Pentingnya Sidik Jari di Turki

Biometric Access Control System

cms guvenlik sistemleri

Di Turki, sidik jari ibarat jantung. Jika sidik jarimu bermasalah, artinya jantungmu berhenti berdetak.

Oke, ini berlebihan. Tapi memang betul, apalagi jika kamu tinggal di asrama.

Rata-rata asrama di Turki menggunakan sidik jari untuk keluar-masuk asrama, serta mengambil jatah makan pagi dan malam dengan gratis. Kalau sidik jarimu bermasalah, kamu akan sulit keluar-masuk asrama maupun makan pagi dan malam.

Sidik jari saya termasuk yang sulit dideteksi di sini. Ketika saya mengurus sidik jari di kantor asrama, sidik jari saya mudah saja dideteksi. Namun ketika dibawa keluar, hasilnya Om Gatot terus. Gagal Total. Tahun 2014 lalu justru lebih parah. Kulit telapak tangan saya yang sensitif, terkejut dengan musim dingin. Bahkan mengelupas seperti luka bakar. Sidik jari pun jadi tidak mudah. Salah seorang teman berseloroh, “Kamu nyuci pakai api ya?”

Membicarakan sidik jari di asrama, saya biasanya menggunakan jari telunjuk ataupun ibu jari tangan kanan. Alhamdulillah, untuk makan pagi di kantin dan makan malam di yemekhane (gedung untuk makan yang ukurannya lebih besar), tidak ada masalah. Namun untuk keluar-masuk, sidik jari saya seringkali bermasalah. Walaupun sekali dua kali memang bisa digunakan.

Setiap kali masuk ke asrama, saya selalu diomeli security untuk mengurus sidik jari saya. Tapi apa daya, kantor di asrama mengatakan bahwa sudah tidak ada lagi sistem sidik jari yang  menggunakan pendataan nama. Semuanya harus menggunakan sidik jari. Akhirnya, petugas di kantor asrama pun menelpon security di gerbang depan (keluar-masuk) supaya berhenti menyuruh siswi-siswi yang sidik jarinya bermasalah untuk datang ke kantor asrama. Karena memang sistem pendataan nama itu tidak bisa lagi.

Hari-hari pun berlalu. Saya masih bisa makan dan minum dengan sidik jari kesayangan saya; ibu jari dan telunjuk tangan kanan.

Suatu hari, saya disuruh datang ke kantor asrama lagi oleh security. Mungkin sistem pendataan namanya sudah ada. Saya pun segera pergi ke kantor.

“Hocam*, saya mau benerin sidik jari yang bermasalah.”

“Tapi sistem pendataan nama sudah tidak ada.”

“Tapi sidik jari saya hanya bisa digunakan di kantin dan yemekhane. Di pintu keluar-masuk sama sekali tidak bisa.”

“Yaudah. Coba kemari. Jari apa yang kamu gunakan untuk sidik jari?”

(Menunjukkan ibu jari dan telunjuk tangan kanan.)

“Sekarang, itu saya batalin. Coba sidik jari pakai ibu jari dan telunjuk tangan kiri.”

Lancar. Sidik jari telunjuk dan ibu jari saya terdeteksi dengan baik.

Hari Jumat (11/11) saya ada kuliah pukul 09.00 waktu Turki. Karena terbitnya matahari itu baru kisaran jam setengah 8, saya pun berangkat kuliah sekitar pukul 08.33 waktu Turki. Karena buru-buru, saya pun tidak sarapan.

Kuliah pertama saya selesai pukul 11.00 waktu Turki. Dengan sedikit terburu-buru menuruni tangga gedung fakultas, saya pun masuk ke kelas berikutnya sekitar pukul 11.02 waktu Turki. Terlambat 2 menit, tidak masalah. Karena kelas ke-2 ini selesai sekitar jam 1 siang, saya terpaksa menahan lapar dan haus.

Keluar dari kelas, saya langsung lari ke Cafe kesayangan yang berada tidak jauh dari gedung fakultas. Segera, saya memesan sepotong pizza. Nyum nyum. Usai menikmati makanan saya yang terlambat, saya segera pergi ke bank untuk mengurus sesuatu. Metro/subway (kereta bawah tanah) dan bus pun saya lalui.

Urusan dengan bank selesai sekitar jam 3 sore lebih sedikit. Alhamdulillah, tidak begitu banyak antriannya. Saya langsung lanjut menuju ke perpustakaan untuk sedikit belajar. Maklum, minggu depan sudah UTS. Jangan dicontoh ya tipe kebut ini.

Tiba-tiba teman saya menelpon dan membahas makanan. Walhasil, saya pun lapar kembali. Apalagi, saya juga dibuat cukup lelah dengan jadwal hari itu yang tiada henti sejak pagi. Saya pun memutuskan untuk kembali ke asrama.

Dengan sabar, saya berdiri mengantri mengambil makanan di yemekhane. Sesampainya di kasir, saya dibuat kesal lantaran sidik jari saya tidak terdeteksi. Petugas yemekhane sangat baik menolong saya. Berbagai cara dilakukannya seperti menyuruh saya memegang sesuatu yang dingin, lalu kembali sidik jari di mesin. Bahkan juga mengambilkan saya sesuatu yang dingin itu. Saya pun seolah bagai batu ganjalan di dalam antrian. Kelima kasir saya coba, tentu saja dengan bantuan petugas. Akhirnya, karena masih saja gagal, petugas menyuruh saya untuk menemui nobetci memur yang ada di gedung samping gerbang masuk asrama. Untuk asrama saya yang sangat luas, jarak antara yemekhane dan gerbang depan tidaklah dekat. Saya yang kelelahan pun mengembalikan makanan dan pergi. Bukannya pergi menuju nobetci memur, saya justru pergi ke kantin asrama untuk  beli kentang dan telur sambil nangis hatinya. Hayati lapar, bang. Lelah abis kuliah eh nggak dapat makan. Kalo makin kurus gimana, coba? Benerin sidik jari bukannya makin bener, eh nggak bisa semua.

Pagi ini seperti biasa, saya menuju kantin untuk sarapan. Kali ini saya sudah siap lahir batin jika sidik jari saya tidak bisa digunakan. Saya sudah siap untuk malu nyobain sidik jari berulang kali dan gagal.

Ternyata eh ternyata, petugas kantin yang nampaknya kasihan kepada saya memutuskan untuk menulis nama saya saja. Andaikan nanti tidak bisa diurus, barulah saya suruh bayar. Tapi sekarang jangan bayar dulu, katanya.

Security gedung asrama (beda dengan yang di gerbang depan ya) yang kebetulan ada di situ pun menyuruh saya untuk datang kepadanya lagi sejam kemudian. Beliau akan menelpon nobetci memur. Aih, baiknya! Petugas kantin dan security gedung asrama memang superrrrrr! ❤

Setelah saya berlalu, saya mendengar mereka berbicara betapa kasihannya anak-anak asrama yang nggak bisa makan gegara sistemnya nyusahin. Mungkin petugas kantin ingat putrinya di tanah rantau juga. Anak orang di tanah rantau sendirian, pulang kuliah nggak bisa makan… kan sedih, man.

Iste, ya beginilah sistem. Tapi kalau nggak ada sistem sidik jari, ya susah juga.

Tanpa sidik jari, hidupmu di Turki cuma separuh saja.

*arti sebenarnya adalah guruku, namun bisa digunakan untuk memanggil siapapun untuk menghormati

Iklan

6 thoughts on “Pentingnya Sidik Jari di Turki

  1. D i turki udah maju pake sidik jari segala. Buat keamanan biar nggak sembarang orang masuk asrama. Tapi herannya kok ada yg nggak bisa kedeteksi kayak diatas ya? Mungkin jari tangannya terlalu manis sehingga mesinnya error wkwkwk…..

    Suka

    • Wkwkwk. Jarinya habis dicelupin madu.
      Kayaknya sih mesinnya. Soalnya seasrama aja ada 3rb-an mahasiswi kayaknya. Karena terlalu sering dipakai (tiap hari tiap waktu) jadi gitu deh mesinnya.

      Suka

    • Ya bukannya sehat gimana-gimana sih. Tapi kan ada tuh sidik jari yang kayak tenggelam nggak begitu kelihatan misal habis kena air, keringat, minyak ataupun terluka. Jadinya nggak terdeteksi.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s