Pentingnya Sidik Jari di Turki

Biometric Access Control System

cms guvenlik sistemleri

Di Turki, sidik jari ibarat jantung. Jika sidik jarimu bermasalah, artinya jantungmu berhenti berdetak.

Oke, ini berlebihan. Tapi memang betul, apalagi jika kamu tinggal di asrama.

Rata-rata asrama di Turki menggunakan sidik jari untuk keluar-masuk asrama, serta mengambil jatah makan pagi dan malam dengan gratis. Kalau sidik jarimu bermasalah, kamu akan sulit keluar-masuk asrama maupun makan pagi dan malam.

Sidik jari saya termasuk yang sulit dideteksi di sini. Ketika saya mengurus sidik jari di kantor asrama, sidik jari saya mudah saja dideteksi. Namun ketika dibawa keluar, hasilnya Om Gatot terus. Baca lebih lanjut

Iklan

Pengumuman Giveaway Kartu Pos dari Turki

Hi Desember! Bulan dengan berbagai rasa. Hal ini disebabkan karena pada bulan Desember, saya terbiasa untuk melihat kembali resolusi akhir tahun lalu. Apakah sudah terwujud/dilakukan? Apakah gagal? Atau sedang proses? Lalu kemudian menulis resolusi baru untuk tahun berikutnya. Udah pada bikin, belum? Atau bikinnya nanti aja pas tanggal 31 Desember? Hehee. Terserah deh enaknya gimana. Tapi resolusi emang penting loh supaya kita punya target. Kalau udah ada target kan insya Allah nggak bingung lagi mau ngapain. Biar nggak buang-buang waktu 😀

Udah deh ya saya mau umumin teman-teman yang akan saya kirimi postcard dari Turki. Sebelumnya, terima kasih untuk 13 teman yang berpartisipasi. Saya pikir malah nggak ada yang mau. :mrgreen:

Kemarin kan saya bilang mau kirim 5 postcards, tapi saya akan tambahin Baca lebih lanjut

Tentang Jurusan Jurnalistik dan Saya

AB15521

sumber : http://www.huffingtonpost.com (Abaikan putung rokok!)

Jika kita melakukan sesuatu dengan cinta, insya Allah hasilnya akan maksimal.

Sudah sering mendengar petuah seperti itu? Sama halnya ketika kita memilih jurusan. Baik di SMA atau perkuliahan.

Rasanya bersyukur sekali setelah menemukan bahwa kaki melangkah di ranah yang insya Allah tepat. Waktu masih kelas 1 SMA, saya sama sekali belum memiliki gambaran jelas hendak menjadi apa di kemudian hari. Jika ditanya, agar lebih aman, pasti jawabnya ingin jadi orang sukses dan berhasil. Nah, berhasil dan sukses yang bagaimana tuh? Terus dalam bidang apa? Baca lebih lanjut

Berdagang Mukena di Turki? Kenapa Tidak?

Sudah siapkah menyambut datangnya bulan suci Ramadhan? Bagi bocah rantau seperti saya, kedatangan Ramadhan membuat benak saya berkicau penasaran mengenai keseruan melewati bulan suci Ramadhan di tanah rantau. Belum lagi, lebaran di tanah rantau dimana jauh dari keluarga dan saudara. Alhamdulillahnya, masih diberikan kesempatan untuk memiliki saudara-saudari seperjuangan di sini.

Membicarakan mukena, mengingatkan saya pada bulan September 2014 lalu dimana saya sibuk memilah dan memasukkan barang ke koper untuk saya bawa ke Turki. Karena saya belum tahu medan Turki, saya dan teman-teman pelajar Indonesia yang akan pergi ke Turki di tahun yang sama pun berdiskusi mengenai barang-barang yang sebaiknya dibawa dan tidak dibawa. Baca lebih lanjut

Beberapa Kegiatan Harian Pelajar Indonesia di Turki

Kita semua telah mendengar kabar hilangnya 16 warga Indonesia di Turki secara misterius beberapa waktu yang lalu. Tidak lama setelah kabar tersebut ramai menghiasi koran, terdapat berita baru yang menyatakan keterlibatan baik pasif maupun aktif PPI Turki (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Turki) dalam membantu warga Indonesia bergabung dengan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Bahkan mencuat kabar bahwa beberapa di antara kami ingin/sedang mencoba masuk ke dalam ISIS.

Sebelum saya utarakan mengenai kegiatan kami, para pelajar Indonesia di Turki, marilah menyimak press realease PPI Turki tentang kondisi terkini pelajar Indonesia di Turki yang saya kutip dari http://www.pkspiyungan.org sebagai berikut :

Sehubungan dengan fenomena dan isu terkait Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang sedang berkembang di berbagai media, kami Baca lebih lanjut

Ketiduran Sampai ke Eropa

Turki merupakan negara dua benua yang memiliki 4 musim. Yaitu musim semi, panas, gugur dan dingin. Pertama kali menginjakkan kaki di Turki, saya disambut oleh musim gugur dimana angin berhembus sepoi-sepoi. Sejuk. Kini Turki sedang musim dingin. Sekolah libur selama satu bulan pada umumnya. Namun di kelas bahasa saya, Ege Universitesi Turk Dunyasi Arastirmalari Enstitusu, hanya dua minggu saja yaitu mulai 17 Januari-1 Februari 2015. Lalu, apa yang saya lakukan selama liburan berlangsung?

1. Berkumpul bersama PPI Izmir untuk melakukan pemungutan suara ketua PPI Turki 2015/2016.
2. Bertamu ke rumah orang Turki bersama beberapa pelajar perempuan asal Indonesia di Izmir.
3. Bertamu dan menginap di rumah salah satu teman perempuan asal Indonesia di Izmir dan membuat beberapa makanan khas Indonesia. Salah satunya cimol; yang pada dasarnya hendak membuat klepon namun jadinya justru cimol.
4. Mengunjungi Istanbul

Sepertinya itu saja sih poin-poinnya. Sisanya, mendekam di asrama. Tapi yang akan saya bahas di postingan ini merupakan kegiatan saya mengunjungi Istanbul.

Dimulai pada tanggal 28 Januari 2015, saya diantar oleh Hida, Mba Piping dan Teh Erna pergi ke Izmir Otogar dengan dolmus dari Stasiun Bornova Metro. Lalu menumpang bus Uludag jurusan Istanbul sekitar pukul 22.00 EET seorang diri. Tidak seorang diri juga sih karena bus tentu saja penuh; penuh orang Turki. ._.

Berkaca dari bus yang saya tumpangi, di sini sangatlah nyaman. Pertama, tidak seperti di Indonesia, sistem kursi di bus sini adalah perempuan dengan perempuan dan laki-laki dengan laki-laki. Sedangkan di Indonesia, campur. Kedua, terdapat televisi pada setiap tempat duduk. Ketiga, terdapat kondektur merangkap pramugara yang selalu siap sedia menyediakan aneka minuman dan kue ringan. Sayangnya, ketika berangkat ke Istanbul, yang saya lakukan hanyalah tidur. Saya mendengar bahwa Izmir-Istanbul adalah 8 jam dengan bus sehingga saya menyenyakkan diri. Naas, saya yang harusnya turun di Harem Otogar di Istanbul Asia justru kebablasan sampai ke Esenler Otogar di Istanbul Eropa. Ceritanya, sadar-sadar bus saya sudah melintasi selat Bosphorus. Ya, saya ketiduran sampai ke Eropa. Padahal, teman yang hendak menjemput saya tinggal di Istanbul Asia. Saya merepotkan dia sekali karena dia harus perjalanan jauh menjemput saya ke Istanbul Eropa.

Akhirnya, saya tiba di Esenler Otogar hampir pukul 06.00 EET pada tanggal 29 Januari 2015. Masih belum adzan subuh; masih gelap. Saya mikir keras, dimana saya harus menunggu teman saya datang menjemput. Apalagi asrama teman saya tersebut terletak di Istanbul Asia. Untung ada Marmaray a.k.a kereta bawah laut yang cepat. Alhamdulillah, ketika saya mendengar suara adzan, kontan saya langsung berhambur mencari masjid terdekat. Rumah Allah adalah tempat paling aman, sekaligus saya juga harus menunaikan shalat subuh.

Setelah shalat subuh, saya menunggu matahari terbit terang benderang di dalam masjid. Saya mencoba mencari colokan karena baterai handphone saya sudah hampir habis namun tak ada. Akhirnya setelah agak siang, saya memutuskan untuk ke luar masjid dan sarapan seraya tidak lupa, terlebih dahulu memotret beberapa bagian masjid.

1
Baca lebih lanjut