Membandingkan Diri dengan Orang Lain

i love myself

dreamerstime.com

Sikap membandingkan diri dengan orang lain, rasanya tidak akan bisa lepas dari hidup kita. Setiap waktu, setiap saat, manusia membutuhkan perbandingkan untuk menilai sesuatu; termasuk dirinya sendiri. Ibaratnya ketika kita membeli barang, pasti akan melakukan perbandingan terlebih dahulu sebelum memberikan penilaian.

Bagi saya, kesuksesan dapat dilihat dari seberapa bermanfaatnya diri bagi orang lain.  Ini semacam pembuktian bahwa kehadiran kita itu penting. Kalau ada tidaknya orang, tidak memberikan perbedaan, artinya tidak berguna dong dalam konteks tertentu itu.

Saya termasuk orang yang cukup sering membandingkan diri dengan patokan usia. Jika saya melihat orang yang cukup sukses di usia saya atau bahkan lebih muda, saya suka sedih ketika berkaca pada diri sendiri. Sayangnya, itu sering saya lakukan. Padahal, membandingkan diri dengan orang lain itu bagusnya supaya kita termotivasi untuk lebih maju. Bukannya merasa kurang percaya diri dan tertekan. Padahal nih ya, yang dilalui setiap orang itu tidak sama. Ini bukan berarti bahwa kita perlu membandingkan diri siapa yang paling menderita hidupnya, terus merasa bahwa diri sendiri menderitanya kebangetan tapi nggak sukses-sukses. Enggak ya… Kamu nggak akan bisa sepenuhnya memahami apa yang sudah dilalui orang lain sebelum kamu jadi diri orang lain tersebut! Sekedar dengar cerita, apalagi. Nggak akan bisa.

Jangan juga membandingkan bahwa orang tertentu itu sangat beruntung, sedangkan kamu dipenuhi kesialan. Mungkin memang ada orang yang ‘tampaknya’ selalu beruntung. Tapi, segala hal terjadi dengan alasan.

Yang perlu kita ingat bahwa setiap hal itu ada waktunya. Seperti kata, Hz. Mevlana dalam bahasa Turki bahwa “Her sey vaktini bekler. Ne gul vaktinden once acar. Ne gunes vaktinden erken dogar. Bekle senin olan sana gelecektir” yang artinya secara kasar adalah segala hal itu ada waktunya sendiri. Bunga tidak mekar sebelum waktunya, apalagi matahari terbit lebih awal. Tunggu, milikmu pasti akan datang pada waktunya. Tapi, tentu saja ini tidak berarti kita duduk diam saja. Kesuksesan itu harus dijemput dengan ikhtiar dan tawakkal. Lapar aja ya, kalau kita nggak gerak cari makan, emang bisa tiba-tiba kenyang?

Ini semua soal waktu. Allah SWT pasti memiliki alasan mengapa meletakkan kita di posisi saat ini. Sedang yang lain seusia kita di posisi lainnya.

Dikutip dari quran.com : “But perhaps you hate a thing and it is good for you; and perhaps you love a thing and it is bad for you. And Allah Knows, while you know not.” (QS. Al Baqarah: 216) yang artinya adalah tapi boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak.

Jangan lupa bersyukur!

Ramadan Kareem!

Iklan

14 thoughts on “Membandingkan Diri dengan Orang Lain

  1. Saya sih jarang membandingkan. Lebih suka fokus menjadi pribadi yang lebih baik dari kemarin saja. Meskipun sedikit demi sedikit sih.soalnya saya orang yang lambat dalam belajar.

    Suka

  2. Jika saya melihat orang yang cukup sukses di usia saya atau bahkan lebih muda, saya suka sedih ketika berkaca pada diri sendiri.

    Ini juga aku banget kak 😦 padahal gak boleh ya 😦 terus mikir lagi kalo tiap orang kisah masing-masing. Tapi kebiasaan membandingkan diri dg yang lain tiba-tiba muncul gitu aja 😦

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s