Percaya Aja Sama Allah

trust-in-allah

sumber : devinilasari.wordpress.com

“Allah tidak akan membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kemampuannya.”

Setelah memperoleh Letter of Acceptance yang menyatakan bahwa saya diterima program beasiswa S1 Jurnalistik di Ege University, hati saya senang namun bimbang. Saya membayangkan andai beasiswa bulanan yang saya terima dari pemerintah Turki tidak cukup, saya mau bagaimana? Masa iya harus menelan luka di negeri orang?

Tentu saja biaya hidup di Indonesia dan di Turki berbeda. Apalagi, saya tinggal di desa ketika berada di Indonesia. Sedangkan di Turki, nantinya saya akan tinggal di kota terbesar ketiga. Akhirnya, bismillah saja, saya pergi ke Turki. Kalau tidak cukup, bayangan saya bisa mencari peluang kerja paruh waktu. Alhamdulillah, meski teman-teman Eropa saya seringkali mengeluhkan jumlah uang saku bulanan hanya mampu dipakai hidup setengah bulan, bagi saya uang itu cukup untuk sebulan. Bahkan, saya mampu menabung untuk beli tiket pesawat ke Indonesia ketika lebaran tahun lalu. Jadi, sebetulnya bukan mengenai jumlahnya. Namun menyesuaikan kebutuhan, kebiasaan dan bagaimana kita memanajemen uang.

“Allah tidak akan membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kemampuannya.”

Sesampainya di Turki, bahkan ketika masih dalam mobil jemputan pemberi beasiswa, saya sudah merinding disko menyaksikan lalu-lalang orang yang wajahnya sangat asing di mata, mendengarkan bahasa-bahasa yang artinya tidak mampu saya cerna.

Hari pertama masuk sekolah kursus bahasa, saya cukup senang lantaran banyak mahasiswa asing yang berbicara menggunakan bahasa Inggris. Setidaknya, saya mengerti maksud mereka. Walaupun saya masih canggung untuk ikut nimbrung.

Saya pikir, saya akan kesulitan menjalin pertemanan dengan teman-teman sekelas. Apalagi, saya tidak pernah berbicara langsung face-to-face dengan bule selain ketika interview beasiswa kemarin. Serius.

Ternyata, dugaan saya salah. Bahasa bukan sekedar olah kata, namun juga olah tubuh. Perpaduan keduanya mampu menyempurnakan komunikasi. Saya bahkan memperoleh beberapa teman baik dimana kami seringkali sharing banyak hal tanpa mengalami kesulitan komunikasi. Benar-benar tidak sesulit yang saya duga. Justru saya merindukan semua itu saat ini. Bayangkan, kelas kami terdiri dari mahasiswa/i asing yang hendak mengenyam pendidikan S1, S2 ataupun S3. Dari segala macam ras, suku, benua, bahasa, budaya, kami mampu berkomunikasi layaknya sohib. Pamela adalah salah satu mahasiswi favorit saya. Meskipun saat itu saya baru lulus SMA dan dia lulusan S2, kami berdua sering bertukar cerita seperti teman seumuran saja.

“Allah tidak akan membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kemampuannya.”

Kuliah saya full menggunakan bahasa Turki. Padahal, kami hanya belajar bahasa Turki sekitar 9 bulan lamanya. Apa itu cukup?

Karena kendala bahasa, terlebih di tahun pertama, banyak mahasiswa/i asing yang mengatakan bahwa memperoleh IP di atas 2,00 saja sudah merupakan kesyukuran.

Lalu saya pun melihat pada buku panduan beasiswa.

Sebagai penerima beasiswa, kami tentu saja memperoleh tekanan untuk memperoleh nilai sekian dengan aturan begini begitu jika tidak ingin beasiswa dipotong, apalagi dihentikan. Saya dulu beberapa kali berpikir bagaimana nasib saya apabila beasiswa saya dipotong. Bagaimana saya mampu melanjutkan pendidikan di Turki? Apa saya harus belajar gila-gilaan?

Ternyata memang sulit, tapi tidak sesulit yang saya bayangkan. Mungkin karena jurusan yang saya ambil Jurnalistik, bidang yang memang saya sukai. Dulu awalnya saya cukup mabuk ketika diberi tumpukan materi. Berulang kali saya membuka kamus sampai bosan dan kesal. Namun lambat laun, materi-materi itu terasa menyenangkan dijelajahi. Pasti bisa!

“Allah tidak akan membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kemampuannya.”

Sebagai manusia biasa, dalam beberapa hal/bidang, saya meragukan kemampuan saya sendiri. Kalimat bisa nggak ya, bisa nggak ya, seringkali menghampiri pikiran.

Kata salah satu kawan saya –yang masih terngiang, “Kayak nggak punya Allah saja.” Kemudian saya teringat akan yang lalu-lalu.

“Allah tidak akan membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kemampuannya.”

Percaya aja sama Allah. Pasti ada jalan 🙂


Tulisan ini untuk menjawab pertanyaan #KampusFiksi 10 Days Writing Challenge

Day 7 : Tulislah tulisan yang dapat membuatmu merasa kuat

 

Iklan

7 thoughts on “Percaya Aja Sama Allah

    • Pengalaman pribadi jadinya curhat yak 😀
      Tergantung sih. Beda Univ, beda jurusan, beda bahasa pengantar. Kalau di saya sih 100% bahasa Turki.
      Aduh, ngeri-ngeri sedap sih kadang suka capek juga. Baca buku yang kalau pakai bahasa Indonesia bisa sekali duduk, karena pakai bahasa Turki jadi lama bacanya.

      Disukai oleh 1 orang

  1. Ping-balik: Merantaulah Selagi Ada Kesempatan | Naelil The Climber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s