[Cerita Mini] Pelukis Potret

texaz-nagz

sumber : texazmagz

Aku kira, menggambar itu cuma sekedar menggoyang-goyangkan pena sesuka hati. Yang kamu butuhkan hanya membuat gambar semirip aslinya.

“Wah! Bagus sekali gambaranmu, sayang. Terlihat nyata!”

Gara-gara kalimat yang diucapkan Mama, aku percaya diri ambil kursus menggambar. Aku kira, para pengajar akan terpana melihat hasil karyaku sebagaimana Mama mengagumi gambaranku. Aku kira, mereka akan sangat senang menerima dan menawarkan gambaranku untuk ditampilkan pada pameran musim semi. Yah, itulah aku; dengan kepala terangkat tinggi, masuk ke kursus menggambar.

Semuanya berbalik sejak aku masuk pada hari pertama. Pengajar mengajari kami mengambil ukuran pada benda nyata untuk dilukiskan dalam kertas gambar. Mereka meletakkan beberapa balok di atas meja. Gampang sekali, pikirku saat itu. Kenapa harus ambil ukuran? Sambil tutup mata pun aku bisa melakukannya. Sebelum aku mulai menggambar, teman yang duduk di sampingku telah menyelesaikan gambarannya dan pengajar yang bernama Ibu Lina itu marah ketika melihat hasilnya. Katanya, gadis itu tidak mengambil ukuran dan hanya menggambar sesuka hati. Aku pun hanya mengernyit karena tak melihat perbedaannya.

Setelahnya, aku mulai belajar mengambil ukuran. Sumpah! Itu sulit sekali, kawan. Setiap kali mengambil ukuran, melukiskannya di atas kertas dan mengulanginya, hasilnya selalu beda. Rasanya aku frustasi. Kursus macam apa itu? Jika ada yang gampang, mengapa harus bersulit ria? Walhasil, gambaranku tidak selesai-selesai.

Setelah bersusah payah menggambar balok dengan ukuran, kami dipaksa lagi menggambar beberapa macam buah-buahan di hari berikutnya. Tentu saja dengan ukuran. Hal itu berlanjut hingga hari keempat; pusat dari segala frustasiku.

Aku memang sudah bisa mengambil ukuran. Benar, gambaranku tampak lebih masuk akal dari sebelumnya. Setidaknya, gambaranku tampak seimbang. Meski artinya, aku menggambar dengan sangat pelan. Kali itu pengajar meminta kami menggambar tubuh manusia. Beliau menaruh patung badan lelaki dan perempuan di atas meja. Lalu kami duduk mengelilinginya dan menggambar dari sudut masing-masing.

Aku sungguh kebingungan memulai darimana. Patung itu tak ubahnya kopi dengan susu yang telah bercampur. Aku kesulitan melihat perbedaan garisnya yang hanya terlihat ketika diberi cahaya. Bagiku, cahaya lampu menyinari seluruh bagian tubuh patung. Lalu, bagimana aku bisa menggambarnya?

Perutku rasanya mual melihat kedua tubuh tidak jelas di depan sana. Aku pusing tatkala menyaksikan beberapa teman yang telah menyelesaikan gambarannya. Aku pun semakin malu ketika mereka melihat gambaranku sambil mencibir. Teman-temanku terlihat sudah sangat lihai memainkan pena. Mereka yang jarang datang ke kursus mampu membuat gambar yang nyata dan indah. Sedangkan aku? Masih saja terjerat dengan aturan mengambil ukuran dan mengarsir.  Padahal, aku datang setiap hari ke kursus. Namun tetap saja, gambaranku jelek; gelap gulita seperti tak dapat cahaya. Detik itu aku sadar bahwa Mama telah menipuku sepanjang waktu. Aku tidak bisa menggambar. Titik.

Aku memutuskan untuk berhenti datang ke kursus. Menggambar tidak membuatku bahagia seperti sedia kala. Kini seolah semuanya penuh aturan yang menjeratku dari kebebesan berekspresi. Aku malu ketika teman-teman melontarkan bisikan, “Dia selalu datang ke kursus tapi gambarannya tetap  buruk rupa,” setiap kali aku membuka pintu kelas.

Gara-gara selalu rajin datang ke kursus, sekalinya tidak datang, Ibu Lina datang ke rumah, memaksaku pergi ke kursus dan menggambar potret dari patung kepala perempuan yang diletakkan di atas meja. Aku duduk sendiri kala itu. Teman-teman duduk di sisi kelas lainnya karena mereka tidak menggambar patung kepala perempuan sepertiku.

Saat itulah aku merasa bahagia lagi ketika menggambar. Tidak ada yang mencibir gambaranku. Tidak ada karya orang lain sebagai pembanding yang dapat  membuatku bersedih. Tidak ada pengajar yang membuatku deg deg an. Aku bebas melakukan apapun. Apalagi, objek yang kugambar saat itu sangat kusukai. Seonggok patung kepala perempuan dengan wajah bahagia. Sebagaimana aku dengan duniaku.

Tiba-tiba, seorang anak laki-laki berlari dan merobohkan meja gambarku. Seisi ruangan pun memalingkan matanya. Mulut mereka ternganga. Aku tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Mereka pasti akan mengejekku lagi. Sebelum mereka melihat mataku yang memerah, aku berlari keluar meninggalkan gambaranku yang hampir jadi.

Ibu Lina datang lagi ke rumah. Namun aku menolak menemuinya. Aku pun  berhenti menggambar sejak saat itu. Aku tahu, aku tak punya bakat menggambar sama sekali. Tak kuhiraukan nasihat Mama. Aku tak mau mendengar kebohongan.

Aku berhenti menggambar dan melanjutkan hidupku hingga jadi pengacara. Entah bagaimana aku masuk ke ranah hukum. Padahal, cita-citaku dulu adalah menjadi pelukis. Tapi, aku tahu bahwa aku tak punya bakat di bidang itu sekeras apapun aku mencoba.

Ketika aku pulang kampung, aku mendengar kabar bahwa tempat kursus itu baru ditutup setahun sebelumnya dan beberapa lukisan ditinggalkan saja. Iseng, aku gatal ingin melihat. Ya, sekalian bernostalgia.

Rupanya, walau berlapis debu, di sana masih banyak sekali gambar dan lukisan. Letak mereka masih rapi. Lukisan dan gambar itu ditumpuk ke dalam beberapa kardus.

Mataku tercekat ketika mengenali gambar potret wajah perempuan yang tergeletak di kardus paling atas dan dibungkus plastik dengan rapi. Bu Lina menyimpannya, gumamku. Meski warnanya lusuh dan buram, aku mengenalinya. Itu gambaranku tepat ketika aku memutuskan untuk berhenti menggambar. Di bawah gambar itu tertera not kecil yang samar-samar dapat kubaca.

“Riana, gambar potret kamu bagus sekali. Setelah ini, Ibu akan bantu kamu lebih fokus membuat potret. Mungkin untuk pameran musim semi tahun depan? :)”

Aku mau pingsan saat itu juga.


Cerita mini ini dulu pernah saya ikutkan ke sayembara cerita mini se Timur Tengah. Masuk 50 besar dan sudah dipublikasihan dalam bentuk pdf bersama 49 karya lainnya. Namun setelah saya baca ulang karya ini, kok nggak logis sekali ya… hahaha. Sepertinya saya menulis tanpa pengendapan dan dalam emosi yang tidak stabil waktu itu.

Menurut kamu bagaimana?

Iklan

8 thoughts on “[Cerita Mini] Pelukis Potret

  1. batu loncatan ke pengacara yang tidak logis Nae. Menurutku terlalu cepat. Kan diskusi antara bu lina dan ibu si tokoh harusnay bisa menjelaskan. Memang sih si tokoh lari dari kenyataan tetapi loncatan terlalu cepat. Hehehe.
    Begitu sih kalau pemikiranku

    Suka

  2. Jenis karangan yg memakai kata aku belum banyak saya baca. Kurang paham. Karena menurut selera saya, menggunakam kata orang ketiga masih lebih baik.

    Tapi saya juga pernah membuat cerita sebagai oramg pertama. Cuma klo dibandingkan cerita diatas masih kalah jauh he he he……

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s