[Resensi Buku] Dear Tomorrow karya Maudy Ayunda

dear-tomorrow-hc
mizanstore

Judul Buku : Dear Tomorrow

Penulis : Maudy Ayunda

Penerbit : Bentang Belia Publishing House

Tahun : Second Edition, May 2018

Jumlah Halaman : xviii+173 hlm.

Guilty as charged.

I am one of those people who adore witty quotes and phrases.

I love being reminded by simple truths.

I love how shorts statements can strike a chord

in our minds and move us to do something.

This book is a compilation of my experiences, thoughts,

and conversations with myself on love, dreams, and life.

All throughout this book, I curated takeaways – things

that I want to be reminded of in the future.

If anything I write here can make you smile-or think,

then I’ve done what I wanted through writing this book.

Love,

Maudy

QUOTES

I have different ideas of what I want to be: one thing is for sure – I want to be the reason of many smiles. I want to be able to look back and say I have made a difference, that I have brought impactful change in people’s lives. (p. ix)

NOTES ON BEING YOURSELF

My unhappiness made it more difficult to make others around happy.

The more you take care of yourself, the more you can take care of others. (p. 21)

Please stop being too hard on yourself. You probably did all you could. (p.23) Lanjutkan membaca [Resensi Buku] Dear Tomorrow karya Maudy Ayunda

Iklan

[Resensi Buku] Wendy’s Wishes

Wendy’s Wishes merupakan salah satu buku yang paling sering saya baca ulang selama ini. Mungkin sudah ada 5 kali. Setiap kali mau membaca ulang buku ini, saya bertanya kepada diri sendiri, apakah pendapat saya mengenai buku ini tetap sama? Kenyataannya, pola pikir dan pandangan seseorang dapat berubah seiiring berjalannya waktu.

Wendy digambarkan sebagai gadis 19 tahun yang sangat ambisius, egois, dan temperamental. Suka menjadi pusat perhatian, membuatnya bersikukuh menggapai impiannya menjadi seorang model. Wendy terlahir dari keluarga berada. Namun ayahnya bangkrut dan bunuh diri. Disusul dengan ibunya yang jatuh sakit dan meninggal dunia. Wendy lalu dirawat oleh keluarga saudari ibunya yang sederhana; beranggotakan Tante May, Paman Jimmy, Viona dan Tommy.

Berambisi menjadi model, Wendy menginvestasikan uangnya untuk perawatan diri dan membeli barang-barang impor. Tante May sering mengeluh soal ini. Tante May dan keluarganya ingin Wendy kuliah di sekolah yang memberikannya ijazah. Sedangkan Wendy bersikeras ingin mengenyam pendidikan di sekolah model terbaik yang biayanya menguras kantong.

Karir Wendy dimulai dengan kemenangannya menjadi Runner Up dalam pemilihan Dara Jelita. Meskipun memperoleh gelar, Wendy tidak puas jika tidak menjadi juara utama. Bagaimanapun, lampu sorot hanya menyorot yang pertama. Ia makin geram setelah tahu bahwa pemilihan juara utama Dara Jelita hanyalah settingan. Triana, mantan anak walikota sekaligus mantan pecandu narkoba itu terpilih untuk mempromosikan ajang Dara Jelita dengan salah satu kegiatannya yaitu kampanye anti narkoba. Pemenang utama sudah dipilih jauh sebelum kompetisi.

Wendy merasa tidak diperlakukan secara adil. Lanjutkan membaca [Resensi Buku] Wendy’s Wishes

[Resensi Buku] Ranah 3 Warna

Judul Buku : Ranah 3 Warna

Penulis : A. Fuadi

Penerbit : Gramedia

Tahun : Cetakan kedelapan, Juli 2013

Jumlah Halaman : 477 hlm.

Alif baru saja tamat dari Pondok Madani. Dia bahkan sudah bisa bermimpi dalam bahasa Arab dan Inggris. Impiannya? Tinggi betul ingin belajar teknologi tinggi di Bandung seperti Habibie, lalu merantau sampai ke Amerika.

Dengan semangat menggelegak dia pulang kampung ke Maninjau dan tak sabar ingin segera kuliah. Namun kawan karibnya,  Randai, meragukan Alif mampu lulus UMPTN. Lalu dia sadar, ada satu hal penting yang dia tidak punya. Ijazah SMA. Bagaimana mungkin mengejar semua cita-cita tinggi tanpa ijazah?

Terinspirasi semangat tim dinamit Denmark, dia mendobrak rintangan berat. Baru saja dia tersenyum, badai lain menggempurnya silih berganti tanpa ampun. Alif letih dan mulai bertanya-tanya: “Sampai kapan aku harus teguh bersabar menghadapi semua cobaan hidup ini?” Hampir saja dia menyerah.

Rupanya “mantra” man jadda wajada saja tidak cukup sakti dalam memenangkan hidup. Alif teringat “mantra” kedua yang diajarkan di Pondok Madani: man shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung. Berbekal kedua mantra itu dia songsong badai hidup satu persatu. Bisakah dia memenangkan semua impiannya?

Kemana nasib membawa Alif? Apa saja 3 ranah berbeda warna itu? Siapakah Raisa? Bagaimana persaingannya dengan Randai? Apa kabar Sahibul Menara? Kenapa sampai muncul Obelix, orang Indian, Michael Jordan, dan Kesatria Berpantun? Apa hadiah Tuhan buat sebuah kesabaran yang kukuh?

Ranah 3 Warna adalah hikayat tentang bagaimana impian tetap wajib dibela habis-habisan walau hidup digelung nestapa tak berkesudahan. Tuhan sungguh bersama orang yang sabar.

QUOTES

“… siapa saja yang mewakilkan urusannya kepada Tuhan, maka Dia akan ‘mencukupkan’ semua kebutuhan kita…” hlm. 35

Dunia akan tetap berputar. Kenapa aku mengharapkan dunia yang berubah? Seharusnya akulah yang menyesuaikan dan dengan begitu bisa mengubah duniaku. hlm. 107 Lanjutkan membaca [Resensi Buku] Ranah 3 Warna