[Review Novel] Disgrace

JMCoetzee_Disgrace

courtesy : wikipedia

Judul Buku : Disgrace

Penulis : J.M. Coetzee

Tahun : 1999

Penerbit : Secker & Warburg (UK)

Jumlah Halaman : 218 hlm.

“History repeating itself, though in a more modest vein.”

 “What if an attack like that turns one into a different and darker person altogether?”

Tokoh utama novel ini bernama David Lurie, seorang professor berusia 52 tahun yang mengajar di sebuah universitas di Cape Town, South Africa. Ia merupakan duda beranak satu dari pernikahan pertamanya – yang tinggal di Eastern Cape; namanya Lucy. Karena tinggal sendirian, David rutin mendatangi pelacur bernama palsu Soraya – yang usianya seumuran Lucy –  setiap Kamis siang.

Suatu hari di jalan, David tidak sengaja melihat Soraya bersama – yang ia duga sebagai – dua anak lelakinya. Baik David ataupun Soraya sama-sama tidak sengaja bersitatap. Hari Kamis berikutnya, mereka berjumpa lagi. Soraya bilang ia harus merawat ibunya yang sakit sehingga tidak bisa menemui David sampai ibunya sembuh.

David melpon agent prostitusi penyalur Soraya. Tapi mereka bilang Soraya sudah resign dan mereka tidak bisa memberikan David kontak Soraya. Akhirnya, David menyewa detektif untuk mencari informasi tentang Soraya. David pun berhasil menelpon Soraya. Namun hanya penolakan yang didapatinya. Mungkin Soraya merasa insecure karena David – orang asing dan istilahnya hanya “menyewa” tubuhnya, tahu tentang kehidupan pribadinya; yaitu kedua puteranya.

David tidak menghubungi Soraya lagi. Dia mencari Soraya yang lain. Tapi tidak ada yang seperti Soraya sebelumnya. Sebagai seorang womanizer, David pun mencari sosok lainnya. Dia bahkan tidur dengan sekertarisnya. Ckckck

Masalah datang ketika David tertarik kepada salah satu mahasiswinya di kelas. Mulanya, ia mengundang mahasiswi bernama Melanie Isaacs itu untuk minum teh bersama di apartemennya. Tiap kali Melanie pamit pulang, David selalu menarik perhatiannya dengan ajak masak bareng dan dinner, dengerin musik. Jika membayangkan posisi Melanie, memang agak sulit ya. Di satu sisi, David adalah  profesornya. Pasti sulit untuk menolak! Apalagi David mengundangnya dengan sopan. Selain itu, di samping digambarkan bahwa David adalah sosok yang tampan, professor setengah baya ini juga sangat manis sikapnya. Sebagai pembaca, saya merasakan itu ketika ia memperlakukan Melanie, hingga memperlakukan sosok-sosok lain. Mungkin Melanie merasa bersama ayahnya.

Pertemuan berikutnya, David datang ke apartemen Melanie. Tapi Melanie seolah menjaga jarak dengan David; berasalan bahwa sepupunya yang bernama Pauline akan segera datang.

Suatu hari, out of the blue, Melanie tiba-tiba datang berurai air mata ke apartemen David dan meminta izin untuk tinggal di situ. Entah kenapa, sampai kisah ini berakhir, tidak dijelaskan penyebab Melanie menangis kepada David. Yang menarik di scene ini adalah ketika David hampir saja menyebut dirinya “ayah” daripada “aku” kepada Melanie. Mengingat usia Melanie bahkan lebih muda dari putri kandungnya sendiri!

Ketika midterm exam tiba, Melanie tidak datang ke kelas David. Karena keduanya kini tidak hanya menjadi sekedar mahasiswa dan dosen, David memberikan tanda hadir atas nama Melanie dan memberinya nilai 70 untuk menyelamatkan gadis itu dari kegagalan!

Keabsenan Melanie membuat David bertanya-tanya. Apalagi ketika Melanie menyerah pada mata kuliah David. Jawaban datang ketika seorang lelaki muda berdandan ala preman bernama Ryan – yang kemudian diketahui sebagai seseorang yang terkait dengan Melanie; entah pacar atau mantan – datang ke kantor David di kampus dan mengancamnya; meminta David untuk jauh-jauh dengan Melanie. Bagai virus, hubungan antara dosen dan mahasiswi itu menyebar ke segala penjuru hingga ayah Melanie menghubungi David. Konon, Melanie ini tipe mahasiswi ‘baik’ di kampus. Ayah Melanie rasanya tidak percaya jika putrinya menyerah pada mata kuliah.

Selidik demi selidik pun dilakukan. Termasuk investigasi dari universitas. Karena scandal itu, David di expel dari kampus dan kehilangan profesinya. Ia pun pergi mengunjungi putrinya di Eastern Cape – sebuah desa di South Africa; meninggalkan isyarat penuh tanya karena bahkan ia tidak memperoleh penjelasan Melanie.

Lucy, putri David, adalah seorang lesbian yang tinggal bersama kekasihnya bernama Hellen. Keduanya bercocok tanam dan beternak di Eastern Cape. Tapi ketika David datang, Lucy sendirian karena Hellen di Johannesburg – kemudian diketahui bahwa keduanya telah putus.

Perhaps she simply prefers female company. Or perhaps that is all that lesbians are: women who have no need of men.

Meski tidak begitu dekat, hubungan David dan Lucy cukup baik sebagai ayah dan anak. David membantu Lucy mengerjakan beberapa hal; entah berkebun atau berternak. David juga berkenalan dengan beberapa warga desa seperti Petrus; seorang berkulit hitam yang membantunya mengurus lahan,  serta Bill dan Bev Shaw; pasangan suami istri yang mengurus animal walfare clinic; semacam ‘membunuh’ hewan untuk menghentikan penderitaannya – saya lupa istilah medisnya apa.

Suatu hari, datang tiga orang kulit hitam ke rumah Lucy. Sebut saja ketiganya sebagai si tinggi, nomer dua, dan bocah lelaki. Ketiganya melakukan penyiksaan kecil terhadap anjing Lucy. Lucy memanggil Petrus; tetangga yang suka bantu-bantu Lucy di lahan, tapi tidak ada balasan. Akhirnya, Lucy dan David menghadapi ketiga lelaki itu sendiri. Si tinggi ini bilang bahwa ia berasal dari desa yang tidak ada listriknya dan datang berniat untuk meminjam telepon di rumah Lucy karena saudara perempuan si tinggi mau melahirkan. Dengan sedikit curiga, Lucy dan si tinggi masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba, lelaki nomer dua pun ikut masuk ke dalam rumah, disusul dengan suara pintu dikunci. David menggendor pintu dan memanggil Lucy. Tapi tidak ada jawaban. Tahu-tahu bocah lelaki tadi kabur.

Ketika David masuk, kepalanya dipukul oleh lelaki nomer dua. David dikunci di dalam kamar mandi. Ia pun berusaha membuka pintu dan memanggil Lucy; berharap tidak terjadi apa-apa pada putri semata wayangnya. Lalu kedua lelaki kulit hitam itu membakar rambut David ketika si bocah lelaki makan es krim – IYA, di situasi genting itu. David berusaha memadamkan api di rambutnya ketika ia mendengar suara anjing-anjing Lucy ditembak dan mobil David dibawa kabur oleh ketiga kriminal tadi.

David akhirnya berjumpa dengan Lucy yang tampak berantakan. Lucy membawa David ke rumah sakit karena telinga David terbakar – seolah Lucy sendiri tidak luka apapun; dibantu oleh Ettinger dan Bill Shew tetangganya.

David dan Lucy tampak mulai membaik, meski sebetulnya sama sekali tidak. Apalagi ketika Lucy mulai bersikap dingin terhadap David dan tidak mau mengungkapkan yang sebetulnya terjadi padanya. Bahkan ketika polisi datang, Lucy sama sekali tidak menyinggung bahwa sebetulnya dia sudah diperkosa oleh tiga lelaki kulit hitam tadi. David sama sekali tidak mengerti cara berpikir Lucy. Apalagi ketika gadis itu pasrah menganggap bahwa itu yang harus dia bayar atas penderitaan ras kulit hitam di masa lampau. What the … istilahnya kalau di Indonesia ya, apa kita harus balas dendam ke Dutch, Japanese and all those colonialists during the past decades?

“…what happened to me is a purely private matter. In another time, in another place it might be held to be a public matter. But in this place, at this time, it is not. It is my business, mine alone.” – Lucy

 “What if…what if that is the price one has to pay for staying on? Perhaps that is how they look at it: perhaps that is how I should look at it too. They see me as owing something. They see themselves as debt collectors, tax collectors. Why should I be allowed to live here without paying?” – Lucy

“…why don’t you want to tell? It was a crime. There is no shame in being the object of a crime. You did not choose to be the object. You are an innocent party.” David to Lucy

“Do you hope you can expiate the crimes of the past by suffering in the present?” – David

Vengeance is like a fire. The more it devours, the hungrier it gets.

Setelah semua masalah terselesaikan, tiba-tiba Petrus muncul aja di permukaan seolah tidak terjadi apa-apa. Ketika David menyinggung keberadaan Petrus ketika peristiwa buruk itu terjadi, Petrus seolah tidak menanggapi dan masa bodoh; seolah menyembunyikan sesuatu.

Beberapa hari setelahnya, Petrus mengadakan pesta atas kesuksesannya bertani. Lucy, meski masih berduka, datang dengan gaun terbaiknya karena ikut bahagia atas Petrus. Bahkan ketika David malas datang ke pesat Petrus, Lucy memintanya datang dengan jas atau dasi aja deh kalau nggak ada.

Namun, di pesta Petrus itulah justru David dan Lucy melihat bocah lelaki yang pada ‘hari itu’ datang ke rumah mereka bersama dua lelaki kulit hitam lainnya! David berusaha ‘menyerang’ bocah lelaki itu. Tapi justru Petrus melindunginya karena si bocah lelaki bernama Pollux adalah saudara lelaki istri Petrus. David hendak nelpon polisi, tapi Lucy justru melarangnya karena tidak mau menghancurkan pesta Petrus. Sungguh deh Lucy bikin geregetan.

“If you fail to stand up for yourself at this moment, you will never be able to hold your head up again.” – David to Lucy

Hubungan keduanya pun renggang. David mengajak Lucy pindah ke Cape Town atau ke Belanda bersama ibu kandungnya untuk alasan keamanan. Tentu saja Lucy menolak karena merasa bahwa jiwanya sudah bersama Eastern Cape. Lagipula, Lucy sudah cukup dewasa dan mandiri untuk menentukan jalan hidupnya. Karena kerenggangan itu, David kembali ke Cape Town. Sebetulnya, ia tidak tega meninggalkan Lucy sih. David pun meminta bantuan Bill dan Bev Shew untuk menjaga dan mengawasi Lucy.

Life, from moment to moment, is not as before. The house feels alien, violated; they are continually on the alert, listening for sounds.

Di Cape Town, David menjumpai bahwa rumahnya sudah kemalingan juga. Barang-barangnya hilang. Meski begitu, ia tetap tinggal di sana untuk sementara waktu.

David kembali ke Cape Town setelah menelpon Lucy – yang menurutnya terdengar berbeda. Ternyata, David disambut berita buruk bahwa Lucy hamil! Dan Lucy tidak mau menggugurkan kandungannya – yang diperoleh dari tiga lelaki kulit hitam pada waktu itu. David mengajak Lucy lagi untuk pindah dan pergi dari Cape Town, apalagi setelah tahu bahwa Pollux tinggal bersama Petrus. Namun, Lucy bersikeras tidak mau pindah.

“…people are not divided into major and minor. I am not minor. I have a life on my own, just as important to me as yours is to you…” – Lucy to David

Petrus menawarkan diri untuk menikahi Lucy biarpun dia sudah punya dua istri – demi alasan keamanan. Dan Lucy pun menyetujuinya. Sebagai ayah, David bisa apa ketika putrinya sudah bersikeras sedemikian rupa…

“But I say to myself, we are all sorry when we found out. Then we are very sorry. The question is not, are we sorry? The question is, what lesson have we learned? The question is, what are we going to do now that we are sorry?”

“It gets harder all the time, Bev Shaw once said. Harder, yet easier. One gets used to things getting harder; one ceases to be surprised that what used to be hard as hard can be grows harder yet.”

24 chapters yang benar-benar bikin gonjang-ganjing membayangkan masa itu. Masih sedih untuk David dan Lucy sih. Tapi biarlah penderitaan mereka dijadikan pelajaran bahwasanya hidup memang bagai roda yang berputar. Pelajaran juga untuk David agar mampu memposisikan diri sebagai ayah Melanie. Ya, meski David tidak secara jelas memperkosa Melanie, ia setidaknya sudah menyalahgunakan posisinya sebagai seorang dosen. Too much disgrace, eh?

“Too many people, too few things. What there is must go into circulation, so that everyone can have a chance to be happy for a day.”

“Count yourself lucky to have escaped with your life. Count yourself lucky not to be a prisoner in the car at this moment, speeding away, or at the bottom of a donga with a bullet in your head.”

Iklan

5 thoughts on “[Review Novel] Disgrace

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s