[Cerita Mini] Pelukis Potret

texaz-nagz
sumber : texazmagz

Aku kira, menggambar itu cuma sekedar menggoyang-goyangkan pena sesuka hati. Yang kamu butuhkan hanya membuat gambar semirip aslinya.

“Wah! Bagus sekali gambaranmu, sayang. Terlihat nyata!”

Gara-gara kalimat yang diucapkan Mama, aku percaya diri ambil kursus menggambar. Aku kira, para pengajar akan terpana melihat hasil karyaku sebagaimana Mama mengagumi gambaranku. Aku kira, mereka akan sangat senang menerima dan menawarkan gambaranku untuk ditampilkan pada pameran musim semi. Yah, itulah aku; dengan kepala terangkat tinggi, masuk ke kursus menggambar.

Semuanya berbalik sejak aku masuk pada hari pertama. Pengajar mengajari kami mengambil ukuran pada benda nyata untuk dilukiskan dalam kertas gambar. Mereka meletakkan beberapa balok di atas meja. Gampang sekali, pikirku saat itu. Kenapa harus ambil ukuran? Sambil tutup mata pun aku bisa melakukannya. Sebelum aku mulai menggambar, teman yang duduk di sampingku telah menyelesaikan gambarannya dan pengajar yang bernama Ibu Lina itu marah ketika melihat hasilnya. Katanya, Continue reading “[Cerita Mini] Pelukis Potret”

Cerpen Berlatar Turki Pertamaku : Şanslı Kız

Lamunan Marwa terhenti ketika ia menyadari bahwa air laut mulai masuk ke perahu karet kecil mereka. Seluruh penumpang perahu yang mulai panik menepikan tas mereka supaya tidak basah ataupun melindungi dirinya dari air. Angin yang bertiup membuat gerakan pada perahu kecil itu tidak beraturan. Penumpang semakin panik. Anak kecil menjerit-jerit ketakutan akan semakin banyaknya air yang masuk ke perahu karet. Perahu kecil itu pun tidak bergerak di tengah lautan. Hanya terapung sebelum kemudian tenggelam perlahan.

Seharusnya ini mudah. Namun entah mengapa, saya pun masih bertarung untuk memasukkan latar tempat dan suasana Turki ke dalam sebuah cerita. Padahal ini kesempatan segar selagi saya tinggal di Turki dan lagi booming-nya sinetron Turki.

Doain yah… siapa tahu summer tahun ini bisa nulis dan MENYELESAIKAN novel remaja berlatar Turki diambil dari kisah pribadi dan lingkungan. Haha. Pengin banget bisa bikin semacam STPC nya GagasMedia *ngayal :mrgreen: Soalnya suka banget sama STPC sejak kemunculannya beberapa tahun lalu. Apalagi yang London 😀 Yang penting nulis dulu.

Oke langsung aja yuk tengok cerpen sederhana yang dimuat di web Turkish Spirits ini. Buat yang mau tahu tentang Turki, boleh banget kunjungi situs tersebut.

Oh ya cerpen ini bercerita mengenai kenangan masa lalu gadis Suriah yang kehilangan keluarganya. Saya ada 4 teman asal Suriah di kampus. Dua dari mereka adalah teman dekat saya. Dan ya… meski mereka selalu ceria, saya tahu mereka menyimpan duka tiap kali bahasan kami mengalir tentang Suriah. Dari salah satu dari merekalah saya terinspirasi untuk membuat cerpen ini.

Terima kasih untuk teman baikku Bana, yang sudah membantu menerjemahkan beberapa kalimat ke bahasa Arab Suriah. ❤

Şanslı Kız

Oleh : Naelil M.

Aku mengikat tali sepatuku cepat-cepat sebelum kemudian menyambar tas samping yang tergeletak di lantai. “Aku pergi, Anne[1]!” teriakku tanpa menunggu jawaban. Kususuri tangga demi tangga dari lantai tiga menunju lantai dasar. Huff. Melelahkan. Inilah yang kulakukan tiap kali pergi ke luar. Apartemen kami tidak memiliki lift. Sesuatu yang membuatku mengeluh sepanjang waktu walaupun Anne selalu mengatakan bahwa ini baik untuk kesehatanku.

Kutepuk bahu kiri gadis berambut hitam lebat yang berdiri di samping pintu. “Hadi gidelim, kanka[2]!”

Ia membalasku dengan senyuman yang membuat sepasang lesung pipitnya terlihat. Itulah Marwa. Tak pernah mengeluh walaupun aku seringkali membuatnya terlambat datang ke kelas. Padahal, yang seharusnya terlambat itu Marwa, bukan aku. Aku selalu pulang ke rumah setelah kelas. Namun Marwa harus pergi bekerja di rumah makan kebab dari jam empat sampai sepuluh malam tiap haftaiçi[3] setelah kelas. Itulah sebabnya ia baru akan sampai di rumahnya pada pukul 23.00 atau 23.30 waktu Turki. Meski demikian, ia selalu mengatakan bahwa ia sungguh beruntung lantaran tidurnya selalu pulas karena kelelahan.

Setelah saling mengecup pipi sebanyak tiga kali, aku dan Marwa pun segera berlari beriringan menuju stasiun kereta Izban yang terletak di antara hiruk pikuk Karşıyaka[4]. Karena jam kelas kami bersinggungan dengan jam para pekerja, mau tidak mau kami harus menyusup di antara kerumunan yang membuat waktu kami lebih terulur lagi. Aku dan Marwa berlarian menyusuri tangga panjang menuju ke terowongan tempat kami menunggu kereta Izban dan menabrak beberapa orang tua yang menyisakan gerutu panjang. Tepat ketika kaki kami berhasil menginjak baris terakhir tangga, Continue reading “Cerpen Berlatar Turki Pertamaku : Şanslı Kız”

Cerpen Komedi Gagal : Bulat Onde-Onde

Sebenarnya… sebenarnya… cerpen ini bukan saya banget! Mungkin cerpen komedi pertama dan terakhir saya :mrgreen: Makanya itu saya sebut sebagai cerpen komedi gagal. Cerpen ini saya ikutkan ke proyek KIR di SMA. Tapi ya gitu… ya sudahlah. Entah gimana saya bisa bikin cerpen beginian.

Nah, terus cerpen yang kamu banget tuh gimana, Nae?

Ini nih cerpen yang saya banget – yang ada di blog ini : Nyai Renjana, Tenggelam di Laut Kidul, Panggil Aku Bung Tomo, Mbah Selo, Jeritan Sungai Cupit Urang, dan Gugus Khayal Laksita.

Saya pernah beberapa kali berniat untuk menciptakan cerpen yang rada remaja atau nggak jauh-jauh sama isu percintaan eh larinya jadi cerpen/prosa ini : Kesurupan, Mawar Hitam, Hati Ibu, Febrian, dan Cinta dalam Diam. Cerpen Cinta dalam Diam ini sebenarnya sempat saya posting di blog – sebagian. Namun saya justru jadi malu sendiri ketika membacanya ulang :mrgreen: Makanya itu… meskipun sebenarnya saya ada niatan buat nulis cerpen remaja dengan tokoh orang Turki selagi saya masih dikelilingi mereka, takutnya ntar cerpennya lari kemana-mana 😀

Yudah ih malah jadi curhat. Langsung aja ya baca cerpen Bulan Onde-Onde ini. Meskipun bikin alis berkerut, semoga pesannya sampai.

Bulat Onde-Onde

 Oleh : Naelil M.

Kupandangi siluet diriku dalam cermin. Berbagai pose kulakukan demi mendapatkan angle yang indah. Kuharap cermin berkata bohong. Namun kenyataannya tidak. Cermin dengan sangat jujur mengatakan bahwa tubuhku bulat, sebulat onde-onde. Continue reading “Cerpen Komedi Gagal : Bulat Onde-Onde”

Cerpen : Jeritan Sungai Cupit Urang

Setelah sekian lamanya, akhirnya kemarin malam saya berhasil menulis sebuah cerpen, lagi. Terharu :’) Sebenarnya itu PR dari FLP Turki di masa karantina ini. Jadi gitu deh, the power of kepepet 😀

Nah, gara-gara itu saya jadi kepikiran buat tengok arsip cerpen yang saya buat di masa SMA. Banyak banget! Banyak yang belum selesai, banyak yang terbengkalai :mrgreen: Terus akhirnya nemu cerpen ini: Jeritan Sungai Cupit Urang.

Pada akhir tahun 2013 lalu, saya mengikutkan cerpen ini untuk kompetisi menulis cerpen yang diadakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember. Alhamdulillah lolos, meski cuma jadi finalis 😀

Udah lama sekali ya? Semoga pesan yang terdapat di dalamnya tidak usang. Selamat membaca! Ditunggu komentar pedasnya. 😀

Jeritan Sungai Cupit Urang

Oleh : Naelil M.

Sungai itu selalu menjerit. Bersamaan dengan amarah.

Ramdan menyeruput kopi pekatnya yang tinggal separuh. Lalu mengambil selembar sek dan segenggam tembakau untuk digulung bersama. Pun kemudian menggamitnya erat-erat. Setelah gulungan rokok itu berhasil masuk ke mulutnya, gumpalan asap hitam menari ke luar. Ia membuang nafas beraromakan nikotin.

“Kemarin malam aku tak bisa tidur,” ujar Paringgit sambil mengunyah kerupuk Intip. Ramdan manggut-manggut menyimak. Enggan menanggapi lantaran terlalu sayang dengan nikmat rokoknya.

Dul menyahut, “Kenapa, Nggit? Saya malah sudah tidur sejak jam tujuh malam gara-gara banyak laron. Malas hidupin lampu. Gelap, ya sudah saya tidur. Hahaha.”

“Cak… cak. Kau ini. Musim hujan memang banyak laron,” Paringgit diam sesaat, “Mau dengar ceritaku, nggak? Kenapa kemarin malam aku tak bisa tidur?”

Kedua pria di depannya tampak membulatkan sepasang mata. Ramdan bahkan meletakkan rokok batangannya demi mendengar gelak mistis di tengah derap suara pria berkumis itu.

“Semalam, aku mendengar jeritan perempuan di Sungai Cupit Urang.”

Kedua pria lainnya kompak memegang tengkuk, “Sepertinya sudah saatnya.”

“Ya! Kupikir Sungai Cupit Urang minta tumbal lagi. Mumpung besok Suro, sepertinya tepat buat acara serah tumbal.”

“Tapi musim hujan, musimnya orang tak punya uang, Nggit. Bagaimana bisa kita iuran membeli kepala sapi, kerbau, pun sekedar kepala kambing?”

“Nah, itu terserah kau saja! Mau terus dihantui suara jeritan perempuan atau mau hidup tenteram? Kau ingat kan dua tahun lalu tetangga kita mati gara-gara menolak acara serah tumbal? Kau mau seperti dia?”

Continue reading “Cerpen : Jeritan Sungai Cupit Urang”

Flash Fiction “Febrian”

Halloo!

Berasa udah lama banget nggak nulis fiksi. Hiks. Ada yang kangen tulisan fiksi saya? *ditimpuk :mrgreen:

Tahun ini, saya gabung dengan grup kepenulisan FLP Turki. Sebagai anak baru, kami harus melalui masa karantina. Langsung aja ya…

Dalam masa karantina anggota-anggota FLP Turki yang baru saja bergabung dalam barisan, kita membuat editor contest kecil-kecilan untuk mengasah ketelitian dalam menulis. Karena seorang penulis yang baik, juga harus bisa memilah mana tulisan yang benar secara EYD dan mana yang salah. Yuk kita lihat aja hasil kreatifitas sobat FLP Turki… 🙂

Febrian

11 Februari 2016

“Selamat ulang tahun, Febrian. Maafkan aku…”

Tulisku pada selembar kertas yang entah hendak kuapakan. Jika kamu menanyakan apakah ucapan ulang tahun ini untukmu, aku akan menganggukkan kepala tanpa ragu. Namun jika kamu menanyakan bagaimana aku akan memberikan ucapan ini untukmu, aku tidak tahu. Kamu menghilang begitu saja tanpa ucapan selamat tinggal padaku. Aku bahkan tidak tahu apakah raga dan jiwamu masih bersatu? Walau… tentu saja aku mengharapkan demikian.

Continue reading “Flash Fiction “Febrian””

Cerpen dimuat di Majalah Horison Juli 2014 : Gugus Khayal Laksita

4. Cerpen dimuat di Majalah Horison Kakilangit Juli 2014

Gugus Khayal Laksita
(Oleh : Naelil)

Bruok! Gedubrak! Tarr!

“Lihat jalanmu, Laksita,” teriak ibu dari arah dapur. Laksita hanya cengar-cengir sambil membetulkan tumpukan koran harian yang ia tabrak. “Lain kali jika sedang berjalan, tak perlu sambil meracau,” lanjut ibu masih dengan berteriak. Ia mengangkat bibir atasnya.

Ketika Laksita sampai di pintu dapur, ibu sedang sibuk bergulat dengan pisau dan sayur bayam.

“Ayo, bantu Ibu memasak, daripada berceracau tidak jelas seperti tadi.”

Laksita merengut. Continue reading “Cerpen dimuat di Majalah Horison Juli 2014 : Gugus Khayal Laksita”

Cerpen dimuat di Majalah Horison Januari 2014 : Mbah Selo

Ini edisi mentahnya ya, teman-teman 🙂

Mbah Selo
(Oleh : Naelil)

Cerpen dimuat di Majalah Horison Kakilangit Januari 2014

Aku mendengar berita yang sama pagi hari ini. Pembunuhan, pemerkosaan, pencurian, penculikan, gerombolan preman merusak pasar, gerombolan wanita tuna susila dagang paha dan dada di pinggir jalan, juga gerombolan petinggi yang ramai-ramai dibopong KPK.

Itu saja. Semuanya seolah menggambarkan bahwa kehidupan di kotaku sudah sangat kacau. Porak-poranda. Tidak seperti dulu. Kini semua masyarakatnya sangat liar dan berani. Berani berjudi, berani mabuk, berani main wanita. Bahkan anak SD pun sudah mengenal miras hingga sabu-sabu. Continue reading “Cerpen dimuat di Majalah Horison Januari 2014 : Mbah Selo”

Cerpen dimuat di Media Jawa Timur, Nopember 2013

Assalamu’alaikum. Fiuh, kesibukan sekolah membuat rumah kecil ini sedikit bersarang lelaba. Tidak bisa dijadikan alasan juga sih. Yah, tapi namanya prioritas utama sekolah, jadi ya begini. Nah, berhubung pagi ini ada waktu cukup senggang karena PR nggak terlalu banyak, saya mau berbagi mengenai cerpen saya yang dimuat di Majalah Media Jawa Timur. Tapi ini mentah yang saya kirimkan oke.

Selamat membaca… Semoga bermanfaat

Panggil Aku Bung Tomo
(Oleh : Naelil) Continue reading “Cerpen dimuat di Media Jawa Timur, Nopember 2013”

Cerpen dimuat di Radar Banyuwangi, 27 Oktober 2013

Selamat sore =)
Kali ini saya akan mem-posting cerpen saya yang dimuat di Radar Banyuwangi, 27 Oktober 2013 lalu. Ini merupakan versi mentahnya ya. Maksudnya asli, belum diedit editor. Semoga bermanfaat.

KESURUPAN
(Oleh : Naelil)

Pesanggaran-20131125-02965

Kami cukup dibuat takjub dengan photo yang tertera di layar handphone Ika. Mataku bahkan tak berhenti membulat sama halnya dengan bibirku yang terlongo kaget.

“Kamu serius photo sendirian?”

“Kayaknya itu bayangan deh. Penyinaran, kali.”

Ika menggeleng cepat, “Enggak. Aku tadi photo sendirian kok. Kalau nggak percaya, silahkan tanya Nita.”

Kami kompak menengok ke arah Nita. Gadis dengan kuncir satu itu mengangguk tegas, “Iya, aku lihat sendiri kok kalau Ika photo sendiri di depan pintu. Aku kok yang motoin.”

Lalu siapa sosok berambut panjang di samping Ika? Continue reading “Cerpen dimuat di Radar Banyuwangi, 27 Oktober 2013”