Hidup di Jakarta

Ibukota Jakarta
Ibukota Jakarta (Nations Online Project)

Sebelumnya, saya emang pernah beberapa kali mampir ke Jakarta buat ujian lah, urus visa lah, begitulah. Tapi, paling lama itu cuma dua minggu. Sedangkan kali ini, saya tinggal di Jakarta selama dua bulan. Kurun waktu yang lumayan lama. Apalagi, tidak seperti sebelumnya yang ditemani saudara dan rame-rame bareng teman, kali ini saya sendiri. Untuk pertama kalinya pula, ngekos. Cukup menyenangkan ya ternyata ngekos itu. Maklum, sudah empat tahun lamanya hidup bareng orang lain terus di asrama. Ketika kembali punya kamar sendiri lagi, rasanya seperti terbang. Istilahnya, mau jungkir balik mah serah lu dah.

Meskipun demikian, ada juga nggak enaknya. Yaitu pas sakit. Apalagi kemarin itu charger hp lagi rusak dan hp mati. Nggak bisa gofood. Nggak bisa hubungi siapapun, terutama keluarga, selama 3 hari. Alhasil, demam-demam jalan kaki nyari makan. Makan pun nggak bisa abis karena lidah pahit dan mual. Nyuapin diri sendiri sambil tiduran. Kek sendiri banget hidupnya. Lol Lanjutkan membaca Hidup di Jakarta

Nyaris Menelan Alkohol!

red-dragon-chinese-restaurant_1
Red Dragon tampak depan (Izmir Mekan Rehberi)

Di kota Izmir ini ada beberapa rumah makan Cina, Jepang, dan sejenisnya. Beberapa di antaranya adalah Red Dragon, Chickinn, dan Sushico. Paling sering – meski nggak sering amat – mampir ke Red Dragon karena tiap jam makan siang di luar weekend, mereka punya menu khusus yang harganya lebih murah dibanding menu normal. Selain itu, Red Dragon ini tempatnya cukup cozy dengan hiasan khas Tiongkok. Belum lagi diputarnya musik ala Cina dan layar TV berukuran normal yang menayangkan budaya Cina. Berasa di Cina deh – kek pernah aja.

red-dragon-chinese-restaurant_7
Red Dragon tampak dalam (Izmir Mekan Rehberi)

Summer lalu teman sekamar saya kerja part time di Red Dragon. Tiap pulang kerja, dia selalu bawain kita makanan. Meskipun seringkali bawain nasi goreng, beberapa kali dia bawain dumpling. Yah, cukup mengobati kerinduan saya akan makanan Indonesia lah – psst di Red Dragon ini juga menjual pisang goreng loh. Meski saya lebih suka apel gorengnya 😀 Lanjutkan membaca Nyaris Menelan Alkohol!

Pak Ahok dan Al-Maidah 51

Selamat Malam!

YANG SENSITIF DAN CLOSE-MINDED DILARANG BACA!*

*seriussss

Intro dulu ya…

Semuanya bermula ketika saya sedang asyik melihat timeline facebook, ada seorang teman yang share postingan orang lain mengenai Pak Ahok dan Al-Maidah ayat 51. Mungkin kamu udah pada lihat ya video pidatonya pada acara pertemuan dengan warga Pulau Seribu. Karena saya nggak mau nonton yang setengah-setengah, saya coba tonton full videonya di akun resmi Pak Ahok di facebook. Saya pun menontonnya dengan seksama, dan JLEB!

Beberapa teman mengatai saya liberal gara-gara saya mendukung warung-warung tetap buka (dan hanya ditutup tirai) saat Ramadan. Apalagi ketika tahu bahwa saya yang berjilbab ini punya teman lesbian. Dikiranya saya pendukung LGBT.

Hm.

Saya biasanya suka sebel sama yang memaksakan kehendak. Cukup sedih juga ketika beberapa orang mengancam akan menyembelih Pak Ahok dan sejenisnya gara-gara pidatonya. Gahar banget!

Jujur, hati saya juga terluka ketika melihat video full pidato Pak Ahok. Dari berita-berita yang saya baca, saya lumayan terkesima dengan hasil kerja beliau terhadap DKI Jakarta (terlepas dari bahwa setiap media itu membawa kepentingannya masing-masing). Lanjutkan membaca Pak Ahok dan Al-Maidah 51

Ketika Aku Memutuskan Berhijab

Kilas balik, sudah sekitar 5 tahun lamanya saya berhijab. Semoga istiqomah. Ya, walaupun belum sempurna berhijabnya hehe. Doain yaa…

f9054318a1463ba0329d052c1e35805f
sumber : pinterest

Hijab, (bahasa Arab: حجاب, ħijāb) adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti “penghalang”. Pada beberapa negara berbahasa Arab serta negara-negara Barat, kata hijab lebih sering merujuk kepada kerudung yang digunakan oleh wanita muslim. (wikipedia)

Dari kecil sampai SMP, saya belum kepikiran untuk berhijab walaupun ibu saya berhijab. Kenyataannya, di daerah saya memang umumnya begitu. Yang pakai hijab itu kaum-kaum yang sudah menikah atau tua. Bahkan banyak ibu-ibu yang menutup rambutnya rapat namun bajunya berlengan pendek dengan celana longgar selutut. Memang ada remaja behijab, terutama yang di madrasah. Namun sayang, mereka cenderung berhijab di madrasah saja. Setelah motor yang mereka kendarai keluar dari halaman madrasah, hijab dilepas begitu saja. Lagipula, keluarga saya tidak memaksa saya sama sekali untuk berhijab. Lebih parah lagi, saya memang selalu bersekolah di sekolah umum. Bukan madrasah yang banyak pelajaran agamanya.

Dulu sekali, setelah saya lulus SD dan naik ke SMP, seorang teman perempuan saya tercengang ketika melihat saya mengenakan seragam putih biru berlengan pendek tanpa hijab.

“Lho kok nggak berhijab, Nae? Kakek kamu kan ngajar di MTs.”

Terus kalau kakek saya ngajar di MTs, saya harus berhijab, gitu? pikir saya Lanjutkan membaca Ketika Aku Memutuskan Berhijab

Ramadan di Turki : Puasa Itu Nggak Berarti Pingsan

Naelil omong doang ih! Katanya mau istirahat dari nulis blog selama UAS dua minggu ini? Eh kok baru sehari UAS aja udah nulis lagi? :mrgreen:

Sebelumnya, selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan ya teman-teman semua. Semoga puasanya lancar dan berkah. Mari berlomba-lomba dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah! Ramadan Kareem! Ramadan Mubarek Olsun, canlarim!

Ini merupakan kali kedua saya menjalankan ibadah puasa Ramadan di negeri orang-lebih tepatnya Turki. Yang spesial dari tahun ini adalah bahwa hari pertama Ramadan tepat dengan hari pertama UAS. Bukan hanya itu, masuknya musim panas di Turki pun menjadikan kota Izmir (salah satu kota terpanas di Turki) bagai kejatuhan bola api. Ciyus. Feels like 35° Celcius meskipun sebetulnya cuma 30°.

Alhamdulillahnya, pagi ini (6/6/16) hujan turun rintik-rintik di kawasan Bornova di mana kampus tercinta saya – Ege Universitesi – berada. Setelah lari terbirit-birit dengan payung menuju gedung fakultas, saya pun segera meluncur ke ruang ujian dan mendapati teman-teman saya sedang sibuk duduk atau berdiri bersama berlembar-lembar buku catatan sambil meneguk segelas minuman berwarna. Jeglek! Lanjutkan membaca Ramadan di Turki : Puasa Itu Nggak Berarti Pingsan

Sudahkan Menjadi Agen Muslim yang Baik?

Türkçe Öğretim Merkezi atau yang lebih dikenal dengan sebutan TÖMER adalah nama sekolah di Turki yang menyediakan pembelajaran bahasa Turki. Jika kilas balik ke TÖMER saya yang sudah berakhir sejak akhir Juni 2015 lalu, banyak sekali kenangan seru yang ada di dalamnya. Salah satunya adalah mengenai penggunaan jilbab.

Mulanya, terdapat dua orang yang mengenakan jilbab di kelas. Yaitu saya dan teman perempuan asal Thailand. Namun setelah teman Thailand saya itu memutuskan untuk keluar dari kelas bahasa Turki, tinggal saya sendirilah yang tersisa.

Anggota kelas saya berasal dari berbagai kalangan dari segala benua, kecuali benua Australia. Yang dari Amerika, beragama Kristen atau Katolik. Yang dari Eropa, saya kurang bisa mendeteksi agamanya karena mereka cenderung tidak pernah membicarakan soal agama. Yang dari Afrika, separuhnya Muslim, separuhnya lagi Kristen atau Katolik. Yang dari Asia, separuh Muslim dan separuhnya lagi Kristen atau Katolik juga. Nah, kebetulan di kelas saya ini kebanyakan muslim adalah laki-laki. Mungkin cuma saya dan teman Thailand saja yang merupakan perempuan muslim di dalam kelas.
Lanjutkan membaca Sudahkan Menjadi Agen Muslim yang Baik?

Merindukan Allah

Pernahkah kalian merasakan suatu kehampaan aneh meski kalian telah berada di keramaian? Bukan! Bukan merasa sendiri dalam keramaian. Namun, kehampaan. Sesuatu yang tiba-tiba menghilang. Jika kalian pernah terjepit dalam lemari tua yang sempit, rasanya jauh lebih tidak nyaman dari itu.

Jumat (17/10), saya merasakan hal yang demikian. Menjelang Magrib, ketika saya dan kedua teman saya berada di Konak, Izmir, Turki, menyegerakan diri untuk shalat Ashar karena tak pelak lagi adzan Magrib akan dikumandangkan. Hari itu, mungkin menjadi kesekian kalinya saya shalat di sana. Namun, hari itu merupakan kali pertama saya Lanjutkan membaca Merindukan Allah