Terjebak di Kota Roma

DSCN1904.JPG

Stasiun Tiburtina (dokprib)

Beberapa hari yang lalu, saya melakukan trip ke Roma dari Venesia. Sekitar jam 8 pagi, saya sudah sampai di Stasiun Tiburtina. Yang pertama kali saya lakukan adalah mencari toilet untuk cuci muka dan segala-gala. Ajaibnya, saya nggak menemukan toilet sama sekali di situ. Penunjuk arahnya juga membingungkan. Semua serba dalam bahasa Italia. Untung saja banyak petugas yang baik membantu meskipun mereka tidak begitu bisa bahasa Inggris.

! Bahkan di beberapa tempat wisata di Italia, keterangan hanya tersedia dalam bahasa Italia saja. Padahal kita tahu, wisatawan asing di Italia itu tidak sedikit. Untung, petugas Italia-nya baik-baik.

Saya mencoba berkeliling stasiun. Ada pasar kecil di depan situ. Tapi pedagangnya bukan orang Italia. Seperti orang India. Beruntung, saya akhirnya menemukan gedung untuk metro dan train antar kota Italia. Langsung saja saya kesitu. Syukur deh nemu toilet.

DSCN1919

dekat gedung metro tiburtina (dokprib)

Gedungnya cukup besar. Saya sampai bingung membeli tiket metrobus itu dimana. Soalnya mesin-mesin hanya untuk pembelian tiket trainitalia.

Cukup lama saya berkeliling karena petugas yang saya tanyai tidak menangkap maksud saya. Saya diarahkan ke banyak tempat selama 2 jam. Rasanya mau pingsan dah. Hayati lelah. Eh ketika saya sudah berhasil menemukan gedung metro, saya mendapati bahwa gedungnya tutup. Padahal hari sudah cukup siang. Saya memutuskan untuk naik bus saja dan membeli tiket 24 jam transportasi umum. Penjualnya bilang, “Metrobus tidak beroperasi.”

Saya : “Loh, kenapa?”

Penjual : “Ada demo.”

Saya : “Terus apakah ada alternatifnya?”

Penjual : “Metrobus akan beroperasi jam 5 sore.”

What?!! Berarti nggak ada alternatif dan saya harus menunggu sampai metro dan bus beroperasi yaitu jam 5 sore. Saya melihat beberapa orang berbondong-bondong mencari taksi. Nasib traveler pas-pasan yah nggak bisa naik taksi. Apalagi saya sendiri. Bisa-bisa saya nggak makan sebulan gara-gara naik taksi keliling Roma. Hahah.

Saya memutuskan untuk menunggu. Biarin dah meski ntar nggak bisa ngunjungin banyak tempat karena sudah terlalu sore. Yang penting bisa lihat Colloseum aja udah seneng, pikir saya.

Yang saya lakukan selama 7 jam dalam penantian adalah beli jajan, makan, minum, ke toilet, jalan-jalan keliling stasiun dan tidur. Iya, tidur! Saya udah nggak tahu lagi mau ngapain untuk mengatasi kebosanan. Apalagi, hp saya mati sekalian power bank-nya. Cukup duduk di pojokan yang rindang dan sepi, saya terlelap memeluk tas. Tapi bentar doang. Ya mana bisa nyenyak tidur posisi begitu.

Tik tok tik tok.

Jam 5 sore tepat, saya langsung menuju ke gedung metro dan membeli tiket seharga 7 euro untuk naik metro dan bus selama 24 jam unlimited yay!

Untuk menuju Colloseum, cukup naik metro sekali aja ke arah Colloseo. Nanti sekeluarnya dari gedung metro di Colloseo, kita sudah akan dihadirkan pemandangan Colloseum yang megah. Jadi, nggak perlu jalan jauh buat nyari.

1

Colloseum (dokprib)

Melihat Colloseum dan Roman Forum ini mengingatkan saya akan Ephesus di kota Izmir, Turki. Saya memutuskan untuk tidak berkeliling Roman Forum karena akan menyita waktu. Cukup keliling Colloseum saja. Saya juga tidak masuk Colloseum sih, soalnya selain masalah waktu, ketika saya cek di internet, dalamnya juga kayak di Ephesus (Beda sih sebenernya, soalnya Colloseum amfiteater untuk arena gladiator berkelahi dengan hewan buas dan jadi tontonan. Sedangkan Ephesus itu bekas Kota Romawi, lebih luas lagi cakupannya – kayak Roman Forum dah). Tapi buat penyuka sejarah, wajib tuh buat masuk.

DSCN1935

Roman Forum (dokprib)

Di Colloseum ini ajaibnya banyak banget penjual gelang-gelangan Afrika. Kan ajaib, di Paris saja meski banyak penjual dari Afrika, mereka berjualan souvenir Paris. Bukan souvenir Afrika. Ajaibnya lagi, penjual-penjual ini selalu nanyain pengunjung “Dari Afrika?” meski ke bule-bule yang jelas banget Kaukasia. Well, Afrika Selatan emang banyak campuran Kaukasia sih, tapi. Tentu saja jawaban dari pengunjung “bukan” terus. Mungkin maksud pedagangnya “Mau souvenir dari Afrika?” kali ya?

Karena hari cukup sore, saya buru-buru lanjut ke Pantheon dengan bus nomer 85 arah Termini menuju halte Corso. Sudah sampai di Corso, saya gelagapan mencari wifi dan nggak dapat. Walhasil, saya batal ke Pantheon dan justru mengunjungi apa yang saya temukan di sana, yaitu Piazza Venezia yang istilahnya merupakan embassy Venesia di Roma pada jaman dahulu.

2

Piazza Venezia (dokprib)

Lanjut ke Trevi Fountain yang ditempuh dengan bus nomer 492 ke arah Tritone – Fontana di Trevi. Turun dari bus, masih harus jalan kaki sekitar 240 meter. Nggak begitu jauh. Tapi letak Trevi Fountain ini ada di sekitar gang kecil. Pengunjungnya banyak banget kayak pada mau lihat konser. Banyak polisi juga dan petugas yang teriak-teriak gegara ada pengunjung yang manjat-manjat dls. Saya sampai susah untuk mendekati air mancurnya. Apalagi pengunjung pada melakukan adegan lempar koin ke kolamnya. Ada yang mengatakan bahwa jika kita melemparkan koin ke kolam dengan berbalik badan dari tangan kanan melewati bahu kiri, kita akan kembali ke Roma. Lempar dua kali, dapat jodoh. Lempat tiga kali, segera menikah. Tapi, ada juga versi lain yang mengatakan bahwa jika kta melempar koin, doa kita akan terwujud.

3

Trevi Fountain (dokprib)

Pemberhentian selanjutnya adalah St. Angelo’s Castle. Saya naik bus nomer 67 dari Tritone-Fontana di Trevi ke arah Ponte Vittorio Emanuele. Cukup 9 pemberhentian saja. Untuk pertama kali hari itu, saya tidak berdesak-desakan di bus. Sebelumnya, bus-bus selalu penuh turis dari Colloseum sampe ke Trevi Fountain. Saya jadi curiga bahwa St. Angelo’s Castle nggak begitu menarik buat dikunjungi?

4

St. Angelo’s Castle (dokrpib)

Ternyata, tempatnya keren banget! Apalagi menikmati kemegahan St. Angelo’s Castle sambil dengerin musisi jalanan di dekat situ yang memainkan musiknya dengan ciamis. Damai!

fnf

Brigde of Angels (dokprib)

Kita melewati Bridge of Angels atau jembatan para malaikat dulu sebelum sampai  di dekat St. Angelo’s Castle. Kalau dilihat-lihat, jembatan ini mengingatkan saya akan Charles Brdge di Praha. Tapi, dasar jembatan ini sudah diaspal. Sedangkan di Charles Bridge, dasarnya serupa paving bebatuan.

DSCN2028

papan penunjuk jalan (dokprib)

Tahu-tahu, matahari udah mau tenggelam aja. Saya sebetulnya pengin main ke Vatican City, negara terkecil di dunia. Tapi, saya nggak tahu letaknya dimana – maklum, nggak ada internet. Saya memutuskan untuk mengunjungi Rome Grand Mosque saja meskipun lagi nggak puasa. Yah, itung-itung numpang berdoa sebagai musafir. Bukannya nemu halte bus, saya justru menemukan papan penunjuk arah ke Vatican City yang ternyata tepat berada berhadapan dengan St. Angelo’s Castle. Pantes, saya melihat banyak banget biarawati dan pastor di sekitar situ.

5

St. Peter’s Basilica (dokprib)

Saya cukup lama berkeliling di St. Peter’s Basilica di Vatican City. Menikmati kemegahannya dan membayangkan betapa ramainya perayaan natal di sana dengan Pope Francis pemberi khutbahnya.

Vatican City ini cukup menarik. Saya tidak pernah melihat biarawati dan pastor sebanyak itu di jalan. Sangat banyak! Sayangnya, di balik keindahan St. Peter’s Basilica, saya lihat banyak orang tiduran di halaman gedung sekitar situ. Entah mereka homeless atau pengunjung yang kelelahan.

Lagi-lagi, saya lupa jam. Sekitar jam 10 malam, saya pergi meninggalkan Vatican City dan kembali ke Roma. Rencananya, saya mau ke Rome Grand Mosque untuk lihat Muslim Roma tarawih. Tapi nggak nemu-nemu haltenya dimana. Ketika udah nemu, bus tak kunjung datang hingga jam 11 malam. Yaudahlah, saya balik aja ke stasiun Tiburtina karena bus saya akan berangkat jam 2 malam ke kota Pisa. Sayangnya, sepertinya halte di situ memang sepi dan bus jarang lewat. Heran deh sama transportasi di Roma! Padahal bukan weekend juga.

DSCN2046

jelang tengah malam di Roma (dokprib)

Banyak orang di halte yang akhirnya memutuskan untuk naik taksi. Saya diem di situ sampe orang lalu-lalang bergantian. Saya nggak mungkin naik taksi. Galau dong, apalagi udah jam 11 malam. Dan saya tidak begitu merasa aman di tengah keramaian kota Roma sendirian.

! Sebetulnya, kalau punya banyak duit itu solo traveling aman-aman aja. Tiap nyasar, tinggal cari taksi. Kemalaman, nginep hotel aja senemunya. Jadi, kalau punya duit, nggak ada alasan untuk khawatir bersolo traveling. Tantangannya justru pas nggak punya duit.

Dengan gundah gulana, saya mencoba menyambungkan ke beberapa jaringan wifi. Gagal mulu. Yaudah deh, saya memutuskan untuk jalan kaki mencari bus entah kemana kaki membawa saya. Nggak ada jalan lain lagi. Daripada saya diem di halte bus menunggu bus tak kunjung sampai, mending saya berusaha mencari bus menuju Stasiun Tiburtina yang jauh dari situ.

Roma udah mulai sepi. Padahal saya kira, Roma itu akan sangat hidup 24 jam. Ternyata, mayoritas toko udah mulai tutup. Saya lihat beberapa homeless mulai gelar tikar tidur di depan toko-toko. Melihat mereka, membuat saya berpikir. Bagaimana mereka bisa tidur setenang itu tanpa merasa terganggu dengan lalu-lalang orang? Sedangkan saya saja yang cuma mencari jalan pulang ke stasiun, merasa tidak aman.

Jelang jam 12 malam, saya menemukan halte bus lain yang ada arah langsung ke Stasiun Tiburtina tanpa transit. Saya menunggu di situ bersama seorang ibu berwajah Asia. Saya sempet mikir mau nyapa beliau dan nanyain mau kemana. Siapa tahu kita bisa iuran naik taksi kan? Daripada tiba-tiba beliau pergi meninggalkan saya sendirian naik taksi. Beuh, Roma udah sepi banget kala itu.

“Ya Allah, Engkau nggak akan meninggalkan saya kan…” gitu terus galaunya. Doanya dikencengin supaya saya bisa segera pergi ke stasiun.

Saya mencoba cari wifi lagi. Siapa tahu bisa sekalian jalan kaki. Biarin dah malam, yang penting sampai dan ada usahanya. Bukan berdiam diri di halte. Lagi-lagi, wifi di Roma itu susah saya tangkap.

Alhamdulillah, hampir banget jam 12, bus saya datang. Dengan bahagia riang gembira, saya segera naik ke bus dan berdoa supaya bus yang dinanti ibu berwajah Asia tadi juga segera datang. Saya melihat beliau cukup gusar.

Hampir jam 1, saya sampai di stasiun dengan selamat. Alhamdulillah! Ajaibnya, gedung metro dan stasiun Tiburtina itu udah tutup. Jadi, penumpang penunggu bus duduk-duduk di luar gedung. Untung nggak lagi musim dingin. Saya memutuskan untuk tidur sejenak sambil duduk di trotoar bareng orang-orang lain yang menunggu bus.

! Jam karet itu berlaku di Italia. Busnya ngaret mulu dah. Misal nih jadwalnya saya berangkat jam 2 pagi, eh busnya baru nyampe jam 2 pagi lebih dikit di stasiun. Jadi, berangkatnya molor. Sampai tempat tujuan bisa molor sejam lebih juga. 

Iklan

4 thoughts on “Terjebak di Kota Roma

  1. Kak ih seru banget. Sampe segitu terjebak ya. Kalo aku sih udah nangis kejer kali kak hehe setelah nunggu di trotoar itu terus lanjutannya gimana ka? Eh btw minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir batin ya kak:)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s