Fakta-Fakta Berkacamata

Setahun sudah saya berkacamata.

Zaman SMP dulu, tiap kali ikut suatu kompetisi dan menemukan pesaing berkacamata, pasti udah minder duluan. Entah kenapa, sosok berkacamata itu selalu menguarkan imej kutu buku yang isi kepalanya tumpeh-tumpeh, mendalam dan mendetail.

Sebetulnya, apasih penyebab kawula muda menggunakan alat bantu penglihatan bernama kacamata?

Kekurangan vitamin A, faktor keturunan/genetik, sering membaca dalam kegelapan/tanpa cahaya/remang-remang, menatap cahaya yang terlalu terang, menonton TV dalam jarak yang terlalu dekat, membaca buku dengan posisi tidak wajar, dan menatap satu objek dalam waktu yang lama. Misal nih main games di komputer 24 jam non-stop.

Mata yang dipaksa kerja keras menatap satu objek jarak dekat dalam waktu yang lama pasti akan mengalami kelelahan/kerusakan. Sepertinya menatap ke layar komputer dalam waktu yang lama adalah salah satu penyebab saya berkacamata. Selain karena saya hobi membaca buku dengan posisi tidak wajar di dalam kegelapan sih.

Ini semualah yang menyebabkan kawula muda terpaksa menggunakan kacamata negatif karena rata-rata dari kita mengalami miopi/rabun jauh. Seperti ini gambarannya : Baca lebih lanjut

Iklan

Fakta Tentang Ujian Semester di Turki

44894f5f-3e9a-e411-b2d1-14feb5cc1801

memurlar.net (red : dosen-dosen ketika ada ujian)

Psstt! Ini berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya saja yaa…

Hobi Merangkum

Saya nggak ngerti apa ini emang saya yang malas atau orang Turki yang rajin. Menjalani ujian hingga kelas 3 SMA, saya jarang sekali melakukan yang namanya merangkum materi. Mungkin malah hampir tidak pernah. Cukup dibaca dan di highlight. Kecuali kalau untuk pelajaran seperti Matematika, Fisika, Kimia, baru deh coret-coret. Tapi tidak merangkum.

Di Turki, mahasiswanya pasti selalu menyediakan rangkuman untuk ujian yang ditulis di atas kertas A4. Rata-rata begitu.

Dulu awalnya saya juga terkesima. Eh, sekarang justru saya yang ikut-ikutan. Percaya atau tidak, ternyata merangkum itu sangat membantu loh. Terlebih bagi mahasiswa asing seperti saya. Ujian yang dilakukan dalam bahasa Turki menuntut kita untuk mampu memahami dan menuliskan jawaban dalam susunan kalimat Turki dengan tangkas dan tepat.

Belajar Jauh-Jauh Hari

Saya percaya bahwa dimanapun letak geografisnya, pasti ada mahasiswa yang hobi melakukan sistem kebut semalam sebelum ujian. Tapi di Turki, saya jarang melihatnya. Kebanyakan justru belajar dari jauh-jauh hari. Normal bagi kita-sesama mahasiswa jelang ujian-untuk bertanya, “Sudah mulai belajar, belum? Kamu belajarnya sudah sampai mana?” bahkan dua minggu atau sebulan sebelum jadwal ujian.

Pesimis

Ungkapan “aku akan tinggal kelas nih”, “aku nggak paham sama sekali materinya”, “matilah aku”, “kita akan tinggal kelas bersama” adalah kalimat-kalimat yang biasanya muncul sebelum ujian dimulai. Meski ada juga yang optimis bakal dapat 100, lebih banyak yang akan pesimis terhadap nilai ujiannya. Padahal saya yakin, sebagian dari yang berkata pesimis demikian ada yang memiliki nilai sempurna. Lagipula, untuk apa sih pesimis kok dibanggain gitu? Baca lebih lanjut

Pentingnya Sidik Jari di Turki

Biometric Access Control System

cms guvenlik sistemleri

Di Turki, sidik jari ibarat jantung. Jika sidik jarimu bermasalah, artinya jantungmu berhenti berdetak.

Oke, ini berlebihan. Tapi memang betul, apalagi jika kamu tinggal di asrama.

Rata-rata asrama di Turki menggunakan sidik jari untuk keluar-masuk asrama, serta mengambil jatah makan pagi dan malam dengan gratis. Kalau sidik jarimu bermasalah, kamu akan sulit keluar-masuk asrama maupun makan pagi dan malam.

Sidik jari saya termasuk yang sulit dideteksi di sini. Ketika saya mengurus sidik jari di kantor asrama, sidik jari saya mudah saja dideteksi. Namun ketika dibawa keluar, hasilnya Om Gatot terus. Baca lebih lanjut

Dunia (Bukan) Milik Kita

Kemarin Senin rasanya saya ditimang-timang oleh dosen di tiga mata kuliah dari pagi sampai sore. Eh, hari ini… saya dibuat terpukul dengan ucapan pegawai di universitas. Apasih kalian nyebutnya… TU ya?

Beberapa hari yang lalu, teman saya ngerasa kalau kebanyakan orang yang punya jabatan tinggi itu nggak ramah, agak sombong dan segan menolong, kita nyebutnya. Sedangkan orang yang jabatannya tidak begitu tinggi, maaf, justru ramah dan baiknya bukan main. Kemudian saya pun berpikir… mana mungkin? Sedangkan hampir seluruh dosen saya di fakultas itu baiknya minta ampun! Termasuk pimpinan jurusan! Serius. Atau saya saja yang diberkahi?

Hari ini, apa yang dikatakan teman saya ada benarnya juga ternyata. Mungkin memang tidak kebanyakan, tapi peluang yang jabatannya tinggi untuk jadi sombong ke orang lain itu besar. Terus, apa bedanya?

Kenapa sih orang yang jabatannya tinggi itu sombong, nggak pedulian, nggak punya simpati apalagi empati? Baca lebih lanjut