Percaya Aja Sama Allah

trust-in-allah
sumber : devinilasari.wordpress.com

“Allah tidak akan membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kemampuannya.”

Setelah memperoleh Letter of Acceptance yang menyatakan bahwa saya diterima program beasiswa S1 Jurnalistik di Ege University, hati saya senang namun bimbang. Saya membayangkan andai beasiswa bulanan yang saya terima dari pemerintah Turki tidak cukup, saya mau bagaimana? Masa iya harus menelan luka di negeri orang?

Tentu saja biaya hidup di Indonesia dan di Turki berbeda. Apalagi, saya tinggal di desa ketika berada di Indonesia. Sedangkan di Turki, nantinya saya akan tinggal di kota terbesar ketiga. Akhirnya, bismillah saja, saya pergi ke Turki. Kalau tidak cukup, bayangan saya bisa mencari peluang kerja paruh waktu. Alhamdulillah, meski teman-teman Eropa saya seringkali mengeluhkan jumlah uang saku bulanan hanya mampu dipakai hidup setengah bulan, bagi saya Continue reading “Percaya Aja Sama Allah”

Aku Kelas Dua

second-year-uni
sumber : Meme Generator

“Kelas berapa?”

“Kelas dua.”

Deg.

Sebetulnya, yang bikin miris itu kemampuan bahasa Turki. Udah kelas dua loh, kok kemampuan bahasa Turkinya masih gini-gini aja, Non? Kan udah dua tahun di Turki?

Iyalah, kan di asrama sekamar juga sama orang Indonesia. Kemana-mana ngomong bahasa Indonesia. Untung ujiannya tulis. Jika lisan, berakhir sudah. Ya Allah, separah itukah… :mrgreen:

Yang belum tahu, saya kuliah di Jurusan Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Ege University yang terletak di kota Izmir, dekat Yunani. *padahal nggak deket-deket amat

Kemarin (16/01) baru saja menjalani hari terakhir Ujian Akhir Semester (UAS) 3. Sekarang sedang menunggu hasilnya keluar. Semoga barokah.

Setiap semester, saya selalu bikin review sederhana supaya kelak tidak lupa. Baik tentang garis besar mata kuliah dan isinya, ataupun karakter dosen pengajar . Continue reading “Aku Kelas Dua”

ILANG TAHUN

img-20161218-wa0032
dokumen PPI Izmir (PS. abaikan pisau -.-)

Usia saya telah berkurang (lagi), tepat pada tanggal 16 Desember yang lalu. Tiap kali datang tanggal kelahiran, saya selalu hanyut dalam perenungan panjang. Sudah sejauh ini, apakah hal –hal yang saya lakukan cukup memberi faidah bagi orang lain? Apakah saya sudah menjadi orang yang cukup bijak dalam berkata maupun bertindak? Apakah impian-impian yang saya rajut sudah mulai menampakkan garis terang? Apakah saya tidak melenceng dari rencana dan tujuan-tujuan saya?

Terlalu banyak rencana, tapi sedikit tindakan.

Sungguh mengecewakan sebetulnya. Apalagi, saya merasa sangat tidak produktif selama satu tahun ke belakang. Harapannya tentu saja supaya di usia saya yang sudah seharusnya lebih dewasa ini benar-benar mendewasakan. Maksudnya, Continue reading “ILANG TAHUN”

Perjalanan Sendiri ke Ibukota Turki

turkey
sumber : ram-xp.blogspot.com

Setelah dua tahun tinggal di Turki, akhirnya saya berkesempatan untuk pertama kalinya pergi ke Ankara (ibukota Turki). YESSS! Ankara adalah kota ke-7 yang saya jejaki di Turki. YAY! Sendirian, lagi. Dulu sih emang pernah ke Istanbul sendiri. Tapi di Istanbulnya ada yang jemput dan anter-anter. Lah kali ini, enggak.  Beneran sendiri jalannya.

Bukannya hobi, tapi kaki saya emang kebiasaan suka melenceng dari peta. Tapi nggak apa-apa. Sekali-kali tes kemampuan 😀

Supaya tidak kesasar, saya melakukan research kecil-kecilan dari mulai tanya Kakak Google sampai tanya Kakak Gemes.

Saya pergi ke Ankara menggunakan bus karena ketika saya googling, googlemaps mengatakan bahwa jarak bandara ke pusat kota lebih jauh dibanding jarak otogar (terminal bus antarkota) ke pusat kotanya.

Pukul 22.00 waktu Turki, bus yang saya tumpangi melaju perlahan menembus dinginnya malam. Continue reading “Perjalanan Sendiri ke Ibukota Turki”

Pentingnya Sidik Jari di Turki

Biometric Access Control System
cms guvenlik sistemleri

Di Turki, sidik jari ibarat jantung. Jika sidik jarimu bermasalah, artinya jantungmu berhenti berdetak.

Oke, ini berlebihan. Tapi memang betul, apalagi jika kamu tinggal di asrama.

Rata-rata asrama di Turki menggunakan sidik jari untuk keluar-masuk asrama, serta mengambil jatah makan pagi dan malam dengan gratis. Kalau sidik jarimu bermasalah, kamu akan sulit keluar-masuk asrama maupun makan pagi dan malam.

Sidik jari saya termasuk yang sulit dideteksi di sini. Ketika saya mengurus sidik jari di kantor asrama, sidik jari saya mudah saja dideteksi. Namun ketika dibawa keluar, hasilnya Om Gatot terus. Continue reading “Pentingnya Sidik Jari di Turki”

Homesick

img-thing

Ayah, Ibu, bawa aku pulang…

635827374402258231-1160367515_homesick-imgopt1000x70
sumber : cqmsjt.com

Sudah sekitar satu minggu lamanya saya berada di Turki. Namun, hati ini rasanya masih belum move on dari rumah. Pengin pulang. Kangen ibu, ayah, adek, mbah uti, keponakan-keponakan, tante-tante dan om-om. Eh!

Alhamdulillah, kurang dari sehari setelah saya sampai Turki, udah ada jadwal masuk kuliah. Coba kalau enggak? Saya bisa nangis badai di asrama.

Walaupun udah 2,5 bulan di rumah, rasanya masih belum cukup. Betul kata orang bahwa waktu akan berjalan cepat ketika kita bahagia bersama orang-orang tercinta dan lingkungan yang mendukung.

Loh loh, jadi di Turki nggak bahagia? Continue reading “Homesick”

Edisi 2 : 7 Keajaiban Teman Bule

Masa-masa yang paling saya tunggu dengan tidak sabar semasa kuliah adalah masanya daftar ulang. Nggak tahu kenapa, menunggu tanggal daftar ulang rasanya seperti menunggu pengumuman beasiswa. Hehe. Dag dig dug, Mang.

Senin pagi kemarin, alhamdulillah saya berhasil daftar ulang. Emang niat daftar ulang pagi sih soalnya kalau nggak gitu bakal susah login karena antri. Nyuri start ceritanya haha. Eh, ternyata saya salah. Pagi hari itu juga, teman sekelas saya asal Afghanistan nelpon untuk bahas daftar ulang. Padahal kan di Afghanistan sana masih Subuh atuh.

Mengenang Afghanistan, saya jadi inget temen-teman asing saya. Yuk, bahas Edisi 2 : 7 Keajaiban Teman Bule! Hurrahhh! 😀

Tengok Edisi 1 : 7 Keajaiban Teman Bule dulu juga bolehhh…

  1. Teman Suriah (Inisial BB)
2000px-flag_of_syria-svg
sumber : wikipedia

She is the most cheerful girl that I have ever known in class! Dia adalah tokoh inspirasi saya untuk cerpen Sansli Kiz. Selalu tersenyum dan ramah adalah sifat mutlak yang melekat di dalam dirinya setiap waktu. Way too sweet. Makanya, saya betah bersamanya.

Saya kira, dia memang seberuntung itu. Tapi tidak!

Dia berasal dari Suriah. Kamu tentu tahu apa yang terjadi di Suriah saat ini. Dia dan keluarganya terpaksa mencari suaka di Continue reading “Edisi 2 : 7 Keajaiban Teman Bule”

Edisi 1 : 7 Keajaiban Teman Bule

Mulanya, saya kepikiran buat nulis cerita tentang semua teman bule saya. Tapi, tentu saja sehalaman ini tidak akan cukup. Maka dari itu, saya mau berbagi aja mengenai cuplikan cerita dari ke-7 teman bule saya ini. Mumpung lagi hangat di kepala saya. Berasa lagi ngomongin mendoan deh hangat-hangat enak dimakan. Jadi, inshaa Allah bakal ada edisi 2, 3, 4 dan seterusnya.

  1. Teman Thailand (Inisial MC)
Flag_of_Thailand.svg
sumber : wikipedia

Saya inget banget gimana mulanya kami berkenalan. Pada saat urus-urus kelengkapan dokumen sebelum TOMER (kursus bahasa Turki), dia tiba-tiba nyamperin saya dan teman Indonesia untuk menanyakan beberapa hal ketika tidak sengaja berjumpa di jalan. Soalnya, teman Thailand saya ini emang belum kenal teman se-warga Thailand yang menetap di Izmir. Jadi, barengannya cuma teman-teman dari Vietnam. Berhubung dia menyelesaikan S1 nya di Malaysia, dia pikir kami orang Malaysia atau Indonesia. Makanya, diajak komunikasi.

Setelah tes singkat sebelum masuk TOMER, saya dan teman Thailand ini ternyata dinyatakan menjadi teman sekelas. YAY! Karena sama-sama bisa berbahasa Indonesia – meski bahasa dia campur Melayu – kami akhirnya memutuskan untuk duduk sebangku 🙂

Kalau dihitung, sudah dua tahun lalu kami berkenalan. Meski saat ini kami tidak tinggal sama-sama di Izmir lagi, kami tetap menjalin komunikasi. Iya dong! Ingat banget ketika dulu saya dan dia gemar ngobrol di kelas. Bahkan saya ingat ketika pelajaran Writing, kami ditegur sama dosen gara-gara keasyikan ngegosip mulai dari persoalan kursus di sekolah bahasa sampai urusan hati. Uhuk!

Yang lagi popped up saat ini dari kepala saya mengenai kenangan bersamanya, adalah ketika kami berdua bersama-sama berburu salju. Maklum yah, kami belum pernah lihat salju. :mrgreen: Dibela-belain loh Continue reading “Edisi 1 : 7 Keajaiban Teman Bule”

Mudik Panjang dari Turki ke Indonesia

mudik.png

Meski rasa-rasanya sudah sedikit basi, saya kepengin cerita nih soal nano-nanonya mudik setelah satu kali lebaran nggak pulang.

Tahun 2015, saya memang memutuskan untuk tidak mudik lantaran pengin lebih menguasai bahasa Turki. Lagian, baru setahun kurang di sana. Plus, masih baru selesai kursus bahasa Turki; belum mulai kuliah. Nggak lucu kan kalau teman-teman angkatan pada ngomongin kuliah eh saya masih mentok di kursus bahasa Turki. Ternyata … ya, keputusan yang sedikit saya sesali. Kenapa sedikit? Paling enggak, saya jadi ngerti gimana rasanya lebaran di tanah rantau untuk pertama kalinya :’)

Sebelumnya, saya kasih gambaran rute mudik kemarin yak dari kota Izmir sampai menuju rumah tercinta.

Asrama di Izmir -> bandara Izmir (Adnan Menderes airport) -> bandara Istanbul (Sabiha Gokcen airport) -> bandara Doha (Hamad Int. Airport) -> bandara Jakarta (Soekarno-Hatta airport) -> bandara Surabaya (Juanda airport) -> rumah tante di Situbondo -> home sweet home di Banyuwangi

Bahu saya rasanya mau copot menenteng tas ransel seberat 7,5 kg ditambah Continue reading “Mudik Panjang dari Turki ke Indonesia”

Tahun Pertama Kuliah di Turki

177232985
sumber : college.usatoday.com

Ramadan udah jalan setengah bulan. Alhamdulillah. Gimana rasanya, gaes? Nano-nano pastinya ya 😀

Saya juga nano-nano nih. Ramadan hari pertama tahun ini jatuh di hari pertama saya UAS tanggal 6 Juni lalu. Sebelum jatuh tempo, rasanya tuh was-was nan khawatir apakah nanti saya dapat membagi waktu antara belajar dan tarawih dengan baik? Sok banget yak :mrgreen: Ternyata, biasa aja sih. Berhubung puasa di Turki itu dimulai sejak jam empat pagi kurang sampai sekitar  jam sembilan malam kurang, kami cuma punya jam malam yang sangat singkat. Apalagi Isya’ itu dimulai pukul 22.30an. Walhasil, saya nggak tidur sampai Subuh. Kalau setelah tarawih tidur, bisa-bisa nggak bangun sahur. Kalau habis sahur tidur, takutnya justru Subuh-nya yang kelewat. Jadi ya udah, tidur setelah Subuh aja.

Ada kejadian lucu nih pas saya UAS kemarin. Hari Jumat (10/06) pukul 09.00 pagi waktu Turki, saya ada UAS matkul Basic Concepts of Law di kampus. Karena rentan waktu antara Subuh dan jam UAS hari itu tidak begitu jauh, saya nyaris saja melewatkan ujian! Naas, saya baru bangun tidur itu sekitar pukul 08.23 pagi waktu Turki. Untung saja fakultas saya dekat dari asrama. Jadilah saya lari-lari dari pintu gedung asrama ke gerbang utama asrama sampai masuk ke ruang ujian di gedung fakultas. Sungguh sesuatu sekali karena saya biasanya jalan kaki sekitar 25 menit dari asrama ke kampus. Namun hari itu cuma 10 menit. Gila! Tapi ya gitu, nafas saya ngos-ngosan ketika sampai di kelas.

Jadi pas hari Selasa di minggu berikutnya dimana saya ada jadwal UAS juga pukul 09.00 pagi waktu Turki, saya pun memutuskan untuk tidak tidur meski akhirnya molor juga. Untungnya teman sekamar saya baik-baik mau ngebangunin daku yang kebo banget kalau udah tidur. :mrgreen:

Kemarin tanggal 17 Juni 2016 adalah hari terakhir saya UAS yang artinya sejak hari itu sampai sekarang, saya udah nggak ke kampus lagi hingga September mendatang. Karena jadwal saya mudik ke Indonesia itu masih beberapa hari lagi, saya pun hanya bertopang dagu di asrama. Dan itu… sungguh membosankan! Bukannya lebih melegakan karena nggak perlu lelah belajar buat ujian di tengah puasa sepanjang 17 jam, saya justru merasa lelah karena nggak ngapa-ngapain. Continue reading “Tahun Pertama Kuliah di Turki”