Perjalanan Pencarian Kerja

Rak Buku
Follow us on Instagram @worldbookeater

Kalau tinggal di kampung, anak kuliah yang lulus dan nganggur pasti jadi cibiran. Soalnya nggak banyak yang kuliah. Apalagi yang lulusan luar negeri. Nggak di lihat negara, jurusan apa, ataupun kuliahnya gimana. Ya… mungkin positifnya bisa jadi doa sih. Tapi sekaligus tekanan bagi yang masih pengin santai di rumah, apalagi yang udah nyari dan belum dapet-dapet.

Rasa pulang kampung dengan alasan liburan dan lulus sarjana emang beda, ya. Kalau liburan, tiga bulan terasa cepet. Sedangkan pulang lulus itu, jangankan tiga bulan, dua minggu aja udah kebakaran jenggot. 

Kata temen sih, slow aja, rezeki nggak akan tertukar. Banyak kok yang nganggur sampe hampir setahun gitu.

Kenyataannya, susah mah buat nggak panik. Takut nggak dapet kerja, ngecewain keluarga, dan gengsi. Ya, gengsi inilah yang dulu sempet menghalangi saya daftar-daftar kerja. 

Setelah dipikir-pikir, ngapain gengsi, ya. Yang penting cari pengalaman dulu dan sibukkan diri sambil terus belajar. Gaji gede bakal menyusul. Dengan mindset beginilah saya daftar pekerjaan seenak jidad. Tertarik dikit, langsung daftar. Makanya, posisi yang dilamar pun bervariasi. Hahaha.

SHOPEE

Marketing Intern

Perjalanan saya menjadi jobseeker dimulai dari pendaftaran di Kalibrr sebagai Marketing Intern Shopee. Dulu sih mikir daftar intern karena masih belum percaya diri daftar jadi pegawai tetap. Lagian, tes jadi pegawai tetap itu lebih riweuh daripada intern. Sedangkan kalau kamu intern, ada kemungkinan kamu langsung diangkat kalau kerjamu bagus. Lanjutkan membaca Perjalanan Pencarian Kerja

Menjadi Relawan Bersama Kemenpora Turki

Kegiatan sukarelawan dengan nama Damla Gönüllülük Hareketi ini merupakan kegiatan sukarelawan di bawah naungan KEMENPORA Turki yang berlangsung selama 10 hari dengan jadwal padat dari jam 6 pagi sampai 11 malam – yang kadang molor sampai jam 2 pagi buat ngerjain proyek, di kota-kota marjinal (re: nggak semuanya marjinal) atau dianggap kurang dengan tujuan untuk lebih mengenal kelompok minoritas di sana, serta menciptakan projek-projek baru dalam rangka pembangunan kota tersebut. Kegiatan-kegiatannya serupa: berkunjung ke desa-desa, panti jompo, panti asuhan, pusat rehabilitasi difabel, sekolah, rumah sakit, kantor walikota, universitas (kunjungan rektor), usaha masyarakat (ruko dan rumah makan), tempat bersejarah, membersihkan lingkungan (memungut sampah) dan membuat tempat makan burung, memberikan bantuan kepada keluarga yang kurang mampu, ziarah ke makam pahlawan serta keluarga pahlawan – termasuk polisi dan tentara yang meninggal dalam posisi melindungi negara, berinteraksi dengan anak-anak seperti bermain games, menggambar dan menari bersama, menerbangkan layang-layang, dls.

Kegiatan ini berlangsung beberapa kali dalam sebulan, dan memungkinkan untuk dilakukan bersama sekaligus di berbagai kota. Misalnya saja, saat saya mendaftar, terdapat kegiatan sukarelawan di kota Çankırı, Çorum, Samsun, dan Yozgat pada tanggal 19-28 Juli 2019. Nah, pendaftar diharuskan untuk memilih salah satu kota. Jika tidak bisa memilih, seperti saya, terdapat menu pilihan ‘bebas’. Takdir Tuhan, sekitar dua minggu setelah mendaftar, saya memperoleh telepon penerimaan untuk mengikuti kegiatan sukarelawan di kota Yozgat. 

Damla Gönüllülük Hareketi Yozgat
Tim relawan Damla Yozgat.

Tanggal 18, saya naik bus sekitar 12 jam dari İzmir ke Yozgat. Kota Izmir itu letaknya di bagian Barat Daya Turki. Sedangkan Yozgat terletak di bagian tengah Turki pas. Beda keduanya, Yozgat adalah kota kecil yang tidak begitu dikenal turis, dan jauh lebih konservatif dibandingkan Izmir. Ketika saya naik bus, pramugari bus terheran-heran mendengar jawaban saya yang hendak turun di terminal Yozgat. Berkali-kali ia mengulang pertanyaannya seolah tidak percaya. 

*Highlights* Lanjutkan membaca Menjadi Relawan Bersama Kemenpora Turki

Catatan Kepulangan

Bingung mulai dari mana. Sepertinya udah nganggur terlalu lama. Perlu pasokan energi untuk kembali mengaduk-aduk ingatan yang mulai sirna. Pagi ini seorang teman tiba-tiba mengirimkan pesan WA, “How do you feel to be home?” Dan ketika saya bilang Turki terasa jauh, “Oh wow like history,” jawabnya. Bener banget. Sebenernya, baru sekitar dua minggu lalu saya meninggalkan Turki yang udah jadi rumah kedua selama 5 tahun terakhir. Waktu kembali menginjakkan kaki di bumi pertiwi pun, yang saya rasakan hanyalah kebahagiaan. Rupanya, waktu itu saya belum menyadari kenyataan bahwa saya pergi dari Turki tanpa menggenggam tiket kembali, seperti tahun-tahun yang lalu.

DSC_6136-01
Akhirnya wis udah.

Bukan hanya sebuah negara yang saya tinggalkan, namun juga seluruh kenangan yang perlahan hanyut mengendap ke dasar memori penyimpanan. Otak manusia konon terbatas. Bukannya tergantikan. Hanya saja, detail peristiwa itu bisa jadi meluruh berubah alurnya dalam ingatan. Hal yang paling saya takutkan jika semua akan tertinggal di belakang. Seperti sejarah yang terlupakan.  Lanjutkan membaca Catatan Kepulangan

Farabi di Kota yang Katanya `Paling Konservatif di Turki`

exchange program
pinterest

Salah satu aktivitas yang cukup diminati mahasiswa adalah program pertukaran pelajar di universitas lain. Tak terkecuali untuk mahasiswa di kampus Turki dengan tiga program pertukarannya yaitu Erasmus, Mevlana, dan juga Farabi. Meskipun begitu, yang paling banyak peminatnya – setidaknya begitulah di universitas tempat saya belajar – adalah program pertukaran Erasmus. Program yang dinaungi oleh Uni Eropa ini mengizinkan mahasiswa di universitas Eropa termasuk Turki untuk melakukan pertukaran selama satu atau dua semester. Beasiswanya meliputi tuition fee dan uang saku yang nilainya berbeda-beda antar negara, yaitu 300-500 Euro per bulan. Sedangkan untuk tiket pesawat dan pengurusan visa, ditanggung sendiri.

Secara singkat, proses seleksi Erasmus terdiri dari 3 tahap yaitu administrasi, tes tulis, dan juga interview dengan total poin 50% dari GPA, 25% dari tes tulis, dan sisanya dari interview. Mahasiswa bebas memilih maksimal 5 universitas. Sistem pilihnya sama seperti SNMPTN/SBMPTN.

Berbeda dengan Erasmus, Mevlana dan Farabi merupakan program pertukaran yang dibawahi oleh Dewan Pendidikan Tinggi Turki. Mevlana merupakan program pertukaran ke negara-negara di luar Eropa seperti Amerika sampai Asia meliputi China, Korea Selatan, hingga Indonesia. Sedangkan Farabi merupakan program pertukaran ke universitas-universitas lain di dalam Turki.

Karena saya belum ada kesempatan ikut Mevlana, jadi kurang tahu proses seleksinya. Padahal mah pengin banget ke Korea Selatan atau China. Sayangnya, waktu itu program Mevlana di jurusan saya belum dibuka.

Farabi sendiri proses seleksinya lebih simpel. Cukup seleksi administrasi. Tapi kita hanya bisa memilih satu universitas saja. Setelah dokumen kita dikirim ke universitas tujuan, mereka akan menyeleksi calon berdasarkan IPK-nya. Beasiswa program ini sistemnya juga mirip seperti Erasmus yaitu tuition fee dan uang saku senilai 500 Turkish Lira per bulan. Kalah banyak sih dibanding uang saku Erasmus karena memang hidup di Turki masih jauh lebih murah daripada di Eropa. Ya meskipun sebagian sisi Istanbul dikatakan sebagai Eropa juga. :mrgreen:

Proses pendaftaran ketiga program tersebut biasanya dilakukan di awal tahun secara berurutan. Seperti saat ini nih.

Baca : Catatan Erasmus (Spring 2016/2017)

Kali ini mau cuap-cuap soal Farabi (Fall 2018/2019) di Selcuk University yang terletak di kota Konya.

Baca : Perbandingan 2 Universitas di Turki; Ege (Izmir) dan Selcuk (Konya)

Kenapa sih ikut Farabi? Itu kan cuma pertukaran di dalam Turki?

Iya sih. Sayangnya, sejak akhir tahun 2017 lalu, mahasiswa asing yang kuliah di Turki dengan program beasiswa penuh dari pemerintah Turki tidak diperbolehkan lagi untuk mengikuti program Erasmus dan Mevlana. Sekedar informasi aja untuk calon mahasiswa dari Indonesia yang niatannya kuliah di Turki untuk mengikuti kedua program tersebut.

Nah, karena kedua program tersebut sudah tidak diperbolehkan, larilah saya ke Farabi.

Kenapa lari?

Sebenarnya ini salah satu cara lari dari kenyataan sih :mrgreen:

Lanjutkan membaca Farabi di Kota yang Katanya `Paling Konservatif di Turki`

Drama Reportase dengan Wakil Rakyat Turki

dscn4040
dokumen pribadi

Malam itu terlihat cerah. Saya menyiapkan tas ransel kecil untuk diisi dengan komputer lipat, kamera saku, buku kecil dan pulpen, juga beberapa tumpuk makalah. Esok pagi saya akan naik kereta cepat menuju ibukota Ankara untuk tugas wawancara dengan salah satu wakil rakyat Turki di gedung TBMM (Majelis Agung Nasional Turki). Wawancara ini adalah bagian dari tugas akhir saya dari mata kuliah Araştırmacı Habercilik (Investigasi Jurnalistik).

Sekitar 2 minggu sebelumnya, saya mengusulkan beberapa topik investigasi kepada dosen paling favorit saya di Universitas Selcuk-Konya, yaitu Prof. A.Y. Dan yang beliau pilih adalah topik mengenai orang Gypsy atau Roman. Sebetulnya, saya sudah penasaran dengan orang-orang Roman ini karena kepopulerannya akan kemampuan meramal. Selain itu, di kota Izmir-Turki, saya juga sering menjumpai orang Roman ini menjajakan aneka bunga. Yang paling khas dari mereka adalah cara berpakaiannya yang menggunakan warna-warna mencolok.

Namun, meski penasaran, saya masih ada rasa takut untuk berinteraksi dengan mereka karena prasangka-prasangka yang ada. Apalagi ketika saya menyebutkan rencana investigasi saya, beberapa teman sekelas nyeletuk, “Jangan ambil topik itu! Kamu nggak akan keluar hidup-hidup!” dan “Semoga kamu sanggup deh ya!” Kalimat tersebut seolah menunjukkan bahwa Roman bukanlah bagian dari kita, yaitu manusia. Padahal, mereka saudara kita juga. Makin semangat niat saya melakukan investigasi tersebut. Saya yakin, banyak hal yang bisa saya pelajari untuk semakin membuka mata tentang mereka.

Prof. A.Y. menyarankan saya menghubungi wakil rakyat Turki pertama yang berasal dari golongan Roman (terpilih pada tahun 2015). Dengan segera, saya mencari nomor telepon kantornya di website resmi TBMM. Rupa-rupanya, tanggapan dari sekretarisnya positif. Dia bilang, dia akan menghubungi saya lagi dua hari berikutnya. Teman saya nyeletuk sambil tertawa, “Paling juga nggak akan dihubungi balik!” Lanjutkan membaca Drama Reportase dengan Wakil Rakyat Turki

Kilas Balik Tahun 2018 dan Resolusi Tahun 2019

Akhirnya momen yang ditunggu-tunggu dateng juga, yaitu momen ngayal merincikan target-target yang ingin diraih di tahun 2019, dan introspeksi diri sekaligus me-review tahun 2018  yang alhamdulillah penuh berkah ini. Percaya atau enggak, resolusi yang paling saya anggap mustahil tahun lalu, justru terwujud tahun ini, seperti belajar bikin animasi (hampir), dan belajar Bahasa Mandarin. Agaknya, itu terjadi karena tekanan akibat saya posting di blog ini. Haha. Jadi, tahun ini pun saya ingin melakukan hal yang sama.

Baca : Kilas Balik Tahun 2017 dan Resolusi Tahun 2018

KILAS BALIK 2018

Magang

IMG-20180907-WA0020
Magang di kantor Ruangguru, Jakarta

Salah satu resolusi saya tahun lalu adalah magang. Sebetulnya karena ini memang magang wajib dari kampus sih – waktu itu saya belum sadar betapa penting dan serunya magang.

Cuma pengin magang di tempat yang beneran mampu meningkatkan kualitas dan kreativitas saya; beneran ada faedahnya di masa depan. Selain itu, keberadaan saya di situ juga setidaknya menyumbang sesuatu lah walau kecil. – Naelil, 2017

Alhamdulillah dapat kesempatan magang di perusahaan yang bergerak di bidang pendidikan, yaitu PT Ruang Raya Indonesia aka Ruangguru. Bidang yang memang ingin saya geluti jika dikaitkan dengan kontribusi untuk bangsa. Berat pula bahasanya! Lanjutkan membaca Kilas Balik Tahun 2018 dan Resolusi Tahun 2019

Menua Dua Kali Setahun

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Gimana rasanya umur 23?

Hening.

Nggak ada bedanya sih. Kalau ditanya soal perubahan umur yang paling terasa, justru ketika berubah dari usia 19 ke 20. Sisanya? Udah nggak kerasa apapun. Jika dulu waktu masih berseragam suka ekspektasi dikasih kejutan, usia kepala dua justru nggak ekspek apa-apa. Bahkan ketika berganti ke hari jadi, I felt nothing. Bener-bener kayak hari-hari biasa. Nggak menunggu menit berubah ke 00.01 am. Lanjutkan membaca Menua Dua Kali Setahun