[Resensi Buku] Student Traveler

cover-depan-student-traveler

annisapotter.com

Judul Buku : Student Traveler

Penulis : @annisaa_potter

Penerbit : Penebar Plus+ (Penebar Swadaya Grup)

Tahun Terbit : Cetakan I, 2015

Kota : Jakarta

Jumlah Halaman : 252 hlm.

Masih berstatus pelajar dan mahasiswa, tapi ingin traveling keliling Indonesia, bahkan dunia? Pasti yang pertama terpikir adalah, “Hah, duit darimana?” Jika teman-teman jeli, status sebagai pelajar dan mahasiswa bisa memberi keuntungan. Kalian bisa ber-traveling dengan “kedok” summer school, seminar, workshop, atau kompetisi. Studler info yang ada dalam buku ini berguna bagi kalian yang ingin traveling seru.

Buku ini berbagi pengalaman seru traveling keliling Asia dan Eropa. Kalian diajak penulis tukaran suvenir dengan Michael Ballack, “gak boleh pipis” di Jepang, minum air bekas di Singapura, lihat Amsterdam yang “meng-Indonesia”, bertemu dengan Chinese moslem ganteng, dan merasakan “derby” di antara tifosi Inter dan AC Milan. Penasaran dengan kisah-kisah seru lainnya? Grab this book and let’s the journey begin!

“Mahasiswa juga bisa keliling dunia… gratis pula! Caranya gimana? Baca, deh buku ini! Dijamin kamu bakal terinspirasi sama pengalaman serunya Annisa.”

Trinity | Travel Blogger | Penulis Buku Bestseller The Naked Traveler

“Gila! Saya berasa lagi jalan-jalan pas baca buku ini. Buku ini bisa dijadikan guide book yang OK banget karena berhasil membuat persepsi bahwa jalan-jalan ke luar neger itu bisa gratis.”

Maulana Saminson | Penulis Buku Bestseller Catatan Akhir Kuliah


Akhirnya bisa ngeblog lagi setelah sekian lama terhalangi untuk membuka laptop karena charger yang rusak. Postingan terakhir saya yang berjudul Mesin Waktu sedikit menyinggung soal betapa laptop dan internet berkecepatan tinggi mampu mengalihkan dunia saya. Nah, karena laptop mati sekian lama, saya pun terhalangi untuk mengerjakan tugas, ngeblog, nonton film dls. Mau nonton TV pun males karena anak-anak asrama pasti tontonannya drama Turki. Mau mainan hape juga nggak betah lama-lama karena layarnya nggak segede laptop.

Saya pun beralih ke buku dan sadar, salah satu penyebab ketidakproduktifan saya dalam menulis selama ini adalah ketidakproduktifan saya dalam membaca. Itulah sebabnya saya kesulitan menangkap inspirasi yang sebetulnya beredar tanpa henti disekeliling. Ya, titik pusatnya ada pada pengalihan isu yang dilakukan oleh si laptop dan internet. Ck ck ck.

Ya sudah, dua hari penuh saya habiskan waktu dengan melahap dua buah buku. Salah satunya ini. Sisa harinya tentu saja saya gunakan untuk jalan-jalan keliling kampung Izmir selagi liburan semester masih berlangsung.

Kesimpulannya : saya membayangkan andai di dunia ini tidak ada internet, mungkin banyak yang akan beralih dari membaca timeline facebook menjadi membaca buku.

Yippi!

Beruntung sekali saya berkesempatan untuk membaca bukunya Kak Annisa Potter ini! Sebetulnya saya sudah membeli buku Student Traveler sejak pertengahan tahun 2016 dan sengaja membawanya ke Turki karena terlihat menarik. Eh, benar saja, buku ini seru banget dan buat saya terinspirasi untuk bergerak. Sedih juga kalau inget umur dan sadar bahwa belum begitu produktif.

Dalam buku ini, Kak Annisa menceritakan tentang pengalamannya berkunjung ke Singapore, Jepang, China, Korea Selatan, Jerman, Ceko, Polandia, Italia, Vatikan, Prancis, Belgia dan Belanda entah dalam rangka exchange, simposium, ataupun workshop. Pokoknya sebagai seorang mahasiswi!

Singapore

Dengan membaca buku ini, saya jadi belajar untuk tidak begitu meremehkan harga-harga apapun di Singapore terlepas posisinya yang dekat dengan Indonesia. Ya maksudnya, mungkin dikiranya tiket pesawat murah dan apa-apa mudah gitu. Meski demikian, Kak Annisa juga memberikan informasi mengenai tempat-tempat menarik di Singapore dengan 0 rupiah dan tips hemat bagi backpacker kere. Dua hal yang paling menarik perhatian saya adalah Merlion Statue pasti! Biar bisa foto di depan Singapore Flyer yang mirip London Eye. 😀 Juga, Singapore Botanical Garden yang katanya sedap dipandang mata!

Jepang

Kak Annisa pergi ke Jepang dalam rangka menghadiri YELP (Young Environmental Leadership Program), tapi sekalian jalan-jalan ke Harajuku Street, Shibuya crossing yang dipenuhi sekitar 1000 orang penyeberang jalan (gilaa!!), patung Hachiko yang masih setia nunggu sensei-nya, Tokyo Tower, lihat gundam raksasa, Odaiba Cruise, Akasuka, nyobain photobox ala Jepang hingga jajan sushi, okonomiyaki dan soba. Kok banyak jalan-jalannya? Asli mupeng berat. Pikiran saya langsung melayang ke novel Haru no Tabi karya Ghyna Amanda Putri. Uhuy!

China

Kalau ke China, Kak Annisa pergi dua kali untuk mengikuti student program.

“Kalau nemu kesempatan ada seminar, workshop atau kompetisi ke Cina yang cocok untuk ngembangin kapasitas diri kamu, langsung aja daftar ya! Dijamin nyesel kalau gak pernah ke Cina minimal sekali seumur hidup.”

Hm, saya juga pengin banget ke China. Apalagi kalau bukan untuk mengunjungi Tembok Besar China. Tapi sebetulnya yang membuat saya ingin sekali ke China adalah film-film berlatar Shanghai itu! Sekaligus mau nyobain baju tradisional putri China juga di Yu Yuan Garden. :mrgreen:

P.S Dalam waktu dekat ini saya akan posting informasi kuliah S1 di China dengan beasiswa. Ditunggu ya! Hehe.

Korea Selatan

Kalau ini, Kak Annisa pergi dalam rangka menghadiri simposium ARRCN (Asian Raptor Research and Conservation Network). Di sini Kak Annisa berceloteh juga mengenai perjalanannya ke Korean Demilitarized Zone (DMZ) yang merupakan zona perbatasan netral antara Korea Selatan dengan Korea Utara.

Korea Utara merupakan salah satu negara yang membuat saya penasaran. Apakah kalian tidak? Makanya, saya demen nonton TEDTalks tentang Korea Utara. Senang bisa baca kisah Kak Annisa mengunjungi DMZ. Kalau ada kesempatan mampir ke Korea, pengin juga ikut DMZ Tour yang katanya the most dangerous tour in the world soalnya konon di wilayah DMZ ini bisa sewaktu-waktu terjadi perang. Allah korusun!

Polandia

Kalau saya berkesempatan untuk melakukan eurotrip, pasti Polandia harus masuk daftar urutan atas! Tempat yang paling ingin saya datangi di Polandia adalah kamp konsentrasi Auschwitz. Kenapa?

Tentu saja karena ini adalah satu satu situs bersejarah. Ketika membaca cerita Kak Annisa yang ber-solo trip ke kamp konsentrasi (baca lagi : SOLO TRIP), pikiran saya melayang ke isi buku diary Anne Frank dan film The Boy In The Striped Pyjamas. Terlepas dari kontroversi yang muncul akibat kemunculan buku dan film bertema holocaust di perang dunia ke-II, tentu saja tidak ada yang membenarkan pembinasaan suatu kaum tertentu. Dengan mendatangi situs seperti ini, saya berharap mampu lebih menghargai kaum yang ‘berbeda’ dari saya.

Italia

Sejak sebelum membaca buku ini, saya sudah ingin sekali pergi mengunjungi Italia. Apalagi setelah Kak Annisa membahas habis tentang kunjungannya ke Milan dan Roma. Andai ke Venesia dan Pisa juga, Kak. Hihi.

Bagi penggemar Inter Milan dan AC Milan pasti bakal baper parah ketika membaca bab ini. Pasalnya, Kak Annisa ikut rombongan jalan kaki supporter kedua klub sepok bola ini-yang mau nonton pertandingan-menuju San Siro Stadium . Sensasinya itu lo!

Selain sensasi berbaur dengan supporter klub sepak bola, yang pasti dibahas mengenai Milan tentu saja mengenai gelarnya sebagai city of high-end fashion. Buat pecinta fashion, wajib nih mampir ke Milan. Kalaupun nggak beli barang-barang bermerk selevel Prada, Channel, Gucci, Giorgio Armani dls, setidaknya bisa masuk doang ke outletnya dan numpang bergaya di depannya. Hehe. Kalau kata Kak Annisa, “Uang segitu bisa dipakai buat biaya hidup di Gottingen (red: Jerman) selama satu semester.” Parah-parah.

Lanjut ke Roma. Kalau di sini mah yang wajib dikunjungi adalah koloseum yang merupakan bekas arena gladiator, yaitu arena pertarungan antara binatang buas-yang konon sudah lama tidak diberi makan-dengan narapidana. Ngeri sih ya. Bunuh-bunuhan kok jadi hiburan rakyat.

Di atas itu semua, yang tidak kalah penting ketika berada di Italia adalah untuk mencicipi pizza, spaghetti, kopi dan gelato khas Italia! Nyum nyum.

Eh, ini kenapa jadi curhat bukannya resensi buku!


Sejujurnya, saya ingin bahas semua negara yang dikupas di buku ini. Tapi postingan ini sudah terlalu panjang. Sebagai pengingat saja, Kak Annisa menceritakan kunjungannya ke Singapore, Jepang, China, Korea Selatan, Jerman, Ceko, Polandia, Italia, Vatikan, Prancis, Belgia dan Belanda di dalam buku ini. Yang belum saya bahas adalah Jerman, Ceko, Vatikan, Prancis, Belgia dan Belanda. Masih banyak ternyata  yak! :mrgreen:

Bagi yang pengin kuliah di Jerman, mungkin juga bisa menggunakan buku ini sebagai salah satu referensi berhubung Kak Annisa juga jadi exchange student di sana.

Secara keseluruhan, saya suka sekali dengan buku ini! Sukaa! Informatifnya bukan sekedar berdasar pada pengalaman semata, namun Kak Annisa juga memberikan beberapa link informasi untuk exchange, summer school, internship, kompetisi, seminar, conference ataupun workshop-yang bisa diakses langsung-yang cocok sekali bagi para mahasiswa! Poin plusnya lagi, Kak Annisa juga memberikan kiat-kiat khusus dan membagi foto-foto perjalanannya. Intinya, tulisannya udah super seru dan keren! Yang disayangkan justru font yang digunakan dalam buku ini terlalu kecil dan warnanya tidak bersahabat dengan mata. Menurut saya loh ya. Padahal kontennya sudah sangat keren.

Recomended!

 

Iklan

4 thoughts on “[Resensi Buku] Student Traveler

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s