Drama Reportase dengan Wakil Rakyat Turki

dscn4040
dokumen pribadi

Malam itu terlihat cerah. Saya menyiapkan tas ransel kecil untuk diisi dengan komputer lipat, kamera saku, buku kecil dan pulpen, juga beberapa tumpuk makalah. Esok pagi saya akan naik kereta cepat menuju ibukota Ankara untuk tugas wawancara dengan salah satu wakil rakyat Turki di gedung TBMM (Majelis Agung Nasional Turki). Wawancara ini adalah bagian dari tugas akhir saya dari mata kuliah Araştırmacı Habercilik (Investigasi Jurnalistik).

Sekitar 2 minggu sebelumnya, saya mengusulkan beberapa topik investigasi kepada dosen paling favorit saya di Universitas Selcuk-Konya, yaitu Prof. A.Y. Dan yang beliau pilih adalah topik mengenai orang Gypsy atau Roman. Sebetulnya, saya sudah penasaran dengan orang-orang Roman ini karena kepopulerannya akan kemampuan meramal. Selain itu, di kota Izmir-Turki, saya juga sering menjumpai orang Roman ini menjajakan aneka bunga. Yang paling khas dari mereka adalah cara berpakaiannya yang menggunakan warna-warna mencolok.

Namun, meski penasaran, saya masih ada rasa takut untuk berinteraksi dengan mereka karena prasangka-prasangka yang ada. Apalagi ketika saya menyebutkan rencana investigasi saya, beberapa teman sekelas nyeletuk, “Jangan ambil topik itu! Kamu nggak akan keluar hidup-hidup!” dan “Semoga kamu sanggup deh ya!” Kalimat tersebut seolah menunjukkan bahwa Roman bukanlah bagian dari kita, yaitu manusia. Padahal, mereka saudara kita juga. Makin semangat niat saya melakukan investigasi tersebut. Saya yakin, banyak hal yang bisa saya pelajari untuk semakin membuka mata tentang mereka.

Prof. A.Y. menyarankan saya menghubungi wakil rakyat Turki pertama yang berasal dari golongan Roman (terpilih pada tahun 2015). Dengan segera, saya mencari nomor telepon kantornya di website resmi TBMM. Rupa-rupanya, tanggapan dari sekretarisnya positif. Dia bilang, dia akan menghubungi saya lagi dua hari berikutnya. Teman saya nyeletuk sambil tertawa, “Paling juga nggak akan dihubungi balik!” Lanjutkan membaca Drama Reportase dengan Wakil Rakyat Turki

Iklan

Kilas Balik Tahun 2018 dan Resolusi Tahun 2019

Akhirnya momen yang ditunggu-tunggu dateng juga, yaitu momen ngayal merincikan target-target yang ingin diraih di tahun 2019, dan introspeksi diri sekaligus me-review tahun 2018  yang alhamdulillah penuh berkah ini. Percaya atau enggak, resolusi yang paling saya anggap mustahil tahun lalu, justru terwujud tahun ini, seperti belajar bikin animasi (hampir), dan belajar Bahasa Mandarin. Agaknya, itu terjadi karena tekanan akibat saya posting di blog ini. Haha. Jadi, tahun ini pun saya ingin melakukan hal yang sama.

Baca : Kilas Balik Tahun 2017 dan Resolusi Tahun 2018

KILAS BALIK 2018

Magang

IMG-20180907-WA0020
Magang di kantor Ruangguru, Jakarta

Salah satu resolusi saya tahun lalu adalah magang. Sebetulnya karena ini memang magang wajib dari kampus sih – waktu itu saya belum sadar betapa penting dan serunya magang.

Cuma pengin magang di tempat yang beneran mampu meningkatkan kualitas dan kreativitas saya; beneran ada faedahnya di masa depan. Selain itu, keberadaan saya di situ juga setidaknya menyumbang sesuatu lah walau kecil. – Naelil, 2017

Alhamdulillah dapat kesempatan magang di perusahaan yang bergerak di bidang pendidikan, yaitu PT Ruang Raya Indonesia aka Ruangguru. Bidang yang memang ingin saya geluti jika dikaitkan dengan kontribusi untuk bangsa. Berat pula bahasanya! Lanjutkan membaca Kilas Balik Tahun 2018 dan Resolusi Tahun 2019

Menua Dua Kali Setahun

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Gimana rasanya umur 23?

Hening.

Nggak ada bedanya sih. Kalau ditanya soal perubahan umur yang paling terasa, justru ketika berubah dari usia 19 ke 20. Sisanya? Udah nggak kerasa apapun. Jika dulu waktu masih berseragam suka ekspektasi dikasih kejutan, usia kepala dua justru nggak ekspek apa-apa. Bahkan ketika berganti ke hari jadi, I felt nothing. Bener-bener kayak hari-hari biasa. Nggak menunggu menit berubah ke 00.01 am. Lanjutkan membaca Menua Dua Kali Setahun

Mengintip Paris yang Katanya…

Sebenarnya, saya kurang tertarik sama yang namanya Paris. Sama halnya dengan kurang tertariknya saya sama Milan. Paling gitu-gitu aja. Kesannya udah rame, berisik, dan hedon. Bagi penggiat fashion, dua kota itu boleh jadi masuk ke list destinasi wajib. Buat saya yang mahasiswa jelata, apalah daya ke sana. Belanja top brands di the Champs-Elysees juga nggak mungkin, apalagi hunting produk fashion di Milan shopping streets.

Sekedar wajib aja. Katanya rugi kalau ada kesempatan main ke Eropa dan nggak mampir ke Paris untuk menyaksikan kokoh dan cantiknya menara setinggi 300m yang ada sejak akhir abad ke 19. Ya, menara Eiffel yang sering nongol di buku Atlas halaman terakhir, materi keajaiban dunia.

Supaya nggak merugi jauh-jauh ke sana, saya cari tahu lagi soal Paris. Ternyata ada toko buku Shakespeare and Company yang cukup menarik untuk dikunjungi di Paris. Hm, boleh deh. Saya membeli tiket Euro Trip II, kali ini tanpa travel-mate aka solo-traveling, dengan rute Praha-Paris-Amsterdam-Praha. Booked!

Karena ini bakal jadi trip solo pertama saya di Eropa, rasanya dag dig dug dar selama duduk di bus. Kata orang, Paris itu nggak ramah sama traveler. Mungkin karena udah bosen juga dengan menumpuknya traveler di sana. Kata media, Paris juga nggak ramah sama Muslim. Apalagi saya dengan jelas menampakkan identitas Muslim saya menggunakan jilbab. Bismillah aja lah. Kata ibu, dimana-mana itu bumi Allah.

Saya sampai di Paris pagi hari. Metro yang saya tumpangi dari terminal bus ke the Champs-Elysees cukup sepi. Bahkan ketika saya melalui lorong untuk keluar dari stasiun metro, hanya terdapat 1-2 orang yang lalu lalang. Karena saya datang dengan prasangka, belum-belum, Lanjutkan membaca Mengintip Paris yang Katanya…

Krakow-Auschwitz Polandia yang Menyimpan Kenangan

Pengin banget ke Polandia itu gara-gara buku Student Traveler-nya Annisa Potter. Salah satu destinasi Kak Annisa adalah bekas kamp konsentrasi NAZI di Auschwitz Birkenau yang dijadikan museum untuk mengenang korban holocaust pada perang dunia II.

Saya dan travel-mate sampai di kota Krakow yang berada di sisi selatan Polandia sekitar jam 10 pagi.  Kami pergi ke Auschwitz dengan bus khusus yang memang disediakan beberapa waktu sekali. Saya nggak inget harga busnya berapa, tapi cukup murah kok. Langsung tanyakan aja pada pusat informasi yang ada di terminal bus. Jangan lupa cek jam pulangnya juga. Jangan sampai ketinggalan di Auschwitz.

Sepanjang perjalanan dari Krakow ke Auschwitz, yang saya lihat kebanyakan adalah hamparan hijau dan rumah-rumah sederhana pedesaan ala-ala Eropa. Benar-benar seperti sedang berada di desa. Sangat cantik. Mata saya tak kuasa mengerjap demi pemandangan yang luar biasa itu. Saya langsung membayangkan film-film barat berlatar masa lampau dimana gadis-gadis dengan rambut pirang dikepang mengenakan baju banyak rumbainya, menyongsong hari dengan memberi makan hewan ternak atau berkebun, lalu lelakinya mengenakan sepatu boot dan suspender siap pergi ke sawah.

Sesampainya di Auschwitz, Lanjutkan membaca Krakow-Auschwitz Polandia yang Menyimpan Kenangan

Main ke Berlin Karena Gita Savitri

IMG_1803
(dokumen pribadi)

Pengin ke Berlin itu cuma gara-gara Gita Savitri. Serius. Berharap-harap cemas ketemu doi. Padahal kemungkinannya sangat kecil. Sekedar cerita nih, kemarin pas Gita baru launching buku Rentang Kisah, saya buru-buru nitip ke temen yang lagi di Indonesia buat beliin dan bawain bukunya ke Turki. Setahun kemudian, yaitu tahun ini, ketika saya diterima magang di Ruangguru dan tau kalau Gita itu salah satu ambassador nya, saya langsung bawa buku Rentang Kisah dari Turki ke Banyuwangi, lalu ke Jakarta.

Suatu hari, kami para intern ditawari untuk jadi penonton buat syuting Ruangguru macam 1 jam bersama Iqbaal itu yang beberapa waktu lalu tayang di beberapa stasiun TV. Saya mikir dong, siapa tau ada Gita dan bisa minta ttd sama fotonya. Ternyata, intern Scriptwriter nggak bisa pergi karena banyak kerjaan. Naasnya lagi, di acara itu emang nggak ada Gita. Cuma Jefri Nichol, Jess No Limit, sama Misellia Ikwan. Yaudah, emang belum takdir ketemu Gita. Buku Rentang Kisah pun saya paketin ke Banyuwangi sebelum saya terbang kembali ke Turki.

Sebegitunya loh saya ke kamu, Kak Git. Huhu. Drama… drama.

Melanjutkan Euro Trip I ke Vienna dan Budapest untuk mengisi liburan Paskah 2017 Lanjutkan membaca Main ke Berlin Karena Gita Savitri

Budapest, Satu Satu Kota Paling Cantik di Eropa

Pertama kali naksir sama Budapest itu ketika denger lagu berjudul sama milik George Ezra yang keluar pada tahun 2014. Padahal official music video-nya juga nggak menampakkan ibukota Hungaria itu sama sekali. Dasarnya suara George Ezra bagus dan lagunya cukup catchy, langsung tertarik aja sama Budapest.

IMG_2004
duduk di depan Hungarian Parliament Building (dokumen pribadi)

Awal masuk kuliah Jurnalistik, untuk mengobati stres, seorang temen menyarankan saya nonton drama Korea berjudul Pinocchio. Tentang kehidupan reporter loh, katanya. Dari situ saya mulai demam Lee Jong Suk. Setelah menyelesaikan drama Korea pertama saya, saya mulai nonton drakor yang dibintangi Lee Jong Suk aja – kecuali Descendants of the Sun. Oke, ini keterlaluan. Suatu hari, bertemulah saya dengan drakor Doctor Stranger yang salah satu scene-nya adalah di Budapest. Yep, makin mupeng lah pengin ke sana.

Alhamdulillah, liburan Paskah 2017, bisa mampir ke Budapest bareng travel-mate yang udah saya ceritain di episode trip ke Vienna. Meski cuma sehari, rasanya udah jatuh cinta banget sama yang namanya Budapest. Kalau ada kesempatan balik lagi ke Eropa, masih mau dong main ke Budapest lagi. Namun dalam jangka waktu yang lebih lama, dan trip yang lebih proper – bukan ala backpacker.

Kami pergi ke Budapest dari Krakow menggunakan bus. Sampai di Hungaria cukup pagi waktu itu. Mungkin sekitar jam 6. Dan percayalah, dinginnya minta ampun. Padahal April itu harusnya udah mulai masuk musim semi. Semriwing boleh lah, asal jangan freezing.

Dari terminal bus Budapest, kita naik tram kuning yang khas itu ke Budapest Mosque buat istirahat bentar sampai jam 10 pagi. Biar agak siangan lah kita jalan lagi. Masjidnya cukup sepi waktu itu. Cuma ada seorang ibu-ibu petugas bersih-bersih yang tampaknya agak ngedumel dengan bahasa Arab karena kita bobok-bobokan di sana. 😅 Lanjutkan membaca Budapest, Satu Satu Kota Paling Cantik di Eropa