Diposkan pada Cerita Tanah Rantau, Erasmus

Mengintip Paris yang Katanya…

Sebenarnya, saya kurang tertarik sama yang namanya Paris. Sama halnya dengan kurang tertariknya saya sama Milan. Paling gitu-gitu aja. Kesannya udah rame, berisik, dan hedon. Bagi penggiat fashion, dua kota itu boleh jadi masuk ke list destinasi wajib. Buat saya yang mahasiswa jelata, apalah daya ke sana. Belanja top brands di the Champs-Elysees juga nggak mungkin, apalagi hunting produk fashion di Milan shopping streets.

Sekedar wajib aja. Katanya rugi kalau ada kesempatan main ke Eropa dan nggak mampir ke Paris untuk menyaksikan kokoh dan cantiknya menara setinggi 300m yang ada sejak akhir abad ke 19. Ya, menara Eiffel yang sering nongol di buku Atlas halaman terakhir, materi keajaiban dunia.

Supaya nggak merugi jauh-jauh ke sana, saya cari tahu lagi soal Paris. Ternyata ada toko buku Shakespeare and Company yang cukup menarik untuk dikunjungi di Paris. Hm, boleh deh. Saya membeli tiket Euro Trip II, kali ini tanpa travel-mate aka solo-traveling, dengan rute Praha-Paris-Amsterdam-Praha. Booked!

Karena ini bakal jadi trip solo pertama saya di Eropa, rasanya dag dig dug dar selama duduk di bus. Kata orang, Paris itu nggak ramah sama traveler. Mungkin karena udah bosen juga dengan menumpuknya traveler di sana. Kata media, Paris juga nggak ramah sama Muslim. Apalagi saya dengan jelas menampakkan identitas Muslim saya menggunakan jilbab. Bismillah aja lah. Kata ibu, dimana-mana itu bumi Allah.

Saya sampai di Paris pagi hari. Metro yang saya tumpangi dari terminal bus ke the Champs-Elysees cukup sepi. Bahkan ketika saya melalui lorong untuk keluar dari stasiun metro, hanya terdapat 1-2 orang yang lalu lalang. Karena saya datang dengan prasangka, belum-belum, Lanjutkan membaca “Mengintip Paris yang Katanya…”

Iklan
Diposkan pada Cerita Tanah Rantau, Erasmus

Krakow-Auschwitz Polandia yang Menyimpan Kenangan

Pengin banget ke Polandia itu gara-gara buku Student Traveler-nya Annisa Potter. Salah satu destinasi Kak Annisa adalah bekas kamp konsentrasi NAZI di Auschwitz Birkenau yang dijadikan museum untuk mengenang korban holocaust pada perang dunia II.

Saya dan travel-mate sampai di kota Krakow yang berada di sisi selatan Polandia sekitar jam 10 pagi.  Kami pergi ke Auschwitz dengan bus khusus yang memang disediakan beberapa waktu sekali. Saya nggak inget harga busnya berapa, tapi cukup murah kok. Langsung tanyakan aja pada pusat informasi yang ada di terminal bus. Jangan lupa cek jam pulangnya juga. Jangan sampai ketinggalan di Auschwitz.

Sepanjang perjalanan dari Krakow ke Auschwitz, yang saya lihat kebanyakan adalah hamparan hijau dan rumah-rumah sederhana pedesaan ala-ala Eropa. Benar-benar seperti sedang berada di desa. Sangat cantik. Mata saya tak kuasa mengerjap demi pemandangan yang luar biasa itu. Saya langsung membayangkan film-film barat berlatar masa lampau dimana gadis-gadis dengan rambut pirang dikepang mengenakan baju banyak rumbainya, menyongsong hari dengan memberi makan hewan ternak atau berkebun, lalu lelakinya mengenakan sepatu boot dan suspender siap pergi ke sawah.

Sesampainya di Auschwitz, Lanjutkan membaca “Krakow-Auschwitz Polandia yang Menyimpan Kenangan”

Diposkan pada Cerita Tanah Rantau, Erasmus

Main ke Berlin Karena Gita Savitri

IMG_1803
(dokumen pribadi)

Pengin ke Berlin itu cuma gara-gara Gita Savitri. Serius. Berharap-harap cemas ketemu doi. Padahal kemungkinannya sangat kecil. Sekedar cerita nih, kemarin pas Gita baru launching buku Rentang Kisah, saya buru-buru nitip ke temen yang lagi di Indonesia buat beliin dan bawain bukunya ke Turki. Setahun kemudian, yaitu tahun ini, ketika saya diterima magang di Ruangguru dan tau kalau Gita itu salah satu ambassador nya, saya langsung bawa buku Rentang Kisah dari Turki ke Banyuwangi, lalu ke Jakarta.

Suatu hari, kami para intern ditawari untuk jadi penonton buat syuting Ruangguru macam 1 jam bersama Iqbaal itu yang beberapa waktu lalu tayang di beberapa stasiun TV. Saya mikir dong, siapa tau ada Gita dan bisa minta ttd sama fotonya. Ternyata, intern Scriptwriter nggak bisa pergi karena banyak kerjaan. Naasnya lagi, di acara itu emang nggak ada Gita. Cuma Jefri Nichol, Jess No Limit, sama Misellia Ikwan. Yaudah, emang belum takdir ketemu Gita. Buku Rentang Kisah pun saya paketin ke Banyuwangi sebelum saya terbang kembali ke Turki.

Sebegitunya loh saya ke kamu, Kak Git. Huhu. Drama… drama.

Melanjutkan Euro Trip I ke Vienna dan Budapest untuk mengisi liburan Paskah 2017 Lanjutkan membaca “Main ke Berlin Karena Gita Savitri”

Diposkan pada Cerita Tanah Rantau, Erasmus

Budapest, Satu Satu Kota Paling Cantik di Eropa

Pertama kali naksir sama Budapest itu ketika denger lagu berjudul sama milik George Ezra yang keluar pada tahun 2014. Padahal official music video-nya juga nggak menampakkan ibukota Hungaria itu sama sekali. Dasarnya suara George Ezra bagus dan lagunya cukup catchy, langsung tertarik aja sama Budapest.

IMG_2004
duduk di depan Hungarian Parliament Building (dokumen pribadi)

Awal masuk kuliah Jurnalistik, untuk mengobati stres, seorang temen menyarankan saya nonton drama Korea berjudul Pinocchio. Tentang kehidupan reporter loh, katanya. Dari situ saya mulai demam Lee Jong Suk. Setelah menyelesaikan drama Korea pertama saya, saya mulai nonton drakor yang dibintangi Lee Jong Suk aja – kecuali Descendants of the Sun. Oke, ini keterlaluan. Suatu hari, bertemulah saya dengan drakor Doctor Stranger yang salah satu scene-nya adalah di Budapest. Yep, makin mupeng lah pengin ke sana.

Alhamdulillah, liburan Paskah 2017, bisa mampir ke Budapest bareng travel-mate yang udah saya ceritain di episode trip ke Vienna. Meski cuma sehari, rasanya udah jatuh cinta banget sama yang namanya Budapest. Kalau ada kesempatan balik lagi ke Eropa, masih mau dong main ke Budapest lagi. Namun dalam jangka waktu yang lebih lama, dan trip yang lebih proper – bukan ala backpacker.

Kami pergi ke Budapest dari Krakow menggunakan bus. Sampai di Hungaria cukup pagi waktu itu. Mungkin sekitar jam 6. Dan percayalah, dinginnya minta ampun. Padahal April itu harusnya udah mulai masuk musim semi. Semriwing boleh lah, asal jangan freezing.

Dari terminal bus Budapest, kita naik tram kuning yang khas itu ke Budapest Mosque buat istirahat bentar sampai jam 10 pagi. Biar agak siangan lah kita jalan lagi. Masjidnya cukup sepi waktu itu. Cuma ada seorang ibu-ibu petugas bersih-bersih yang tampaknya agak ngedumel dengan bahasa Arab karena kita bobok-bobokan di sana. 😅 Lanjutkan membaca “Budapest, Satu Satu Kota Paling Cantik di Eropa”

Diposkan pada Cerita Tanah Rantau, Erasmus

Masuk ke Rumah Jack the Ripper di Prater Vienna

Akhir tahun lalu, laptop saya yang usianya sudah menginjak 5 tahun, rusak. Saya pun mengambil internal harddisk-nya dan membelikannya harddisk case. Sekitar akhir bulan Juni, harddisk itu mulai susah dideteksi di laptop manapun. Ketika Juli tiba, ia sama sekali tidak terdeteksi. Padahal udah saya bongkar-pasang case-nya dan ketok-ketok ke meja – ada yang hobi mukulin elektronik juga ketika rusak? 😅😂

Niat mulanya, saya pengin bawa ke tukang spesialis harddisk dong. Namun karena harganya yang memabukkan, saya urungkan niat itu. Meski sebetulnya juga agak khawatir kalau kenangan dari bayi sampai kuliah itu hilang begitu saja. Apalagi, saya nggak ada backup files-nya kecuali foto-foto yang saya share di sosmed. Itu pun yang nggak bermuka. Yadahlah, yang penting fotonya masih ada di ingatan.

Sebelum benar-benar lupa, saya pengin nulis lagi kenangan-kenangan beberapa tahun terakhir nih dengan tema : Setiap Kota Punya Cerita. Hahah, serempetin dikit.

Kali ini saya mau bahas Vienna, yang merupakan ibukota negara Austria.

Saya dan seorang teman pergi ke Vienna ketika liburan Paskah tahun 2017. Lanjutan Euro Trip kita dari Berlin, Krakow-Auschwitz, dan Budapest. Kita berangkat dari Budapest ke Vienna tengah malam dengan bus. Karena jarak kedua kota beda negara tersebut cukup dekat, kami sampai di Vienna sekitar jam 2 pagi. Niatnya sih mau keluyuran di terminal sambil nunggu matahari terbit. Tapi nggak jadi. Akhirnya booking kamar tipe asrama khusus perempuan di HI Vienna-Brigittenau hostel. Sekitar 20-25 euro per orang kalau nggak salah. Tapi pas kita sampai di hostelnya, di charge lebih ternyata. Panjang deh ceritanya. Dan kita emang dapat yang sekamar berdua, enggak di kamar tipe asrama.

Setelah turun dari bus di Vienna International Busterminal (VIB), kami niatnya mau jalan kaki ke hostel karena sepertinya deket kalau dilihat dari gps. Tapi, sekali lagi, itu tidak memungkinkan karena jalanannya sepi banget, gulita, dan kayak di tempat parkiran yang berpontensi adanya kriminalitas gitu deh. Sempet ragu pada awalnya, tapi ujungnya kami naik taksi ke hostel. Gila sih, dari 3 negara sebelumnya, di Vienna ini paling bikin bokek. Udah gitu, supir taksinya serem, lagi. Mungkin karena kepala kita udah kebanyakan mengonsumsi film thriller kriminal, ditambah lelah – orang lelah suka berhalusinasi kan, jadi deh begitu. Ternyata ya, supir taksinya Lanjutkan membaca “Masuk ke Rumah Jack the Ripper di Prater Vienna”

Diposkan pada Cerita Tanah Rantau, Turkey, Turki

Karena “Setiap Kota Punya Cerita”

Saya baru pindah kota. Dari kota Izmir yang hangat udaranya, ke kota Konya yang disebut-sebut sebagai kota cinta dan rumahnya Mevlânâ Celâleddîn-i Rûmî.  Kalau main ke Turki dan mampir ke kota Konya, jangan lupa menyaksikan Sema Ceremony of the Whirling Dervishes, ya. Itu loh yang kerap disebut oleh kaum awam macam saya sebagai tarian muter-muter lelaki bergamis. Padahal, maknanya jauh dari sekedar itu.

whirling-dervishes-sufi-music-concert-1
Whirling Dervishes (Turkey Tour)

Sudah hampir dua minggu lamanya saya menetap di Konya. Jika ditanya apa nggak rindu kota Izmir, ya pasti rindu lah. Secara, sudah dari 2014 saya di sana.

Orang Turki, setidaknya yang saya temui di kota Izmir, selalu bilang bahwa tidak ada kehidupan di tempat yang tidak ada laut. Itu yang selalu mereka katakan setiap kali saya bilang saya suka kota Ankara, ibukota Turki.

“Di Ankara nggak ada apa-apa. Deniz yoksa hayat yoktur.”

Ketika saya pergi ke Konya pun, banyak kawan Turki yang bertanya-tanya, “Kamu ngapain ke Konya? Kamu bakal bosan di sana.” Karena Konya tidak memiliki laut. Lanjutkan membaca “Karena “Setiap Kota Punya Cerita””

Diposkan pada Cerita Tanah Rantau, Islam

Hidup di Jakarta

Ibukota Jakarta
Ibukota Jakarta (Nations Online Project)

Sebelumnya, saya emang pernah beberapa kali mampir ke Jakarta buat ujian lah, urus visa lah, begitulah. Tapi, paling lama itu cuma dua minggu. Sedangkan kali ini, saya tinggal di Jakarta selama dua bulan. Kurun waktu yang lumayan lama. Apalagi, tidak seperti sebelumnya yang ditemani saudara dan rame-rame bareng teman, kali ini saya sendiri. Untuk pertama kalinya pula, ngekos. Cukup menyenangkan ya ternyata ngekos itu. Maklum, sudah empat tahun lamanya hidup bareng orang lain terus di asrama. Ketika kembali punya kamar sendiri lagi, rasanya seperti terbang. Istilahnya, mau jungkir balik mah serah lu dah.

Meskipun demikian, ada juga nggak enaknya. Yaitu pas sakit. Apalagi kemarin itu charger hp lagi rusak dan hp mati. Nggak bisa gofood. Nggak bisa hubungi siapapun, terutama keluarga, selama 3 hari. Alhasil, demam-demam jalan kaki nyari makan. Makan pun nggak bisa abis karena lidah pahit dan mual. Nyuapin diri sendiri sambil tiduran. Kek sendiri banget hidupnya. Lol Lanjutkan membaca “Hidup di Jakarta”