Kenangan di Praha

Sudah satu minggu berlalu, saya belum bisa move on dari Praha. Empat bulan pertukaran mahasiswa terasa sangat singkat. Numpang mampir doang. Tapi kenangannya itu loh, tak terlupakan. Jika disuruh mengulang kembali, saya tetap akan memilih Praha dibanding kota lainnya di Eropa. Saat itu ada Groningen-Belanda sebetulnya yang cukup menggoda. Menilik biaya hidupnya, saya mundur perlahan karena uang beasiswa pertukaran untuk ke Praha dan Groningen jumlahnya sama. Berhubung tujuan saya ikut pertukaran pelajar selain pendidikan adalah untuk jalan-jalan, Praha lebih cocok. Apalagi letaknya di Eropa Tengah.

Top Five-Walks-In-Prague-Old-Town-Square

trip4booking.com (Prague Old Town Square dari Astronomical Clock – genteng orange bangunan yang sangat khas Praha)

Tonton video tentang Praha di sini.

PEJALAN KAKI SANGAT DIHORMATI

Saya masih terkesima ketika melihat ada beberapa tempat yang hanya memiliki zebra cross tanpa lampu pejalan kaki di Praha. Gimana nyeberangnya wak? Ternyata, ketika kita berdiri di samping zebra cross, pengendara akan berhenti dan mendahulukan pejalan kaki untuk lewat. Ini manis sekali. Sedangkan di kota tempat saya tinggal yaitu Izmir- Turki, sepertinya saya selalu melihat lampu untuk pejalan kaki. Kenyataannya, banyak yang tetap nyeberang ketika lampu pejalan kaki masih merah tapi tidak ada mobil yang lewat (Ini juga ada sih di Praha). Begitu juga dengan pengendaranya. Di Praha lebih tenang. Di Izmir kebut-kebutan. Dari sini, Praha terasa lebih teratur buat saya.

KALEM

Ini tidak bisa digeneralisasi memang. Namun saya ingat ketika waktu itu tramvay di Praha bermasalah. Di Izmir, bisa jadi orang-orang akan marah dan berteriak. Di Praha, orang-orangnya nggak banyak ngomong. Cuma diem nungguin supir yang kebingungan. Yah, orang Turki di Izmir tampak lebih penolong dan ramah dibanding orang Ceko. Tapi, orang Ceko di Praha lebih kalem dan tidak mudah emosi. Datar aja kayaknya. Meskipun orang Ceko sebetulnya juga penolong jika dimintai bantuan. Orang Turki lebih inisiatif nolong.

MASA BODOH

Setelah saya datang ke Praha, saya suka canggung berada di dalam kendaraan umum karena merasa memperoleh tatapan dari satu atau dua orang Ceko yang mungkin asing terhadap jilbab yang saya kenakan. Meski mereka tidak melakukan apa-apa, terkadang ada seseorang yang benar-benar menatap ke arah saya tanpa mengalihkan pandangan bahkan ketika saya tatap balik. Saya pikir, saya lebih sering memperoleh tatapan ketika berada di Praha. Setelah kembali ke Izmir dan dipikir-pikir, saya justru lebih sering ditatap di sini. Kembali ke bahasan tadi bahwa orang Ceko itu “masa bodoh” sekali terhadap orang lain. Sedangkan orang Turki itu kepo. Baru kenal aja udah nanyain kerjaan orang tua apa dls. Orang Ceko mana peduli.

Kapan hari sempat ada perempuan telanjang bulat jalan-jalan di pusat kota Praha. Kata temen asal Balkan, orang-orang disekitar tidak ada yang peduli dan melihatnya. Kalau di Balkan, pasti sudah difotoin orang-orang. Terus saya ngebayangin kalau kejadian itu ada di Izmir. Meskipun Izmir itu kota tersekuler di Turki, saya yakin perempuan itu akan mendapat perhatian. Entah pandangan atau cemoohan.

TIDAK SUKA MENTRAKTIR

Orang Turki gemar sekali mentraktir. Kalau kita menolak traktirannya, mereka akan ngambek. Padahal kan tidak mau berhutang budi. Sesekali memang boleh mentraktir. Asal jangan sering-sering. Kebiasaan ditraktir, saya cukup kaget ketika diajak main ke cafe oleh orang Ceko yang ingin mengembangkan bahasa Indonesia-nya. Saya dan teman sudah berekspektasi akan mendapat traktiran. Eh ternyata bayar sendiri-sendiri. Setelah saya telusuri dan membaca buku belajar bahasa Ceko, orang situ emang nggak suka ditraktir karena menyangkut harga diri. Hasilnya, mereka pun tidak mentraktir orang lain karena takut menyinggung. Padahal mah mahasiswa seneng-seneng aja ditraktir.

ORANG CEKO SUKA BACA

Melihat Izmir, lalu kota-kota lain di Eropa yang sudah saya kunjungi, orang Ceko di Praha ini terbilang sangat suka baca. Di metro, saya tidak hanya sering melihat satu, tetapi banyak orang yang sibuk memegang buku dan membacanya. Bahkan di jalan-jalan juga. Apalagi pas datang ke toko buku, pernak-pernik untuk penggila buku juga banyak. Saya jadi ikutan rajin baca ketika di Praha. Surganya pecinta buku memang.

TIDAK MUNGKIN NYASAR DI PRAHA

Mungkin karena Praha merupakan ibukota  Republik Ceko, saya tidak bisa membandingkan alat transportasinya begitu saja dengan Izmir yang bukan ibukota Turki. Harusnya dengan Ankara yang ibukota atau Istanbul kali ya. Kalau dibanding Ankara, masih mudah di Praha sih. Kalau Istanbul, udah nggak ingat berhubung terakhir ke Istanbul itu tahun 2015. Apalagi, waktu ke Istanbul dianterin kemana-mana. Kalau di Praha, berhubung kemana-mana lebih sering sendiri, saya jadi paham transportasinya. Intinya, mustahil untuk nyasar di Praha meskipun tanpa internet jika menggunakan transportasi publik. Di setiap pemberhentian metro, tramvay hingga bus, terdapat daftar pemberhentian dan waktu beroperasi. Mudah sekali. Sedangkan di Izmir, hanya ada nomer-nomer busnya tanpa tertulis daftar pemberhentian dan waktu beroperasinya. Harus lihat internet kalau mau tau.

PENGEMIS TIDAK MENGHAMPIRI

Di Praha, pengemis-pengemis hanya duduk saja di suatu tempat menunggu belas kasih. Di Izmir, beberapa pengemis menghampiri orang-orang yang lewat. Terkadang, memaksa juga untuk dikasih. Kalau jumlah uangnya kurang, protes. Lalu membawa-bawa nama tidak mau menolong saudara sesama Muslim. Sesekali tidak apa-apa sih. Tapi kalau sehari bisa ketemu 5 pengemis yang minta 10TL? Bisa nangis kita. Ya mungkin mereka juga stres sih kalau seharian nggak dapat cukup uang.

Dibanding tahun 2014 ketika saya pertama kali datang ke Izmir, pengemis di Izmir terbilang meningkat jumlahnya di tahun 2017 ini. Saya memang tidak punya datanya. Tapi, berdasarkan pengalaman sih begitu.

Sebetulnya, kalau disuruh milih antara Praha dan Izmir, rasanya berat. Keduanya sudah seperti rumah kedua buat saya setelah Banyuwangi di Indonesia. Praha lebih teratur sih. Tapi di Izmir lebih banyak makanan halal dan masjid yang diperbolehkan adzan. Mungkin jika alasan keagamaan tidak ada, saya akan lebih memilih Praha. Entahlah. Berhubung saya juga baru kembali dari Praha seminggu lalu. Masih kangen Praha dan cinta saya terhadap Izmir belum kembali pulih.

Iklan

6 thoughts on “Kenangan di Praha

  1. Sepak bolanya gimana mbak naelil dipraha?

    Klo masalah traktir-traktiran rada aneh menurut saya. Biasanya sih yg ngajakin ke kafe atau kemana gitu yg bayar sebagai tanda terima kasih klo ditemenin. Klo bayar sendiri2 justru malah berasa tidak enak jika kita yg ngajakin 😀

    Suka

    • Wah, kurang paham kak kalau sepak bolanya. Berhubung nggak nyimak juga. Hehe.
      Iya, makanya itu. Saya sama temen juga kaget. Kan dia yang ngajakin, yang milih cafe-nya eh bayar sendiri-sendiri hahaha.

      Disukai oleh 1 orang

  2. Seru banget kayanya erasmus di prahanya, inshaallah bulan depan gw bakal berangkat buat erasmus juga tapi masih belum dapet visanya wkwk. Semoga bisa istiqomah menulis ya, beneran membuka wawasan baru lah tentang kehidupan di luar sana 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s