Traveling: Sendiri Atau Rame-Rame?

122
Eiffel Tower, Paris (Dokumen Pribadi)

Saya sudah sering kali traveling rame-rame. Tapi, baru pertama kali solo traveling antar-negara kemarin. Rasanya? Hm, seru banget! Apa sih bedanya traveling sendiri dan rame-rame?

Research Tempat Wisata

Kalau kita traveling sendiri, wajib hukumnya untuk melakukan research sendiri mengenai setiap tempat yang akan kita jelajahi. Mulai dari latar belakang tempat tersebut, ada apa aja di sana dan alat transportasi apa yang dapat kita gunakan untuk menjangkaunya. Hal ini akan memakan banyak waktu. Sedangkan ketika kita traveling rame-rame, kita bisa membangun diskusi dan menggabungkan ide bersama. Pasti akan terasa lebih ringan. Ide satu kepala dengan ide lima kepala, tentu saja berbeda.

Biaya

Biasanya, setahu saya, ongkos transportasi dan penginapan akan lebih murah jika dilakukan dalam grup.

Perjalanan

Jika dalam dua poin di atas saya mengunggulkan traveling rame-rame, di poin ini yang nilainya plus adalah traveling sendiri. Di dalam kunjungan, kenikmatan berada di suatu tempat wisata bervariasi di antara satu sama lain. Ada yang lebih suka mengunjungi museum, taman, monumen, tempat bersejarah atau wisata kuliner. Ketika memutuskan tempat kunjungan, menyatukan lima kepala pasti lebih susah dibanding satu kepala. Belum lagi, ketika wisata itu sendiri berlangsung. Ada yang ingin menghabiskan dua jam lebih di gallery hanya untuk satu lukisan. Dan ada juga yang mudah bosan dan hanya ingin mengambil foto dalam 30 menit saja di setiap tempat. Akhirnya, harus ada yang mengalah. Mau tidak mau, akan ada tunggu dan menunggu yang membuat waktu kurang efektif. Kalau satu grup itu bahagia, tidak masalah. Namun apabila ada yang merasa bosan, pastilah traveling tidak jadi menyenangkan.

Oleh sebab itu, saya sebetulnya lebih memilih solo traveling. Mau jam berapapun, mau kemanapun, sebentar atau lama mampir pun, terserah saya. That is the luxury of traveling!

Foto

Bagi yang doyan foto, traveling sendiri bisa jadi masalah. Traveling rame-rame membuat kamu dapat dengan mudah memperoleh foto diri sendiri sesuai keinginan. Ketika kamu traveling sendiri, tidak akan ada yang memfotokan dirimu kecuali jika kamu ingin memenuhi memori kameramu dengan selfie dan jepreten menggunakan self-timer yang hasilnya bisa jadi kurang memuaskan apabila dilakukan tanpa tripod. Mau tidak mau, kamu harus meminta tolong a complete stranger untuk memfotokan dirimu. Seringkali, hasil tidak sesuai dengan yang kamu harapkan. Saran saya, pilihlah turis Asia berusia muda untuk memfotokanmu. Sepengalaman saya, rata-rata jepretan mereka lebih bagus daripada bule barat yang asal jepret. Namun apabila kamu tidak suka foto diri sendiri, traveling sendiri bisa jadi cocok buatmu. Jepret saja apa yang kamu lihat. Bukankah kenikmatan traveling itu sebetulnya ada pada perjalanan, bagaimana kita merasakan keindahan suatu tempat dengan kelima indera kita? Percayalah, hasil jepretan tidak akan pernah bisa menandingi kenikmatan mata telanjangmu dalam memandang keindahan karunia Yang Maha Besar di muka bumi ini 🙂

Teman Ngobrol

Beberapa orang lebih memilih traveling rame-rame supaya ada teman ngobrol selama perjalanan. Apalagi, kalau kita menginap di hostel murah yang sekamar isinya bisa 10 orang, memiliki orang yang dikenal seringkali dianggap lebih menyenangkan. Buat saya, terkadang menyenangkan juga memiliki teman ngobrol yang sudah kita kenal. Tapi, lebih menyenangkan lagi memiliki teman ngobrol baru. Selama traveling rame-rame, saya jarang berkenalan dengan orang baru. Ketika saya traveling sendiri, saya berkenalan dengan banyak orang dengan cerita baru berlatar belakang berbeda yang tentunya sangat seru. Tidak usah takut untuk tidak ada teman ngobrol. Kuncinya hanya satu, try to be nice! Terkadang memang perlu keberanian untuk memulai pembicaraan. Tidak apa-apa. Orang-orang yang mengajakmu mengobrol itu buktinya berani. Kenapa kamu enggak? Banyak sekali topik yang bisa diangkat dalam pembicaraan baru. Seiring mengalirnya diskusi, kisah-kisah yang tak terduga bisa saja akan keluar dari mulut lawan bicamu! Seru! Dan seringkali mengejutkan hehe

Keamanan

12
Arch de Triomphe, Paris (dokumen pribadi)

Ada yang bilang bahwa solo traveling itu tidak aman. Sebetulnya, ini tergantung pada tempat dimana kamu akan traveling dan kisaran waktunya. Saya kemarin solo-backpacking ke Paris di pagi buta. Ketika melewati terowongan di metro/underground kawasan Arch de Triomphe, resleting dua ruang tas saya terbuka. Untungnya dompet dan paspor saya aman karena ditempatkan di ruang tas yang lain. Hanya tempat pensil saya yang hilang. Apa itu dikira dompet? Hm.

Jadi, kalau kamu hendak traveling sendiri, pastikan kamu menjaga barang-barang bawaan dan dirimu. Jangan keluar ke tempat sepi dan rawan di malam atau dini hari.

Saya bukannya mau bilang bahwa traveling sendiri itu tidak aman. Aman-aman saja kok. Pasti ada saja orang baik berkeliaran. Tapi, kamu harus lebih hati-hati. Tidak ada saling menjaga seperti ketika kamu traveling rame-rame.

Di Paris kemarin, saya membeli paket roaming dari internet provider di Turki. Entah bagaimana ceritanya, roaming tersebut tidak bisa digunakan. Saya sudah melakukan research  dan mencatat mengenai segala alat transportasi dari dan menuju tempat yang ingin saya kunjungi. Tapi, saya tidak menulis detail mengenai transportasi dengan kaki. Alhasil, di samping membaca petunjuk arah, saya juga harus bertanya ke masyarakat lokal. Yang mengejutkan adalah betapa baiknya orang-orang Paris.

Salah satu teman saya berkata bahwa orang lokal Paris itu tidak begitu ramah kepada turis. Mungkin mereka sudah bosan melihat turis nyasar berkeliaran. Kenyataannya, orang-orang Paris sangat membantu saya. Yang lebih mengejutkan adalah ketika saya berusaha membaca peta kota di halte, bukan sekali dua kali orang Paris datang mendekati saya dan menawarkan bantuan tanpa saya perlu bertanya. Padahal, saya turis yang berhijab. Sendirian, lagi. Kalau ada yang bilang Paris itu rasis – saya memang tidak bisa menyimpulkan karena hanya sehari di Paris. Tapi hal itu tidak terjadi pada saya.  Di tengah Paris yang diguyur hujan hari itu, banyak malaikat tidak bersayap yang siap menolong.

DSCN1260
De Gooyer Windmill, Amsterdam (dokumen pribadi)

Jangan takut untuk traveling sendiri ya! Let you feel and taste the luxury of traveling alone! Setelah solo traveling antar-negara pertama kali ke Paris dan Amsterdam kemarin, saya bisa memahami mengapa orang-orang di luar sana ketagihan dan menabung ketat demi bisa solo traveling! Coba ya!

 

Iklan

11 thoughts on “Traveling: Sendiri Atau Rame-Rame?

  1. Kalau saya, mending jalan-jalan bareng istri 😂 . Kalau masih jomblo saran saya bareng-bareng lebih asyik, terutama alasan safety nih yang paling penting. Jangan sampai niatnya pengen refreshing, asyik-asyik tapi ujung-ujungnya kenapa-kenapa. Btw, sukses ya Erasmusnya Naelil.

    Suka

  2. kalau aku pergi dalam rombongan besar gak suka, karena harus banyak menahan diri , krn banyak kemauan org banyak yg hrs dituruti sedang kalau keinginan kita , aku malu dong merasa jadi org egois. Aku paling suka ya paling banyak 4-5 org dan sekarang mah sukanya sama keluarga dan saat anak2 sdh merantau, ay berdua dg suami

    Suka

    1. Kompakan sama komentar di atas, Mba, jalan-jalan sama pasangan 😀 Tapi emang sih, rame-rame itu nggak enaknya ya itu, harus menyatukan banyak kepala untuk setiap keputusan dalam perjalanan

      Suka

  3. Kalau saya lebih seneng jalan sendirian sih, yaa selain aku emang nggak suka foto, kalau jalan sendiri tuh beneran bisa menikmati apa yang seharusnya dinikmati. Hanya saja kalau jalan rame-rame, kita bisa berusaha mengendalikan ego hahaha jadi bisa belajar lebih bersabar.

    Suka banget sama “… hasil jepretan tidak akan pernah bisa menandingi kenikmatan mata telanjangmu dalam memandang keindahan karunia Yang Maha Besar di muka bumi ini.” hehehe.

    Suka

    1. Tos deh, Mba. Sama! Jalan-jalan sendiri emang kenikmatannya tiada tara 😀
      Waah, baru ngeh. Bener juga sih jalan rame-rame itu melatih kesabaran. Tapi, jalan sendiri juga bisa melatih mengontrol diri biar nggak panik kalau nyasar. Sendirian, lagi hehe

      Suka

  4. Wesssssss udah kek travel blogger nih 😀
    Aku suka banget tipe traveling sendirian. kenapa? gak ribet. Kesana sini enak, gampang, jadwal fleksibel, bisa kenalan ama orang baru.
    LEbih tepatnya lagi traveling sendirian terus ketemu temen/kenalan di kota/negara tersebut. trus nebeng nginep dan diajak jalan2 deh 😀

    Suka

    1. Hahaha. Nggak kuat aku baca namamu, Bil.
      Bener banget! Keseruan-keseruan itu hanya didapat ketika solo traveling. Lebih menikmati sih kerasanya, karena jadwal lebih fleksibel. Mantap! 😀

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s