Perjalanan Sendiri ke Ibukota Turki

turkey

sumber : ram-xp.blogspot.com

Setelah dua tahun tinggal di Turki, akhirnya saya berkesempatan untuk pertama kalinya pergi ke Ankara (ibukota Turki). YESSS! Ankara adalah kota ke-7 yang saya jejaki di Turki. YAY! Sendirian, lagi. Dulu sih emang pernah ke Istanbul sendiri. Tapi di Istanbulnya ada yang jemput dan anter-anter. Lah kali ini, enggak.  Beneran sendiri jalannya.

Bukannya hobi, tapi kaki saya emang kebiasaan suka melenceng dari peta. Tapi nggak apa-apa. Sekali-kali tes kemampuan 😀

Supaya tidak kesasar, saya melakukan research kecil-kecilan dari mulai tanya Kakak Google sampai tanya Kakak Gemes.

Saya pergi ke Ankara menggunakan bus karena ketika saya googling, googlemaps mengatakan bahwa jarak bandara ke pusat kota lebih jauh dibanding jarak otogar (terminal bus antarkota) ke pusat kotanya.

Pukul 22.00 waktu Turki, bus yang saya tumpangi melaju perlahan menembus dinginnya malam.

ankaray_211649

sumber : galeri – uludağ sözlük

Sekitar jam 6 pagi di keesokan harinya, saya sampai di otogar Ankara. Setelah menunaikan shalat Subuh, saya segera mengelilingi otogar demi menemukan Ankaray (semacam subway) untuk pergi ke pusat kota. Saya pikir letak stasiun subway itu ada di luar otogar. Jadi, saya pun keluar otogar. Karena ternyata Ankara masih gelap gulita, saya masuk lagi ke dalam otogar. 😀 Ketika saya menelusuri otogar, ketemulah saya dengan petunjuk arah menuju Ankaray. Saya pun segera mengisi Ankara kart atau kartu transportasi di Ankara senilai 10 TL. Insya Allah cukup lah buat bolak-balik dari dan ke otogar lagi.

Ternyata, seperti ekspektasi saya, petunjuk arah di stasiun sangat jelas. Saya pun dengan mudah menemukan informasi yang saya butuhkan dan segera cus ke Kizilay atau pusat kotanya. Walaupun hari masih pagi, sudah banyak sekali orang-orang yang mengisi Ankaray.

Setelah melalui stasiun Emek, Bahcelievler, Besevler, Anadolu, Maltepe, dan Demirtepe dari stasiun ASTI (otogar), saya pun sampai di Kizilay. Karena masih pagi, sekali lagi, saya memutuskan untuk duduk-duduk saja di kursi yang digunakan untuk menunggu Ankaray (di dalam stasiun). Beberapa orang terlihat lalu lalang sibuk masuk dan keluar stasiun dari arah tangga, eskalator ataupun lift. Saya pun hanya mematung di kursi sambil membiarkan kereta Ankaray lewat begitu saja; memandangi lalu lalang orang. Di situ saya baru menyadari bahwa pakaian saya berlebihan. Saya sudah tampak seperti orang dari kutub utara saja dengan boots super hangat.

Sambil menunggu matahari terbit, saya menyaksikan beberapa hal yang tampak seru sekali di layar yang hinggap di dinding stasiun. Selain menayangkan informasi berharga, ada juga tebak-tebakan dan leluconnya loh. Saya sampai betah memandangi layar. Hihi

taman-terkenal-di-ankara-guven-park

fotonya bukan dari saya, makanya nggak basah (sumber : imamprayuda)

Ketika sudah masuk waktu terbit matahari, saya memutuskan untuk keluar stasiun dan bersiap menikmati ayam yang baru saya beli dari KFC di Izmir. *masih bisa dimakan kok haha

Rupanya, Ankara baru saja diguyur hujan. Tanah dan tempat duduk di Guvenpark terlihat basah. Walau demikian, saya nekat untuk duduk. Belum selesai menikmati ayam, terdengar suara anjing menggonggong. Saya yang punya ‘perasaaan aneh’ pada gonggongan anjing pun segara melempar ayam ke tong sampah. Sedih sekali. Hujan gerimis turun mengguyur kesedihan saya yang masih belum beres makan.

Sambil duduk sendirian, saya lebarkan payung lipat yang sengaja saya bawa dari Izmir. Seraya menunggu waktu berjalan agak lebih siang, saya mengamati lalu-lalang orang, untuk kesekian kali. Ankara tidak seramai Istanbul. Itu hal pertama yang mencuat dari kepala saya. Kedua, cukup banyak polisi di Guvenpark. Salut deh. Jadi ingat bahwa tadi dini hari ketika saya masih di bus menuju Ankara, bus kami diperiksa dahulu oleh polisi. Kami diharuskan untuk memperlihatkan kartu identitas. Polisinya ganteng.  Lupakan.

Kembali ke posisi saya yang lagi duduk-duduk di Guvenpark.

Sekitar jam 9 pagi, saya pun menelpon seseorang yang bertugas menerjemahkan dokumen saya. Ya, tujuan saya ke Ankara memang untuk itu. Setelah ditunjukkan arah, saya pun pergi menemu Mr. D di kantornya yang tidak jauh dari Guvenpark. Ternyata, saya perlu menunggu sekitar 1 jam hingga dokumen saya dinotarisasi. Ok. Saya jalan-jalan dulu sekitar 1 jam. Di sini saya akhirnya mengenali halte-halte dengan nomer busnya, serta letak dolmus (angkot) dan taksi.

ankara_da_ulasima_zam_otobus_metro_dolmus_binis_ne_kadar_oldu_yorumlar_h5351_a1384

Dolmus(Angkot) – Haber Dobra

Setelah mengambil dokumen pada jam 10 pagi, saya segera menuju halte bus dan naik ke bus yang nomernya sesuai dengan apa kata googlemaps. Namun yang terjadi berikutnya adalah kebingungan saya lantaran bus meminta bayaran dengan uang sejumlah 2,5 TL; tidak ada mesin tempel kartu transportasi. Jangan-jangan saya salah naik bus. Udah bener kok tadi. Yakin.

“Durak (pemberhentian) terakhir bus ini dimana ya?” tanya saya pada kernet bus yang hanya duduk menghitung receh di dekat pintu.

“Memangnya Anda mau kemana?”

“Ke kedubes C.”

“Dimana itu?”

Sayapun menunjukkan alamat yang sudah saya tulis tidak rapi di buku catatan dengan hati yang berdebar. Jangan-jangan saya salah naik bus, lagi. Yaudah deh ntar nelpon temen kalo nyasar, pikir saya. Padahal niat saya ke Ankara secara diam-diam adalah supaya tidak merepotkan anak-anak Ankara. Walaupun pada akhirnya… ngerepotin juga.

Kernet pun berteriak ke arah supir, “Mas, tahu kedubes C? Lewat nggak? Ini ada orang asing mau ke sana.”

Supir pun menjawab “iya” dan beberapa kalimat yang tidak begitu saya dengar.

“Silahkan Anda duduk dulu,” kata kernet.

Setelah duduk dengan tenang, saya mencoba memandangi sisi kanan-kiri di jalanan Ankara yang cukup lengang.

“Nona, Anda mau ke kedubes C kan? Turun di sini.”

Setelah ditunjukkan, saya segera turun dan berkeliling. Bukannya nemu benang merah, saya berakhir kebingungan karena tidak menemukan jalan dengan nama yang saya ingin datangi.

Padahal ada GPS. Bener. Tapi HP saya itu lemot. Jika saya pakai buat buka GPS, baterainya bisa cepat habis. Lagipula baterai HP saya tinggal 20%an. Tadi sih udah charge HP di dalam bus. Tapi, terus saya main HP lagi dan ketiduran. Akhirnya, baterai pun abis ketika saya butuh. Hiks.

Di dekat swalayan, ada ibu-ibu yang sedang duduk santai. Saya pun bertanya ke beliau. Eh, beliau nggak tahu tuh nama jalan yang ingin saya datangi. Tapi beliau menyarankan agar saya nanya supir taksi. “Supir taksi tahu semua jalan,” katanya.

Padahal, kumpulan taksi ada di ujung sono noh agak jauh dari tempat saya berdiri. Yaudahlah… saya pun datang mengetuk salah satu jendela mobil taksi. Bukan minta dianterin, tapi cuma nanya alamat. Hehe. Beneran loh, supir taksinya paham bener sama jalan-jalan di situ. Yaiyalah ya. Demi membuat saya paham betul, beliau rela keluar dari mobil dan jelasin ke saya, “Di belokan sana kamu belok kiri, terus kanan, terus kiri lagi, terus ada jalan kecil dan kamu masuk ke sana.”

Kiri? Kanan? Kiri?

Ok. Makasih, Bapak!

Demi sampai ke alamat yang saya tuju, saya masih nanya dua orang paman lagi loh. Soalnya emang lumayan ribet ternyata. Alhamdulillah nya, orang Ankara yang saya temui baik-baik; sabar ngejelasin jalan ke saya.

Demi apa, jalanan menuju alamat yang saya tuju itu kayak mendaki gunung; tinggi sekali. Nggak alay. Emang beneran tinggi sekali. Nafas saya sampai ngos-ngosan gitu. Dan, saya lupa kalau air mineral yang saya bawa baru aja habis.

Setelah menemukan alamatnya, saya segera menuruni ‘gunung’ demi membeli air mineral, yogurt dan beberapa biskuit. Mulanya saya mau nyari cafe atau restoran buat makan siang. Tapi nggak nemu yang menarik. Saya lagi pengin makan Tavuk Doner (kalo di Indo rata-rata kita sebut kebab, padahal bukan kebab), tapi nggak ada yang jual di situ. Yaudah, ngemil biskuit sama yogurt aja sambil pegang payung lantaran gerimis datang lagi. Naasnya, kantuk pun datang. Saya setengah tertidur sambil duduk di kursi depan swalayan.

Sekitar jam 12 siang, saya nyari tukang fotokopi di sekitar situ yang ternyata agak jauh. Kalau tadi hambatannya adalah jalan yang menanjak, kini adalah menyeberang jalan yang cukup ramai kendaraan tapi dikit yang nyeberang. Bisa bisa, kata saya pada diri sendiri. Udah gede gini, saya masih sering kebayang detik ketika saya dan teman SD saya tertabrak motor anak SMP ketika sedang menyeberang jalan. Wuss! Suka kebayang-bayang ngeri gitu.

Setelah fotokopi, saya balik ke alamat yang saya tuju di jalan super menanjak yang panjang itu. Ini ketiga kalinya saya balik ke alamat kedubes. Pasti yang lihat saya mondar-mandir jadi curiga.

Jam 2 siang adalah jadwal janji saya dengan kedubes C. Senang sekali di sana kenalan dengan dua anak teknik yang ternyata sekampus sama saya di Izmir dan hendak urus kayak saya juga di kedubes C.

Rupanya, salah satu dokumen saya ada yang tidak diterima/salah. Rencana saya pulang ke Izmir hari itu juga, gagal. Saya sedih bukan main. Nggak mau bolos kelas lagi. Nggak mau balik ke Ankara lagi. Yaudahlah… kekecewaan saya ditemani rintik hujan yang makin deras.

Dengan payung di tangan kanan, saya menyusuri jalan yang becek demi menemukan halte bus untuk balik ke pusat kota. Namun, saya tidak menemukannya. Pasrah, saya naik dolmus dengan biaya 2 TL. Masalahnya adalah, saya tidak tahu turun dimana. Ketika saya merasa tujuan saya sudah terlewat, “Pak, udah lewat ya Ankara nya?” tanya saya ke supir dolmus. Orangnya tampak berpikir bentar, “Turun dari sini juga bisa kok.”

Betul dugaan saya; kebablasan. Untung belum jauh amat.

Masih ditemani hujan, saya menyusuri jalanan Ankara yang asing. Jalanannya tampak cukup ramai dan sempit. Entah itu di belahan Ankara mana.

Tiba-tiba, sepasang malaikat wujud manusia datang menghampiri saya. Rupanya mereka berdua se-dolmus dengan saya. Mungkin mendengar percakapan saya dengan sang supir dolmus.

“Permisi, Anda mau ke mana?”

“Kizilay. Guvenpark.”

“Oh, kita searah. Mari saya tunjukkan,” kata si perempuan yang wajahnya mirip Luna Lovegood. Si lelaki hanya manggut-manggut sambil sibuk mayungin gadisnya.

Akhirnya, kita pisah di persimpangan. Saya ke kiri, mereka berdua ke kanan. Untungnya, saya kenal jalanan itu karena tadi sempat jalan-jalan di situ selama 1 jam menunggu dokumen saya di notarisasi.

Waktu itu sebetulnya saya bingung antara menetap di Ankara sambil melengkapi dokumen yang salah atau pulang saja ke Izmir dan balik lagi ke Ankara, nanti. Tapi saya malas balik lagi ke Ankara. Habisin duit. Dengan langkah gontai, saya nyari asrama pemerintah yang ada di dekat situ. Nggak nemu. Mungkin saya sudah terlalu lelah jasmani rohani. Segera, saya nyari mushola buat sholat.

Selepas sholat, saya memutuskan untuk tinggal dulu di Ankara barang satu atau dua malam. Saya mengirimkan sms ke Mbak T yang rumahnya akan saya tumpangi. Menunggu dan menunggu, saya belum dapat balasan. Padahal hari sudah semakin sore. Iya, Mbak T memang lagi di kantor. Malu sekali saya sudah merepotkan beliau.

Saya pun bingung lagi.

Balik ke Izmir atau di Ankara aja yaaa…

Perut saya yang lapar bahkan tidak bernafsu makan gara-gara saya galau mikirin pulang ke Izmir atau tinggal di Ankara, serta gimana lengkapin dokumen yang salah tadi dalam waktu secepat mungkin.

Karena mushola di Kizilay mulai penuh, saya memutuskan untuk keluar dan jalan-jalan nggak jelas sambil mikir. Eh, pas saya lagi pasang sepatu, saya nggak sengaja ketemu sama Kak B dan Kak D yang kuliah di Ankara. Kami mengobrol sebentar. Saya menanyakan alamat Mbak T kepada mereka. Mereka bilang, mereka hendak pergi ke rumah gelin (orang Indo yang punya suami orang Turki) yang deket dari alamat Mbak T. Jadi, bareng aja sekalian. Kemudian kami ketemu dengan Kak A. Kak B dan Kak D menawarkan saya untuk bergabung dengan mereka ke rumah gelin karena Mbak T juga lagi di kantor. Nanti ke rumah Mbak T-nya akan diantar, katanya. Saya merasa tidak enak dan memaksa untuk menunggu Mbak T di depan rumahnya saja asal mereka kasih tahu saya jalan menuju rumah Mbak T. Tapi Mbak T lagi nggak di rumah, kata mereka.

Diskusi panjang di antara kekalutan saya yang murung, akhirnya saya mengiyakan untuk ikut ke rumah gelin dulu. Padahal, sebetulnya hati saya menolak ikut dalam kondisi gundah gulana seperti itu. Soalnya nanti saya bisa jadi orang paling menyebalkan sedunia. Dan benar, saya merasa jadi orang menyebalkan saat itu. Sudah menyebalkan, merepotkan orang, lagi.  Maaf yaa…

Sekitar jam 8 atau 9 malam, Mbak T menjemput saya dari rumah gelin.

Malam itu saya menginap di rumah Mbak T yang baik banget mau direpotin sebegitu besarnya hehe. Masih terharu. Hujan, lagi.

Keesokan paginya, saya memutuskan untuk pulang ke Izmir menerobos Ankara yang bersalju. Lebih baik nanti saya balik ke Ankara lagi daripada melakukan sesuatu yang tidak pasti di Ankara.

Sambil menikmati rintikan salju Ankara, saya berjalan ke arah halte yang tidak jauh dari rumah Mbak T. Mulanya saya ingin naik bus. Namun karena saya tidak menemukan bus yang saya inginkan, dolmus pun satu-satunya jalan. Nggak mau ah naik taksi; mahal pasti.

Sekali lagi, saya nggak tahu harus turun dimana. Saya juga nggak mau nanya. Tapi insting saya mengatakan bahwa pemberhentian terakhir dolmus yang saya naiki ini ada di pusat kota Ankara; di Kizilay. Dan emang bener. Syukurlah. Saya tadi udah rencana naik taksi aja kalau nyasar lagi. Capeknya hari kemarin belum kelar soalnya.

Setelah sampai Kizilay, saya langsung aja naik subway tanpa mikir. Ternyata, saya nyasar.

Di Ankara ada dua kereta. Satu Ankaray. Satunya lagi Metro. Saya yang harusnya naik Ankaray untuk menuju ASTI (otogar), malah naik Metro. Untung saya sadar sebelum terlalu jauh. Soalnya design Ankaray dan Metro memang beda. Satu stasiun dari Kizilay, saya memutuskan untuk turun dari kereta dan berbalik arah. Di stasiun Metro tempat saya nyasar itu sungguh mengerikan lho. Sepi tidak ada orang sama sekali. Gelap dan banyak lorong lagi. Kan jadi merinding disko. Saya pun segera naik eskalator dan nanya ke security yang sendirian di situ.

Stasiun yang aneh. Sepi sekali.

“Kalau mau naik Ankaray, ikuti pentunjuk warna hijau. Kalau Metro, warna merah. Anda sekarang silahkan naik metro dan turun di Kizilay, lalu di sana ikuti petunjuk warna hijau dan naik Ankaray menuju stasiun ASTI (otogar),” jelasnya panjang lebar.

Terima kasih!

Lancar jaya, saya sampai  ASTI (otogar) dengan selamat.

Dari otogar, saya membeli tiket pulang ke Izmir 30 menit kemudian.

Izmir, saya sudah kangen banget sama kamu!

Saya sampai asrama sekitar jam 11 malam. Syukurnya, malam itu anjing-anjing asrama yang ukurannya sebesar domba, lagi kalem; tidak ada gonggongan ketika saya datang.

 

Iklan

11 thoughts on “Perjalanan Sendiri ke Ibukota Turki

  1. Wuah.. saya suka sekali sama ceritanya., Pasti seru sekali, apalagi pengalaman nyasar-nyasar nya. Ah Izmir, Ankara, semoga bs menginjakkan kaki disana juga. Salam kenal dari Arha

    Suka

  2. Wah repot juga ya. Saya dari dulu pas kuliah nggak berani kemana2 sendirian soalnya saya buta arah ha ha ha….. Berani juga pergi sendirian mbak di negara orang. Lain kali mending minta ditemenin aja biar nggak kesukaran seperti di atas.

    Suka

  3. kalau kota yang ada universitas pemerintah bagus dan mengeluarkan beasiswa namun dengan suasana yang islami bukan sekuler di kota mana ya? infonya ya. jkk.

    Suka

  4. oh iya, bukunya dah beberapa kali khatam saya bacanya. boleh usul: edisi revisi nantinya bab tentang pendidikan dan beasiswa di tambah lagi artikelnya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s