Perbedaan Kehidupan di Desa dan di Kota

buah-buah-eksotis-indonesia-khas-area-tropis-_120601233730-947

Republika

Sore ini ketika lagi makan buah kiwi, saya dan room mate tiba-tiba teringat buah-buahan yang ada di kampung halaman. Sekeliling rumah saya rasanya bisa disebut kebun buah deh. Ada buah mangga, rambutan, jambu air, jambu biji, avokado, kedondong, sirsak, nangka, pepaya, pisang, buah naga, sawo, belimbing, mengkudu, murbei (besaran), buah asam, ciplukan, tetesemis (nb: nggak tahu bahasa Indonesia-nya apa), hingga pohon kelengkeng yang nggak berbuah – eh – mudah sekali diperoleh. Bahkan berjalan ke sawah yang letaknya tidak jauh dari rumah, akan ada buah melon, semangka, salak pondoh, hingga jeruk. Udahlah ya, mau makan buah apa aja, gampang.

Di kelas persiapan bahasa Turki dulu, saya dan Pamela seringkali berdebat mengenai mana yang lebih menguntungkan; tinggal di kota, atau di desa. Pamela tumbuh besar di Miami, USA yang boleh dibilang kota. Sedangkan saya sebaliknya, 18 tahun lahir dan besar di desa Buluagung, Banyuwangi. Jika Pamela menganggap tinggal di desa itu lebih menguntungkan, saya menganggap sebaliknya. Hm, mungkin memang rumput tetangga itu selalu lebih hijau.

Kenapa saya bilang tinggal di kota itu menguntungkan? Melihat posisi saya sebagai anak desa selama 18 tahun, saya paham betapa susahnya memperoleh asupan bacaan baru. Waktu itu, menjangkau Gramedia membutuhkan waktu kurang lebih dua jam lebih dari tempat saya. Kalau memaksa ingin membeli buku di toko buku dekat, banyakan buku bajakan yang kertasnya nggak bagus dan mudah lepas dari sampulnya. Baca lebih lanjut

Iklan

Kilas Balik Tahun 2017 dan Resolusi Tahun 2018

Selamat datang tahun 2018!

Postingan yang terlambat. Tapi nggak apa-apa lah ya, daripada enggak sama sekali. Hihi. Dua minggu terakhir kemarin, saya disibukkan oleh Ujian Akhir Semester (UAS) 5. Cepet banget deh. Perasaan baru kemarin belajar bahasa Turki, eh udah mau lulus aja.

Tahun 2017 kemarin merupakan tahun yang sangat berharga buat saya. Nggak banyak sih yang saya lakuin. Nggak produktif juga. Tapi setidaknya, saya merasa telah belajar sesuatu dan mencoba hal-hal baru yang sebelumnya tidak begitu terpikirkan dan terbayangkan.

KILAS BALIK 2017

Pertukaran Mahasiswa di Praha, Republik Ceko

IMG_3010

Metropolitan University Prague (dokumen pribadi)

Mungkin bagi sebagian orang, ini biasa aja. Ya emang iya sih. Terlebih bagi mahasiswa/i yang kuliah di Turki, pertukaran mahasiswa ke Eropa di bawah naungan program Erasmus+ bukan hal yang spesial karena peluangnya besar. Tapi bagi saya, Baca lebih lanjut

Pengalaman Magang di Media Turki

ege-ajans-26-yasinda-hbrfoto-2012-20120201105027

kentyasam

Tanggal 4-8 Desember 2017 kemarin saya magang di media kampus – Ege Ajans/Ege (Aegean) Agency – untuk memenuhi syarat kelulusan. Total waktu magang yang harus kita penuhi adalah dua bulan yang meliputi satu bulan magang di kampus, dan satu bulan sisanya magang bebas di luar kampus. Nah, magang satu bulan di dalam kampus tadi dibagi menjadi empat semester; yang artinya kami perlu magang selama seminggu di setiap semester 5-8.

Karena saya berasal dari jurusan jurnalistik, saya ditugaskan untuk menjadi muhabir (dalam bahasa Turki) atau news reporter selama magang. Setiap jam 09.00 pagi, kami mahasiswa magang harus sudah berkumpul di haber odası atau newsroom untuk Baca lebih lanjut

Biaya dan Kelangsungan Hidup Mahasiswa di Turki

Sudah hampir satu bulan laptop saya rusak. Hampir sebulan pula saya hanya bertahan dengan pinjam laptop teman. Untungnya kegiatan kampus tidak membutuhkan laptop setiap saat. Resikonya, saya jadi lupa kalau belum posting apapun di blog bulan ini. Tahu-tahu udah mau November aja.

Selain masih nano-nano mikirin masa depan laptop, bulan ini saya lagi sibuk juga nyusun CV dan nyari tempat buat magang musim panas depan. Tapi nyarinya juga kurang maksimal karena laptop saya rusak. Laptop emang ujung dari segalanya ya. ckckck

Kali ini saya pengin cuap-cuap mengenai biaya dan kelangsungan hidup mahasiswa di kota Izmir, Turki. Yuk yuk yuk bahas satu-satu.

MAKANAN

Genclik Merkezi

Milliyet Blog

Untuk menekan pengeluaran, mahasiswa di sini banyak yang lebih memilih untuk makan siang di Gençlik Merkezi atau markas untuk pemuda-pemudi. Di sana, pemerintah daerah menyediakan makan siang gratis untuk para pelajar. Asyik kan? Saya juga sering mampir ke sana. Makanannya bervariasi setiap hari. Dari mulai nasi, pasta, olahan sayur dan daging, hingga buah-buahan. Meskipun kadang antreannya panjang, tetap seru kok karena rame-rame. Namanya juga makanan gratis.

Kalau nggak gitu, ada juga sebagian mahasiswa yang lebih memilih untuk mengisi perut di rumah makan kampus. Harganya cuma 3tl sekali makan, yaitu kurang dari Rp. 12.000,-. Baca lebih lanjut

Enaknya Kuliah di Luar Negeri

DSCN2541

dokumen pribadi

Kadang suka heran sama orang nyinyir yang menghakimi dari permukaan. Gimana yah guys. Bener sih emang kalau nggak nyinyir luarnya, mau nyinyir apanya toh dalemnya nggak kelihatan. Maksudnya sih, boleh aja berpendapat negatif dan positif. Tapi sekiranya menyakiti makhluk Allah yang lain, nyinyirnya simpan sendiri dong. Nggak usah dibagikan.

Kuliah di luar negeri memang banyak dilemanya. Orang berbondong-bondong pengin kuliah di luar negeri gegara lihat instagram mahasiswa di sana. Bayangkan guys, cuma gegara instagram!

Seru bisa temenan dan bercandaan bareng bule!

Keren banget foto-foto sama bangunan khas Eropa! Nih mahasiswa kerjaannya jalan-jalan mulu!

Wuih makanannya mewah-mewah. Enak-enak!

Padahal aslinya itu… Baca lebih lanjut

Caraku Menikmati Musim Panas Turki

Hari ini, salah satu room mate saya akan pulang kampung. Dia telah menyelesaikan kegiatan magangnya. Sebagai perpisahan, saya dan tiga room mate saya pergi sarapan bersama.

IMG-20170730-WA0006

sarapan ala Turki (doc prib)

Selepas menikmati sarapan, saya duduk termenung. Banyak hal yang saya pelajari musim panas ini; bahwasanya seseorang memang terkadang harus menutup bukunya dan pergi keluar untuk berbaur. Saya memang bukan kutu buku banget. Tapi bisalah terhitung sebagai seseorang yang sangat menikmati buku dalam kesendirian. Dulunya, membaca biografi, novel, cerpen, dan berita, sudah membuat saya cukup puas.

Setelah mengikuti program pertukaran mahasiswa Erasmus semester lalu, orang bilang saya banyak berubah. Mungkin memang benar. Setelah melakukan solo traveling, saya merasa bahwa seseorang memang sangat perlu berbaur dan menuliskan kisahnya sendiri. Oh, saya tidak bilang bahwa seorang kutu buku itu tidak punya cerita. Tentu saja mereka punya. Ilmu eksak dan nurani yang didapat dari buku mungkin cukup membantu. Tapi terkadang, melihat birunya langit yang seirama dengan lautan, mendengar nyanyian syahdu burung-burung bersarang di sesemak dan pohon, ataupun sekedar menyentuh panasnya bulan Juli di Turki itu perlu. Sesekali, indera yang lain juga perlu penyegaran.

Kembali ke beberapa minggu lalu, saya cukup stres. Baca lebih lanjut

Percaya Aja Sama Allah

trust-in-allah

sumber : devinilasari.wordpress.com

“Allah tidak akan membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kemampuannya.”

Setelah memperoleh Letter of Acceptance yang menyatakan bahwa saya diterima program beasiswa S1 Jurnalistik di Ege University, hati saya senang namun bimbang. Saya membayangkan andai beasiswa bulanan yang saya terima dari pemerintah Turki tidak cukup, saya mau bagaimana? Masa iya harus menelan luka di negeri orang?

Tentu saja biaya hidup di Indonesia dan di Turki berbeda. Apalagi, saya tinggal di desa ketika berada di Indonesia. Sedangkan di Turki, nantinya saya akan tinggal di kota terbesar ketiga. Akhirnya, bismillah saja, saya pergi ke Turki. Kalau tidak cukup, bayangan saya bisa mencari peluang kerja paruh waktu. Alhamdulillah, meski teman-teman Eropa saya seringkali mengeluhkan jumlah uang saku bulanan hanya mampu dipakai hidup setengah bulan, bagi saya Baca lebih lanjut