Sakit Berjamaah

Namanya penyakit, bisa menyerang siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Nggak peduli mau kamu lagi di rumah atau enggak, mau lagi banyak tugas atau nganggur, mau lagi nggak punya duit atau ada, mau A atau B, pokoknya datang aja tuh penyakit tanpa diundang.

Senin malam kemarin, saya mulai batuk-batuk, entah kenapa. Selasa siang, badan saya mulai meriang. Udah perkiraan mau sakit nih. Lemas, pusing, batuk-batuk dan agak demam. Meski demikian, saya paksakan diri untuk ikut teman ke lab dalam produksi cracker. Meskipun tugas saya cuma ng-oven cracker, capeknya itu tetap. Selain karena emang cracker-nya banyak, saya juga lagi nggak enak badan kan. Padahal tanggal 9 Januari nanti sudah mulai ujian akhir.

Selepas Magrib, saya langsung pulang ke asrama untuk makan malam. Biasanya, saya doyan banget sama corba atau sup Turki. Tapi malam itu, rasanya makan pun tidak nikmat. Saya pengin buru-buru tidur.

Oohh, tidurpun ternyata tidak semudah omongan. Malam itu saya tidak bisa tidur karena demam yang sangat tinggi. Rasanya udah kayak mau nangis aja. 

Esok paginya, yaitu hari Rabu, teman sekamar menyuruh saya untuk pergi ke dokter. Tapi saya nggak bisa pergi lantaran buat jalan ke kamar mandi aja sempoyongan, gimana mau pergi ke dokter. Akhirnya, dia kasih obat. Sebelum minum obat, saya disuruh makan dulu. Namun, semuanya sudah terasa pahit. Minum air pun rasanya mau muntah. Sehari itu, saya cuma makan satu buah roti aja. Apa nggak lapar? Mulanya emang nggak kerasa lapar sama sekali. Namun malamnya, perut saya terasa seperti kembung. Yang bener aja ya kalau biasanya makan segebok, hari itu cuma makan satu buah roti aja. Rasanya pengin pulang ke Indonesia. Pasti udah dibikinin bubur ayam dan teh hangat sama ibu. Mendadak pengin soto, bakso, rawon dan aneka makanan hangat berkuah khas Indonesia lainnya.

Saya pikir keesokannya akan jadi lebih baik. Ternyata tidak. Perut saya mual sekali seolah mau muntah tapi tidak ada cairan yang keluar. Saya nyaris pingsan di kamar mandi. Pandangan saya sudah buram menghitam dan mau tumbang. Tangan saya sudah terkatung di wastafel ketika seorang teman Turki datang membantu.

Setelah memaksakan diri untuk sarapan-walaupun sulit sekali untuk menelan makanan-demam saya juga sudah agak berkurang. Saya meminta tolong teman sekamar (yang ngasih obat kemarin) untuk antar pergi ke dokter. Pergilah kita hari Kamis itu ke rumah sakit sekitar jam 9 kurang waktu Turki. Itu waktu yang sangat pagi lho mengingat Subuh baru berakhir sekitar jam 8. Apalagi, hujan mengguyur dengan syahdunya.

Alhamdulillah, periksanya cepat. Padahal saya tadi sudah parno bakal diopname. Lebay emang. Habis, badan saya sangat lemas tanpa energi.

Setelah membeli obat, kami berdua langsung kembali ke asrama.  Obat dari dokter benar-benar membuat panas saya hilang total. Tapi, batuk saya masih. Malamnya, saya susah tidur gara-gara batuk terus. Saya pikir hari Jumat ini bisa masuk kuliah, ternyata saya malah pilek dan batuk terus hingga dada saya terasa sakit. Bolos lagi deh berhubung angin Izmir sangat kencang dan sesekali hujan turun. Padahal hari ini ada quiz. Ya sudahlah …

Bulan ini memang banyak sekali yang terserang penyakit. Di antara teman-teman PPI Izmir, yang saya ketahui sedang sakit berjamaah itu ada 6 orang termasuk saya. Belum lagi lainnya yang nggak ketahuan.

Penyakit kita ini namanya Mevsimsel Grip. Pemerintah Izmir bahkan membagi-bagikan booklet tentang pencegahan dan pengobatan penyakit yang menyerang di antara musim gugur sampai musim semi ini. Mevsimsel Grip memang mudah sekali menyebar, terutama kepada yang sistem imun/kekebalan tubuhnya rendah. Makanya, teman-teman hati-hati ya. Jika menemui ciri-ciri seperti saya, misalnya batuk, pusing ataupun panas, langsung ke dokter aja. Apalagi ini jelang musim ujian. Sakit di negeri orang itu nyesek lho.

Semoga lekas sembuh.

Iklan

8 thoughts on “Sakit Berjamaah

  1. Semoga lekas sembuh.

    saya selalu suka sama cerita orang yang berjuang di negara lain. Bagaimana mereka survive untuk kehidupannya, kerinduannya akan Indonesia, tapi mereka tetap bangga dengan label mereka orang Indonesia.

    Jadi bermimpi bisa S2 di luar negeri.

    Suka

    • Terima kasih, Kak. Setelah tinggal di negera orang, entah kenapa rasa cinta tanah air itu rasanya meningkat emang. Ikatan sama orang Indonesia seperantauan juga seperti keluarga. Ayo, Kak, S2 di luar negeri! Pasti akan jadi pengalaman yang seru 😀

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s