Diposkan pada Cerita Tanah Rantau, Sekolah, Turkey

Rangkuman Semester 6 Kuliah Jurnalistik

maxresdefault
YouTube

Kibas jilbab dulu. Kota Izmir panasnya ibarat kebakaran jenggot. Eh, analoginya nggak tepat ya. Intinya sih panas banget. Apalagi ini musim ujian. Hasilnya, banyak yang nggak puasa deh beralasan ujian dan panas. Ya, puasa atau enggak juga terserah sih. Itu hubungan pribadi sama Tuhan.

Anyway yes! Akhirnya semester 6 ini selesai juga. Artinya, waktunya liburan musim panas!

Bulan Juni ini banyak banget temen angkatan SMA saya yang wisuda atau paling enggak, lagi sibuk sidang dan revisian skripsi. Saya lulusan tahun 2014, jadi tahun 2018 emang jadwalnya lulus kuliah kalau lancar dan normal. Berhubung saya nge gap setahun buat kursus bahasa Turki, jadilah saya kalah cepat setahun dalam hal kelulusan. It’s okay lah ya. Gapapa menua dikit di Turki. Lanjutkan membaca “Rangkuman Semester 6 Kuliah Jurnalistik”

Iklan
Diposkan pada Cerita Tanah Rantau

Pengalaman Wawancara Ruangguru

p7-bilingual-a-20170704-870x553
The Japan Times

Sepanjang hidup, saya baru tiga kali diwawancara. Pertama kali wawancara adalah wawancara untuk mendapatkan beasiswa Turki yang dilakukan di kedubes Turki di Jakarta tahun 2014 lalu. Wawancara pertama menggunakan bahasa Inggris dengan tiga orang Turki sebagai pewawancara. Rasanya deg deg an pasti. Apalagi di sana ketemu langsung dengan para pelamar beasiswa lainnya yang notabenenya super keren dan bikin minder abis. Ceritanya ada di sini.

Wawancara kedua adalah wawancara untuk mengikuti program internship di ibukota Turki dari OIC INTERN. Wawancara ini dilakukan melalui skype selama 10 menit. Yang menyenangkan adalah, saya bisa nyiapin contekan karena nggak terlihat di kamera. Meskipun sebetulnya waktu itu cukup takut kalau jaringan internetnya error atau keberisikan karena saya melakukan wawancara di kantin asrama. Ya gimana lagi, nggak ada tempat lain. Mau di kamar, teman-teman masih pada tidur. Mau ke perpustakaan kampus juga masih terlalu pagi. Lanjutkan membaca “Pengalaman Wawancara Ruangguru”

Diposkan pada Cerita Tanah Rantau, Turkey, Turki

Magang di Kampus Periode 2

Udah nggak ada deg-deg an macam magang pertama semester lalu sih, tapi tetap asyik kok sensasinya 😀

Sebenernya jadwal magangnya itu tanggal 23-27 April. Tapi karena tanggal 23 April itu ada Hari Anak Nasional yang merupakan hari libur nasional tentunya, kita nggak jadi magang. Saya udah seneng banget bakal magang 4 hari doang. Ya, meskipun magang itu seru, malas juga tiap pagi harus ke kampus sebelum jam 9 pagi dan balik hampir jam 5 sore. Eh ternyata supervisor kita bilang kalau kita tuh wajib magang 5 hari kerja. Nggak ada excuse libur begitu. Sebagai gantinya, magang kita dimulai dari tanggal 24-30 April. Sabtu dan Minggu libur ya, hitungannya tetap 5 hari kerja.

Day 1

Hari pertama saya ditugasin bareng I buat bikin pengumuman gitu mengenai konferensi. Kita nggak dikirim buat meliput. Bagus lah bisa agak santai hari pertama. Abis bikin tulisannya, saya langsung cus ke kelas. Biasanya kalau kita magang ini nggak bisa masuk ke kelas. Karena beres cepat, nggak bolos deh. Semester ini saya bolosnya udah parah banget soalnya. Bahkan ada satu mata kuliah yang saya nggak pernah masuk. Cuma nitip tanda tangan mulu karena kurang cocok sama dosen dan mata kuliahnya. Padahal nilai UTS nya juga nggak bagus. Hiks 

Bradley Simpson - Pinterest
Bradley – Pinterest

Oh ya, hari pertama ini ada kejadian yang bikin saya agak kesel. Jadi pas saya masuk ke newsroom itu ada segerombol anak kelas 4 yaitu dua cewek dan satu cowok yang ngobrolnya heboh. Padahal mah lainnya diem. Mereka sobatan gitu. Nah pas pembagian tugas berita, mereka yang heboh tadi ditunjuk untuk meliput bertiga. Jarang banget nih ngeliput bertiga. Normalnya mah cuma dua-dua dalam grup. Eh, salah satu cewek usul supaya mereka dikirim liputan berempat; mereka bertiga dan ada satu cowok lagi – sebut saja namanya Mawar. Eh, salah ya. Sebut aja namanya Bradley.

Ucet dah ya, masa liputan aja rame banget berempat kek demo? Tentu aja supervisor kami menolak. Terus si cewek bilang, “Asal sama Bradley juga, berapapun jumlah tugas liputan, bakal kita kerjain kok, Pak!” Lanjutkan membaca “Magang di Kampus Periode 2”

Diposkan pada Cerita Tanah Rantau, Islam, Jelajah Masakan turki, Turkey, Turki

Nyaris Menelan Alkohol!

red-dragon-chinese-restaurant_1
Red Dragon tampak depan (Izmir Mekan Rehberi)

Di kota Izmir ini ada beberapa rumah makan Cina, Jepang, dan sejenisnya. Beberapa di antaranya adalah Red Dragon, Chickinn, dan Sushico. Paling sering – meski nggak sering amat – mampir ke Red Dragon karena tiap jam makan siang di luar weekend, mereka punya menu khusus yang harganya lebih murah dibanding menu normal. Selain itu, Red Dragon ini tempatnya cukup cozy dengan hiasan khas Tiongkok. Belum lagi diputarnya musik ala Cina dan layar TV berukuran normal yang menayangkan budaya Cina. Berasa di Cina deh – kek pernah aja.

red-dragon-chinese-restaurant_7
Red Dragon tampak dalam (Izmir Mekan Rehberi)

Summer lalu teman sekamar saya kerja part time di Red Dragon. Tiap pulang kerja, dia selalu bawain kita makanan. Meskipun seringkali bawain nasi goreng, beberapa kali dia bawain dumpling. Yah, cukup mengobati kerinduan saya akan makanan Indonesia lah – psst di Red Dragon ini juga menjual pisang goreng loh. Meski saya lebih suka apel gorengnya 😀 Lanjutkan membaca “Nyaris Menelan Alkohol!”

Diposkan pada Cerita Tanah Rantau, Sekolah, Turki

Menjadi Mahasiswa Semester 5 di Turki

shutterstock_394330375
Smith Physical Therapy

Jadi mahasiswa semester 5 itu banyak banget tekanannya. Tekanan nyari tempat magang, tekanan mengingat teori untuk dipraktikkan di lapangan, tekanan rencana setelah lulus, dan bagi mahasiswa yang kuliah dengan bahasa asing, tekanan dari ekspektasi orang lain – dosen, temen dan siapapun itu – mengenai kemampuan bahasa. Ya kali ya, udah tinggal di Turki hampir 4 tahun, bahasa Turki-nya masih belepotan.

 

Agak ajaib memang kalau ngebayangin gimana saya bisa naik ke semester 5 dengan bahasa Turki yang tidak sempurna. Namun perlu diingat bahwa nilai ujian tidak bisa semata-mata dibandingkan dengan kemampuan berbahasa sehari-hari. Buat saya, berbicara dalam bahasa Turki memang masih susah karena tidak ada usaha untuk memperlancarnya. Satu-satunya tempat saya praktik bahasa Turki itu di kampus.

Di asrama, saya tinggal bareng orang Indonesia. Keluar asrama pun, mainnya sama orang Indonesia. Baca buku dan nonton apalagi. Bahasa Turki nyaris tidak tersentuh, kecuali adanya paksaan seperti belajar untuk ujian. Jadi, kalau lulus ujian, itu semata-mata karena kita punya waktu untuk mempelajari materi sehingga kosakata dan tata bahasanya sudah terlatih dan tersusun. Beda jauh lah dari komunikasi normal yang spontan dan dinamis. Lanjutkan membaca “Menjadi Mahasiswa Semester 5 di Turki”

Diposkan pada Cerita Tanah Rantau, Czech Republic, Erasmus, Turkey

Perbedaan Kehidupan di Desa dan di Kota

buah-buah-eksotis-indonesia-khas-area-tropis-_120601233730-947
Republika

Sore ini ketika lagi makan buah kiwi, saya dan room mate tiba-tiba teringat buah-buahan yang ada di kampung halaman. Sekeliling rumah saya rasanya bisa disebut kebun buah deh. Ada buah mangga, rambutan, jambu air, jambu biji, avokado, kedondong, sirsak, nangka, pepaya, pisang, buah naga, sawo, belimbing, mengkudu, murbei (besaran), buah asam, ciplukan, tetesemis (nb: nggak tahu bahasa Indonesia-nya apa), hingga pohon kelengkeng yang nggak berbuah – eh – mudah sekali diperoleh. Bahkan berjalan ke sawah yang letaknya tidak jauh dari rumah, akan ada buah melon, semangka, salak pondoh, hingga jeruk. Udahlah ya, mau makan buah apa aja, gampang.

Di kelas persiapan bahasa Turki dulu, saya dan Pamela seringkali berdebat mengenai mana yang lebih menguntungkan; tinggal di kota, atau di desa. Pamela tumbuh besar di Miami, USA yang boleh dibilang kota. Sedangkan saya sebaliknya, 18 tahun lahir dan besar di desa Buluagung, Banyuwangi. Jika Pamela menganggap tinggal di desa itu lebih menguntungkan, saya menganggap sebaliknya. Hm, mungkin memang rumput tetangga itu selalu lebih hijau.

essay-on-village-life-and-city-life
http://www.iaspaper.net

Kenapa saya bilang tinggal di kota itu menguntungkan? Melihat posisi saya sebagai anak desa selama 18 tahun, saya paham betapa susahnya memperoleh asupan bacaan baru. Waktu itu, menjangkau Gramedia membutuhkan waktu kurang lebih dua jam lebih dari tempat saya. Kalau memaksa ingin membeli buku di toko buku dekat, banyakan buku bajakan yang kertasnya nggak bagus dan mudah lepas dari sampulnya. Lanjutkan membaca “Perbedaan Kehidupan di Desa dan di Kota”

Diposkan pada Cerita Tanah Rantau, Turki

Kilas Balik Tahun 2017 dan Resolusi Tahun 2018

Selamat datang tahun 2018!

Postingan yang terlambat. Tapi nggak apa-apa lah ya, daripada enggak sama sekali. Hihi. Dua minggu terakhir kemarin, saya disibukkan oleh Ujian Akhir Semester (UAS) 5. Cepet banget deh. Perasaan baru kemarin belajar bahasa Turki, eh udah mau lulus aja.

Tahun 2017 kemarin merupakan tahun yang sangat berharga buat saya. Nggak banyak sih yang saya lakuin. Nggak produktif juga. Tapi setidaknya, saya merasa telah belajar sesuatu dan mencoba hal-hal baru yang sebelumnya tidak begitu terpikirkan dan terbayangkan.

KILAS BALIK 2017

Pertukaran Mahasiswa di Praha, Republik Ceko

IMG_3010
Metropolitan University Prague (dokumen pribadi)

Mungkin bagi sebagian orang, ini biasa aja. Ya emang iya sih. Terlebih bagi mahasiswa/i yang kuliah di Turki, pertukaran mahasiswa ke Eropa di bawah naungan program Erasmus+ bukan hal yang spesial karena peluangnya besar. Tapi bagi saya, Lanjutkan membaca “Kilas Balik Tahun 2017 dan Resolusi Tahun 2018”