[Resensi Buku] The Street Lawyer

Paperback Swap

Judul Buku : The Street Lawyer

Penulis : John Grisham

Penerbit : Arrow Books

Tahun : 1998

Jumlah Halaman : 358 hlm.

Michael was in a hurry. He was scrambling up the ladder at Drake & Sweeney, a giant Washington law firm. The money was good and getting better and a partnership was three years away. He was a rising star, with no time to waste, no time to stop, no time to toss a few coins into the cups of panhandlers, no time fora conscience.

But a violent encounter with a homeless man stopped him cold. Michael survived, his assailant did not. Who was this homeless man? Michael did some digging and found a dirty secret and the secret involved Drake & Sweeney.

Soon Michael was in the secret, a thief, on the run from the very dreams he once valued above everything else.


“No one does it better than Grisham. This latest novel is as unputdownable as ever.”

Charles Spencer, Sunday Telegraph

“Fluent and fascinating. Few writers have so much to say, the skills to make reading what they say it to an audience of millions.”

Mat Coward, Independent

“The Street Lawyer opens with the best scene Grisham has ever put on paper.”

John Sutherland, Sunday Times

“Compelling … Grisham is more adept at getting the reader to turn the page than almost any writer working today.”

John Diamond, Daily Mail


Jadi, hari Minggu kemarin saya solo-backpacking ke Paris dan sengaja mampir ke Shakespeare and Company bookstore di dekat katedral Notre-Dame. Keren banget tempatnya. Sayang, saya nggak sempat foto dalamnya karena terlalu penuh pengunjung. Akhirnya foto depannya aja deh! Di sini saya nggak sengaja nemu buku The Street Lawyer karya John Grisham.

DSCN1096

dokumen pribadi

Sebetulnya, udah tahu John Grisham sejak SMA. Saudara saya yang berprofesi sebagai pengacara memberikan ebooks John Grisham karena waktu itu saya sempat tertarik untuk kuliah Hukum. Tapi, saya kurang suka ebooks. Akhirnya, cuma kelarin beberapa halaman buku A Time to Kill deh.

Karena kebetulan kemarin ketemu karya John Grisham, harga murah dan dari Shakespeare and Company bookstore Paris, saya pun tanpa ragu membelinya. Apalagi setelah membaca halaman depan. Ini adalah salah satu buku yang saya beli tanpa mempertimbangkan cover dan sinopsis. Jarang-jarang lho.

Novel ini menceritakan tentang kehidupan Michael Brock, seorang pengacara dengan gaji fantastis di perusahan hukum besar di Washington D.C. bernama Drake & Sweeney.

Suatu hari, ia berada dalam satu lift dengan seorang yang – ia duga tunawisma berdasarkan penampilan dan baunya – bernama DeVon Hardy.

Sejak saat itu, kehidupan Michael Brock tidak sama lagi.

Ketika Michael hendak masuk ke ruangannya, terjadilah tembakan yang ternyata dilakukan oleh DeVon Hardy. Ia lalu menyandera 9 pengacara termasuk Michael di sebuah ruang konferens di kantornya sendiri.

Hardy tidak membunuh siapapun. Ia hanya … anggaplah cuma sekadar memberikan ceramah atas betapa rakusnya orang-orang kaya dan memberi gertakan. Tunawisma atau homeless tidak punya tempat tinggal. Kadang tinggal di bangku taman, kolong jembatan, mobil, bangunan liar; bertarung dengan musim panas ataupun dingin, serta kerasnya hidup di jalanan. Sedangkan orang kaya, bahkan menghabisnya banyak uang yang tidak perlu untuk membeli/menikmati sesuatu bukan atas hal kebutuhan, namun demi prestis semata.

“You spend more on fancy coffee than I do on meals. Why can’t you help the poor, the sick, the homeless? You have so much.” (p.13-14)

“…he gets arrested for sleeping under a bridge, but everybody’s got to sleep somewhere. He’s guilty because of the city council, in it’s brilliance, has made it a crime to be homeless.” (p.165)

Beberapa waktu kemudian, setelah melalui proses penyanderaan dan penyelamatan yang panjang, para sandera terselamatkan. Tapi, Hardy justru tertembak dan mati.

Michael penasaran atas motif dibalik penyanderaan yang dilakukan oleh Hardy. Kenapa harus perusahaan hukum, kenapa Drake & Sweeney? Kenapa di lantainya? Kenapa dengan Michael?

Ia pun mulai mencari tahu dan mendapati bahwa Hardy tinggal di sebuah ‘bangunan liar’ yang akan dibangun fasilitas pos oleh The Postal Service dengan bantuan perusahaan real estate bernama RiverOaks. Kebetulan RiverOaks adalah klien dari perusahaan hukum Drake & Sweeney. Karena waktu yang diberikan The Postal Service hanya sebulan, RiverOaks harus segera membereskannya. Pengacara dari Darke & Sweeney yang menanganinya adalah Braden Chance, dengan paralegal bernama Hector Palma. Hector ditugaskan untuk melakukan pengusiran terhadap penghuni liar di bangunan tersebut; yang salah satu penghuninya adalah Hardy. Pada kedatangan pertamanya, Hector dirampok. Kali kedua, ia datang dengan pengawalan security. Di kunjungan kedua, Hector mendapati bahwa ternyata bangunan itu tidak diisi penghuni liar, tetapi penyewa. Orang-orang yang tinggal di rumah tersebut membayar sewa kepada seseorang bernama Johnny. Tapi, untuk mempercepat proses pengusiran – karena waktunya hanya sebulan, Braden menghilangkan catatan kunjungan kedua Hector tentang penyewaan itu dan mengusir tidak sesuai prosedur. Orang-orang yang tinggal di situ tidak bisa mengelak karena mereka tidak punya bukti. Pembayaran sewa apartemen menggunakan uang cash tanpa hitam di atas putih semacam kontrak dls. Apalagi, bangunan tersebut ternyata dibeli RiverOaks dari Tillman Gantry, semacam kriminal yang dianggap bisa melakukan kekerasan untuk membungkam para penyewa tentang pembayaran sewa tiap bulan. Bahkan penyewa sendiri mengatakan bahwa mereka penghuni liar, bukan penyewa. Meski toh mereka membayar.

Dalam proses menelusuri Hardy, Michael mendapat bantuan dari seorang street lawyer – pengacara untuk tunawisma – bernama Mordecai Green, yang kemudian menjadi teman baiknya. Kali pertama Michael membantu Mordecai mebagikan makanan kepada tunawisma, Michael mendapati ibu muda bernama Lontae Burton dengan empat orang anak bernama Ontario, Alonzo, Dante, dan Temeko di sudut ruangan. Michael sempat berbincang dengan Ontario, anak pertama. Lalu menggendong Temeko ketika bayi perempuan itu menangis dan membuat tunawisma lainnya terganggu ketika sang ibu juga kebingungan menenangkannya. Mordecai mengganti diapers Temeko yang ternyata basah – penyebab Temeko menangis. Di samping, ia juga kedinginan.

Michael tersentuh. Ia membeli perlengkapan untuk anak-anak Lontae Burton. Tapi keluarga kecil itu sulit dihubungi keesokannya. Apalagi, tunawisma kan tidak tinggal di tempat yang sama setiap saat.

Keesokan harinya, Michael membaca di surat kabar bahwa Lontae Burton sekeluarga membeku kedinginan dan meninggal di dalam mobil ketika ada badai salju. Michael sangat terpukul. Jiwanya sudah terkoneksi dengan keluarga Burton.

Michael memperoleh informasi bahwa Hardy dan Burton tinggal di gedung yang sama sebelum diusir oleh security dari Drake & Sweeney, yang menyebabkan Burton sekeluarga terpaksa tidur di mobil rusak sampai meninggal.

Setelah Hector yang sadar akan pelanggaran yang telah dilakukan Braden tahu bahwa Michael sedang menelusuri kasus itu diam-diam, Hector membantu Michael dengan memberikan kunci ruangan Braden!

Karena sudah barang tentu Braden tidak akan memberikan berkas pengusiran kepada Michael – karena rahasia dengan klien, Michael pun berniat ‘meminjam’ berkas itu diam-diam, memfotokopinya, mengembalikan berkas orisinil dan mempelajari kopiannya. Sayang, ketika sedang dalam perjalanan memfotokopi berkas – dilakukan di luar kantor supaya tidak ada yang tahu – Michael mengalami kecelakaan mobil dan harus dirawat di rumah sakit. Rencana Michael mengembalikan berkas itu tanpa Braden menyadarinya pun gagal.

Setelah invesitigasi dilakukan, Michael adalah satu-satunya yang paling sesuai sebagai pencuri berkas berdasarkan fingerprint dan bukti lain. Saat itu, Michael posisinya sudah keluar dari perusahaan hukum Drake & Sweeney dan bekerja di 14th Street Legal Clinic untuk membantu para tunawisma bersama dengan Mordecai Green, Sofia Mendoza dan Abraham Lebow. Sejak berkenalan dengan dunia tunawisma; sejak kasus penyanderaan oleh DeVon Hardy, Michael terpanggil untuk meninggalkan kekayaannya dan bekerja untuk tunawisma; yang tentu saja gajinya sangat rendah.

Kalau dibayangkan, cukup gila sih. Keluarga, teman, perusahaan, bahkan istri yang kemudian jadi mantan istrinya pun menganggapnya gila; meninggalkan karir secemerlang itu untuk kehidupan jalanan hanya karena penyanderaan beberapa saat oleh DeVon Hardy? Di antara sekian sandera, hanya Michael yang terguncang. Dan itu membuat semua orang menggelengkan kepalanya.

We got into this business because we thought the law was a higher calling.  We could fight injustice and social ills, and do all sorts of greats things because we were lawyers.

Setelah pengejaran polisi atas tuduhan pencurian berkas, Michael bahkan sempat mendekam di penjara beberapa saat yang membuat wajahnya babak belur. Ketika perusahaan Drake & Sweeney melaporkannya atas pencurian berkas, Michael dibantu dengan Mordecai juga melaporkan perusahaan tersebut atas pelanggaran prosedur pengusiran yang membuat sebuah keluarga meninggal!

Kalau bisa dibilang, ending novel ini sebetulnya bisa dijadikan ringkasan :

I could look back for the first time and try to make sense of it all. Thirty-two days earlier I had been married to someone else, living in a different apartment, working a different firm, a complete stranger to the woman I was now holding. How could life change so drastically in a month? I didn’t dare to think of the future; the past was still happening. (p.357-358)

Novel yang beneran keren dan mengalir. 39 bab dalam 358 halaman sama sekali tidak terasa berat. Biasanya saya suka lelah baca di dalam bus yang jalannya goyang-goyang. Tapi dengan novel ini, saya bisa membacanya di bus, di halte bus, sebelum kelas dimulai dan dimanapun; setipe dengan novel Agatha Christie yang mudah dipahami dan mengalir. Menurut saya, kalau yang kisahnya rumit itu macam karya Dostoyevsky Crime and Punishment, Alexander Dumas The Count of Monte Cristo dan kawan-kawannya. Susah kalau dibaca santai.

Yang membuat saya ter’jleb’ria adalah kehidupan di jalanan. Di satu sisi, tentu saja saya kesal atas kriminalitas di jalanan yang terjadi. Namun di sisi lain, they definitely only try to survive! Saya yakin, tidak ada orang yang ingin jadi tunawisma. Kisah bagaimana orang-orang itu jatuh menjadi tunawisma sangat menghancurkan hati! Apalagi bagaimana mereka mencoba bertahan. Novel ini cukup menyentuh ketika dalam kenyataannya, saya cukup banyak didokrin untuk tidak percaya pengemis; entah karena alasan bahwa mereka sebenarnya orang kaya atau komplotan yang memiliki pimpinan kriminal.

NB : Tidak semua tunawisma pengemis. Tapi ada tunawisma yang pengemis.

Lihat ini, please. Supaya kalian lebih terkoneksi tentang bagaimana homeless and society bersikap.

Iklan

6 thoughts on “[Resensi Buku] The Street Lawyer

  1. Hem,, baca reviewnya yang Mbak Nae tulis, sy serasa nonton film ^_^

    Saya tidak terlalu suka baca novel yang kayak gini, tetapi kalo nonton filmnya saya suka..
    adegan dimana keluarga Burton meninggal dalam mobil karena kedinginan, pasti akan buat saya nangis bombay…
    tetapi kalo baca novelnya apalagi yang pake bhasa inggris.. pasti buku nya cuma jadi obat tidur buat saya , hahahahha

    Suka

    • Hehehe. Novel ini cukup mudah dipahami kok. Dengar-dengar novel ini sudah diflmkan. Mungkin Mba Arha bisa nonton 😀 Kalau udah baca novelnya gini, saya jadi takut nonton filmnya. Takut kecewa hahaha

      Suka

  2. Pas baca keluarga itu meninggal karena kedinginan di mobil bener-bener bikin mau nangis T-T emang jleb banget ini ceritanya. Dan yang menarik itu pas endingnya, gimana hidup bisa berubah drastis dalam satu bulan. Kita memang gak pernah tahu apa-apa yang akan terjadi dalam hidup :’) Eh kak Nae post artikel tentang solo backpackingnya doong^^

    Suka

    • Makanya. Tapi hidup lawyer itu beneran gila. Kemungkinannya kecil untuk terjadi di dunia nyata. Tapi, bisa aja terjadi. Kita harus siap lah dengan masa depan haha. Boleh, pengin juga ngepost. Ditunggu yaa 😀

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s