Enaknya Kuliah di Luar Negeri

DSCN2541

dokumen pribadi

Kadang suka heran sama orang nyinyir yang menghakimi dari permukaan. Gimana yah guys. Bener sih emang kalau nggak nyinyir luarnya, mau nyinyir apanya toh dalemnya nggak kelihatan. Maksudnya sih, boleh aja berpendapat negatif dan positif. Tapi sekiranya menyakiti makhluk Allah yang lain, nyinyirnya simpan sendiri dong. Nggak usah dibagikan.

Kuliah di luar negeri memang banyak dilemanya. Orang berbondong-bondong pengin kuliah di luar negeri gegara lihat instagram mahasiswa di sana. Bayangkan guys, cuma gegara instagram!

Seru bisa temenan dan bercandaan bareng bule!

Keren banget foto-foto sama bangunan khas Eropa! Nih mahasiswa kerjaannya jalan-jalan mulu!

Wuih makanannya mewah-mewah. Enak-enak!

Padahal aslinya itu… Baca lebih lanjut

Iklan

Caraku Menikmati Musim Panas Turki

Hari ini, salah satu room mate saya akan pulang kampung. Dia telah menyelesaikan kegiatan magangnya. Sebagai perpisahan, saya dan tiga room mate saya pergi sarapan bersama.

IMG-20170730-WA0006

sarapan ala Turki (doc prib)

Selepas menikmati sarapan, saya duduk termenung. Banyak hal yang saya pelajari musim panas ini; bahwasanya seseorang memang terkadang harus menutup bukunya dan pergi keluar untuk berbaur. Saya memang bukan kutu buku banget. Tapi bisalah terhitung sebagai seseorang yang sangat menikmati buku dalam kesendirian. Dulunya, membaca biografi, novel, cerpen, dan berita, sudah membuat saya cukup puas.

Setelah mengikuti program pertukaran mahasiswa Erasmus semester lalu, orang bilang saya banyak berubah. Mungkin memang benar. Setelah melakukan solo traveling, saya merasa bahwa seseorang memang sangat perlu berbaur dan menuliskan kisahnya sendiri. Oh, saya tidak bilang bahwa seorang kutu buku itu tidak punya cerita. Tentu saja mereka punya. Ilmu eksak dan nurani yang didapat dari buku mungkin cukup membantu. Tapi terkadang, melihat birunya langit yang seirama dengan lautan, mendengar nyanyian syahdu burung-burung bersarang di sesemak dan pohon, ataupun sekedar menyentuh panasnya bulan Juli di Turki itu perlu. Sesekali, indera yang lain juga perlu penyegaran.

Kembali ke beberapa minggu lalu, saya cukup stres. Baca lebih lanjut

Percaya Aja Sama Allah

trust-in-allah

sumber : devinilasari.wordpress.com

“Allah tidak akan membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kemampuannya.”

Setelah memperoleh Letter of Acceptance yang menyatakan bahwa saya diterima program beasiswa S1 Jurnalistik di Ege University, hati saya senang namun bimbang. Saya membayangkan andai beasiswa bulanan yang saya terima dari pemerintah Turki tidak cukup, saya mau bagaimana? Masa iya harus menelan luka di negeri orang?

Tentu saja biaya hidup di Indonesia dan di Turki berbeda. Apalagi, saya tinggal di desa ketika berada di Indonesia. Sedangkan di Turki, nantinya saya akan tinggal di kota terbesar ketiga. Akhirnya, bismillah saja, saya pergi ke Turki. Kalau tidak cukup, bayangan saya bisa mencari peluang kerja paruh waktu. Alhamdulillah, meski teman-teman Eropa saya seringkali mengeluhkan jumlah uang saku bulanan hanya mampu dipakai hidup setengah bulan, bagi saya Baca lebih lanjut

Aku Kelas Dua

second-year-uni

sumber : Meme Generator

“Kelas berapa?”

“Kelas dua.”

Deg.

Sebetulnya, yang bikin miris itu kemampuan bahasa Turki. Udah kelas dua loh, kok kemampuan bahasa Turkinya masih gini-gini aja, Non? Kan udah dua tahun di Turki?

Iyalah, kan di asrama sekamar juga sama orang Indonesia. Kemana-mana ngomong bahasa Indonesia. Untung ujiannya tulis. Jika lisan, berakhir sudah. Ya Allah, separah itukah… :mrgreen:

Yang belum tahu, saya kuliah di Jurusan Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Ege University yang terletak di kota Izmir, dekat Yunani. *padahal nggak deket-deket amat

Kemarin (16/01) baru saja menjalani hari terakhir Ujian Akhir Semester (UAS) 3. Sekarang sedang menunggu hasilnya keluar. Semoga barokah.

Setiap semester, saya selalu bikin review sederhana supaya kelak tidak lupa. Baik tentang garis besar mata kuliah dan isinya, ataupun karakter dosen pengajar . Baca lebih lanjut

ILANG TAHUN

img-20161218-wa0032

dokumen PPI Izmir (PS. abaikan pisau -.-)

Usia saya telah berkurang (lagi), tepat pada tanggal 16 Desember yang lalu. Tiap kali datang tanggal kelahiran, saya selalu hanyut dalam perenungan panjang. Sudah sejauh ini, apakah hal –hal yang saya lakukan cukup memberi faidah bagi orang lain? Apakah saya sudah menjadi orang yang cukup bijak dalam berkata maupun bertindak? Apakah impian-impian yang saya rajut sudah mulai menampakkan garis terang? Apakah saya tidak melenceng dari rencana dan tujuan-tujuan saya?

Terlalu banyak rencana, tapi sedikit tindakan.

Sungguh mengecewakan sebetulnya. Apalagi, saya merasa sangat tidak produktif selama satu tahun ke belakang. Harapannya tentu saja supaya di usia saya yang sudah seharusnya lebih dewasa ini benar-benar mendewasakan. Maksudnya, Baca lebih lanjut

Perjalanan Sendiri ke Ibukota Turki

turkey

sumber : ram-xp.blogspot.com

Setelah dua tahun tinggal di Turki, akhirnya saya berkesempatan untuk pertama kalinya pergi ke Ankara (ibukota Turki). YESSS! Ankara adalah kota ke-7 yang saya jejaki di Turki. YAY! Sendirian, lagi. Dulu sih emang pernah ke Istanbul sendiri. Tapi di Istanbulnya ada yang jemput dan anter-anter. Lah kali ini, enggak.  Beneran sendiri jalannya.

Bukannya hobi, tapi kaki saya emang kebiasaan suka melenceng dari peta. Tapi nggak apa-apa. Sekali-kali tes kemampuan 😀

Supaya tidak kesasar, saya melakukan research kecil-kecilan dari mulai tanya Kakak Google sampai tanya Kakak Gemes.

Saya pergi ke Ankara menggunakan bus karena ketika saya googling, googlemaps mengatakan bahwa jarak bandara ke pusat kota lebih jauh dibanding jarak otogar (terminal bus antarkota) ke pusat kotanya.

Pukul 22.00 waktu Turki, bus yang saya tumpangi melaju perlahan menembus dinginnya malam. Baca lebih lanjut

Pentingnya Sidik Jari di Turki

Biometric Access Control System

cms guvenlik sistemleri

Di Turki, sidik jari ibarat jantung. Jika sidik jarimu bermasalah, artinya jantungmu berhenti berdetak.

Oke, ini berlebihan. Tapi memang betul, apalagi jika kamu tinggal di asrama.

Rata-rata asrama di Turki menggunakan sidik jari untuk keluar-masuk asrama, serta mengambil jatah makan pagi dan malam dengan gratis. Kalau sidik jarimu bermasalah, kamu akan sulit keluar-masuk asrama maupun makan pagi dan malam.

Sidik jari saya termasuk yang sulit dideteksi di sini. Ketika saya mengurus sidik jari di kantor asrama, sidik jari saya mudah saja dideteksi. Namun ketika dibawa keluar, hasilnya Om Gatot terus. Baca lebih lanjut