Mitos Tentang Mahasiswa Erasmus

Sebelum berangkat Erasmus – program pertukaran mahasiswa/i ke Eropa, saya sering dicekoki mitos-mitos. Katanya, mahasiswa/i Erasmus begini, begitu. Berdasarkan pengalaman saya, mitos-mitos tersebut tidak sepenuhnya benar. Namanya juga mitos.

Diberikan Hak Istimewa oleh Dosen

Katanya, mahasiswa/i Erasmus akan diberi kemudahan oleh dosen. Jadi, jika kamu ingin bersenang-senang dalam satu atau atau dua semester, ikut Erasmus aja!

classroom
Metropolitan University Prague

Kenyataannya, kamu akan diperlakukan sama dengan mahasiswa/i non-Erasmus a.k.a mahasiswa/i lokal. Tidak ada bedanya. Kalau ada tugas, kamu pun akan diberi tugas. Kalau ada kuis atau ujian, kamu juga ikut. Kalau kamu nggak belajar, nggak lulus ujian ya nggak lulus. Begitu juga ketika kamu bolos, konsekuensinya sama dengan yang didapat mahasiswa/i lokal.

Duitnya Banyak

Katanya, mahasiswa/i Erasmus itu duitnya banyak. Kerjaannya jalan-jalan mulu, nggak pernah belajar.

Strahov Monastery
bersama mahasiswa/i Erasmus MUP di Strahov Monastery Prague

Padahal, bro, kita ini adalah pemburu tiket pesawat/kereta/bus jauh-jauh hari sebelum keberangkatan. Memperoleh harga tiket miring adalah tujuan kita!

Spesialnya tinggal di Eropa, apalagi kalau di negara yang masuk area Schengen, kamu boleh keliling ke negara manapun tanpa visa di dalam area Schengen. Ini dia list-nya :

Austria, Belgia, Republik Ceko, Denmark, Estonia, Finlandia, Prancis, Jerman, Yunani, Hungaria, Iceland, Italia, Latvia, Liechtenstein, Lithuania, Luxembourg, Malta, Belanda, Norwegia, Polandia, Portugal, Slovakia, Slovenia, Spanyol, Swedia, dan Swiss.

Kalau teman kamu yang lagi Erasmus setidaknya mengunjungi dua dari negara di atas, itu normal. Misalnya kamu tinggal di Praha (Republik Ceko), kamu bisa mengunjungi Berlin (Jerman) dengan bus dalam waktu kurang dari 5 jam.

Saya dan teman kemarin keliling Berlin (Jerman), Krakow dan Auschwitz (Polandia), Budapest (Hungaria), dan Vienna (Austria) + (transit di Brno (Republik Ceko) untuk beberapa jam) dalam 5 hari dengan uang 3jt saja. Itu pun ada kembaliannya receh. Cukup cari tiket transportasi dan hostel murah, berangkat deh! Meski hostel kami di Vienna kemarin agak mahal. Jangan menginap di Vienna ya! Mahal! Krakow tuh murah.

Mahasiswa/i Erasmus harus pinter nyari waktu buat jalan-jalan. Bisa di akhir pekan atau di hari libur nasional. Sekali lagi, mahasiswa/i Erasmus tidak memiliki hak istimewa. Kuliah ya kuliah. Kalau dosennya memberikan jumlah hari maksimal bolos dan kamu melewatinya, siap-siap aja dengan konsekuensinya. Jika tidak lulus mata kuliah, nilaimu tidak bisa ditransfer sehingga berpeluang untuk menunda waktu lulusmu di kampus asal. Kecuali kalau niatmu Erasmus memang buat bersenang-senang dan tidak masalah untuk menunda lulus, ya terserah.

Ketika musim ujian tiba, mahasiswa/i Erasmus juga sibuk belajar. Tunda dulu planning jalan-jalannya. Kalau isi instagram mahasiswa/i Erasmus cuma foto jalan-jalan, wajar. Ya masa iya selfie pas lagi belajar?

Suka Party

Katanya, mahasiswa/i Erasmus suka banget pesta bir, mabuk dan joget ala-ala.

Kenyataannya, ini tidak sepenuhnya salah. Lhaaa?

piknik
Piknik bersama beberapa mahasiswa/i Erasmus MUP matkul Children and The Media di Dejvicka, Prague

Daripada mengatakan suka pesta, alangkah lebih tepat untuk mengatakan suka bersosialiasi. Kegiatan mahasiswa/i Erasmus bukan sekedar berpesta ria, mereka juga kumpul untuk sarapan, makan siang bareng, makan malam bareng, jalan-jalan bareng, hingga olah raga bareng. Erasmus adalah tempat kamu berbaur dan bersosialiasi dengan berbagai mahasiswa/i internasional dari belahan dunia; belajar untuk lebih aware terhadap budaya sendiri dan orang lain, serta menghargai nilai-nilai perbedaan. Waktu Erasmus yang singkat akan menjadi sia-sia jika tidak dimanfaatkan dengan bersosialiasi. Itulah sebabnya mahasiswa/i Erasmus seringkali keluar bareng. Bukan hanya keluar bareng untuk pesta ya.

Makin Sekuler

Katanya, Erasmus bisa membuat seseorang yang taat beragama menjadi sekuler.

Ini mah tergantung orangnya!

Lingkungan memang sangat mempengaruhi keimanan. Tapi, selama iman di dalam hati kuat dan kepercayaan itu sudah masuk ke akal, orang tidak akan berubah.

Misalnya saja seorang muslim di Eropa justru akan menjadi sangat bersyukur bisa melihat dan sholat di masjid daripada ketika melihat masjid di negara Islam atau yang mayoritas masyarakatnya Islam. Kenikmatan melihat masjid adalah kesyukuran tiada duanya!

Foto masjid di Berlin (Jerman), Krakow (Polandia), Budapest (Hungaria), Vienna (Austria), Paris (Prancis) dan Amsterdam (Belanda).

Iklan

7 thoughts on “Mitos Tentang Mahasiswa Erasmus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s