Membandingkan Diri dengan Orang Lain

i love myself
dreamerstime.com

Sikap membandingkan diri dengan orang lain, rasanya tidak akan bisa lepas dari hidup kita. Setiap waktu, setiap saat, manusia membutuhkan perbandingkan untuk menilai sesuatu; termasuk dirinya sendiri. Ibaratnya ketika kita membeli barang, pasti akan melakukan perbandingan terlebih dahulu sebelum memberikan penilaian.

Bagi saya, kesuksesan dapat dilihat dari seberapa bermanfaatnya diri bagi orang lain.  Ini semacam pembuktian bahwa kehadiran kita itu penting. Kalau ada tidaknya orang, tidak memberikan perbedaan, artinya tidak berguna dong dalam konteks tertentu itu.

Saya termasuk orang yang cukup sering membandingkan diri dengan patokan usia. Jika saya melihat orang yang cukup sukses di usia saya atau bahkan lebih muda, saya suka sedih ketika berkaca pada diri sendiri. Sayangnya, itu sering saya lakukan. Padahal, membandingkan diri dengan orang lain itu bagusnya supaya kita termotivasi untuk lebih maju. Bukannya merasa kurang percaya diri dan tertekan. Padahal nih ya, yang dilalui setiap orang itu tidak sama. Ini bukan berarti bahwa kita perlu membandingkan diri siapa yang paling menderita hidupnya, terus merasa bahwa diri sendiri menderitanya kebangetan tapi nggak sukses-sukses. Enggak ya… Kamu nggak akan bisa sepenuhnya memahami apa yang sudah dilalui orang lain sebelum kamu jadi diri orang lain tersebut! Sekedar dengar cerita, apalagi. Nggak akan bisa.

Jangan juga membandingkan bahwa orang tertentu itu sangat beruntung, sedangkan kamu dipenuhi kesialan. Continue reading “Membandingkan Diri dengan Orang Lain”

Traveling: Sendiri Atau Rame-Rame?

122
Eiffel Tower, Paris (Dokumen Pribadi)

Saya sudah sering kali traveling rame-rame. Tapi, baru pertama kali solo traveling antar-negara kemarin. Rasanya? Hm, seru banget! Apa sih bedanya traveling sendiri dan rame-rame?

Research Tempat Wisata

Kalau kita traveling sendiri, wajib hukumnya untuk melakukan research sendiri mengenai setiap tempat yang akan kita jelajahi. Mulai dari latar belakang tempat tersebut, ada apa aja di sana dan alat transportasi apa yang dapat kita gunakan untuk menjangkaunya. Hal ini akan memakan banyak waktu. Sedangkan ketika kita traveling rame-rame, kita bisa membangun diskusi dan menggabungkan ide bersama. Pasti akan terasa lebih ringan. Ide satu kepala dengan ide lima kepala, tentu saja berbeda.

Biaya

Biasanya, Continue reading “Traveling: Sendiri Atau Rame-Rame?”

3 Film yang Menginspirasi

Saya bukan tipe orang yang begitu suka dengan film karena durasinya yang terlalu lama. Lebih baik saya menonton Music Video (MV) ataupun video blogger yang rata-rata durasinya hanya 3-10 menit.

Setelah mencoba mengingat-ingat film yang pernah saya tonton, inilah 3 film yang isi ceritanya masih mampu saya putar ulang, begitu pula dengan pesan kesannya yang masih menjadi sumber inspirasi.

  1. Laskar Pelangi
images-1
sumber : Abang Ujang

“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.”

Saya yakin, sebagian besar dari kamu tahu film ini. Jikapun tidak, pasti tahu isinya dari novel ataupun orang lain. Saya pertama kali menonton film ini pada awal masuk SMP, antara akhir 2008 atau awal 2009. Meski berulang kali menonton film ini, saya masih saja dibuatnya menangis. Terlalu dalem…

Lintang adalah tokoh favorit saya; siswa cerdas yang semangat menuntut ilmunya sangat tinggi. Namun terpaksa putus sekolah ketika ayahnya meninggal dan ia sebagai anak sulung harus menafkahi adik-adiknya.

Bagaimana Lintang mengayuh sepeda 80 km untuk sekolah tiap hari dan harus menunggui buaya lewat saja sudah membuat hati saya tercabik-cabik. Apalagi Continue reading “3 Film yang Menginspirasi”

Dunia (Bukan) Milik Kita

Kemarin Senin rasanya saya ditimang-timang oleh dosen di tiga mata kuliah dari pagi sampai sore. Eh, hari ini… saya dibuat terpukul dengan ucapan pegawai di universitas. Apasih kalian nyebutnya… TU ya?

Beberapa hari yang lalu, teman saya ngerasa kalau kebanyakan orang yang punya jabatan tinggi itu nggak ramah, agak sombong dan segan menolong, kita nyebutnya. Sedangkan orang yang jabatannya tidak begitu tinggi, maaf, justru ramah dan baiknya bukan main. Kemudian saya pun berpikir… mana mungkin? Sedangkan hampir seluruh dosen saya di fakultas itu baiknya minta ampun! Termasuk pimpinan jurusan! Serius. Atau saya saja yang diberkahi?

Hari ini, apa yang dikatakan teman saya ada benarnya juga ternyata. Mungkin memang tidak kebanyakan, tapi peluang yang jabatannya tinggi untuk jadi sombong ke orang lain itu besar. Terus, apa bedanya?

Kenapa sih orang yang jabatannya tinggi itu sombong, nggak pedulian, nggak punya simpati apalagi empati? Continue reading “Dunia (Bukan) Milik Kita”

Rasanya Menjadi Seorang Kakak

Jelang usia yang ke-17, orang tua saya dikaruniai momongan kedua. Duh, senangnya. Sudah sejak dulu saya mendambakan saudara sekandungan. Namun apa daya, Allah SWT belum memberikannya sampai usia saya jelang 17 tahun. Alhamdulillah, biarpun jarak usia kita berdua belasan tahun, kedekatan kita kayak kartu pos dan perangko.

Jauh dulu ketika adik saya belum lahir, saya memimpikan seorang kakak laki-laki dan kakak perempuan. Walau itu tidak mungkin haha. Kalau saya punya kakak laki-laki, saya bisa mudah kemana-mana tanpa bersusah payah naik motor sendiri. Tinggal duduk diboncengan, tancap, Banggg! *ojek, kaleee

Selain itu, saya juga bisa memperoleh perlindungan ektra dari senior-senior kejam ketika di sekolah. Hihi. Oke, ini lebay kebanyakan nonton sinetron. Intinya sih berasa keren aja gitu semisal saya baru masuk SMA eh kakak laki-laki saya udah kelas 3. Paling enggak, nemenin saya setahun di sekolah sekalian nebeng.

Itu untuk kakak laki-laki.

Kalau kakak perempuan, saya maunya yang ketika saya baru masuk SMA, dia udah kuliah. Jadi enak buat curhat berbagai macam hal. Emang sih bisa curhat sama ayah dan ibu. Tapi pasti beda rasanya kalau curhat sama saudara. Gitu sih ngebayanginnya. Nggak tahu lagi kenyataannya. Continue reading “Rasanya Menjadi Seorang Kakak”

Prosedur Pembuatan SKCK untuk Visa Studi ke Luar Negeri

whatsapp-image-2016-09-28-at-01-58-18
sumber : dokumen pribadi

Berhubung kebutuhan mengurus SKCK semakin merapat, saya kepengin sharing nih soal prosedur pembuatan SKCK dari A-Z berdasarkan pengalaman saya kemarin. Pembuatan SKCK saya dimulai pada Agustus 2016. In case kalo kalian bikinnya beberapa tahun dari 2016, mungkin prosedurnya udah beda lagi ya.

Tahap I

Datang ke RT

Sesampainya di tempat RT, langsung saja katakan tujuanmu yaitu minta surat pengantar untuk membuat SKCK untuk Visa Studi. Di sana kamu akan disuruh mengisi sebuah form yang kemudian akan ditandatangani dan distempel oleh RT. Jadi sebaiknya kamu bawa polpen jika kemari. Biar cepat. Oh, serta KTP!

Kalau beruntung, kamu tidak akan dimintai biaya administrasi di sini. Kalau enggak beruntung, saya pernah dimintai biaya Rp. 5000,- untuk surat pengantar pembuatan KTP dulu. Tergantung RT-mu sih.

Tahap II

Datang ke RW

Prosedurnya sama persis seperti ketika kamu datang ke RT.

Tahap III

Datang ke kelurahan

Di sini, surat pengantar dari RT dan RW tadi akan diketik ulang oleh pihak kelurahan dan ditandatangani oleh lurah. Cukup cepat kok… beberapa menit aja. Kecuali kalau lagi antri panjang. Makanya, usahakan pergi ke kelurahannya pagi.

Tahap IV

Datang ke POLSEK

Jam Buka Kepolisian untuk Urus SKCK:

Senin – Kamis 08.00-15.00

Istirahat : 12.00-13.00

Jumat 08.30-15.30

Istirahat 12.00-13.30

Sebetulnya, saya udah browsing soal prosedur pembuatan SKCK. Tapi untuk Continue reading “Prosedur Pembuatan SKCK untuk Visa Studi ke Luar Negeri”

Nikah Muda, Yuk! Eh?

 

alasan-larissa-chou-dan-alvin-faiz-menikah-muda
Anak Ustadz Arifin Ilham, Alvin Faiz dan istrinya, Larissa Chou [sumber : islamidia]

Summer ini, banyak banget teman atau kenalan saya yang menikah. Baik teman SMA maupun teman yang saya kenal ketika kuliah di Turki. Kalau yang dari Turki, rata-rata yang menikah itu lelakinya yang S2 di Turki dengan pasangannya sendiri *iyalah*, atau perempuan yang masih S1 di Turki dengan pasangannya sendiri juga. Seangkatan saya lah usianya; masih terhitung muda. Ciee…

Saya nggak pernah ada perlawanan terhadap teman-teman yang menikah muda. Yaiyalah ya, emang saya bisa apa? Halangin pernikahan mereka? :mrgreen: Lagian salut buat para lelaki yang berani langsung lamar tanpa ngajakin berlama-lama menjalin hubungan haram dulu. Kebetulan teman-teman S1 saya di Turki emang pada langsung nikah gitu tanpa pacaran.

Tapi…

Continue reading “Nikah Muda, Yuk! Eh?”

Ada Kesalahan Penulisan Nama Pada Tiket Pesawat? Jangan Panik!

Hari ini adalah hari yang mendebarkan buat saya dan partner in crime saya. Oh, bukan! Bukannya kami mau ijab kabul hari ini! Tenang! HA HA HA

Ceritanya kan kita pulang-pergi dari Turki ke Indonesia dan sebaliknya, itu barengan. Hari ini dia booking tiket buat kita berdua dari Istanbul ke Izmir. Ceritanya panjang banget sampai akhirnya kita memutuskan untuk beli tiket pesawat Pegasus. Maklum, mahasiswa. Di samping jam penerbangan, kita juga harus memperhatikan biayanya. Apalagi, akhir-akhir ini harga tiket pesawat Istanbul-Izmir mahalnya bikin pingsan.

Temen saya bilang, dia harus coba berkali-kali sebelum akhirnya bisa memperoleh tiket Pegasus yang hanya tersisa 5 kursi itu! Setelah beli, dia langsung kirim eticket ke saya melalui whatsapp. Karena buru-buru, ternyata di tiket itu penulisan nama saya SALAH, pemirsa! S-A-L-A-H! 

Oh Tuhan! Dosa saya apa?!!! Continue reading “Ada Kesalahan Penulisan Nama Pada Tiket Pesawat? Jangan Panik!”

Tips Cerdas Belanja Online

Perdebatan antara enak tinggal di desa atau di kota sepertinya sudah bukan perdebatan pribadi lagi. Hehe. Maksudnya, teman-teman saya yang menetap di kota selalu mengeluh soal kebisingan kota. Sedangkan saya yang tinggal di desa, menetap di kota adalah sebuah impian, mengingat kemudahannya dalam berbagai hal. Oke, di desa memang tidak bising. Bahkan lampu merah saja tidak ada. Padahal jumlah pengendara di desa juga tidak sedikit lho. Mungkin memang tidak seramai di perkotaan, tapi tetap saja ramai setiap jam anak sekolah. Karena di desa saya tidak ada transportasi umum, setiap orang dipaksa untuk memiliki kendaraan pribadi serupa sepeda motor. Jadi, kalau membayangkan keramaian seperti lalu lalang bus, truk dan angkot, memang tidak ada. Tapi kalau motor, duh ah coba saja ke luar rumah jam 6-7 pagi. Rameeee!

Kenapa jadi ngomongin transportasi yak? :mrgreen:

Selain masalah transportasi, hal yang membuat saya paling males adalah mengenai ketersediaan barang-barang kebutuhan. Salah satunya dan yang sangat penting adalah buku-buku baru. Untuk membeli buku saja, saya harus naik bus 2 jam ke kota Jember; kota tetangga. Gilee! Eh, tapi baru-baru ini syukur sekali ada toko buku berjarak 1 jam naik motor dari rumah saya. Nggak perlu lagi deh jauh-jauh ke kota tetangga demi menikmati buku baru.

Untuk memenuhi hasrat haus bacaan selain dengan membeli, tentu saja adalah dengan meminjam. Yang jadi masalah adalah, desa saya tidak/belum memiliki perpustakaan umum. Sedih deh. Dulu sih pas SMA bisa pinjam di perpus sekolah. Nah sekarang pas udah kuliah dan lagi liburan di kampung halaman, sulit sekali memperoleh buku. Mungkin satu-satunya yang bikin saya pengin segera kembali ke tanah rantau adalah perpustakaan kampus dan segala ketersediaan barang-barang kebutuhan.

Nah, buat tipe orang yang males gerak kayak saya, belanja buku online adalah kemungkinan cemerlang. Bayangin deh, tinggal berbaring di atas kasur, buku keinginan kita akan dikirim ke rumah. Hihi. Tapi Continue reading “Tips Cerdas Belanja Online”

Don’t Be Yourself!

Don’t be yourself! Nope, saya nggak salah nulis. Ini mungkin tulisan yang debatable yah.

8966767_orig
sumber : crimeandpunishmentbook.weebly.com

Buat saya, be yourself itu nggak sepenuhnya bener atau dapat berlaku. Kita tuh nggak hidup sendiri di dunia ini. Kita harus peduliin aturan; orang lain. Contoh simpel adalah kalau kamu pengin semir rambut warna merah sedangkan sekolahmu melarang pewarnaan rambut. Kalau nggak ikut aturan, ya kamu bakal dapat hukuman/sanksi. Kalau kamu bilang pengin warna merah dan berani beda asal jadi dirimu sendiri… sesuai dengan hatimu, ya tinggal di hutan sono dimana kamu bisa ngapain aja sebebasnya. Eh, hutan siapa dulu, tapi? Bakal tetep ada aturan dong. Kita hidup kan butuh norma, adab, etika, aturan. Buat apa sih? Ya buat ngatur hidup kita. Norma itu perihal yang udah disetujui atau perjanjian tidak langsung antar masyarakat. Kalau mau hidup di antara masyarakat, ya nurut sama keputusan bersama. Emang nggak adil bagi Continue reading “Don’t Be Yourself!”