[Review Buku] Mana Dilanku?

aulias-story

Buku pertama (sumber : aulias-story)

AWAS SPOILER!

Rasanya masih nano-nano setelah marathon membaca ketiga buku Ayah Pidi Baiq, yaitu :

  1. Dilan. Dia Adalah Dilanku Tahun 1990
  2. Dilan. Dia Adalah Dilanku Tahun 1991
  3. Milea. Suara Dari Dilan

Sebetulnya saya udah cukup lama mendengar kabar tentang buku-buku ini. Namun entah kenapa, saya sama sekali tidak tertarik untuk mencari tahu. Eh, makin lama kok teman-teman saya di facebook pada suka bilang gini, “Mana Dilanku?” dan hal lain-lain yang akhirnya membuat saya mulai memasang mata dan telinga. Setelah googling dikit di waktu senggang, saya mendapati kenyataan bahwa buku-buku ini berisikan kisah cinta anak SMA. Yaaah…

Beberapa minggu lalu jelang UTS, salah seorang teman yang namanya mirip Milea membagikan ketiga buku ini kepada saya. Secara random, saya buka-buka buku ketiga yaitu “Milea. Suara Dari Dilan”. Baru membaca beberapa paragraf, saya sudah dibuat bosan. Akhirnya, saya fokus menjalani UTS dengan khusyuk.

pangaos

Buku kedua (sumber : pangaos)

Selepas UTS, teman sekamar saya membaca ketiga buku ini sambil ketawa ha hi hu yang berlebihan. Karena pengin ketawa guling-guling juga, saya pun memutuskan untuk membaca buku ini dalam perjalanan menuju ke Ankara (28/11/16) kemarin. Niatnya sih buat mengisi waktu selama di bus karena saya pergi sendirian… eh malah keterusan. Saran saya, bacalah buku ini secara berurutan. Saya dulu pas bacanya mulai dari buku ketiga, ngerasa kurang seru.

Jadi, buku-buku ini menceritakan apasih?

Iya, buku-buku ini mengisahkan asmara antara Dilan dan Milea yang dimulai dari tahun 1990. Cerita bersambung gitu. Hanya saja, jika pada buku pertama dan kedua adalah menggunakan sudut pandang Milea, di buku ketiga adalah menggunakan sudut pandang Dilan. Cukup menarik bagaimana Ayah Pidi Baiq menuliskan kisah dari dua sudut pandang sekaligus. Baik buku pertama, kedua, dan ketiga, menggunakan sudut pandang orang pertama tunggal. Artinya, di sini kita bisa dengan leluasa masuk ke celah hati Dilan dan Milea. Menarik!

milea-500x500

Buku ketiga (Sumber: bacaekon.com)

Sebetulnya, intinya sih simpel dan sederhana, yaitu bagaimana Dilan mendekati Milea si anak baru dari Jakarta yang cantiknya bukan main, masa-masa pacaran, hingga ketika dan setelah putus. Nggak jauh beda sama kisah-kisah anak SMA sebagian (saya nggak bisa menyamaratakan). Namun, justru inilah yang membuat buku ini spesial. Nggak mengada-ngada dan terasa nyata. Maksudnya, di sini Milea memang agak berlebihan dengan digambarkan sebagai gadis yang sangat cantik. Tapi, tidak ada penjelasan yang udah umum banget atau mainstream seperti misalnya, Milea anak pendiam, pemalu nan lugu yang tersakiti dan dibela cowok-cowok populer 😀 Normal aja gitu si Milea-nya. Jadi, lebih terasa dekat dengan kehidupan kita.

Sama halnya seperti Milea, Dilan juga begitu; bukan anak basket yang digandrungi cewek-cewek. Apalagi jenis cowok berotak encer yang mukanya ganteng kebangetan dan suka tebar pesona.

Dilan itu anak geng motor yang sering nongkrong di warung Bi Eem dan Kang Ewok. Anak SMA yang terkenal nakal dan suka berkelahi, namun sayang sama Bundanya dan sabar banget ngadepin Milea.

Dilan itu anak yang sangat berani ‘perang’ demi membela teman-temannya namun tidak melawan ketika Bundanya sedang menasihati.

Dilan itu anak SMA fiktif yang diam-diam mencuri hati pembacanya. Termasuk saya.

Ah Dilan… Mana Dilanku?

Salah satu hal yang membedakan Dilan dengan anak SMA biasa, selain karena dia Panglima Tempur, adalah karena dia ini unik bin ajaib. Saya bold ya…. unik bin ajaib. Omongannya memang sering ngaco. Meski kadang lucu, kadang jayus, atau bahkan bikin pembaca kesel, si Dilan ini bisa serius juga kok ketika udah waktunya. Yang lebih bikin dia unik di samping selorohannya yang bikin ketawa menghibur, juga tabiatnya.

Ketika sedang PDKT dengan Milea, ada dua hal yang sampai sekarang tidak bisa membuat saya berhenti tersenyum ketika memikirkannya. Pertama adalah ketika Milea sedang sakit dan Dilan mengirimkan Bi Asih untuk memijatnya. Kedua adalah ketika Milea ulang tahun dan Dilan memberi kado serupa TTS yang udah diisi semua. Dilan memang kreatif. Selorohan dan puisi-puisinya juga manis.

Untuk ke-alay-an Dilan, saya masih bisa menerimanya lantaran waktu itu Dilan masih SMA. Usianya saja kisaran 16-17 tahun. Masih muda sekali. Normal untuk alay seperti itu. Yang usianya awal 20an aja masih suka alay kok.

Nah! Melaui PDKT yang tidak biasa inilah saya kira Milea menjadi tertarik dengan Dilan. Lagian, Milea memang cocok kok sama Dilan. Ketika tahu bahwa akhirnya Milea tidak jadi dengan Dilan, saya kecewa lho. Rasanya tidak rela membiarkan Dilan dan Milea tumbuh menjadi dewasa; lulus SMA, kuliah, kerja, menikah dan punya anak masing-masing. Kisah mereka terlalu indah untuk diakhiri. Apalagi ketika tahu bahwa penyebab putusnya hubungan mereka secara besar dipengaruhi oleh kesalahpahaman dan ketidaksalingmengertian yang artinya: KURANG KOMUNIKASI. Keduanya sama-sama saling duga-menduga dan gengsi. Akhirnya, cinta mereka pun tidak bisa saling memiliki. Sedih sekali. Padahal, dari penjabaran keduanya, mereka masih saling menyayangi. Memang, prasangka itu fatal sekali akibatnya. Hati-hati lho ya…

Yah, begitulah…

Kesimpulannya, saya menaruh hati pada buku ini-atau pada Dilan?

Sederhana namun memikat. Cocok dibaca waktu santai. Saya berasa dibawa ke Bandung tahun 1990 dan 1991.  Buku yang unik dan berbeda. Pantes kalo populer.

Gara-gara buku ini, saya jadi kangen masa SMA saya. Ah Dilan, saya rindu. *dijitak Milea

Mana DilanMU?

Iklan

4 thoughts on “[Review Buku] Mana Dilanku?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s