[Review Buku] Writing from South Africa

waterstones

Waterstone

Judul Buku : Writing from South Africa

Penulis : Herman Charles Bosman, William Bloke Modisane, Henry Nxumalo, D Can Themba, Ezekiel Mphahlele, Alan Paton, James Matthews, Mothrobi Mutloatse, Richard Rive, Bessie Head, Gladys Thomas, Damon Galgut, Abel Phelps, Deena Padayachee, Merle Colborne, Nadine Gordimer, Normavenda Mathiane.

Editor : Anthony Adams, Ken Durham

Penerbit : Cambridge University Press

Tahun : Cetakan I, 1995

Jumlah Halaman : 137 hlm (17 cerita pendek)

This anthology celebrates and explores the particular qualities of the writing of a nation. It is a collection of modern South African short stories charting the progress of South Africa  in the twentieth century. Writers are drawn from the different racial groups, including several stories and authors who have been ‘banned’ in South Africa in past years. South Africa’s culture, peoples, background and languages are explored, demonstrating the wide range of reactions to the experience of apartheid – violent, ironic and hopeful. The stories are illustrated by a collection of South African photographs and are each given a short introduction. A general foreword and glossary are included to guide students through anthology.

UNTO DUST – Herman Charles Bosman

Alive, you couldn’t go wrong in distinguishing between a white man and a kaffir. Dead, you had great difficulty in telling them apart. (p.5)

Kaffir (racial term) artinya kulit hitam.

Clip pendek cerpen : https://www.youtube.com/watch?v=7jP6Rs8PjIg

Cerpen ini menceritakan tentang equality atau persamaan kedudukan. Tokoh aku adalah orang kulit putih yang melihat orang kulit hitam membunuh temannya – Hans Welman – yang merupakan orang kulit putih juga. Melihat Hans Welman dibunuh, tokoh aku pun membunuh si kulit hitam dan pergi. Mayat Hans Welman dan kulit hitam dibiarkan saja berdampingan; ditemani oleh anjing peliharaan si almarhum kulit hitam.

Enam bulan kemudian, tokoh aku berniat untuk menguburkan jenazah Hans Welman yang tentu saja sudah jadi tengkorak. Tapi, tokoh aku kesulitan membedakan mana tengkorak Hans Welman dan mana tengkorak si kulit hitam. Akhirnya, tokoh aku memilih tengkorak yang tampak lebih putih untuk dikuburkan. Setelah pemakaman selesai, tokoh aku ini melihat anjing milik almarhum si kulit hitam. Artinya, ada kemungkinan bahwa tokoh aku juga menguburkan tengkorak si kulit hitam di dalam makam Hans Welman karena anjing dianggap lebih mampu membedakan.

Intinya adalah, toh ketika kita meninggal, semua dari kita akan menjadi seonggok tengkorak yang tidak ada bedanya dengan yang lain. Jadi, untuk apa rasis? Apa harus menunggu mati dulu untuk mengedepankan persamaan kedudukan?

THE DIGNITY OF BEGGING – William Bloke Modisane

Tokoh utama dalam cerpen ini adalah Nathaniel, seorang kulit hitam yang berprofesi sebagai pengemis. Dia ini sama seperti pengemis lainnya, sudah sering dimasukkan ke pusat rehabilitasi. Namun hasilnya, tetap aja balik menjadi pengemis. Soalnya menurut mereka, mengemis itu hasilnya lebih menjanjikan daripada kerja di luar mengemis yang bisa dia lakukan.

Why must I take a job when I can earn twice a normal wage begging? (p.9)

Within two years I had begged well over a hundred pounds. (p.10)

Si Nathan itu udah beberapa kali ketangkap polisi. Setelah dibebaskan, tetap aja ngemis sampai buat polisi geram. Suatu hari, dia ditangkap dan ditahan. Sebulan kemudian, Nathan dapat kabar bahwa nasib keluarganya semakin memburuk setelah dia tinggalkan; anak laki-lakinya meninggal dan landlady-nya mengancam mau jual barang-barangnya sekeluarga gara-gara Nathan belum bayar sewa rumah selama dua bulan. Nathan khawatir kalau landlady bakal menjual pianonya juga.

That piano means everything to me, nobody is going to cheat me of it. It is the one concrete proof that I can work for what I want, just like any other man;  it represents my entire life. (p.14)

Piano kebanggaannya; yang berhasil dia beli dengan mengemis. Nathan sangat bangga akan itu. Bahkan hatinya buncah ketika dia berhasil memamerkan uang sebesar £183 kepada ayahnya – yang merupakan uang hasil mengemis juga, dan si ayah terlihat bangga.

THE BIRTH OF A TSOTSI – Henry Nxumalo

I think the best way not to start stealing and stabbing is not to make friends with a boy who has got a bad spirit. He says to you, “What a fool you are. You only can make a few pounds a month while I can get  £50 a day and all the girls I want.” (p.22)

Tsotsi bisa diartikan sebagai preman jalanan dalam bahasa Africans.

No education, no work, or no pass – that means that a young man must live by night and not by day – and that makes criminal. (p.17)

Sibanibani adalah tokoh utama dalam cerpen ini. Berasal dari kelurga kelas bawah karena ayahnya entah kemana dan ibunya suka menyeduh minuman keras, Sibanibani tumbuh besar menjadi kriminal.

Cerpen ini bisa dibilang menjelaskan arti Tsotsi yang sebenarnya; runtut peristiwa bagaimana Tsotsi melakukan kejahatan dan alasan yang melatarbelakanginya.

MOB PASSION – D Can Themba

Tokoh utama dalam cerpen ini adalah Linga Sakwe – dari suku Xhosa (seorang Letebele) dan Mapula – dari suku Sotho (seorang Rusia). Ceritanya mirip Romeo dan Juliet. Linga dan Mapula suka ketemuan diam-diam supaya keluarganya tidak tahu. Alasannya, Xhosa tidak boleh bersama Sotho.

Suatu hari, Thabo, saudara Mapula hendak melaporkan hubungan Mapula dan Linga ke  Ra-Thabo – ayah mereka. Tapi ternyata ayah mereka dilukai Letebele. Kedua paman mereka – Alpheus dan Frans, merencanakan balas dendam kepada Leteble dan membumbuinya dengan kisah cinta Linga dan Mapula, juga. Supaya suku Sotho semakin marah.

Singkat cerita, Linga tertangkap dan dibunuh oleh paman Alpheus. Mapula yang cinta mati pun mengambil kapak dan membunuh pamannya sendiri, tepat di dada.

Cinta itu bisa bikin orang gila, ya.

FANYAN – Ezekiel Mphahlele

“When you want to live, then you’ve got to have a tough heart.” (p.36)

Bercerita tentang anak laki-laki kulit hitam berusia 18 tahun bernama Fanyan yang sangat polos, lemot dan punya ketakutan besar terhadap polisi hingga membuat ayahnya jantungan. Poin penting dalam cerpen ini adalah singgungannya dengan era apartheid yaitu penggunaan Pass Laws di Afrika Selatan. Jadi, orang kulit hitam di Afrika Selatan waktu itu wajib membawa pass – semacam paspor/ID card – kemana-mana. Suatu hari sepulang sekolah, si Fanyan ini lupa membawa pass sehingga harus ditahan. Ayahnya menebus Fanyan dengan uang.

“One of these days that boy’s going to scream in front of a policeman like a goat about to give birth.” (p.39)

Suatu hari Fanyan disuruh Seleke mengambil “barang” dari Shigumbu. Sayangnya, Fanyan melihat polisi ketika berada di jalan. Karena panik duluan, si Fanyan mencoba kabur. Tapi, polisi lebih lincah menangkapnya. Setelah menemukan bahwa yang “barang” dibawa Fanyan adalah Dagga – marijuana, polisi membawa Fanyan ke rumahnya. Ayah Fanyan mengatakan bahwa Fanyan bukan putranya, dan langsung pingsan.

Berita tentang Fanyan membawa Dagga tersebar. Namun Shigumbu berhasil memyuap polisi sehingga berita yang tersebar bukan Fanyan membawa Dagga, tetapi Fanyan membawa herbal.  Hal ini dilakukan Shigumbu untuk menyelamatkan dirinya dan Seleke.

A DRINK IN THE PASSAGE – Alan Paton

Tokoh utama dalam cerpen ini adalah seorang pemahat kulit hitam bernama Edward Simelane yang menjuarai Golden Jubilee yang diadakan oleh Union of South Africa atas pahatannya berjudul ‘African Mother and Child’.

Alabaster Bookshop di Von Brandis Street memajang pahatan itu. Suatu malam ketika Edward memandangi hasil pahatannya, ada orang kulit putih bernama van Rensburg yang mendekat dan menanyai pendapatnya tentang pahatan tersebut – tanpa tahu bahwa dia adalah Edward Simelane, sang pemahat.

Setelah percakapan singkat di depan Alabaster Bookshop, van Rensburg mengundang Edward – yang saat itu mengaku namanya Vakalisa – untuk mampir ke rumahnya. Meskipun pada lift lantai bawah rumah van Rensburg tertulis “Whites only. Slegs vir Blankes”.

Van Rensburg bilang, dia iri pada Vakalisa a.k.a Edward karena dia sarjana sastra. Van Rensburg sendiri ingin kuliah sastra tapi tidak bisa, karena orang tuanya meninggal. Cita-citanya memiliki tokoh buku sendiri pun pupus. Van Rensburg bilang, andai dia punya toko buku, dia pun pasti akan memajang pahatan ‘African Mother and Child’ itu juga.

Well honestly I didn’t feel like a drink at that time of night, with a white stranger and all, and me still with a train to catch to Orlando.

“You know we black people must be out of the city by eleven.” (p.43)

I was thinking that one of the impersonal doors might open at any moment, and someone might see me in a “white” building, and see me and van Rensburg breaking the liquor laws of the country. (p.44)

Sepanjang perjalanan menuju rumah van Rensburg hingga ke stasiun untuk pulang ke Orlando, saya bisa merasakan ketakutan Edward. Kenyataannya, keluarga ‘whites’ itu menjamunya dengan sangat baik, bahkan iri padanya! Sesuatu yang bagi ‘blacks’ zaman itu tidak umum. Edward selamat sampai di rumahnya di Orlando.

Cerpen ini adalah salah satu favorit saya. Soalnya saya pikir, cerita ini akan diakhiri dengan Edward ditangkap karena berada di kawasan ‘whites’.

Sebuah pahatan… mampu menyatukan dua hati yang sama-sama kesulitan menyentuh karena aturan yang ada.

Mungkin saya tidak mampu merasakan penderitaan black African pada era apartheid. Tapi melihat ini https://www.youtube.com/watch?v=FsHkE-Rt_w4 membuat saya sedih. Andai semua orang saat ini seperti apa yang disarankan ibu Edward :

My mother used to say to me, when I had said something anti-white, “Son, don’t talk like that, talk as you are.” (p.44)

Mengapa tidak memaafkan dengan cara mengentikan rasis? Bukankah membalas dendam sama saja dengan melanjutkan kejahatan – yang dalam hal ini rasis?

THE PARK – James Matthews

He looked at them and his body trembled and ached to share their joy. (p.49)

Ini juga cerpen favorit saya. Menceritakan tentang seorang anak laki-laki kulit hitam yang ingin sekali bergabung di taman bermain anak-anak kulit putih. Tapi sayang, warna kulit membatasi kebahagiannya. Ia pernah mencoba masuk, tapi petugas – yang juga berkulit hitam – mengusirnya. Sebetulnya, petugas tersebut ingin membiarkan anak kulit hitam itu bermain, tapi ia takut kehilangan pekerjaannya. Akhirnya, anak kulit hitam pun pergi.

“The council say,” he continued, “that us blacks don’t use the same swings as the whites.” (p.50)

What harm would I be doing if I were to use the swings? Would it stop the swings from swinging? Would the chute collapse? The bundle pressed deeper and the pain became an even line across his shoulders, and he had no answer to his reasoning. (p.50)

Si anak kulit hitam ini biasanya lewat taman tersebut dari dan setelah mengantarkan cucian untuk Madam – kulit putih, dari ibunya yang buruh cuci. Suatu ketika Madam pergi ke luar sementara dan tidak akan mencuci pakaian ke ibunya selama seminggu, si anak menjadi sedih karena tidak akan melintasi taman tersebut. Ia pun memutuskan untuk bermain di taman anak-anak kulit putih di malam hari; mencoba berbagai macam permainan. Namun, ia tertangkap oleh petugas tadi.

THE TRUTH, MAMA – Mothrobi Mutloatse

“Well children… the truth is,” she heard herself say, not believing that the words were really coming, “your father is, in fact, at Modder Bee Prison.”

“And so he’s a criminal,” Busi let go.

“No, he’s not actually.”

“You know, as well as everybody does, that he was a teacher – until he resigned in protest against this monster that is Bantu Education, together with more than three hundred other teachers.” (p.63)

Cerpen ini menceritakan tentang seorang ibu yang kesulitan menjelaskan kepada anaknya tentang ayah mereka yang ditahan karena posisinya sebagai guru yang menolak Bantu Education Act; yang berisi pemisahan fasilitas  pendidikan berdasarkan ras/warna kulit pada era apartheid.

THE MAN FROM THE BOARD – Richard Rive

“Mr Jacobs. You realise you are living in a white area.”

“Yes?”

“By law you are not allowed to live here. It’s illegal.” (p.69)

Tokoh utamanya adalah Isaac Jacobs, seorang dosen – coloured (campuran antara orang kulit hitam dan putih) – yang diperintahkan untuk pindah ke area lain karena tempat tinggalnya adalah area untuk “White Only’.

Cukup mengerikan sebetulnya; pemerintah bahkan memilihkan dengan siapa kamu harus berteman dan menjadi tetangga.

Tapi, saya cukup dibuat tertawa menyimak percakapan Isaac Jacobs dan J.M. Bredenkamps – petugas pemerintah untuk pemisahan area white, coloured dan black.

THE PRISONER WORE GLASSES – Bessie Head

As political prisoners they were unlike the other prisoners in the sense that they felt no guilt nor were they outcasts of society. (p.70)

Cerpen ini menceritakan 10 tawanan yang berisikan para politisi kulit hitam. Satu di antaranya adalah tawanan yang memakai kacamata; disebut Brille – seorang guru yang kemudian menjadi politisi karena himpitan ekonomi.

“… and a teacher’s salary never allowed moving to a bigger house…” (p.77)

Sepuluh tawanan ini selalu saja berulah sehingga sipir – petugas yang mengawasi narapidana – selalu berganti tiap minggu. Saat itu sipir mereka bernama Jacobus Stephanus Hannetjie. Dia berbeda dari sipir lainnya. Biasanya setelah Brille mengunyah kubis dan meludahkannya ke kaki sipir, sipir-sipir itu sudah akan menyerah. Tapi tidak dengan Hannetjie. Dia bahkan memukul kepala Brille dengan semacam tongkat kayu.

Hari berikutnya, Hannetjie melihat Brille mencuri anggur. Brille pun dimasukkan ke sel isolasi.

Berminggu-minggu setelahnya, Brille tidak sengaja melihat Hannetjie mencuri pupuk di gudang. Hannetjie membungkam mulut Brille dengan tembakau. Tapi, Brille tetap melaporkan Hannetjie hingga dia didenda banyak uang.

Suatu hari, Brille tertangkap karena sedang merokok tembakau di halaman penjara. Brille bilang bahwa tembakau itu didapatnya dari Hannetjie. Sipir tersebut tentu saja kesal dan melakukan perundingan dengan Brille. Akhirnya, mereka berdua memutuskan untuk kerjasama.

“Prison is an evil life… It makes a man contemplate all kinds of evil deeds.” (p.78)

ONE LAST LOOK AT PARADISE ROAD – Gladys Thomas

“We must live like this because we are of the wrong colour, Mother.” (p.89)

Cerpen ini menceritakan sisi kehidupan seorang ART bernama Miriam yang bekerja untuk Madam.

Suatu hari, dia mendengar berita dari radio akan adanya kericuhan dalam parade oleh ras kulit hitam yang meminta pembebasan Nelson Mandela. Dikatakan bahwa polisi telah menggunakan gas air mata dan menahan beberapa orang. Miriam segera bergegas menuju township – kota tempat dia tinggal; melupakan pekerjaannya di rumah besar Madam demi keluarganya karena parade itu ada di daerahnya.

Ternyata, Steve dan Fassie putranya yang masih SMA dalam pengejaran polisi gara-gara ikut parade tersebut.

Setelah suasana terkendali, Miriam kembali ke Paradise Road; ke rumah Madam. Rupanya, Madam sudah memiliki ART baru. Miriam yang dipecat pun kesal bukan main dan kembali ke township.

Cerpen 13 halaman ini menjelaskan dengan mendetail baik setting tempat ataupun suasana yang membuat hati bergetar. Meski begitu, di sisi lain, bagaimana Miriam menghabiskan hari terakhirnya di rumah Madam cukup melegakan sekaligus menjengkelkan.

On the table she saw a tempting cream cake topped with red cherries – Master’s favourite nightcap! She cut a slice, then another and another – she could not stop eating.

Suddenly she remembered that Madam had a bad habit of accusing her servants of stealing. She took a piece of writing paper from the kitchen cupboard drawer and wrote a message to Madam. “I ate the cake and enjoyed it, Madam.” She pushed the note into the cream  of the  leftover cake. On her way out she greeted the new maid. “Poor girl,” she said to herself.

SHADOWS – Damon Galgut

Bagaimana penulis melakukan ‘show’ instead of ‘tell’ sangat keren. Saya sangat menikmatinya. Jadi ingat tulisan Ahmad Fuadi atau Andrea Hirata; mengalir dan indah. Saya juga sama sekali tidak menyangka bahwa tokoh aku dalam cerpen ini adalah laki-laki, sampai muncul kalimat yang ditujukan kepadanya :

“… Why don’t you play sport like other boys?” (p.99)

Cerpen ini menceritakan tentang tokoh aku dan Robert yang pergi bersepeda ke danau untuk melihat gerhana. Kedua tokoh ini tampak sebagai sosok berbeda. Robert dengan sosok superior ekstrovert; dia yang mengajak tokoh aku melihat gerhana, mengajak membuat api unggun dan mengumpulkan kayu, bersepeda di depan, memiliki banyak teman, dls. Sedangkan tokoh aku lebih introvert tampaknya; lebih suka di rumah, keluar pun hanya dengan Robert sampai-sampai orang tuanya menyuruh tokoh aku untuk berbaur dengan anak laki-laki selain Robert.

Konflik yang latar belakangnya masih menjadi rahasia adalah penyebab mengapa Robert tidak menyukai keluarganya. Padahal menurut tokoh aku, keluarga Robert sempurna karena Robert punya saudara laki-laki dan rumah besar. Sedangkan tokoh aku, dia tidak punya saudara.

Konflik berikutnya adalah ketika tokoh aku tampak kesal ketika Robert menyebutkan nama seorang perempuan. Bagaimana tokoh aku menggambarkan emosinya seolah cukup menjelaskan bahwa dia sangat menyayangi Robert dan takut kehilangannya.

Yang jadi pertanyaan adalah sangkut pautnya dengan apartheid – mungkin saya kurang peka. Disebutkan bahwa Robert berkulit cokelat dan tokoh aku berkulit gelap. Artinya, Robert berasal dari ras coloureds sedangkan tokoh aku, antara coloureds dan blacks. Maka dari itu, ibu tokoh aku seolah ingin tokoh aku bersama teman sekalin Robert. Tapi entahlah… cerpen ini got me really puzzled dah.

HEAD WORK – Abel Phelps

“It’s not going to be easy for us. I just wish I was white, real white, then I’d show them.” (p.105)

Ini agak lucu sih. Jadi ceritanya tentang coloured man bernama Klaas Martello yang sudah bekerja di pabrik selai selama 17 tahun. Namun karena parbrik suatu hal, Klaas terpaksa dikeluarkan dari pekerjaannya. Ia pun menggalau lantaran tidak mudah bagi coloured man untuk dapat pekerjaan bagus.

Saudara tiri istrinya –  Gertie Mayer yang seorang hairdresser – bilang bahwa seseorang bisa menjadi apapun hanya dengan wig. Katanya :

“I reckon if Klasie got a wig he could even get a job as Prime Minister.” (p.105)

Soalnya, orang coloured dan white memang tidak begitu berbeda. Ada coloured yang tampak seperti white, ada juga white yang tampak seperti coloured. Dengan satu sentuhan, seseorang bisa berpindah dari satu grup ras ke grup yang lain.

Keesokannya, Gertie mengirimkan Klaas sebuah wig supaya tampak seperti white man.

Klaas mendenger kabar tentang seorang porter di Hotel Masonic yang dipecat karena mencuri brandy. Klaas pun mencoba melamar pekerjaan di situ. Tapi ternyata, pemilik hotel itu –Mr. Goldman – membutuhkan porter dari ras coloured. 😀

Klaas kembali menumbuhkan rambut aslinya dan Mr. Goldmen menerimanya.

Bekerja sebagai porter membuat Klaas merasa lebih dihormati. Bahkan orang-orang suka menyapanya, termasuk white people.

“Don’t be ashamed of being a servant. Everyone in the hotel is a servant; the purpose of a hotel is to give service. Be a proud servant.” (p.107)

Suatu hari, Klaas mengantarkan anak pimpinan Asosiasi Petani Buah ke rumah. Pimpinan tersebut sangat berterima kasih dan ingin balas budi. Klaas meminta pimpian tersebut untuk mengadakan pesta dansa di Hotel Masonic, karena itulah yang diinginkan Mr. Goldman. Akhirnya hal itu terwujud dan Mr. Goldman menaikkan jabatan Klaas.

“… we reckon we have one of the smartest coloured porters in the whole Western Province. But that’s a big joke. He isn’t really a coloured man at all! Show her, Klaas, how that’s a wig you are wearing.” (p.108)

Ketawa kan 😀 Klaas menjelaskan kepada Mr. Goldman bahwa dia tidak memakai wig. Dan inilah yang dikatakan Mr. Goldman – bikin terharu dah.

“But I remember when you first came here…” He shook his head. “You’ve got me really puzzled. Ag, but what does it matter? It’s a man’s heart that counts, not his hair….” (p.108)

THE VISITOR – Deena Padayachee

Cerpen ini menceritakan tentang peristiwa jam 11 pagi tanggal 16 Agustus 1985 di Phoenix Ashram – tempat bertapa di luar Durban, Afrika Selatan.

Diceritakan pada peristiwa ini ketika si tokoh aku sedang mengambil barang-barang dari rumah tua bekas pertapaan, datanglah seorang lelaki tua yang digambarkan fisiknya seperti Mahatma Gandhi; mulai dari berkacamata, berkepala botak dan kurus – tanpa menyebutkan namanya.

Ketika semua orang mengambil barang berharga, lelaki ini hanya mengambil buku yang pada halaman depannya tertulis ‘M K Gandhi, An Autobiography’. Tokoh aku heran dibuatnya.

Kedua tokoh ini – tokoh aku dan tokoh yang digambarkan seperti Mahatma Gandhi – sempat melakukan beberapa diskusi hingga tokoh seperti Gandhi pergi. Namun, kepergian Gandhi yang damai menyisakan chaos.

The peace seemed to suffuse you and calm you no matter what the turmoil in your soul. Till that day when we looted the place. (p.112)

Saya sendiri agak bosan membaca cerpen ini. Yang saya tangkap sih tentu saja tidak jauh-jauh dari ide gerakan kemerdekaan melalui aksi demonstrasi damai yang diusung oleh Mahatma Gandhi. Di cerpen ini, tokoh yang diilustrasikan mirip Gandhi itu juga digambarkan sebagai sosok yang membawa kedamaian kehadirannya karena sikapnya yang tenang – di tengah keramaian orang Afrika Selatan yang mengambil barang-barang dari rumah pertapaan.

Saya pikir kita akan membutuhkan pengetahuan dasar untuk memahami cerpen-cerpen dalam buku ini. Semisal saja pada cerpen berjudul ‘The Visitor”. Saya tidak akan memahami cerpen ini tanpa setidaknya tahu peranan Mahatma Gandhi di Afrika Selatan ataupun jika memang nyata, peristiwa 16 Agustus 1985 di luar Durham, Afrika Selatan… soalnya kan Mahatma Gandhi meninggal pada tahun 1948. Jadi…

SOME OTHER ELSEWHERE – Merle Colborne

Cerpen ini menceritakan tentang keluarga Mary. Ayahnya berasal dari Afrika Selatan, dan ibunya Irlandia. Mereka tinggal di Irlandia. Hari demi hari, ayahnya tampak merindukan Afrika Selatan. Bahkan melihat orang kulit hitam di jalan, hati ayahnya sudah buncah bukan main. Akhirnya, mereka – ayah, ibu, dan Mary – pindah ke Afrika Selatan. Kehidupan tentu saja berubah.

And Mother Ireland was never so much loved as when she loved from a distance… where her damp kisses and her strange possessive love that left no energy for other passions sat more lightly on her soul. (p.115)

Ibu Mary sangat merindukan Irlandia. Ketika St. Patrick’s Day dan orang-orang Irlandia mengenakan baju berwarna hijau, dia justru memakai baju warna hitam tanda berkabung. Dia merasa depresi merindukan Irlandia hingga jatuh sakit dan suka mengurung diri di kamarnya. Ayahnya pun lebih sering meneguk alkohol.

… that the prettiest flower is often poisonous and the plumpest portions of happiness usually contain a kernel of sorrow. (p.116)

And so she learnt to carry her country within her and bear the loneliness of the crowd. (p.118)

THE MOMENT BEFORE THE GUN WENT OFF – Nadine Gordimer

Suatu hari, petani kaya Marais Van der Vyver mengajak salah satu anak buahnya, Lucas – kulit hitam, untuk berburu kudu. Ketika Van der Vyver mengendarai mobil, Lucas berdiri di atas mobil untuk mengamati kudu. Hari itu Van der Vyver membawa senapan almarhum ayahnya yang sudah tersimpan lama di lemari. Alasannya, senapan Van der Vyver dicuri ketika berada di kota. Dia pun mengambil senapan milik ayahnya tanpa mengecek kembali karena sewaktu kecil dahulu, ayah Van der Vyver selalu mengajarinya agar tidak menyimpan senapan yang terisi ketika berkendara ataupun di rumah.

Ketika Lucas melihat kudu di sisi kiri, dia segera menginformasikan kepada Van der Vyver dengan hentakan tangan di atap mobil. Van der Vyver mempercepat laju mobilnya hingga terjadi goncangan yang membuat senapan dalam posisi berdiri itu melepaskan tembakannya ke atas, tepat mengenai kepala Lucas hingga dia terjatuh. Mulanya, Van der Vyver mengira Lucas sengaja lompat dan menjatuhkan badannya. Namun ketika ada banyak darah disekujur Lucas, Van der Vyver langsung lemas.

… he and the black man will become those crudely drawn figures on anti-apartheid banners, units in statistics of white brutality against the blacks… (p.119)

There will be an inquiry; there had better be, to stop the assumption of yet another case of brutality against farm workers, although there’s nothing in doubt- an accident, and all the facts fully admitted by Van der Vyver. (p.121)

Atas kepentingan politik pihak-pihak tertentu, tidak akan ada yang percaya bahwa Van der Vyver menembak bocah kulit hitam itu tanpa sengaja. Padahal, Van der Vyver menangis jadi-jadian ketika membawa bocah itu ke kantor polisi. Dan ternyata, bocah laki-laki itu adalah anak dari Van der Vyver dengan perempuan kulit hitam yang orangtuanya sudah bekerja pada keluarga Van der Vyver sejak Marais Van der Vyver masih kecil. Jadi, Van der Vyver menyayangi bocah itu –terbukti dengan mengajari bocah itu banyak hal tentang bertani dan menggunakan mesin- dan sangat berduka atas kematiannya. Tapi tidak ada yang percaya. Meski toh Van der Vyver melaporkan dirinya langsung, hingga membiayai proses pemakaman bocah itu.

Cukup miris ya. Ketika politik sudah dimainkan, apapun bisa dipelesetkan.

LABOUR PAINS – Normavenda Mathiane

Cerpen dibuka dengan adanya seorang ibu muda hamil tua di dalam taksi. Menurut prediksi dokter, ibu ini akan melahirkan sebulan kemudian. Namun siapa sangka, ibu muda ini melahirkan saat itu juga di dalam taksi dan dibantu oleh sekelompok ibu-ibu yang saling tidak mengenal.

Penulis mengibaratkan kemerdekaan suatu negara, yang dalam hal ini Afrika Selatan, tidak jauh kasusnya dengan peristiwa ibu hamil yang melahirkan. Proses panjang dan penuh perjuangan, tidak terduga kapan akan terjadi (melahirkan ataupun merdeka) entah siap atau tidak siap,

A new society is not born by magic. It moves at its own pace. It determines the pace. It takes shape according to the specifics of its needs. For some countries the period was much shorter. Ours (South Africa) seems to take an eternity. (p.128)

 

Iklan

2 thoughts on “[Review Buku] Writing from South Africa

  1. cerpennya unik-unik. Punya kesan bagus banget lagi! Apalagi yg diawal itu. ‘Apa harus menunggu mati dulu untuk mengedepankan persamaan kedudukan?’ Wih dalem bangettt ya Kak. Oh ya Kak Nae saya kirim email. Tolong dicek ya 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s