Menjadi Relawan Bersama Kemenpora Turki

Kegiatan sukarelawan dengan nama Damla Gönüllülük Hareketi ini merupakan kegiatan sukarelawan di bawah naungan KEMENPORA Turki yang berlangsung selama 10 hari dengan jadwal padat dari jam 6 pagi sampai 11 malam – yang kadang molor sampai jam 2 pagi buat ngerjain proyek, di kota-kota marjinal (re: nggak semuanya marjinal) atau dianggap kurang dengan tujuan untuk lebih mengenal kelompok minoritas di sana, serta menciptakan projek-projek baru dalam rangka pembangunan kota tersebut. Kegiatan-kegiatannya serupa: berkunjung ke desa-desa, panti jompo, panti asuhan, pusat rehabilitasi difabel, sekolah, rumah sakit, kantor walikota, universitas (kunjungan rektor), usaha masyarakat (ruko dan rumah makan), tempat bersejarah, membersihkan lingkungan (memungut sampah) dan membuat tempat makan burung, memberikan bantuan kepada keluarga yang kurang mampu, ziarah ke makam pahlawan serta keluarga pahlawan – termasuk polisi dan tentara yang meninggal dalam posisi melindungi negara, berinteraksi dengan anak-anak seperti bermain games, menggambar dan menari bersama, menerbangkan layang-layang, dls.

Kegiatan ini berlangsung beberapa kali dalam sebulan, dan memungkinkan untuk dilakukan bersama sekaligus di berbagai kota. Misalnya saja, saat saya mendaftar, terdapat kegiatan sukarelawan di kota Çankırı, Çorum, Samsun, dan Yozgat pada tanggal 19-28 Juli 2019. Nah, pendaftar diharuskan untuk memilih salah satu kota. Jika tidak bisa memilih, seperti saya, terdapat menu pilihan ‘bebas’. Takdir Tuhan, sekitar dua minggu setelah mendaftar, saya memperoleh telepon penerimaan untuk mengikuti kegiatan sukarelawan di kota Yozgat. 

Damla Gönüllülük Hareketi Yozgat
Tim relawan Damla Yozgat.

Tanggal 18, saya naik bus sekitar 12 jam dari İzmir ke Yozgat. Kota Izmir itu letaknya di bagian Barat Daya Turki. Sedangkan Yozgat terletak di bagian tengah Turki pas. Beda keduanya, Yozgat adalah kota kecil yang tidak begitu dikenal turis, dan jauh lebih konservatif dibandingkan Izmir. Ketika saya naik bus, pramugari bus terheran-heran mendengar jawaban saya yang hendak turun di terminal Yozgat. Berkali-kali ia mengulang pertanyaannya seolah tidak percaya. 

*Highlights* Lanjutkan membaca Menjadi Relawan Bersama Kemenpora Turki

Catatan Kepulangan

Bingung mulai dari mana. Sepertinya udah nganggur terlalu lama. Perlu pasokan energi untuk kembali mengaduk-aduk ingatan yang mulai sirna. Pagi ini seorang teman tiba-tiba mengirimkan pesan WA, “How do you feel to be home?” Dan ketika saya bilang Turki terasa jauh, “Oh wow like history,” jawabnya. Bener banget. Sebenernya, baru sekitar dua minggu lalu saya meninggalkan Turki yang udah jadi rumah kedua selama 5 tahun terakhir. Waktu kembali menginjakkan kaki di bumi pertiwi pun, yang saya rasakan hanyalah kebahagiaan. Rupanya, waktu itu saya belum menyadari kenyataan bahwa saya pergi dari Turki tanpa menggenggam tiket kembali, seperti tahun-tahun yang lalu.

DSC_6136-01
Akhirnya wis udah.

Bukan hanya sebuah negara yang saya tinggalkan, namun juga seluruh kenangan yang perlahan hanyut mengendap ke dasar memori penyimpanan. Otak manusia konon terbatas. Bukannya tergantikan. Hanya saja, detail peristiwa itu bisa jadi meluruh berubah alurnya dalam ingatan. Hal yang paling saya takutkan jika semua akan tertinggal di belakang. Seperti sejarah yang terlupakan.  Lanjutkan membaca Catatan Kepulangan

Farabi di Kota yang Katanya `Paling Konservatif di Turki`

exchange program
pinterest

Salah satu aktivitas yang cukup diminati mahasiswa adalah program pertukaran pelajar di universitas lain. Tak terkecuali untuk mahasiswa di kampus Turki dengan tiga program pertukarannya yaitu Erasmus, Mevlana, dan juga Farabi. Meskipun begitu, yang paling banyak peminatnya – setidaknya begitulah di universitas tempat saya belajar – adalah program pertukaran Erasmus. Program yang dinaungi oleh Uni Eropa ini mengizinkan mahasiswa di universitas Eropa termasuk Turki untuk melakukan pertukaran selama satu atau dua semester. Beasiswanya meliputi tuition fee dan uang saku yang nilainya berbeda-beda antar negara, yaitu 300-500 Euro per bulan. Sedangkan untuk tiket pesawat dan pengurusan visa, ditanggung sendiri.

Secara singkat, proses seleksi Erasmus terdiri dari 3 tahap yaitu administrasi, tes tulis, dan juga interview dengan total poin 50% dari GPA, 25% dari tes tulis, dan sisanya dari interview. Mahasiswa bebas memilih maksimal 5 universitas. Sistem pilihnya sama seperti SNMPTN/SBMPTN.

Berbeda dengan Erasmus, Mevlana dan Farabi merupakan program pertukaran yang dibawahi oleh Dewan Pendidikan Tinggi Turki. Mevlana merupakan program pertukaran ke negara-negara di luar Eropa seperti Amerika sampai Asia meliputi China, Korea Selatan, hingga Indonesia. Sedangkan Farabi merupakan program pertukaran ke universitas-universitas lain di dalam Turki.

Karena saya belum ada kesempatan ikut Mevlana, jadi kurang tahu proses seleksinya. Padahal mah pengin banget ke Korea Selatan atau China. Sayangnya, waktu itu program Mevlana di jurusan saya belum dibuka.

Farabi sendiri proses seleksinya lebih simpel. Cukup seleksi administrasi. Tapi kita hanya bisa memilih satu universitas saja. Setelah dokumen kita dikirim ke universitas tujuan, mereka akan menyeleksi calon berdasarkan IPK-nya. Beasiswa program ini sistemnya juga mirip seperti Erasmus yaitu tuition fee dan uang saku senilai 500 Turkish Lira per bulan. Kalah banyak sih dibanding uang saku Erasmus karena memang hidup di Turki masih jauh lebih murah daripada di Eropa. Ya meskipun sebagian sisi Istanbul dikatakan sebagai Eropa juga. :mrgreen:

Proses pendaftaran ketiga program tersebut biasanya dilakukan di awal tahun secara berurutan. Seperti saat ini nih.

Baca : Catatan Erasmus (Spring 2016/2017)

Kali ini mau cuap-cuap soal Farabi (Fall 2018/2019) di Selcuk University yang terletak di kota Konya.

Baca : Perbandingan 2 Universitas di Turki; Ege (Izmir) dan Selcuk (Konya)

Kenapa sih ikut Farabi? Itu kan cuma pertukaran di dalam Turki?

Iya sih. Sayangnya, sejak akhir tahun 2017 lalu, mahasiswa asing yang kuliah di Turki dengan program beasiswa penuh dari pemerintah Turki tidak diperbolehkan lagi untuk mengikuti program Erasmus dan Mevlana. Sekedar informasi aja untuk calon mahasiswa dari Indonesia yang niatannya kuliah di Turki untuk mengikuti kedua program tersebut.

Nah, karena kedua program tersebut sudah tidak diperbolehkan, larilah saya ke Farabi.

Kenapa lari?

Sebenarnya ini salah satu cara lari dari kenyataan sih :mrgreen:

Lanjutkan membaca Farabi di Kota yang Katanya `Paling Konservatif di Turki`

Perbandingan 2 Universitas Turki; Ege University (Izmir) dan Selcuk University (Konya)

Sebenernya udah planning nulis tentang ini dari zaman jahiliah. Berhubung banyak banget alasan sok sibuk urusin feed akun instagram baru – follow ya @portrayalofawanderlust yang berisi hasil jepretan sederhana ngebolang :mrgreen: – jadilah urusan blog terbengkalai. Udah agak basi juga mengingat pendaftaran program beasiswa pemerintah Turki tahun ini sudah mau ditutup. Bisa diaplikasikan untuk jadi referensi pendaftaran tahun depan, ya.

Sebelumnya, perkenalan dulu. Perlu dipahami bahwa penilaian ini sifatnya subjektif. Kalau mau tau penilaian kualitas kampus berdasarkan research dls, bisa dilihat di webometrics, topuniversities, mastersportal, 4icu, dan masih banyak lagi. Sebaliknya, penilaian ini hanya berdasar pada pengalaman yang dialami oleh mahasiswi akhir program S1 Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Ege University – yang kemudian disebut Ege saja – yang ditakdirkan mengeyam pendidikan di jurusan sama di Selcuk University – yang kemudian disebut Selcuk saja – selama satu semester. Monggo disimak. 

Ege University Logo
Berdiri sejak 1955 di IZMIR
Selcuk University Logo
Berdiri sejak 1975 di KONYA

PERPUSTAKAAN

Biasanya nih, yang dicari dari sebuah kampus tak luput dari fasilitasnya. Salah satu yang signifikan menurut saya adalah perpustakaannya. Lanjutkan membaca Perbandingan 2 Universitas Turki; Ege University (Izmir) dan Selcuk University (Konya)

Drama Reportase dengan Wakil Rakyat Turki

dscn4040
dokumen pribadi

Malam itu terlihat cerah. Saya menyiapkan tas ransel kecil untuk diisi dengan komputer lipat, kamera saku, buku kecil dan pulpen, juga beberapa tumpuk makalah. Esok pagi saya akan naik kereta cepat menuju ibukota Ankara untuk tugas wawancara dengan salah satu wakil rakyat Turki di gedung TBMM (Majelis Agung Nasional Turki). Wawancara ini adalah bagian dari tugas akhir saya dari mata kuliah Araştırmacı Habercilik (Investigasi Jurnalistik).

Sekitar 2 minggu sebelumnya, saya mengusulkan beberapa topik investigasi kepada dosen paling favorit saya di Universitas Selcuk-Konya, yaitu Prof. A.Y. Dan yang beliau pilih adalah topik mengenai orang Gypsy atau Roman. Sebetulnya, saya sudah penasaran dengan orang-orang Roman ini karena kepopulerannya akan kemampuan meramal. Selain itu, di kota Izmir-Turki, saya juga sering menjumpai orang Roman ini menjajakan aneka bunga. Yang paling khas dari mereka adalah cara berpakaiannya yang menggunakan warna-warna mencolok.

Namun, meski penasaran, saya masih ada rasa takut untuk berinteraksi dengan mereka karena prasangka-prasangka yang ada. Apalagi ketika saya menyebutkan rencana investigasi saya, beberapa teman sekelas nyeletuk, “Jangan ambil topik itu! Kamu nggak akan keluar hidup-hidup!” dan “Semoga kamu sanggup deh ya!” Kalimat tersebut seolah menunjukkan bahwa Roman bukanlah bagian dari kita, yaitu manusia. Padahal, mereka saudara kita juga. Makin semangat niat saya melakukan investigasi tersebut. Saya yakin, banyak hal yang bisa saya pelajari untuk semakin membuka mata tentang mereka.

Prof. A.Y. menyarankan saya menghubungi wakil rakyat Turki pertama yang berasal dari golongan Roman (terpilih pada tahun 2015). Dengan segera, saya mencari nomor telepon kantornya di website resmi TBMM. Rupa-rupanya, tanggapan dari sekretarisnya positif. Dia bilang, dia akan menghubungi saya lagi dua hari berikutnya. Teman saya nyeletuk sambil tertawa, “Paling juga nggak akan dihubungi balik!” Lanjutkan membaca Drama Reportase dengan Wakil Rakyat Turki

Mengenal Budaya Ramalan di Turki

Fal
Beştepe Bloggers

Semalam kita baca fal. Apaan tuh?

Jadi, di Turki itu ada budaya ramalan yang disebut fal. Kegiatan baca ramalan tersebut dilakukan setelah minum kopi Turki yang disajikan di cangkir kecil berwarna putih, yang ditemani dengan segelas mini air putih. Nah, setelah kita menghabiskan air kopinya, akan tersisa sedikit endapan kopi di bagian bawah cangkir. Dengan berhati-hati, kita tutupkan piring tatakan cangkir ke atasnya. Lalu kita balik posisinya dan tunggu sampai cangkir mendingin. Kemudian, taraa! Lanjutkan membaca Mengenal Budaya Ramalan di Turki

Karena “Setiap Kota Punya Cerita”

Saya baru pindah kota. Dari kota Izmir yang hangat udaranya, ke kota Konya yang disebut-sebut sebagai kota cinta dan rumahnya Mevlânâ Celâleddîn-i Rûmî.  Kalau main ke Turki dan mampir ke kota Konya, jangan lupa menyaksikan Sema Ceremony of the Whirling Dervishes, ya. Itu loh yang kerap disebut oleh kaum awam macam saya sebagai tarian muter-muter lelaki bergamis. Padahal, maknanya jauh dari sekedar itu.

whirling-dervishes-sufi-music-concert-1
Whirling Dervishes (Turkey Tour)

Sudah hampir dua minggu lamanya saya menetap di Konya. Jika ditanya apa nggak rindu kota Izmir, ya pasti rindu lah. Secara, sudah dari 2014 saya di sana.

Orang Turki, setidaknya yang saya temui di kota Izmir, selalu bilang bahwa tidak ada kehidupan di tempat yang tidak ada laut. Itu yang selalu mereka katakan setiap kali saya bilang saya suka kota Ankara, ibukota Turki.

“Di Ankara nggak ada apa-apa. Deniz yoksa hayat yoktur.”

Ketika saya pergi ke Konya pun, banyak kawan Turki yang bertanya-tanya, “Kamu ngapain ke Konya? Kamu bakal bosan di sana.” Karena Konya tidak memiliki laut. Lanjutkan membaca Karena “Setiap Kota Punya Cerita”