[Resensi Buku Fiksi Sejarah] Bab-ı Esrar

Gel, gel, ne olursan ol yine gel / İster kâfir ol, ister ateşe tap, ister puta / Ne olursan ol, yine gel / İster yüz kere tövbe etmiş ol / İster yüz kere bozmuş ol tövbeni / Ümitsizlik kapısı değil bu kapı / Gel ne olursan ol yine gel. Page 232

 

LRM_EXPORT_80729458129256_20190827_200107234
Dokprib

Judul Buku: Bab-ı Esrar

Penulis: Ahmet Ümit

Penerbit: Everest Yayınları

Tahun: 2012

Jumlah Halaman: 394 hlm. 

SUMMARY dan OPINI

Buku Bab-ı Esrar ini saya temukan di dalam kardus bersama tumpukan buku-buku yang sudah saya baca lainnya. Agak terkejut sih. Kapan saya beli dan bawa buku macam begini? Sampul buku ini bergambar The Whirling Dervishes atau yang lebih dikenal dengan Sema/Semazen. Judulnya aja saya nggak ngerti artinya apaan. Setelah ditelisik, ada versi Bahasa Inggrisnya ternyata. Judulnya pun diterjemahkan menjadi The Dervish Gate. 

“Şimdi sema bir tür ibadet, yani namaz gibi… Sema ölümü anlatmaz, yaşamı anlatır aslında. Yani yeniden doğrusu. Günahlardan arınmayı, suretler âleminden, hakikatlar âlemine geçmeyi… Sema için meydana çıkan semazenler tennurelerinin üzerine siyah bir hırka giyerler. İşte o hırka, semazenlerin mezarıdır aslında.” Page 45

Rupanya, buku ini menceritakan tentang perjalanan seorang staff asuransi asal Inggris keturunan Inggris-Turki bernama Karen Kimya Greenwood yang ditugaskan untuk menyelidiki kebenaran kasus kebakaran hotel Yakut milik kliennya, yaitu Ikonion Turizm di kota Konya, Turki. Jika kasus kebakaran ini benar adanya dan tidak dibuat-buat, perusahaan asuransi Karen Kimya diwajibkan untuk membayar dana asuransi senilai jutaan poundsterling. 

Di dalam proses penyelidikan ini, terjadi banyak sekali hal mistik yang dialami oleh Karen Kimya, bahkan sejak ketika ia berada di udara menuju Konya. Dimulai dari suara seseorang yang memanggilnya dengan sebutan ‘Kimya Hanım’, sedang semua orang kecuali ayahnya, memanggilnya Karen, di dalam pesawat. Inilah rentetan peristiwa ganjilnya:

Lanjutkan membaca [Resensi Buku Fiksi Sejarah] Bab-ı Esrar

Menjadi Relawan Bersama Kemenpora Turki

Kegiatan sukarelawan dengan nama Damla Gönüllülük Hareketi ini merupakan kegiatan sukarelawan di bawah naungan KEMENPORA Turki yang berlangsung selama 10 hari dengan jadwal padat dari jam 6 pagi sampai 11 malam – yang kadang molor sampai jam 2 pagi buat ngerjain proyek, di kota-kota marjinal (re: nggak semuanya marjinal) atau dianggap kurang dengan tujuan untuk lebih mengenal kelompok minoritas di sana, serta menciptakan projek-projek baru dalam rangka pembangunan kota tersebut. Kegiatan-kegiatannya serupa: berkunjung ke desa-desa, panti jompo, panti asuhan, pusat rehabilitasi difabel, sekolah, rumah sakit, kantor walikota, universitas (kunjungan rektor), usaha masyarakat (ruko dan rumah makan), tempat bersejarah, membersihkan lingkungan (memungut sampah) dan membuat tempat makan burung, memberikan bantuan kepada keluarga yang kurang mampu, ziarah ke makam pahlawan serta keluarga pahlawan – termasuk polisi dan tentara yang meninggal dalam posisi melindungi negara, berinteraksi dengan anak-anak seperti bermain games, menggambar dan menari bersama, menerbangkan layang-layang, dls.

Kegiatan ini berlangsung beberapa kali dalam sebulan, dan memungkinkan untuk dilakukan bersama sekaligus di berbagai kota. Misalnya saja, saat saya mendaftar, terdapat kegiatan sukarelawan di kota Çankırı, Çorum, Samsun, dan Yozgat pada tanggal 19-28 Juli 2019. Nah, pendaftar diharuskan untuk memilih salah satu kota. Jika tidak bisa memilih, seperti saya, terdapat menu pilihan ‘bebas’. Takdir Tuhan, sekitar dua minggu setelah mendaftar, saya memperoleh telepon penerimaan untuk mengikuti kegiatan sukarelawan di kota Yozgat. 

Damla Gönüllülük Hareketi Yozgat
Tim relawan Damla Yozgat.

Tanggal 18, saya naik bus sekitar 12 jam dari İzmir ke Yozgat. Kota Izmir itu letaknya di bagian Barat Daya Turki. Sedangkan Yozgat terletak di bagian tengah Turki pas. Beda keduanya, Yozgat adalah kota kecil yang tidak begitu dikenal turis, dan jauh lebih konservatif dibandingkan Izmir. Ketika saya naik bus, pramugari bus terheran-heran mendengar jawaban saya yang hendak turun di terminal Yozgat. Berkali-kali ia mengulang pertanyaannya seolah tidak percaya. 

*Highlights* Lanjutkan membaca Menjadi Relawan Bersama Kemenpora Turki

Catatan Kepulangan

Bingung mulai dari mana. Sepertinya udah nganggur terlalu lama. Perlu pasokan energi untuk kembali mengaduk-aduk ingatan yang mulai sirna. Pagi ini seorang teman tiba-tiba mengirimkan pesan WA, “How do you feel to be home?” Dan ketika saya bilang Turki terasa jauh, “Oh wow like history,” jawabnya. Bener banget. Sebenernya, baru sekitar dua minggu lalu saya meninggalkan Turki yang udah jadi rumah kedua selama 5 tahun terakhir. Waktu kembali menginjakkan kaki di bumi pertiwi pun, yang saya rasakan hanyalah kebahagiaan. Rupanya, waktu itu saya belum menyadari kenyataan bahwa saya pergi dari Turki tanpa menggenggam tiket kembali, seperti tahun-tahun yang lalu.

DSC_6136-01
Akhirnya wis udah.

Bukan hanya sebuah negara yang saya tinggalkan, namun juga seluruh kenangan yang perlahan hanyut mengendap ke dasar memori penyimpanan. Otak manusia konon terbatas. Bukannya tergantikan. Hanya saja, detail peristiwa itu bisa jadi meluruh berubah alurnya dalam ingatan. Hal yang paling saya takutkan jika semua akan tertinggal di belakang. Seperti sejarah yang terlupakan.  Lanjutkan membaca Catatan Kepulangan