[Review Buku] The Subtle Art of Not Giving A F*ck

the subtle art of not giving a fuck mark manson
Amazon

Judul Buku : The Subtle Art of Not Giving A F*ck

Penulis : Mark Manson

Penerbit : HarperOne

Tahun : 2016

The self help book for people who hate self help books. The Subtle Art of Not Giving a Fuck is all about self-improvement not through avoiding problems or always being happy, but rather through engaging and improving upon problems and learning to accept the occasional unhappiness. It’s a radical departure from anything else you’ve ever read, and that’s what makes it so powerful.

“An in-your-face guide to living with integrity and finding happiness in sometimes-painful places. … This book, full of counterintuitive suggestions that often make great sense, is a pleasure to read and worthy of rereading. A good yardstick by which self-improvement books should be measured.” – Kirkus Reviews

Buku ini sempat booming beberapa waktu yang lalu. Bahkan mungkin masih booming hingga sekarang. Teman-teman saya di media sosial banyak sekali yang memamerkan buku ini. Alhasil, saya pun termakan omongan mereka. Buku The Subtle Art of Not Giving A F*ck ini diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat. Sedangkan dalam bahasa Turki dengan judul Ustalık Gerektiren Kafaya Takmama Sanatı.

Menurut saya, cara ternyaman membaca buku adalah dengan membaca buku versi non-terjemahan, selama kita mengerti bahasanya. Karena bagaimanapun, terjemahan itu bisa berbeda antar satu sama lain. Soalnya kan menerjemahkan bukan sekedar mengubah bahasanya sama persis, namun juga menjadikan konteks sama untuk lebih mudah dipahami. Beruntungnya, saya menemukan buku ini dalam versi aslinya di aplikasi AnyBooks. Sudah saya bahas di sini. Pokoknya aplikasi favorit deh.

Buku ini dibagi menjadi 9 bagian sebagai berikut : Lanjutkan membaca [Review Buku] The Subtle Art of Not Giving A F*ck

[Quotes Buku] Winning

winning jack welch
Goodreads

Judul Buku : Winning

Penulis : Jack Welch with Suzy Welch

Penerbit : Harper Collins Publishers

Kota : London

Tahun : 2005

Jumlah Halaman : 372 hlm.

Jack Welch knows how to win. During his forty-year career at General Electric, he led the company to year-after-year success around the globe, in multiple markets, against brutal competition. His honest, be-the-best style of management became the gold standard in business, with his relentless focus on people, teamwork, and profits.

Since Welch retired in 2001 as chairman and chief executive officer of GE, he has traveled the world, speaking to more than 250,000 people and answering their questions on dozens of wide-ranging topics.

Inspired by his audiences and their hunger for straightforward guidance, Welch has written both a philosophical and pragmatic book, which is destined to become the bible of business for generations to come. It clearly lays out the answers to the most difficult questions people face both on and off the job.

Welch’s objective is to speak to people at every level of an organization, in companies large and small. His audience is everyone from line workers to MBAs, from project managers to senior executives. His goal is to help everyone who has a passion for success.

Welch begins Winning with an introductory section called “Underneath It All,” which describes his business philosophy. He explores the importance of values, candor, differentiation, and voice and dignity for all.

The core of Winning is devoted to the real “stuff” of work. This main part of the book is split into three sections. The first looks inside the company, from leadership to picking winners to making change happen. The second section looks outside, at the competition, with chapters on strategy, mergers, and Six Sigma, to name just three. The next section of the book is about managing your career—from finding the right job to achieving work-life balance.

Welch’s optimistic, no excuses, get-it-done mind-set is riveting. Packed with personal anecdotes and written in Jack’s distinctive no b.s. voice, Winning offers deep insights, original thinking, and solutions to nuts-and-bolts problems that will change the way people think about work.

QUOTES

Sebenarnya, ini merupakan buku yang sangat menarik untuk disimak bagi orang-orang yang bersiap masuk ke dunia kerja. Saya pun menikmati buku ini. Namun karena terhalang tugas dls, saya hanya menyelesaikan 2/5 buku ini saja sehingga tidak pantas rasanya disebut review. Lagian biasanya juga review ala kadar sih. Haha. Anyway, setelah tugas kelar dan saya kembali ke buku ini, rasanya sudah tidak pas lagi melanjutkan membaca dari tengah buku. Meski begitu, sayang apabila saya tidak membagikan beberapa catatan kecil ketika membaca sebagian buku ini. Silakan disimak! Lanjutkan membaca [Quotes Buku] Winning

[Resensi Buku] Seriously… I’m Kidding

ellen degeneres seriously im kidding
Grand Central Publishing

Judul Buku : Seriously… I’m Kidding

Penulis : Ellen DeGeneres

Penerbit : Grand Central Publishing

Kota : New York

Tahun : Oktober 2011

ELLEN DEGENERES is a beloved stand-up comedian, television host, bestselling author, actress, and midwife. She currently hosts The Ellen DeGeneres Show and has hosted both the Academy Awards and the Primetime Emmy Awards. She would host you for dinner if she got to know you better.

Sekitar seminggu yang lalu, saya nggak sengaja nemu aplikasi baca ebooks gratis di Google Play yang bernama AnyBooks. Yang paling saya suka dari aplikasi ini :

  • Hampir semua buku yang saya cari, dapat dengan mudah saya temukan di sini.
  • Sistem baca offline karena untuk membaca sebuah buku, kita harus download dulu ebook-nya.
  • Ada kamusnya. Jadi kalau kita nggak ngerti sebuah kata, cukup tekan lama pada kata tersebut dan kamus akan muncul langsung tanpa kita perlu buka aplikasi penerjemah. Begini tampilan dalamnya :
    ca0b33e1-7f4d-4c81-ae2d-d218cb47cb72
    dokumen pribadi

    Bagian bookshelf merupakan buku-buku yang sudah kita download dan siap dibaca. Yang paling atas merupakan buku yang sedang kita baca. Misal tuh saya lagi baca buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck.

Lanjutkan membaca [Resensi Buku] Seriously… I’m Kidding

[Resensi Buku] I’ll Walk Alone

I'll walk alone mary higgins clark.jpg
AbeBooks.com

Judul Buku : I’ll Walk Alone

Penulis : Mary Higgins Clark

Penerbit : Simon & Schuster

Kota : New York

Tahun : April 2011

Jumlah Halaman : 337 hlm.

AWAS SPOILER!

Pertama-tama, novel ini memiliki banyak sekali tokoh yang dinamai. Kadang terasa penamaan itu sebetulnya tidak perlu untuk beberapa karakter yang muncul sekali dua kali. Andaikan perlu, rasanya berlebihan untuk melibatkan penamaan dengan tiga kata. Maksudnya, nama depan dan nama keluarga saja sepertinya sudah cukup. Tidak perlu setiap nama tengah karakter disebutkan. Memang terserah penulis sih. Tapi ini bikin saya iritasi.

Misal nih setiap orang memiliki sekretaris. Di awal bab, saya suka kebalik si Elaine Ryan, Phyllis Garrigan, Rita Moran, dan Louise Kirk itu sekretaris siapa aja. Lalu nama client, saksi mata, hingga detektif, semuanya komplit nama lengkap yang kadang disebut nama depan, dan kadang nama keluarganya saja. Ini cukup buat salah fokus.

Tokoh utama novel ini adalah seorang interior designer bernama Alexandra Moreland yang biasa dipanggil Zan. Dulunya Zan ini bekerja untuk interior designer sukses dan ternama Bartley Longe. Sejak bekerja dengan Longe ini Zan hampir tidak punya waktu di luar pekerjaannya, termasuk untuk mengambil cuti. Selain ambisius, tidak suka ditolak dan temperamen, Longe ini juga mengejar Zan. Dulu bahkan sempat terlibat kasus pelecehan seksual terhadap sekretarisnya. Pokoknya di novel ini, Longe digambarkan sangat buruk wataknya.

Ketika Zan akhirnya bisa keluar dari pekerjaannya, anak tunggal ini mengunjungi orangtuanya yang sedang bertugas dinas di Roma, Italia. Sayangnya, kedua orangtuanya mengalami kecelakaan dan meninggal dalam perjalanan menjemput Zan di bandara. Edward Carpenter atau Ted yang dulunya merupakan client-nya bersama Bartley Longe,, menikahinya ketika ia dalam kondisi terpuruk baru kehilangan kedua orangtuanya dan tidak punya siapa-siapa.

Zan kemudian membuka bisnis interior design-nya sendiri dan meminta cerai kepada Ted karena menganggap Zan hanya jadi beban untuk suaminya karena ia sering mental breakdown, stres berat, dan depresi. Zan merasa bahwa Ted menikahinya hanya karena kasihan. Setelah bercerai, Zan baru menyadari bahwa ia hamil anak Ted. Anak tersebut mereka beri nama Matthew Carpenter.

Suatu hari, ketika Zan harus bertemu dengan client-nya Nina Aldrich, ia menitipkan Mathew yang berusia 3 tahun kepada Tiffany Shields, pelajar yang sesekali merangkap jadi babysitter Matthew. Sayangnya, ketika berada di taman di siang bolong bulan Juni, Tiffany ketiduran. Ketika terbangun, Matthew sudah tidak ada di trolinya. Yup, novel ini adalah tentang penculikan anak. Lanjutkan membaca [Resensi Buku] I’ll Walk Alone

Drama Reportase dengan Wakil Rakyat Turki

dscn4040
dokumen pribadi

Malam itu terlihat cerah. Saya menyiapkan tas ransel kecil untuk diisi dengan komputer lipat, kamera saku, buku kecil dan pulpen, juga beberapa tumpuk makalah. Esok pagi saya akan naik kereta cepat menuju ibukota Ankara untuk tugas wawancara dengan salah satu wakil rakyat Turki di gedung TBMM (Majelis Agung Nasional Turki). Wawancara ini adalah bagian dari tugas akhir saya dari mata kuliah Araştırmacı Habercilik (Investigasi Jurnalistik).

Sekitar 2 minggu sebelumnya, saya mengusulkan beberapa topik investigasi kepada dosen paling favorit saya di Universitas Selcuk-Konya, yaitu Prof. A.Y. Dan yang beliau pilih adalah topik mengenai orang Gypsy atau Roman. Sebetulnya, saya sudah penasaran dengan orang-orang Roman ini karena kepopulerannya akan kemampuan meramal. Selain itu, di kota Izmir-Turki, saya juga sering menjumpai orang Roman ini menjajakan aneka bunga. Yang paling khas dari mereka adalah cara berpakaiannya yang menggunakan warna-warna mencolok.

Namun, meski penasaran, saya masih ada rasa takut untuk berinteraksi dengan mereka karena prasangka-prasangka yang ada. Apalagi ketika saya menyebutkan rencana investigasi saya, beberapa teman sekelas nyeletuk, “Jangan ambil topik itu! Kamu nggak akan keluar hidup-hidup!” dan “Semoga kamu sanggup deh ya!” Kalimat tersebut seolah menunjukkan bahwa Roman bukanlah bagian dari kita, yaitu manusia. Padahal, mereka saudara kita juga. Makin semangat niat saya melakukan investigasi tersebut. Saya yakin, banyak hal yang bisa saya pelajari untuk semakin membuka mata tentang mereka.

Prof. A.Y. menyarankan saya menghubungi wakil rakyat Turki pertama yang berasal dari golongan Roman (terpilih pada tahun 2015). Dengan segera, saya mencari nomor telepon kantornya di website resmi TBMM. Rupa-rupanya, tanggapan dari sekretarisnya positif. Dia bilang, dia akan menghubungi saya lagi dua hari berikutnya. Teman saya nyeletuk sambil tertawa, “Paling juga nggak akan dihubungi balik!” Lanjutkan membaca Drama Reportase dengan Wakil Rakyat Turki