[Resensi Buku] Angels and Demons

dokumen pribadi

Judul Buku : Angels and Demons

Penulis : Dan Brown

Penerbit : Pocket Books Fiction

Kota : New York

Tahun : July 2001

Jumlah Halaman : 569 hlm.

An ancient secret brotherhood.

A devastating new weapon of destruction.

An unthinkable target.

World-renowned Harvard symbologist Robert Langdon is summoned to a Swiss research facility to analyze a cryptic symbol seared into the chest of a murdered physicist. What he discovers is unimaginable: a deadly vendetta against the Catholic Church by a centuries-old underground organization-the Illuminati. Desperate to save the Vatican from a powerful time bomb, Langdon joins forces in Rome with the beautiful and mysterious scientist Vittoria Vetra. Together they embark on a frantic hunt through sealed crypts, dangerous catacombs, deserted cathedrals, and the most secretive vault on earth… the long-forgotten Illuminati lair.

“A breathless, real-time adventure… Exciting, fast-paced. With an usually high IQ.”

– San Fransisco Chronicle

“Dan Brown has to be one of the best, smartest, and most accomplished writers in the country.”

– Nelson DeMille


“… Since the beginning of the time, spirituality and religion have been called on to fill in the gaps that science did not understand. The rising and setting of the sun was once attributed to Helios and a flaming chariot. Earthquakes and tidal waves were the wrath of Poseidon. Science  has now proven those gods to be false idols. Soon all Gods will be proven to be false idols. Science has now provided answers to almost every question man can ask…” p. 25

Science and religion are not at odds. Science is simply too young to understand. p. 70

Page 111-112

“An eye inside a triangle.”

“It’s called the trinacria…”

“It’s emblazoned on Masonic lodges around the world.”

“The symbol is Masonic?”

“Actually, no. It’s Illuminati. They called it their ‘shining delta’. A call for enlightened change. The eyes signifies the Illuminati’s ability to infiltrate and watch all things. The shining triangle represents enlightenment. And the triangle is also the Greek letter delta, which is the mathematical symbol –“

“Change. Transition.”

“So you’re saying the U.S. Great Seal is a call for enlightened, all-seeing change?”

“Some would call it a New World Order… Novus Ordo Seclorum. It means New Secular Order.”

“Secular as in nonreligious?”

“God, grant me strength to accept those things I cannot change.” p. 169

Page 173-174

“Terrorism,” the professor had lectured, “has a singular goal. What is it?”

“Killing innocent people?” a student ventured.

“Incorrect. Death is only a byproduct of terrorism.”

“A show of strength?”

“No. A weaker persuasion does not exist.”

“To cause terror?”

“Concisely put. Quite simply, the goal of terrorism is to create terror and fear. Fear undermines faith in the establishment. It weakens the enemy from within… causing unrest in the masses. Write this down. Terrorism is not an expression of rage. Terrorism is a political weapon. Remove a government’s facade of infallibility, and you remove its people’s faith”

“Very little in any organized faith is truly original. Religions are not born from scratch. They grow from one another…” p. 243

Page 361-362

“Terrible things happen in this world. Human tragedy seems like proof that God could not possibly be both all-powerful and well-meaning. If He loves us and has the power to change our situation, He would prevent our pain, wouldn’t He?”

The camerlengo frowned. “Would He?”

Chartrand felt uneasy. Had he overstepped his bounds? Was this one of those religious questions you just didn’t ask? “Well… if God loves us, and He can protect us, He would have to. It seems He is either omnipotent and uncaring, or benevolent and powerless to help.”

“Do you have children, Lieutenant?”

Chartrand flushed. “No, signore.”

“Imagine you had an eight-year-old-son… would you love him?”

“Of course.”

“Would you let him skateboard?”

Chartrand did a double take. The camerlengo always seemed oddly “in touch” for a clergyman. “Yeah, I guess,” Chartrand said. “Sure, I’d let him skateboard, but I’d tell him to be careful.”

“So as this child’s father, you would give him some basic, good advice and then let him go off and make his own mistakes?”

“I wouldn’t run behind him and mollycoddle him if that’s what you mean.”

“But what if he fell and skinned his knee?”

“He would learn to be more careful.”

The camerlengo smiled. “So although you have the power to interfere and prevent your child’s pain, you would choose to show your love by letting him learn his own lessons?”

“Of course. Pain is part of growing up. It’s how we learn.”

The camerlengo nodded. “Exactly.”

The message. This was the leap of faith Vittoria was still struggling to accept. Had God actually communicated with the camerlengo? Vittoria’s gut said no, and yet hers was the science of entanglement physics-the study of interconnectedness. She witnessed miraculous communications every day-twin sea-turtle eggs separated and placed in labs thousands of miles apart hatching at the same instant… acres of jellyfish pulsating in perfect rhythm as if of a single mind. There are invisible lines of communication everywhere, she thought. p. 483

Page 484

He took a model of the human brain down from a shelf and set it in front of her. “As you probably know, Vittoria, human beings normally use a very small percentage of their brain power. However, if you put them in emotionally charged situations-like physical trauma, extreme joy or fear, deep mediation-all of a sudden their neurons start firing like crazy, resulting in massively enchanted mental clarity.”

“So what?” Vittoria said. “Just because you think clearly doesn’t mean you talk to God.”

“Aha!” Vetra exclaimed. “And yet remarkable solutions to seemingly impossible problems often occur in these moments of clarity. It’s what gurus call higher consciousness. Biologists call it altered states. Psychologists call it super-sentience.” He paused. “And Christians call it answered prayer.” Smiling broadly, he added, “Sometimes, divine revelation simply means adjusting your brain to hear what your heart already knows.”

The Lord works in strange ways. p. 566


 “Kamu suka novel thiller ya? Coba baca novelnya Dan Brown deh.”

“Hm, boleh lah ntar kalo ketemu.”

Masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. Padahal awal tahun lalu tiap mampir ke toko buku, di etelasenya sering kali terpampang buku Dan Brown berjudul Baslangıç yang dalam versi Inggrisnya berjudul Origin. Beberapa temen sekelas juga sering nenteng buku itu ke kelas. Bagai kebetulan, teman di Indonesia menyarankan saya untuk baca buku Dan Brown yang berjudul Inferno karena konon latarnya di Istanbul. Tapi sebenernya saya paling penasaran sama bukunya yang berjudul The Da Vinci Code sih. Apalagi dulu pernah nonton filmnya beberapa menit di TV sebelum akhirnya ketiduran.

Jadi pas beberapa hari lalu hunting novel thriller di perpus kampus dan nemu buku Dan Brown berjudul Angels and Demons ini, saya memutuskan untuk meminjamnya.

Novel terbit tahun 2001, saya bacanya di tahun 2019. Better late than never, eh?  :mrgreen:

Buku ini menceritakan tentang perdebatan ilmu pengetahuan dan agama, yang lebih spesifiknya adalah Illuminati dan Gereja St. Peter di Vatican.

Leonardo Vetra adalah seorang pendeta sekaligus fisikawan Italia yang bekerja di CERN (Conseil Europeen pour la Recharche Nucleaire), Swiss. Ia bersama putri angkatnya Vittoria bekerja sama membuat proyek rahasia menciptakan antimatter.

Segala hal di dunia ini selalu punya kebalikan. Ada baik ada buruk, ada malaikat ada setan, ada positif ada negatif, ada utara ada selatan, ada sehat ada sakit, dls. Begitu pula dengan antimatter. Ia merupakan kebalikan dari matter. Antimatter tidak ada di bumi ini, namun bisa diciptakan. Konon, antimatter muncul dari ledakan Big Bang yang membentuk alam semesta. Untuk membuktikan bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari jangkauan manusia, untuk membuktikan Tuhan itu ada, bahwa ilmu pengetahuan dan agama itu bisa berjalan beriringan, Vetra menciptakan antimatter yang tercipta dari ‘tak suatu hal’. Muncul aja gitu. Bingung? :mrgreen:

Nah, jika matter dan antimatter bertemu, akan tercipta ledakan besar. Antimatter di simpan dalam kontainer magnetik yang membuatnya mengambang di tengah-tengah tanpa menyentuh kontainernya yang merupakan matter. Tiap beberapa jam sekali, kontainer ini perlu di charge supaya antimatter tetap mengambang (CMIIW, fisikawan).

Setelah percobaannya ini berhasil, Vetra konsultasi dengan Gereja apakah seharusnya antimatter ini dipublikasikan atau tidak. Positifnya memang akan membantu membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Namun di sisi lain, Vetra juga takut jika ciptaannya yang bisa meledakkan seluruh Vatican City ini digunakan oleh orang tidak bertanggungjawab.

Long story short, Vetra ditemukan terbunuh dalam kondisi badan ditandai dengan simbol Illuminati dan antimatter-nya hilang. Bos CERN Maximilian Kohler meminta bantuan simbologis dari Amerika bernama Robert Langdon untuk memecahkan simbol Illuminati tersebut. Bersama Vittoria Vetra, Robert Langdon terbang ke Vatican setelah mendapat informasi dari Swiss Guard – militer Vatican City, bahwa antimatter mereka tertangkap kamera berada di wilayahnya, namun tidak jelas dimananya. Dengan kondisi tidak di charge, antimatter tersebut akan meledakkan negeri kecil itu dalam waktu kurang dari 24 jam. Sedangkan malam itu akan terjadi pertemuan privat antara cardinal dari seluruh dunia untuk memilih Pope baru.

Siapakah yang paling diuntungkan atas tragedi tersebut? Siapakah kelompok di belakang simbol Illuminati tersebut? Ilmuan CERN? Gereja St. Peter? Atau justru…

Horror and Hope, that’s the code.

Melalui proses panjang, Robert dan Vittoria berhasil meyakinkan camerlengo atau seperti personal assistant the late Pope untuk mengerahkan pasukan mencari antimatter tersebut sebelum meledak. Padahal, saat itu pasukan Swiss Guard juga sedang disibukkan oleh pencarian 4 cardinals yang tiba-tiba menghilang sebelum pemilihan Pope baru dimulai.

Long story short (again), hilangnya ke-4 cardinals dan antimatter membawa Robert dan Vittoria, dibantu oleh Swiss Guard memecahkan teka-teki melalui wisata sejarah Gereja dan Illuminati.

Berdasarkan novel ini, dijelaskan bahwa Illuminati dulunya adalah sekumpulan ilmuwan cerdas yang bertujuan untuk ‘mencerahkan’ dunia dengan penemuannya. Sayangnya, Gereja menentang keras hal ini. Astronomer Galileo Galilei misalnya saja di penjara karena heliocentrism atau kepercayaan bahwa bumi dan planet lain mengitari matahari. Gereja menolak hal ini karena percaya semua hal berpusat mengitari bumi. Akhirnya, ilmuan dalam persaudaraan Illuminati melakukan penelitian secara sembunyi. Gereja pun secara terbuka menyatakan pertentangannya kepada Illuminati dan menganggapnya setan, yang berarti musuh dari gereja.

Selama di penjara, Galileo Galilei menulis beberapa buku. Salah satunya adalah Diagramma Della Verita atau Diagram of Truth. Di salah satu lembarnya terdapat puisi sebagai berikut yang mengitari sudut:

From Santi’s earthly tomb with demon’s hole,

‘Cross Rome the mystic elements unfold.

The path of light is laid, the sacred test,

Let angels guide you on your lofty quest. p. 222

Mulailah perjalanan Robert dan Vittoria mengitari kota Roma dari Santa Maria del Popolo kembali ke St. Peter’s Basilica square, Santa Maria della Vittoria, Piazza Novana, hingga Castel Sant’ Angelo yang membawa mereka ke dunia penuh simbol persaudaraan kuno yang konon telah mati – Illuminati, dan juga rahasia gelap yang ada dalam Gereja.

Buku dengan plot padat ini menyajikan informasi yang semuanya, literally semuanya terkoneksi satu sama lain. Sebuah informasi ataupun adegan ada karena akan mempengaruhi yang lainnya. Jika tidak secara langsung pun, akan mempengaruhi masa depan yaitu di halaman-halaman jauh ke depannya. Biasanya kana da ya yang nulis informasi semacam ‘rambutnya pirang’ just for the sake of it, bukan karena rambut pirang itu mengandung atau akan mempengaruhi sesuatu.

Sensasi thrilling mudah didapat di lembarannya. Sejarahnya pun dapet. Bagus sih menurut saya. Hanya saja saya merasakan pemaksaan ending-nya sejak adegan terjun dari helikopter. Selain itu juga karena posisinya sebagai fiksi sejarah membuat otak saya otomatis kesulitan memisahkan antara yang mana fiksi dan yang mana sejarah. Meskipun fiksi, saya harap Dan Brown sih research betul-betul sebelum menulis novel ini. Bagaimanapun, tulisannya akan mempengaruhi pengetahuan dan memori pembacanya.

4 tanggapan untuk “[Resensi Buku] Angels and Demons”

  1. Baca buku ini, mulai dari lembar pertama anteng bacanya sampai halaman terakhir. Seru!
    Meski ini fiksi berbalut sejarah, pas bacanya serasa itu real 😂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s