Membandingkan Diri dengan Orang Lain

i love myself

dreamerstime.com

Sikap membandingkan diri dengan orang lain, rasanya tidak akan bisa lepas dari hidup kita. Setiap waktu, setiap saat, manusia membutuhkan perbandingkan untuk menilai sesuatu; termasuk dirinya sendiri. Ibaratnya ketika kita membeli barang, pasti akan melakukan perbandingan terlebih dahulu sebelum memberikan penilaian.

Bagi saya, kesuksesan dapat dilihat dari seberapa bermanfaatnya diri bagi orang lain.  Ini semacam pembuktian bahwa kehadiran kita itu penting. Kalau ada tidaknya orang, tidak memberikan perbedaan, artinya tidak berguna dong dalam konteks tertentu itu.

Saya termasuk orang yang cukup sering membandingkan diri dengan patokan usia. Jika saya melihat orang yang cukup sukses di usia saya atau bahkan lebih muda, saya suka sedih ketika berkaca pada diri sendiri. Sayangnya, itu sering saya lakukan. Padahal, membandingkan diri dengan orang lain itu bagusnya supaya kita termotivasi untuk lebih maju. Bukannya merasa kurang percaya diri dan tertekan. Padahal nih ya, yang dilalui setiap orang itu tidak sama. Ini bukan berarti bahwa kita perlu membandingkan diri siapa yang paling menderita hidupnya, terus merasa bahwa diri sendiri menderitanya kebangetan tapi nggak sukses-sukses. Enggak ya… Kamu nggak akan bisa sepenuhnya memahami apa yang sudah dilalui orang lain sebelum kamu jadi diri orang lain tersebut! Sekedar dengar cerita, apalagi. Nggak akan bisa.

Jangan juga membandingkan bahwa orang tertentu itu sangat beruntung, sedangkan kamu dipenuhi kesialan. Baca lebih lanjut

Iklan

Percaya Aja Sama Allah

trust-in-allah

sumber : devinilasari.wordpress.com

“Allah tidak akan membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kemampuannya.”

Setelah memperoleh Letter of Acceptance yang menyatakan bahwa saya diterima program beasiswa S1 Jurnalistik di Ege University, hati saya senang namun bimbang. Saya membayangkan andai beasiswa bulanan yang saya terima dari pemerintah Turki tidak cukup, saya mau bagaimana? Masa iya harus menelan luka di negeri orang?

Tentu saja biaya hidup di Indonesia dan di Turki berbeda. Apalagi, saya tinggal di desa ketika berada di Indonesia. Sedangkan di Turki, nantinya saya akan tinggal di kota terbesar ketiga. Akhirnya, bismillah saja, saya pergi ke Turki. Kalau tidak cukup, bayangan saya bisa mencari peluang kerja paruh waktu. Alhamdulillah, meski teman-teman Eropa saya seringkali mengeluhkan jumlah uang saku bulanan hanya mampu dipakai hidup setengah bulan, bagi saya Baca lebih lanjut

Adab Bergaul dengan Lawan Jenis

Selepas liqo malam ini, yang saya rasakan justru ketakutan mendalam. Sepertinya saya sudah melampaui batas yang seharusnya. Ada beberapa hal yang membuat saya berpikir lama. Salah satunya adalah pernyataan di bawah ini :

“Perlakukan orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan.”

Di dalam pernyataan tersebut, mengandung hukum aksi-reaksi. Misalnya saja apabila si A colek-colek si B, bisa jadi si B akan berpikir bahwa mencolek-colek si A bukanlah sebuah masalah. Lagipula, si A juga colek-colek si B.

Kepada beberapa kawan dekat, termasuk lawan jenis, mungkin kita tanpa sengaja mencolek-colek. Ini berarti kita tidak mempermasalahkan apabila hal tersebut dilakukan kepada diri kita.

Hukum yang sangat simpel sebetulnya. Namun sama sekali tidak terlintas di kepala saya sebelumnya. Padahal, saya seringkali menyinggung perihal memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Jadi, mari berhati-hati dalam mengambil sikap ya…

Dari pernyataan tersebut, muncul banyak pertanyaan dalam benak saya. Kembali pikiran saya me-review setahun ke belakang. Dan saya pun sedih. Baca lebih lanjut

Pak Ahok dan Al-Maidah 51

Selamat Malam!

YANG SENSITIF DAN CLOSE-MINDED DILARANG BACA!*

*seriussss

Intro dulu ya…

Semuanya bermula ketika saya sedang asyik melihat timeline facebook, ada seorang teman yang share postingan orang lain mengenai Pak Ahok dan Al-Maidah ayat 51. Mungkin kamu udah pada lihat ya video pidatonya pada acara pertemuan dengan warga Pulau Seribu. Karena saya nggak mau nonton yang setengah-setengah, saya coba tonton full videonya di akun resmi Pak Ahok di facebook. Saya pun menontonnya dengan seksama, dan JLEB!

Beberapa teman mengatai saya liberal gara-gara saya mendukung warung-warung tetap buka (dan hanya ditutup tirai) saat Ramadan. Apalagi ketika tahu bahwa saya yang berjilbab ini punya teman lesbian. Dikiranya saya pendukung LGBT.

Hm.

Saya biasanya suka sebel sama yang memaksakan kehendak. Cukup sedih juga ketika beberapa orang mengancam akan menyembelih Pak Ahok dan sejenisnya gara-gara pidatonya. Gahar banget!

Jujur, hati saya juga terluka ketika melihat video full pidato Pak Ahok. Dari berita-berita yang saya baca, saya lumayan terkesima dengan hasil kerja beliau terhadap DKI Jakarta (terlepas dari bahwa setiap media itu membawa kepentingannya masing-masing). Baca lebih lanjut

Ketika Aku Memutuskan Berhijab

Kilas balik, sudah sekitar 5 tahun lamanya saya berhijab. Semoga istiqomah. Ya, walaupun belum sempurna berhijabnya hehe. Doain yaa…

f9054318a1463ba0329d052c1e35805f

sumber : pinterest

Hijab, (bahasa Arab: حجاب, ħijāb) adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti “penghalang”. Pada beberapa negara berbahasa Arab serta negara-negara Barat, kata hijab lebih sering merujuk kepada kerudung yang digunakan oleh wanita muslim. (wikipedia)

Dari kecil sampai SMP, saya belum kepikiran untuk berhijab walaupun ibu saya berhijab. Kenyataannya, di daerah saya memang umumnya begitu. Yang pakai hijab itu kaum-kaum yang sudah menikah atau tua. Bahkan banyak ibu-ibu yang menutup rambutnya rapat namun bajunya berlengan pendek dengan celana longgar selutut. Memang ada remaja behijab, terutama yang di madrasah. Namun sayang, mereka cenderung berhijab di madrasah saja. Setelah motor yang mereka kendarai keluar dari halaman madrasah, hijab dilepas begitu saja. Lagipula, keluarga saya tidak memaksa saya sama sekali untuk berhijab. Lebih parah lagi, saya memang selalu bersekolah di sekolah umum. Bukan madrasah yang banyak pelajaran agamanya.

Dulu sekali, setelah saya lulus SD dan naik ke SMP, seorang teman perempuan saya tercengang ketika melihat saya mengenakan seragam putih biru berlengan pendek tanpa hijab.

“Lho kok nggak berhijab, Nae? Kakek kamu kan ngajar di MTs.”

Terus kalau kakek saya ngajar di MTs, saya harus berhijab, gitu? pikir saya Baca lebih lanjut

Kisah Ibu Sukaeni dan Satpol PP yang Tiada Habisnya

Warung-Makan-Razia

sumber : Kompas TV

Rupanya kisah Ibu Sukaeni pemilik warung makan dan satpol PP masih juga diperbincangkan meski kejadiannya sudah lewat beberapa waktu yang lalu. Sedikit lah saya yang cuma anak baru kemarin ini mau berkomentar. Saya memang hanya seorang pelajar. Bukan pengamat politik, apalagi. Saya hanyalah kaum awam yang melihat situasi dari sisi mata polos. *apaan

Ya.. mungkin benar seperti kata orang bahwa warga Serang saja tidak protes atas perda tersebut, mengapa yang warga kota lain protes? Toh nggak akan didengar, katanya. Tunggu.

Ibaratnya Baca lebih lanjut

Ramadan di Turki : Puasa Itu Nggak Berarti Pingsan

Naelil omong doang ih! Katanya mau istirahat dari nulis blog selama UAS dua minggu ini? Eh kok baru sehari UAS aja udah nulis lagi? :mrgreen:

Sebelumnya, selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan ya teman-teman semua. Semoga puasanya lancar dan berkah. Mari berlomba-lomba dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah! Ramadan Kareem! Ramadan Mubarek Olsun, canlarim!

Ini merupakan kali kedua saya menjalankan ibadah puasa Ramadan di negeri orang-lebih tepatnya Turki. Yang spesial dari tahun ini adalah bahwa hari pertama Ramadan tepat dengan hari pertama UAS. Bukan hanya itu, masuknya musim panas di Turki pun menjadikan kota Izmir (salah satu kota terpanas di Turki) bagai kejatuhan bola api. Ciyus. Feels like 35° Celcius meskipun sebetulnya cuma 30°.

Alhamdulillahnya, pagi ini (6/6/16) hujan turun rintik-rintik di kawasan Bornova di mana kampus tercinta saya – Ege Universitesi – berada. Setelah lari terbirit-birit dengan payung menuju gedung fakultas, saya pun segera meluncur ke ruang ujian dan mendapati teman-teman saya sedang sibuk duduk atau berdiri bersama berlembar-lembar buku catatan sambil meneguk segelas minuman berwarna. Jeglek! Baca lebih lanjut