Fakta-Fakta Berkacamata

Setahun sudah saya berkacamata.

Zaman SMP dulu, tiap kali ikut suatu kompetisi dan menemukan pesaing berkacamata, pasti udah minder duluan. Entah kenapa, sosok berkacamata itu selalu menguarkan imej kutu buku yang isi kepalanya tumpeh-tumpeh, mendalam dan mendetail.

Sebetulnya, apasih penyebab kawula muda menggunakan alat bantu penglihatan bernama kacamata?

Kekurangan vitamin A, faktor keturunan/genetik, sering membaca dalam kegelapan/tanpa cahaya/remang-remang, menatap cahaya yang terlalu terang, menonton TV dalam jarak yang terlalu dekat, membaca buku dengan posisi tidak wajar, dan menatap satu objek dalam waktu yang lama. Misal nih main games di komputer 24 jam non-stop.

Mata yang dipaksa kerja keras menatap satu objek jarak dekat dalam waktu yang lama pasti akan mengalami kelelahan/kerusakan. Sepertinya menatap ke layar komputer dalam waktu yang lama adalah salah satu penyebab saya berkacamata. Selain karena saya hobi membaca buku dengan posisi tidak wajar di dalam kegelapan sih.

Ini semualah yang menyebabkan kawula muda terpaksa menggunakan kacamata negatif karena rata-rata dari kita mengalami miopi/rabun jauh. Seperti ini gambarannya :

miopi-sebelum-dan-setelah-dikoreksi

mediskus.com

Miopi setelah dan sebelum dikoreksi (menggunakan kacamata negatif).

Seringkali keponakan saya yang krucil-krucil itu bertanya, “Kakak kalau nggak pakai kacamata, benda-benda kelihatan jadi dua gitu ya?”

Sebetulnya, pengguna kacamata bukannya melihat segala benda jadi dua kopi, bukan. Namun objek yang dilihat menjadi tidak fokus. Sama seperti ketika kamu hendak mengambil foto, namun objeknya tidak fokus. Ya… seperti itulah.

Sudah mengerti kan? 😀

Berikut adalah fakta-fakta yang hanya dirasakan oleh pengguna kacamata sebagai alat bantu penglihatan. CMIIW.

Susahnya Memakai Kacamata dan Menikmati Makanan/Minuman Panas/Hangat dalam Waktu Sekaligus

Setiap kali saya meneguk segelas teh hangat, saya terpaksa melepas kacamata lantaran jika tidak dilakukan, kacamata saya akan mengembun. Akibatnya, saya akan kesulitan memandang ke arah teh ataupun lingkungan sekitar. Yah… biarpun embunnya juga tidak bertahan dalam waktu yang lama sih.

Susahnya Menyesuaikan dengan Jilbab

Mungkin kamu sudah sering melihat hijabis berkacamata yang meletakkan kacamatanya di luar jilbab. Bukannya aneh-aneh, hal itu ditujukan agar gagang kacamata tidak memberikan rongga antara wajah dan jilbab. Jika itu terjadi, rambut hijabis dapat terlihat. Dipaksakan pun justru akan membuat hijabis tersiksa oleh tekanan gagang kacamata yang ditindih oleh jilbab. Kalaupun hijabis meletakkan kacamatanya di luar dalaman jilbab, kacamata dapat terjatuh karena tidak menggantung di daun telinga. Galau, kan? Supaya dapat tampil maksimal, hijabis harus menyesuaikan jilbab dan kacamatanya. Sampai-sampai, ada hijab tutorial for glasses yang tersebar di internet.

Menggunakan Dua Kacamata Sekaligus

Ketika musim panas tiba, untuk melindungi mata dari panasnya terik, kamu akan memerlukan sunglasses, ok? Namun karena kamu butuh menggunakan kacamata negatif, kamu terpaksa meletakkan sunglasses di atas kacamata negatifnya. Rempong! Hal ini juga terjadi ketika kamu hendak menonton film 3D. Mau tidak mau kamu harus meletakkan kacamata khusus tersebut di atas kacamata negatif.

Apalah arti film 3D jika burem.

Terlihat Tua dan Serius

Dahulu, saya sering dikatai terlihat lebih muda dari usia haha. Namun semenjak saya pakai kacamata, tidak begitu lagi. Mungkin karena kacamata saya yang bentuk frame-nya serius sih :mrgreen:

Sombong Atau Salah Orang

Pada situasi tertentu, kita tidak memakai kacamata. Misalnya saja saya yang tinggal di asrama, malas sekali jika harus pakai kacamata ke kantin ataupun selama masih berada dalam lingkup asrama. Namun siapa duga jika di koridor berjumpa kawan?

Ketika berjalan tanpa menggunakan kacamata, saya jarang tersenyum karena memang tidak jelas sedang berpapasan dengan siapa. Kecuali jika dia memanggil nama saya, saya akan membalas senyum walaupun tidak mampu membalas panggilan nama. Kamu siapa ya? Jika tidak begitu, saya akan menunggu hingga jarak saya dan dia berdekatan. Setidaknya, sampai jarak pandangnya mampu saya jangkau.

Sudah beberapa kali kejadian, saya salah menyapa orang. Oleh sebab itu, saya tidak mau mengambil resiko itu lagi. Namanya tidak belajar dari kesalahan itu mah. Haha. Mending diem sampai dia nyapa duluan. Itu kalau lagi nggak pakai kacamata yaa…

Resiko Berkendara Ketika Hujan

Saya paling tidak suka ketika hujan turun disaat saya sedang mengendarai sepeda. Apa mau dikata… Jika saya melepas kacamata, saya tidak akan mampu melihat jalanan dengan jelas. Hanya kerlap-kerlip lampu yang terlihat. Itu pun bentuknya absurd hehe. Namun jika saya paksakan untuk menggunakan kacamata, saya juga tidak akan mampu melihat jalanan karena airnya akan mengenai kacamata. Kalau mengenai mata kan gampang tinggal usap. Nah, kalau mengenai kacamata? Apa mau dikata…

Resiko Kejedot

Seperti yang pernah saya singgung di postingan yang lalu-lalu, cipika-cipiki sebanyak tiga kali adalah budaya Turki setiap kali berjumpa atau berpisah dengan kenalan. Ketika saling melempar pipi, kacamata saya tidak jarang mengenai kepala lawan cipika-cipiki saya. Detik ketika dia berteriak kecil, “Ouch!”, saya akan merasa bersalah setengah mati dan meminta maaf. Padahal, saya ataupun dia biasa aja cipika-cipikinya. Nggak pakai banting kepala segala.

Ouch!

Duduk di Bangku Depan

Meskipun sudah mengenakan kacamata, ada masanya ketika minus kita bertambah dan jarak pandang berkurang lagi. Walhasil, duduk di depan adalah satu-satunya jalan terbaik. Tidak lucu juga jika setiap kali dosen menerangkan atau slide dijalankan, saya mencondongkan badan ke teman yang duduk di bangku terdekat, “Eh, itu di bawahnya xxx apasih nggak kebaca?”

Susah Menatap Orang Tinggi

Duduk di depan juga tidak selamanya indah, teman-teman. Ketika dosen berdiri tepat di depan saya, otomatis saya akan melihat ke arahnya. Jika saya membiarkan kepala saya lurus, jatuhnya adalah ke perut dosen. Tentu saja ini sungguh tidak mengenakkan. Walhasil, saya akan mendongakan kepala demi melihat mimiknya. Karena mendongak, mata saya menatap dosen tanpa melewati lensa kacamata. Dan itu terasa aneh sekali.

Pusing dan Belang

Pada orang-orang tertentu, menggunakan kacamata dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan kepala pusing. Itulah sebabnya sebagian orang lebih memilih untuk menggunakan contact lens supaya lebih ringan. Selain menjadi penyebab sakit kepala, kacamata juga mampu meninggalkan bercak belang pada wajah.

kazuma

Akiba Nation

Untuk kamu-kamu yang masih berpikir bahwa berkacamata itu enak lantaran terlihat pintar dan keren, percayalah… kamipun tidak akan mau berkacamata apabila mata kami saja sudah cukup digunakan untuk melihat. So, jagalah matamu. Jangan main-main mata. Kalau sudah terlanjur, penyembuhannya tidak mudah loh.

 

Iklan

7 thoughts on “Fakta-Fakta Berkacamata

  1. tosss dulu, sebagai sesama berkacamata. Aku juga kalau lagi ngopi cantik, kudu dilepas dulu kaca matanya, heheheh, tapi kalau lagi nyetir mototr, untunglah masih bisa melihat jelas sih, hehehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s