Kenangan di Praha

Sudah satu minggu berlalu, saya belum bisa move on dari Praha. Empat bulan pertukaran mahasiswa terasa sangat singkat. Numpang mampir doang. Tapi kenangannya itu loh, tak terlupakan. Jika disuruh mengulang kembali, saya tetap akan memilih Praha dibanding kota lainnya di Eropa. Saat itu ada Groningen-Belanda sebetulnya yang cukup menggoda. Menilik biaya hidupnya, saya mundur perlahan karena uang beasiswa pertukaran untuk ke Praha dan Groningen jumlahnya sama. Berhubung tujuan saya ikut pertukaran pelajar selain pendidikan adalah untuk jalan-jalan, Praha lebih cocok. Apalagi letaknya di Eropa Tengah.

Top Five-Walks-In-Prague-Old-Town-Square
trip4booking.com (Prague Old Town Square dari Astronomical Clock – genteng orange bangunan yang sangat khas Praha)

Tonton video tentang Praha di sini.

PEJALAN KAKI SANGAT DIHORMATI

Saya masih terkesima ketika melihat ada beberapa tempat yang hanya memiliki zebra cross tanpa lampu pejalan kaki di Praha. Gimana nyeberangnya wak? Continue reading “Kenangan di Praha”

Terjebak di Kota Roma

DSCN1904.JPG
Stasiun Tiburtina (dokprib)

Beberapa hari yang lalu, saya melakukan trip ke Roma dari Venesia. Sekitar jam 8 pagi, saya sudah sampai di Stasiun Tiburtina. Yang pertama kali saya lakukan adalah mencari toilet untuk cuci muka dan segala-gala. Ajaibnya, saya nggak menemukan toilet sama sekali di situ. Penunjuk arahnya juga membingungkan. Semua serba dalam bahasa Italia. Untung saja banyak petugas yang baik membantu meskipun mereka tidak begitu bisa bahasa Inggris.

! Bahkan di beberapa tempat wisata di Italia, keterangan hanya tersedia dalam bahasa Italia saja. Padahal kita tahu, wisatawan asing di Italia itu tidak sedikit. Untung, petugas Italia-nya baik-baik.

Saya mencoba berkeliling stasiun. Ada pasar kecil di depan situ. Tapi pedagangnya bukan orang Italia. Seperti orang India. Beruntung, saya akhirnya menemukan gedung untuk metro dan train antar kota Italia. Langsung saja saya kesitu. Syukur deh nemu Continue reading “Terjebak di Kota Roma”

Mitos Tentang Mahasiswa Erasmus

Sebelum berangkat Erasmus – program pertukaran mahasiswa/i ke Eropa, saya sering dicekoki mitos-mitos. Katanya, mahasiswa/i Erasmus begini, begitu. Berdasarkan pengalaman saya, mitos-mitos tersebut tidak sepenuhnya benar. Namanya juga mitos.

Diberikan Hak Istimewa oleh Dosen

Katanya, mahasiswa/i Erasmus akan diberi kemudahan oleh dosen. Jadi, jika kamu ingin bersenang-senang dalam satu atau atau dua semester, ikut Erasmus aja!

classroom
Metropolitan University Prague

Kenyataannya, kamu akan diperlakukan sama dengan mahasiswa/i non-Erasmus a.k.a mahasiswa/i lokal. Tidak ada bedanya. Kalau ada tugas, kamu pun akan diberi tugas. Kalau ada kuis atau ujian, kamu juga ikut. Kalau kamu nggak belajar, nggak lulus ujian ya nggak lulus. Begitu juga ketika kamu bolos, konsekuensinya sama dengan yang didapat mahasiswa/i lokal.

Duitnya Banyak

Katanya, mahasiswa/i Erasmus itu duitnya banyak. Kerjaannya jalan-jalan mulu, nggak pernah belajar. Continue reading “Mitos Tentang Mahasiswa Erasmus”

Traveling: Sendiri Atau Rame-Rame?

122
Eiffel Tower, Paris (Dokumen Pribadi)

Saya sudah sering kali traveling rame-rame. Tapi, baru pertama kali solo traveling antar-negara kemarin. Rasanya? Hm, seru banget! Apa sih bedanya traveling sendiri dan rame-rame?

Research Tempat Wisata

Kalau kita traveling sendiri, wajib hukumnya untuk melakukan research sendiri mengenai setiap tempat yang akan kita jelajahi. Mulai dari latar belakang tempat tersebut, ada apa aja di sana dan alat transportasi apa yang dapat kita gunakan untuk menjangkaunya. Hal ini akan memakan banyak waktu. Sedangkan ketika kita traveling rame-rame, kita bisa membangun diskusi dan menggabungkan ide bersama. Pasti akan terasa lebih ringan. Ide satu kepala dengan ide lima kepala, tentu saja berbeda.

Biaya

Biasanya, Continue reading “Traveling: Sendiri Atau Rame-Rame?”

Rasanya Jadi Mahasiswa di Turki dan Republik Ceko

Ahoj!

Sudah lama sekali tidak menulis di blog. Kangen. Namun apa daya, dunia saya sempat teralihkan oleh drama Korea – HAHAHA – dan kemalasan yang tiada habisnya. Gara-gara lama vakum tidak mengisi blog, sebetulnya daya kreativitas menulis saya pun menurun. Oleh sebab itu, sebelum terjun bebas semakin dalam, mari berceloteh!

Menjadi mahasiswa di Turki dan Republik Ceko tentu saja berbeda, dilihat dari perbedaan pokok Turki dan Republik Ceko dari segi geografi maupun sejarah yang kemudian mempengaruhi budaya dan adat istiadatnya. Daftar perbedaan di bawah ini hanya berdasar pada pengalaman saya seorang. Artinya, bisa jadi kisah mahasiswa Indonesia lainnya – baik di Turki ataupun Republik Ceko – berbeda.

  1. Makanan – nikmatnya hidup di Indonesia

Makanan merupakan salah satu hal yang paling krusial untuk melangsungkan hidup. Sebut saja kebutuhan pokok manusia serupa sandang, pangan dan papan. Hidup di Indonesia adalah suatu kenikmatan tiada tara jika disangkutpautkan dengan makanannya. Bukan cuma soal-menyoal keberagaman makanan, namun juga kemudahan memperolehnya. Tinggal duduk di depan rumah, sudah ada abang bakso, sate dan aneka pedagang makanan yang lewat. Gampang banget! Kalau soal makanan, Turki dan Republik Ceko kalah telak dibandingan Indonesia. Continue reading “Rasanya Jadi Mahasiswa di Turki dan Republik Ceko”

Catatan Random Minggu Pertama di Praha

Sudah hampir satu minggu saya berada di Praha, Republik Ceko. Rasanya masih seperti mimpi. Ya… dalam artian baik dan buruk. Beberapa hari lalu, saya ikut Prague Tour yang diadakan oleh universitas saya di Praha untuk para exchange students semester ini. Kami berkeliling ke Wenceslas Square yang sangat hidup, Old  Town Square – itu loh yang ada Astronomical Clock-nya, Charles Bridge – menapakinya seperti menapaki bait puisi haha, The Lesser Town, Prague Castle yang super besar dan indah, dan seharusnya ke Jewish Quarter juga tapi nggak jadi soalnya udah kesorean dan pada kelaparan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Wenceslas Square – Wikimedia Commons

Continue reading “Catatan Random Minggu Pertama di Praha”