Rasanya Jadi Mahasiswa di Turki dan Republik Ceko

Ahoj!

Sudah lama sekali tidak menulis di blog. Kangen. Namun apa daya, dunia saya sempat teralihkan oleh drama Korea – HAHAHA – dan kemalasan yang tiada habisnya. Gara-gara lama vakum tidak mengisi blog, sebetulnya daya kreativitas menulis saya pun menurun. Oleh sebab itu, sebelum terjun bebas semakin dalam, mari berceloteh!

Menjadi mahasiswa di Turki dan Republik Ceko tentu saja berbeda, dilihat dari perbedaan pokok Turki dan Republik Ceko dari segi geografi maupun sejarah yang kemudian mempengaruhi budaya dan adat istiadatnya. Daftar perbedaan di bawah ini hanya berdasar pada pengalaman saya seorang. Artinya, bisa jadi kisah mahasiswa Indonesia lainnya – baik di Turki ataupun Republik Ceko – berbeda.

  1. Makanan – nikmatnya hidup di Indonesia

Makanan merupakan salah satu hal yang paling krusial untuk melangsungkan hidup. Sebut saja kebutuhan pokok manusia serupa sandang, pangan dan papan. Hidup di Indonesia adalah suatu kenikmatan tiada tara jika disangkutpautkan dengan makanannya. Bukan cuma soal-menyoal keberagaman makanan, namun juga kemudahan memperolehnya. Tinggal duduk di depan rumah, sudah ada abang bakso, sate dan aneka pedagang makanan yang lewat. Gampang banget! Kalau soal makanan, Turki dan Republik Ceko kalah telak dibandingan Indonesia.

Selama di Turki, saya tinggal di asrama mahasiswa milik pemerintah, dimana kami diberi jatah makan dua kali sehari, yaitu pagi dan malam. Artinya, saya tidak perlu repot masak ketika lapar. Kalau laparnya siang hari, saya pun tinggal jajan di kampus – ada banyak pilihan menu di cafe. Bukan hanya itu, pemerintah kota Bornova (dimana kampus kami berada) menyediakan makan siang gratis untuk para pemuda/i. Menggoda sekali, bukan? Meskipun tidak senyaman di Indonesia, setidaknya saya bisa asal comot makanan di Turki. Kehalalannya insya Allah terjamin.

Di Republik Ceko, saya tinggal di asrama milik pemerintah, juga. Namun, di sini kami dituntut lebih mandiri. Asrama kami memang menyediakan makanan. Itu pun tidak gratis, dan tiap hari terdapat menu wajib serupa pork atau daging babi. Alhasil, mau tidak mau, saya pun harus memasak.

Kadang sedih juga sih kalau pulang kuliah dan lapar, namun harus masak dulu. Mau bagaimana lagi. Jajan di luar tiap hari terlalu boros. Apalagi, tidak banyak makanan yang dapat kita konsumsi. Kebab Turki terus kan bosan.

Meski agak melelahkan, menjadi mahasiswa di Republik Ceko cukup mengajari saya untuk bertanggungjawab terhadap diri sendiri. Kalau tidak masak, kamu akan kelaparan!

2. Bersih-bersih

Di Turki, kamar kami dibersihkan oleh abla-abla atau mbak-mbak yang bertugas di asrama. Namun di Republik Ceko, saya dan room mate bergantian dalam membersihkan kamar. Tidak begitu beda sih, berhubung saya juga bersih-bersih ketika di Indonesia.

3. Serba Sendiri

Saya pertama kali menginjakkan kaki di kota Izmir, Turki, bersama-sama dengan 4 orang Indonesia lainnya, sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Apalagi, sesampainya di bandara Izmir, kami juga dijemput oleh pemberi beasiswa (Pemerintah Turki) dan beberapa mahasiswa/i Indonesia di Izmir. Urus perihal residence permit dan tetek-bengeknya pun dianterin. Hasilnya, saya suka lupa jalan karena kemana-mana dianterin.

Sedangkan di Republik Ceko, saya datang ke kota Praha seorang diri dan tidak ada yang mejemput. Berbekal research kecil yang sudah saya siapkan, saya kesana- kemari sendirian. Kecuali ketika lapor diri ke Ministry of Interior yang mengurus soal imigrasi, karena petugas menggunakan bahasa Ceko. Jadilah buddy saya yang asli orang Ceko – yang ditugaskan oleh kampus – menemani selama proses lapor diri ke Ministry of Interior. Hasilnya cukup baik, saya lebih percaya diri ke sana-sini sendiri. Beruntungnya mungkin karena papan informasi yang cukup jelas. Di kota Izmir, untuk metro/subway/underground dan tram memang memiliki papan informasi cukup jelas. Namun untuk bus, di tiap halte hanya tertulis nomer bus dan tujuan akhir tanpa menyebutkan nama-nama tiap pemberhentian yang akan dilewati. Sedangkan di Praha, semuanya serba ditulis. Sistem transportasi adalah salah satu hal yang paling sangat saya sukai dari Praha!

Kalau kamu main ke Praha, jangan takut kemana-mana sendiri ya! Insya Allah nggak akan nyasar.

4. Diskusi Layaknya Mahasiswa Master

Ini saya asli sok tahu banget yak. 😀

Berdasarkan informasi yang saya peroleh, mahasiswa master biasanya hanya terdiri dari sedikit mahasiswa saja dalam satu kelas. Sedangkan mahasiswa bachelor sudah pasti sekelas isi mahasiswanya bejibun.

Di kampus saya di Turki – di jurusan saya, kelas kecil berisikan 20-40 mahasiswa/i, sedangkan kelas besar bisa sampai 100an mahasiswa/i. Kebayang kan ramenya bagaimana? Ruang kelas pun cukup luas.

Sedangkan di kampus saya di Republik Ceko, sekelas hanya berisikan bahkan kurang dari 10 orang. Kebayang kan betapa kagoknya kalau nggak paham dengan materi yang diajarkan dosen? Pasti ketahuan! Apalagi dosen gemar sekali tanya-jawab dengan mahasiswa/i-nya. Mahasiswa/i seperti dituntut aktif di kelas. Saya pun mau tidak mau, paling tidak, harus review materi sebelum datang ke kelas.

Di Turki, karena jumlah mahasiswanya yang sangat banyak, tentu saja sesi diskusi dan tanya jawabnya tidak se-intens di Republik Ceko. Macam mahasiswa master saja, bukan? Tapi sebetulnya, mungkin ini juga dipengaruhi oleh faktor bahwa universitas saya di Turki adalah universitas negeri, sedangkan universitas saya di Republik Ceko adalah swasta.

5. Nikmatnya Beribadah

Meskipun kampus saya di Turki tidak memiliki masjid – namun hanya mushola semacam ruangan kecil di lantai bawah tanah – kini saya menyadari betapa luar biasanya itu. Masih untung bisa sholat dengan bebas. Masih denger adzan, pula. Ya, meskipun kondisi mushola kampusnya ya… tentu saja saya berharap akan ada perbaikan.

Sedangkan di Republik Ceko, masjid aja nggak ada, apalagi adzan. Adanya ruangan untuk ibadah. Kayak di kampus saya di Turki, mungkin – soalnya saya belum pernah mampir.

Kalau lagi di kampus – di Republik Ceko, saya sholatnya di dekat tangga. Jadi kan ada 14 lantai. Saya biasanya sholat di lantai paling atas karena kemungkinan orang naik-turun tangga sampai lantai setinggi itu hampir mustahil.

Pas pertama kali sholat di situ duh… deg deg an-nya minta ampun kayak mau UN aja. Namun, saya memberanikan diri untuk gelar sajadah. Kata temen Muslim saya di kampus, terkadang pasti memang ada yang lewat – naik-turun tangga. Tapi yaudahlah ya… mereka cuma ngelihatin doang tanpa melakukan apapun.

Kerasa banget deh gimana bedanya sholat dengan mudah di masjid atau di tempat sepi kayak begitu. Bersyukurrrr banget kuliahnya di Turki yang gampang cari masjid. Denger adzan tiap hari, lagi.

6. Menjadi Mahasiswi Muslim

Di kelas saya di Turki, ada 3 mahasiswi yang berjilbab – dua mahasiswi Turki dan saya. Jadi, nggak ada masalah lah ya. Rasis macam apa gimana enggak ada. Biasa aja.

Sebelum saya berangkat ke Republik Ceko, beberapa gambaran media mengenai betapa Eropa membenci Muslim sedikit menghantui saya. Apalagi, saya berjilbab. Jelas banget kan ya kalau saya Muslim. Jadi, sebelum berangkat, saya sudah ambil nafas panjang untuk siap-siap dipandang sebelah mata – karena itu mungkin.

Ternyata, dugaan saya salah. Sejauh ini, saya tidak mengalami hal-hal aneh yang disebabkan karena saya berjilbab tuh. Alhamdulillah.

Ketika di Turki, ada kawan saya yang bercerita tentang salah satu dosen yang sangat tidak menyukainya hanya karena dia berjilbab. Sialnya, itu berpengaruh pada nilai akademiknya. Lalu saya pun mikir… kalau saya di Republik Ceko, apakah akan ada dosen yang memandang saya sebelah mata hanya karena saya berjilbab? Kekhawatiran itu sempat melanda, tentu saja.

Aslinya, oh…. tidak ada aneh-aneh yang terjadi. Mungkin ada sih beberapa paman yang memandang saya aneh ketika berada di public transport.  Itupun nggak tiap hari kok. Lagian saya sudah biasa dilihatin, mengingat posisi saya sebagai minoritas. Sisanya, mereka urus tuh urusan mereka sendiri. Nggak ngurusin nih orang pakai jilbab atau enggak. Dosen-dosen saya ramah semua. Teman-temannya juga. Dan orang Ceko sendiri, meskipun mayoritasnya bersikap dingin terhadap orang asing, banyak juga kok yang ramah tamah. Bukan hanya sekali dua kali loh saya dibantu orang Ceko selama perjalanan 🙂

Pada intinya, menurut saya, ini semua ada kaitannya dengan niat. Kalau niat kamu adalah untuk mencari ilmu, melewati comfort zone demi mengembangkan diri, apalagi berjuang untuk umat – berat nih, insya Allah… Allah pun akan bantu. Baik di Turki ataupun Republik Ceko, keduanya banyak mengajari saya pengalaman-pengalaman baru menembus batas yang cukup seru dan menyenangkan.

 

Iklan

35 thoughts on “Rasanya Jadi Mahasiswa di Turki dan Republik Ceko

  1. MasyaAllah yah, seru dan asyik banget dapat kesempatan berpengalaman belajar di luar negeri…..jadi minoritas, bertemu dengan budyaa baru, berinteraksi dengan adat istiadat baru >.< kereeen. Dan aku pinginpingin pake banget!!

    Sukses terus yaa ka Naelil 🙂

    Suka

  2. Uwah… keren.. saya kok ikut deg deg an ya pas Mbak Nae blg shalat di dkt tangga kayak mau ujian UN.. hihihi
    keren tulisannya, menginspirasi sekali. Tetap sehat ya disana,, Sukses selalu dan terus dalam Lindungan Yang Maha Rahman. Menjadi pembelajar di negeri Orang, pasti berat sekali. Tp Kalo niat nya baik, Insya Allah akan dimudahkan dan jadi pembuka pintu surga juga..

    fighting ya my dongsaeng.. ^_^

    Suka

  3. cie ,,, kmu harusnya bersyukur mbak kita dg baik hati dn jantung mengundang kamu untk makan2. * meskipun iuran.
    at least kta makan makanan indonesia lah ya. rendang,sate,rica-rica,bakso, mie ayam. aduh aduh ..
    mbak ku sayang mbak ku malang. nnti kalo balik kita makan2 ya 🙂

    Suka

  4. Fantastic story! Asik bener pengalamannya di Czech Rep. Semoga bisa menjadi inspirasi anak muda Indonesia. Semoga Kak Nae expand ke negara Eropa lainnya…

    By the way, terima kasih untuk 5 jurnalnya. Sangat membantu 😀

    Suka

  5. Deg2an kaya mau UN, kontras sekali besok juga saya mau UN 😂😂 dan insomnia serta takut dysania. Jayus postingannya mba 😍😍😍

    Suka

  6. Hmmm pengalaman yang mengesankan kalau nanti nya sudah sukses , memang nya kalau disana , ngga ada makan yang ber brand “HALAL” gitu ☺☺,

    Its so interested , bisa menjadi mahasiswi di sana👌👌 , keep going on lah 👍👍💪💪

    Suka

    • Ada sih sebetulnya. Tapi nggak begitu mudah menemukan makanan berlabel halal. Kalau nggak gitu, harganya bisa jadi agak lebih mahal. Hitung-hitung pengalaman sih. Terima kasih sudah berkunjung 😀

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s