Caraku Menikmati Musim Panas Turki

Hari ini, salah satu room mate saya akan pulang kampung. Dia telah menyelesaikan kegiatan magangnya. Sebagai perpisahan, saya dan tiga room mate saya pergi sarapan bersama.

IMG-20170730-WA0006

sarapan ala Turki (doc prib)

Selepas menikmati sarapan, saya duduk termenung. Banyak hal yang saya pelajari musim panas ini; bahwasanya seseorang memang terkadang harus menutup bukunya dan pergi keluar untuk berbaur. Saya memang bukan kutu buku banget. Tapi bisalah terhitung sebagai seseorang yang sangat menikmati buku dalam kesendirian. Dulunya, membaca biografi, novel, cerpen, dan berita, sudah membuat saya cukup puas.

Setelah mengikuti program pertukaran mahasiswa Erasmus semester lalu, orang bilang saya banyak berubah. Mungkin memang benar. Setelah melakukan solo traveling, saya merasa bahwa seseorang memang sangat perlu berbaur dan menuliskan kisahnya sendiri. Oh, saya tidak bilang bahwa seorang kutu buku itu tidak punya cerita. Tentu saja mereka punya. Ilmu eksak dan nurani yang didapat dari buku mungkin cukup membantu. Tapi terkadang, melihat birunya langit yang seirama dengan lautan, mendengar nyanyian syahdu burung-burung bersarang di sesemak dan pohon, ataupun sekedar menyentuh panasnya bulan Juli di Turki itu perlu. Sesekali, indera yang lain juga perlu penyegaran.

Kembali ke beberapa minggu lalu, saya cukup stres. Baca lebih lanjut

Iklan

[Buku Baru] Serba-Serbi Turki

16999178_1368269203233394_5897335377961065917_nAssalamu’alaikum! Merhabalar!

Teman-teman tertarik dengan Turki? Entah karena keindahan selat Bosphorus-nya, keluarbiasaan kesultanan utsmaniyahnya, ataupun sekedar karena jatuh cinta pada Cansu dan Hazal . Well, buku ini mengupas banyak sisi dari Turki. Baik tentang kehidupan sehari-hari orang Turki, kuliah – tentu aja ada info beasiswa juga, makanan khas, tempat wisata, bahkan prosesi nikah ala Turki pun dibahas


Judul Buku : Serba-Serbi Turki
Penulis : Erna Eruna, Naelil M, Neira
Jumlah halaman : 300
Harga : Rp. 62.200,-

Deskripsi:
Serba-Serbi Turki: Türkiye’deki Herşeyi

Apa reaksi kamu jika ada orang tak dikenal mengedipkan sebelah matanya sambil melempar senyum ke arahmu? Geli? Takut? Ngeri? Atau justru baper? Apalagi jika yang mengedipkan sebelah matanya adalah sosok berparas indah…

Orang bilang sekolah di luar negeri itu mahal, susah, ribet, serem, dan lain-lain. Awalnya saya juga berpikir demikian karena dulu cuma lihatnya dari kulit luar aja. Eh, setelah dijalani sendiri, ternyata…

Konya merupakan satu di antara kota tertua di Turki selain Istanbul dan Bursa (yang pernah tecatat sebagai ibu kota) di masa Kekaisaran Ustmani. Jika kalian penasaran dengan penampakan Konya, cobalah untuk membayangkan ‘Kota Tua’-nya Jakarta atau ‘Braga’-nya Bandung.

Dalam adat pernikahan Turki, terdapat satu budaya unik yang menjadi kunci awal diterima atau ditolaknya lamaran nikah seseorang. Apa itu? Ya, kopi asin!
***

Saat kali pertama ide menulis buku SST ini muncul, mimpi kami adalah membuat sebuah buku tentang Turki yang ketika orang membacanya, mereka bisa tahu atau membayangkan gambaran lengkap tentang seperti apa negara ini. Bagaimana orang-orangnya, sikap dan perangainya terhadap orang asing, samakah kebiasaan harian mereka dengan kita di Indonesia, ada objek wisata apa di Turki dan apa saja konsep sejarah yang melatarbelakanginya, perpaduan budaya Asia dan Eropa di Turki itu seperti apa, anekdot kebap Turki, dan sebagainya. Akhirnya, sampailah pada satu kesimpulan: kayaknya asyik deh kalau ada buku yang bisa mencakup semua informasi ini! Maka, lahirlah Serba Serbi Turki (SST).

Penasaran?

Temukan jawaban dari pertanyaanmu mengenai Turki di sini! Kalau tidak menemukannya, kasih tahu kami di serbaserbiturki@gmail.com yaaa… Kamu boleh juga menulis review – boleh banget, berkomentar, atau apapun lah, let us know. Asal jangan minta dicomblangin sama orang Turki ya. Eh!

Buku ini sudah bisa dipesan sekarang via :
– SMS/WA/Telegram ke 0819 0422 1928
Inbox FB dengan subjek PESAN BUKU
– Email ke leutikaprio@hotmail.com
Atau klik di sini.

Terima kasih !!!

Baca lebih lanjut

Perjalanan Sendiri ke Ibukota Turki

turkey

sumber : ram-xp.blogspot.com

Setelah dua tahun tinggal di Turki, akhirnya saya berkesempatan untuk pertama kalinya pergi ke Ankara (ibukota Turki). YESSS! Ankara adalah kota ke-7 yang saya jejaki di Turki. YAY! Sendirian, lagi. Dulu sih emang pernah ke Istanbul sendiri. Tapi di Istanbulnya ada yang jemput dan anter-anter. Lah kali ini, enggak.  Beneran sendiri jalannya.

Bukannya hobi, tapi kaki saya emang kebiasaan suka melenceng dari peta. Tapi nggak apa-apa. Sekali-kali tes kemampuan 😀

Supaya tidak kesasar, saya melakukan research kecil-kecilan dari mulai tanya Kakak Google sampai tanya Kakak Gemes.

Saya pergi ke Ankara menggunakan bus karena ketika saya googling, googlemaps mengatakan bahwa jarak bandara ke pusat kota lebih jauh dibanding jarak otogar (terminal bus antarkota) ke pusat kotanya.

Pukul 22.00 waktu Turki, bus yang saya tumpangi melaju perlahan menembus dinginnya malam. Baca lebih lanjut

Wisata Sehari di Kawasan Sultanahmet, Istanbul

Postingan terkait sebelumnya : Liburan Musim Panas di Turki

Bagi saya pribadi, kota Istanbul terlihat lebih cantik di musim dingin. Karena pada musim panas, selain panasnya terik yang membuat kaki dan badan susah untuk diajak berkompromi, mengambil foto menggunakan hp tidak begitu bagus. Memandang kemana-mana pun silau jika tidak menggunakan kaca mata.

Jika ingin mengunjungi Istanbul dalam waktu yang sangat singkat, sebaiknya memang pergi ke kawasan Sultanahmet dimana terdapat Hagia Sophia, Blue Mosque, Topkapi Palace dan The Basilica Cistern.

1. Hagia Sophia

Hagia Sophia pada musim dingin (red:kunjungan sebelumnya)

Hagia Sophia pada musim dingin (red:kunjungan sebelumnya)

Baca lebih lanjut

Hari Terakhir Jalan-Jalan di Istanbul

Libur musim dingin pertama saya di Turki ini Alhamdulillah saya lalui dengan jalan-jalan di Istanbul selama 4 hari. Namun hari keempatnya, hanya berburu oleh-oleh dan pulang. Jadi, kita hitung 3.

Hari Pertama : Ketiduran Sampai ke Eropa
Hari Kedua : Mengunjungi Saudara Istana Buckingham di Timur Tengah
Hari Ketiga : Hari Terakhir Jalan-Jalan di Istanbul

Hari ketiga di Istanbul! Jadwal pertama adalah pergi ke Taksim untuk melihat tunel dan Monumen Republik. Jadwal kedua pergi ke Warung Nusantara untuk menikmati makanan Indonesia. Jadwal ketiga pergi ke masjid Sultan Suleymaniye karya arsitek terkenal Mimar Sinar.
Taksim dianggap sebagai jantung kota Istanbul modern.
DSCN3165 Baca lebih lanjut

Mengunjungi Saudara Istana Buckingham di Timur Tengah

Melanjutkan perjalanan hari ke-2 saya mengelilingi Istanbul dari postingan sebelumnya. Kali ini saya dan teman berangkat agak siang karena paginya kami gunakan untuk beristirahat usai perjalanan hari sebelumnya yang lumayan melelahkan. Sebelum menyeberang ke Istanbul Eropa menggunakan vapur, saya menyempatkan diri untuk membingkai beberapa potret dari sisi Istanbul Asia tepat sebelum selat Bosphorus.

DSCN2996
Baca lebih lanjut

Ketiduran Sampai ke Eropa

Turki merupakan negara dua benua yang memiliki 4 musim. Yaitu musim semi, panas, gugur dan dingin. Pertama kali menginjakkan kaki di Turki, saya disambut oleh musim gugur dimana angin berhembus sepoi-sepoi. Sejuk. Kini Turki sedang musim dingin. Sekolah libur selama satu bulan pada umumnya. Namun di kelas bahasa saya, Ege Universitesi Turk Dunyasi Arastirmalari Enstitusu, hanya dua minggu saja yaitu mulai 17 Januari-1 Februari 2015. Lalu, apa yang saya lakukan selama liburan berlangsung?

1. Berkumpul bersama PPI Izmir untuk melakukan pemungutan suara ketua PPI Turki 2015/2016.
2. Bertamu ke rumah orang Turki bersama beberapa pelajar perempuan asal Indonesia di Izmir.
3. Bertamu dan menginap di rumah salah satu teman perempuan asal Indonesia di Izmir dan membuat beberapa makanan khas Indonesia. Salah satunya cimol; yang pada dasarnya hendak membuat klepon namun jadinya justru cimol.
4. Mengunjungi Istanbul

Sepertinya itu saja sih poin-poinnya. Sisanya, mendekam di asrama. Tapi yang akan saya bahas di postingan ini merupakan kegiatan saya mengunjungi Istanbul.

Dimulai pada tanggal 28 Januari 2015, saya diantar oleh Hida, Mba Piping dan Teh Erna pergi ke Izmir Otogar dengan dolmus dari Stasiun Bornova Metro. Lalu menumpang bus Uludag jurusan Istanbul sekitar pukul 22.00 EET seorang diri. Tidak seorang diri juga sih karena bus tentu saja penuh; penuh orang Turki. ._.

Berkaca dari bus yang saya tumpangi, di sini sangatlah nyaman. Pertama, tidak seperti di Indonesia, sistem kursi di bus sini adalah perempuan dengan perempuan dan laki-laki dengan laki-laki. Sedangkan di Indonesia, campur. Kedua, terdapat televisi pada setiap tempat duduk. Ketiga, terdapat kondektur merangkap pramugara yang selalu siap sedia menyediakan aneka minuman dan kue ringan. Sayangnya, ketika berangkat ke Istanbul, yang saya lakukan hanyalah tidur. Saya mendengar bahwa Izmir-Istanbul adalah 8 jam dengan bus sehingga saya menyenyakkan diri. Naas, saya yang harusnya turun di Harem Otogar di Istanbul Asia justru kebablasan sampai ke Esenler Otogar di Istanbul Eropa. Ceritanya, sadar-sadar bus saya sudah melintasi selat Bosphorus. Ya, saya ketiduran sampai ke Eropa. Padahal, teman yang hendak menjemput saya tinggal di Istanbul Asia. Saya merepotkan dia sekali karena dia harus perjalanan jauh menjemput saya ke Istanbul Eropa.

Akhirnya, saya tiba di Esenler Otogar hampir pukul 06.00 EET pada tanggal 29 Januari 2015. Masih belum adzan subuh; masih gelap. Saya mikir keras, dimana saya harus menunggu teman saya datang menjemput. Apalagi asrama teman saya tersebut terletak di Istanbul Asia. Untung ada Marmaray a.k.a kereta bawah laut yang cepat. Alhamdulillah, ketika saya mendengar suara adzan, kontan saya langsung berhambur mencari masjid terdekat. Rumah Allah adalah tempat paling aman, sekaligus saya juga harus menunaikan shalat subuh.

Setelah shalat subuh, saya menunggu matahari terbit terang benderang di dalam masjid. Saya mencoba mencari colokan karena baterai handphone saya sudah hampir habis namun tak ada. Akhirnya setelah agak siang, saya memutuskan untuk ke luar masjid dan sarapan seraya tidak lupa, terlebih dahulu memotret beberapa bagian masjid.

1
Baca lebih lanjut