatan pandangan. Ketika ummi membaca berita tetang semakin banyaknya pemuda-pemudi yang terjerumus dalam pergaulan bebas, bahkan anak-anak seusia sd mengalami musibah hamil di luar nikah, hati ummi masih optimis menatap masa depan karena ada segolongan kecil pemuda penghafal Al-quran yang sedang menyibukkan diri untuk mempelajari agama Allah. Ketika ummi melihat semakin maraknya anak-anak yang menghabiskan waktu senggang mereka dengan bermain games online, bahkan sebagian diantara mereka membolos dan duduk di warnet sepanjang hari, hati ummi masih optimis menatap masa depan karena ada segelintir pemuda penghafal Al-quran yang senantiasa menjaga diri mereka dari kesia-siaan. Ketika ummi melihat semakin marak pemuda-pemudi dengan gaya hidup hedonisme yang bersenang-senang dengan menghamburkan harta orang tua mereka, hati ummi masih optimis menatap masa depan karena ada segolongan pemuda yang hidup dalam kesederhanaan tengah menyibukkan diri menghafal Al-Quran demi mempersembahkan jubah keagungan bagi para orang tua mereka kelak di surga.

Ya…. harapan itu masih ada, sebagaimana Rasulullah SAW menjanjikan bahwa pada akhirnya dunia ini akan kembali damai dan sejahtera saat islam kelak memimpin dunia. Harapan itu masih ada karena ada kalian yang hari ini tetap berada dalam jalan kebaikan meski dunia pada umumnya bergelimpangan kemaksiatan.

Namun anakku…..
Ummi ingin menyampaikan bahwa jumlah kalian sangat sedikit. Kalian adalah orang asing yang tetap baik di tengah lingkungan yang buruk. Maka kelak akan ada sebuah generasi yang penuh kerapuhan dan kebobrokan menjadi tanggung jawab yang dipikul diatas bahu-bahu kalian.

Wahai anakku….
Maka menghafal Al-Quran saja tidak cukup. Ini hanyalah sebuah bekal dasar yang akan menguatkan kalian berjuang memimpin dunia ini menuju kebaikan.

Wahai anakku para penghafal Al-Quran….
Negeri kita, negeri Indonesia tengah berada dalam kondisi yang sangat buruk. Kekayaan kita habis dikeruk dan digali tetapi tak banyak memberikan kesejahteraan bagi para penduduknya. Ketidakmampuan kita untuk mengolah secara mandiri menyebabkan harta kekayaan kita dikelola oleh campur tangan asing. Namun sayangnya, kekayaan alam itu lebih banyak mensejahterakan pengelolanya dibanding mensejahterakan negeri ini secara lebih merata. Gunung emas kita di papua dikeruk, tetapi hasilnya tak mampu menghilangkan bencana kelaparan di setiap penjuru negeri ini. Gas bumi di negeri kita mengalir keluar, namun tak sepenuhnya membuat rakyat semua sejahtera dan mudah membeli sumber energi. Minyak bumi dan sumber energi lainnya hampir habis, tapi hasilnya tak juga mampu membuat semua anak negeri ini mengenyam pendidikan yang baik. Laut kita begitu luas namun ikan-ikan di negeri kita banyak dicuri, bahkan kekayaan ikan kita tak mampu membuat negeri ini terbebas dari becana gizi buruk.

Wahai anakku para penghafal Al-Quran
Kepada siapa lagi kami menitipkan negeri ini di masa depan? Kepada mereka yang hari ini sibuk nongkrong di warnet? Atau kepada mereka yang hari ini sibuk bercengkrama di warung kopi sambil mengisap rokok atau shabu-shabu? Kepada siapa lagi kami menitipkan negeri ini di masa depan wahai anakku para penghafal Al Quran? Kepada mereka yang memenuhi klub malam? Atau kepada mereka yang menyibukkan diri menonton sinetron? Kepada siapa lagi kami menitipkan negeri ini? Kepada mereka yang otaknya telah rusak karena pornografi? Atau kepada mereka yang hari ini tengah sibuk berpacaran? Kepada siapa lagi wahai anakku, kami menitipkan negeri ini? Kepada mereka yang apatis dan hanya belajar demi nilai-nilai indah dalam rapot mereka? Atau kepada mereka yang opotunis dan hanya sibuk mementingkan kesuksesan diri?

Wahai anakku….. negeri ini kehilangan banyak generasi peduli. Ghirah mereka hampir mati, dengan beban akademis sekolah dari pagi hingga sore hari. Kepedulian mereka hilang, karena asiknya bermain games online perang-perangan. Jangankan mereka sempat berfikir tentang nasib umat muslim di sebagian belahan bumi, atau rusaknya bangsa ini karena budaya korupsi, bahkan untuk peduli tentang kebutuhan diri mereka harus selalu dinasihati. Lalu kepada siapa lagi kami titipkan masa depan negeri ini? Sementara jiwa pejuang “merdeka atau mati” yang membuat negeri ini memerdekakan diri semakin hilang di hati para santri. Kepekaan para santri dalam beberapa dekade ini dikebiri sebagai bagian dari rencana konspirasi. Mereka begitu takut!!! Mereka begitu terancam jika jiwa para santri bergelora seperti jaman perang kemerdekaan dulu. Mereka berencana sedemikian rupa agar santri berada dalam zona aman saja. Mengajar mengaji, menghafal Al-quran dan mengajar agama saja. Sementara mereka berjaya dengan penuh kuasa, mengatur ekonomi dengan semena-semena.

Wahai anakku para penghafal Al-Quran!!!!!
Keluarlah dari masjid, mushola dan mihrab kalian saat Al-Quran telah tersimpan dalam dada. Pergilah engkau mencari ilmu diseluruh penjuru dunia dan jadilah engkau para ulama. Seagaimana ulama-ulama di masa dulu mengerti agama dan pemahamannya berbuah menjadi karya nyata yang bermanfaat untuk umat manusia. Wahai anakku para penghafal Al-Quran, masalah ummat ini tak mampu di bayar dengan Al-Quran yang hanya disimpan dalam dada sendiri saja. Pergilah engkau dan masuklah dalam setiap peran kekhalifahan di muka bumi ini. Jadilah engkau penguasa adil dan pemutar roda perekonomian dunia. Bila tidak engkau yang memainkan peran dalam panggung dunia, maka mereka yang tak paham agama yang akan memainkannya. Relahkah engkau membiarkan Al-Quran yang tersimpan dalam dada sekedar menonton panggung dunia?

Wahai anakku… para penghafal Al-Quran!!!
Keluarlah!!! Keluarlah dari masjid, mushola dan mihrob kalian saat Al-Quran telah tersimpan dalam dada. Agar dunia ini dipimpin oleh segolongan kecil pemuda yang luar biasa. Lipatgandakan kekuatan kalian hari ini sebelum engkau memimpin dunia. Karena pemuda-pemuda kebanyakan di masa kini adalah PR-PR mu di masa depan nantinya. Keluarlah anakku… setelah Al-Quran tersimpan dalam dada. Jadilah engkau pejuang yang merealisasikan nubuwat Rasul-Mu bahwa kelak islam akan memimpin dengan manhaj ala Rasulullah sebelum kiamat tiba. Anakku… jadilah engkau salah satu pejuangnya!

ALLAHU AKBAR!!!!!

Parung Bogor 7 Okt 2016
Disampaikan dalam sambutan orang tua saat tasmih khataman tahfidz 30 Juz ananda Ali Abdurrahman di Pesantren Al Hikmah Bogor.

Jangan sampai kita jadi orang-orang yang hanya hidup untuk diri sendiri ya 🙂

 

 

Iklan

6 thoughts on “Pak Ahok dan Al-Maidah 51

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s