Note to Self Before Birthday Month

Beauty of diversity
The Freeman Institute

Beberapa waktu lalu, seorang kawan berkata kurang lebih begini, “Aku ngerasa Allah tuh emang kasih apa yang kita butuhkan pada saat itu. Entah dalam bentuk posisi, orang, ataupun benda,” ketika kami berdua membahas mengenai alasan kami berada di posisi saat ini, mengapa kami bertemu dengan orang-orang kurang menyenangkan, dan mengapa begini-begitu. Orang memang suka mempertanyakan hubungan sebab-akibat, ya.

Saya teringat teman pena saya sejak awal masuk SMA. Orang Inggris. Kami cukup dekat dan intense dalam berkomunikasi, namun tidak pernah bertukar sosial media lain di luar email. Dia bilang kalau saya ke Eropa, ke negera mana pun itu, dia akan bisa menemui saya dengan mudah – sebelum isu BREXIT keluar. Nyatanya, ketika saya berkesempatan ke Eropa, kami tidak bisa bertemu karena berbagai alasan. Kini kami sudah lost contact. Setelah dipikir-pikir, mungkin Allah memang mengirim dia untuk saya sebagai lahan belajar Bahasa Inggris dengan native. Mungkin sekarang menurut Allah, saya ataupun dia sudah tidak saling membutuhkan satu sama lain. Mungkin karena saya sudah bisa praktik Bahasa Inggris secara langsung saat ini tanpa perlu mencari teman di dunia maya. Dan pastinya, ada alasan sendiri juga untuk dia.

Di usia saya yang berkepala dua ini, ditambah posisi sebagai mahasiswa akhir, saya sering kali merasa ditekan dan disudutkan dari berbagai arah. Kepala dua itu artinya sudah tidak muda lagi. Tidak ada waktu ‘bermain-main’. Kepala dua artinya adalah waktu untuk membangun rencana dan tahap-tahap untuk menjadi mandiri. Bahkan sudah seharusnya mandiri total. Lanjutkan membaca Note to Self Before Birthday Month